
Semua penghuni mansion yang melihat keributan dari atas merasa penasaran apalagi tadi mereka mendengar teriakan dari Tuan muda mereka.
Dari arah tangga mereka melihat bagaimana Tuan muda mereka menggendong Tuan besar Werawan di punggungnya dan wajah Tuan muda serta Nona muda mereka terlihat sangat khawatir.
"Kakak tolong berhati-hatilah." Ujar Eve dengan cemas melihat Tala yang menggendong kakek Werawan di punggungnya sambil berlari kecil.
Keringat mengucur di dahi Tala begitu juga dengan Eve dan Geya yang mengikuti mereka dari belakang. Eve berjalan lebih cepat dari Tala untuk mempersiapkan mobil yang akan membawa mereka ke rumah sakit.
"Bapak tolong siapkan mobil kakek perlu ke rumah sakit." Ucap Eve dengan nafas terengah-engahnya karena berlari lalu Eve menolehkan kepalanya menatap ke arah Tala yang masih menggendong kakek Werawan.
"Pengawal tolong bantu kak Tala membawa kakek." Teriak Eve untuk pertama kalinya membuat semua pengawal dan pekerja di mansion yang melihat dan mendenganrya terkejut.
Ini adalah pertama kalinya mereka mendengar suara teriakan dari Nona muda istri kedua dari Tuan muda mereka. Biasanya Nona muda mereka akan bertutur kata dengan suara lembutnya.
"Apa yang kalian lihat tolong ini keadaan darurat." Ujar Eve melihat pengawal yang menatap bengong ke arah dirinya.
Kakek Werawan dimasukkan ke dalam mobil dengan Eve yang duduk di samping kakek Werawan, di dalam mansion ibu Dhara dan ayah Davka memang disediakan selalu mobil ambulance.
Ibu Dhara dan ayah Davka sengaja menyediakan hal itu mengingat bahwa Adya yang sering masuk keluar rumah sakit.
"Kakak ini minumnya." Ujar Eve memberikan air mineral buat Tala sedangkan Geya hanya diam memperhatikan. Geya sungguh merasa cemas sekaligus ketakutan apalagi nanti pasti dirinya akan diinterogasi oleh sepupunya itu.
Eve mengelap keringat Tala dengan lengan bajunya dengan cepat lalu memeriksa kondisi kakek dan memasang alat-alat yang membantu menunjang keselamatan kakek Werawan.
Eve tidak sendiri di dalam mobil itu ada dua perawat yang berprofesi sebagai pengawal di mansion ini yang memang sudah disediakan oleh Tala jika keadaan darurat.
"Bapak tolong lebih cepat." Ucap Eve ketika Eve memeriksa denyut nadi kakek Werawan.
"Nona biarkan saya saja yang melakukannya." Ujar perawat pengawal tersebut ketika melihat Eve ingin melakukan CPR kepada kakek Werawan.
Eve melihat dan menganggukkan kepalanya wajah khawatir dan cemasnya tidak pernah hilang dari wajah Eve. "Kakek tolong bertahanlah." Ujar Eve sambil memegang tangan kakek Werawan yang sudah dimakan di usia senjanya.
Keringat yang membasahi dahinya sudah tidak Eve pedulikan lagi bahkan rambutnya sudah basah oleh keringat. "Apakah kakek baik-baik saja?" Tanya Geya melihat bahwa keadaan tidak baik-biak saja dengan wajah cemasnya.
Selain cemas diinterogasi oleh Tala dan mendapatkan hukuman dari Tala Geya juga merasa takut jika dirinya harus kehilangan kakek Werawan. Karena selama ini kakek Werawan selalu berada di sampingnya ketika dirinya merasa terpuruk.
"Berdo'alah kepada Tuhan untuk keselamatan kakek." Jawab Eve sambil memegang tangan Geya yang gemetaran. Geya menatap ke dalam bola mata Eve yang menenangkan. Namun dengan cepat Geya menyadarkan kesadarannya lalu melepaskan tangannya yang digenggam oleh Eve.
Eve melihat ke arah Tala yang sejahk tadi hanya diam memandang kakek Werawan. "Kak tenanglah kakek akan baik-baik saja." Ujar Eve kepada Tala membuat Tala menatap ke dalam bola mata kakek Werawan.
Belum sempat Tala berbicara mobil yang membawa kakek Werawan akhirnya tiba di sana sudah ada ibu Dhara dan ayah Davka serta Adya. Ibu Dhara dan ayah Davka memang berada di rumah sakit untuk menemani Adya menjalani pengobatannya karena Adya tidak ingin ditemani oleh Tala dengan alasan ingin bermanja dengan ayah Davka dan ibu Dhara.
"Eve." Panggil ibu Dhara ketika melihat menantu kedua mereka turun dari mobil ambulance setelah melihat keponakan mereka Geya turun terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ibu, ayah, kakak nanti Eve jelaskan Eve harus segera mengganti pakaian Eve." Ujar Eve yang langsung berlari ke dalam ruangnya untuk mensterilkan bajunya sebelum memasang pakaian operasi yang sering dikenakannya.
"Suster apakah dokter Raka masuk hari ini?" Tanya Eve kepada perawat yang menjadi asistennya sambil berjalan ke ruangannya.
"Masuk dokter Elakshi saya juga sudah memberitahukan mengenai keadaan darurat ini. Semuanya sudah siap di ruang operasi." Eve yang mendengarnya menganggukkan kepalanya.
Eve keluar dari ruangnya lalu masuk ke ruang operasi namun tangan Eve dicegah oleh Tala sehingga membuat perhatian semua orang memandang ke arah Tala dan Eve. "Jangan melakukan operasi kakek." Ujar Tala dengan dingin.
Eve menatap ke dalam bola mata suaminya itu, "kita sudah membicarakan ini dan kakek sudah mengatakan ke semua orang." Ujar Eve.
"Aku tidak percaya denganmu. Bagaimana kalau kakek terjadi apa-apa." Ujar Tala dengan tajam dan dinginnya.
Dokter Raka hanya memperhatikan dan melihat interaksi keduanya. Eve melepaskan tangannya yang digenggam oleh Tala. "Jika kamu masih menahanku seperti ini kamu saja membuang waktuku untuk menyelamatkan kakek. Sedetik itu sangat berharga." Ujar Eve dengan dingin kepada Tala.
Berkata dengan suara dingin dan wajah datar kepada Tala adalah pertama kalinya bagi Eve selama mereka menikah. Eve tau bahwa kali ini dirinya kurang sopan terhadap suaminya namun bagaimana lagi keselamatan pasien lebih penting terlebih itu adalah kakek Werawan.
"Jika terjadi sesuatu dengan kakek maka aku akan menyalahkanmu." Ucap Tala dengan dingin Eve langsung melangkahkan kakinya pergi untuk masuk ke dalam ruang operasi.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu Tala kepada istrimu. Bukankah sudah ayah pernah bilang bahwa ini adalah kemauan kakek." Ujar ayah Davka dengan tegas.
"Tala tidak mempercayai dia ayah. Kejadian ini juga disebabkan karena dia lalai menjaga kakek." Ucap Tala mengeraskan rahangnya dan mengepalkan erat kedua tangannya.
"Kita masih belum tau apa yang terjadi, kita belum mendengarkan penjelasan Eve atau mencari tau tentang hal ini. Lagipula ini semua terjadi sudah kehendak Tuhan. Berpikirlah lebih bijaksana dan dewasa Tala jangan mengedapnkan emosi." Nasihat ayah Davka.
Geya menggigit bibirnya dan sudah menangis sesenggukan, Tala menatap ke arah Geya yang duduk di depan ruang operasi sambil menangis lalu mendekat ke arah Geya.
Ibu Dhara dan Adya tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh ayah Davka jika ayah Davka sudah memberikan perintah kepada mereka walaupun sebenarnya mereka sangat ingin melihat keadaan yang terjadi dan menunggu kakek Werawan di dalam ruang operasi.
Di dalam ruang rawat Adya yang memang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit kepada keluarga pemilik rumah sakit. "Ibu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Adya penasaran sekaligus sangat cemas.
"Entahlah nak, ibu juga tidak tau." Jawab ibu Dhara berjalan ke sana kemari sambil merematkan kedua tangannya karena cemas.
"Ibu coba telepon kepala pelayan." Ucap Adya mendengar perkataan Adya ibu Dhara menoleh menatap menantu pertamanya itu.
"Kamu benar sayang." Ucap ibu Dhara dengan tangannya yang sudah mengambil ponsel miliknya di dalam tas.
"Halo bibi." Sapa ibu Dhara ketika sambungan telepon tersambung.
"Halo Nyonya." Balas kepala pelayan.
"Bibi apa yang sebenarnya terjadi kepada ayah?" Tanya ibu Dhara.
"Bibi masih belum tau Nyonya tadi bibi berada di taman belakang." Jawab kepala pelayan.
__ADS_1
Adya yang mendengarnya merasa sangat cemas apalagi ada Geya tadi yang ada di dalam mobil ambulance. "Bibi apakah Geya tadi datang ke mansion?" Tanya Adya.
"Iya Nona muda, tadi Nona muda Geya datang ke mansion tapi yang menyambutnya bukan bibi." Ujar kepala pelayan.
"Apakah bibi bisa memanggil pelayan yang menyambut Geya tadi." Pinta Geya, kepala pelayan mengiyakannya dan tidak mematikan sambungan telepon tersebut.
"Ha-halo Nyonya, Nona muda."
"Bibi apakah tadi bibi yang menyambut Geya?" Tanya Adya dan pelayan tersebut menganggukkan kepalanya tanpa besuara.
"Nona muda tidak melihat anggukan kepalamu." Ujar kepala pelayan yang melihat pelayan tersebut menganggukkan kepalanya.
"I-iya Nona, saya yang menyambut Nona Geya tadi tapi cuman sebentar." Ujar pelayan tersebut.
"Bisakah kamu menjelaskan secara rinci pertemuan kalian tadi?" Tanya Adya menuntut dan tegas karena merasa tidak sabar untuk mencari tau apa yang terjadi.
"Baik Nona. Tadi, Nona Geya datang dan saya menyambutnya di depan lalu Nona Geya duduk di ruang keluarga dan menanyakan di mana Tuan besar. Saya menjawab Tuan besar berada di kamarnya bersama dengan Nona Eve. Lalu setelah itu Nona Geya langsung pergi ke lantai dua naik lift dan setelah itu saya tidak tau apa-apa lagi Nona."
"Tapi, tidak lama kemudian kurang lebih 15 menit saya mendengar suara jeritan dari lantai dua dengan memanggil Nona besar. Saat itu juga Tuan muda baru tiba di mansion dan langsung berlari ke lantai dua."
"Dan kami yang di bawah tidak tau apa-apa kecuali teriakan Tuan muda yang terakhir yang memangil Tuan besar."
"Baiklah makasih bibi, apakah bibi kepala pelayan masih ada?" Tanya Adya.
"Saya di sini Nona muda." Ucap kepala pelayan setelah sebelumnya menerima ponsel dari pelayan di sampingnya.
"Bibi bisakah bibi tolong periksa CCTV bersama pengawal keamanan untuk melihat lantai dua tepatnya di area kamar kakek." Ujar Adya.
Ibu Dhara mengeluskan tangan menantunya yang sangat cemas. "Sayang ingat kondisimu jangan terlalu mencemaskan dan mengkhawatirkan sesuatu." Ucap ibu Dhara walaupun sebenarnya ibu Dhara tidak kalah cemas dengan Adya.
"Ibu Adya sangat khawatir dengan Eve dan takut jika Eve disalahkan dalam hal ini. Apalagi hubungan Tala dan Eve masih jauh dan sangat renggang."
"Bukan berarti Adya tidak khawatir denga keselamatan kakek tapi ibu tau sendiri bagaimana Tala yang masih keras kepala. Adya tidak ingin Eve pergi dari keluarga kita karena tidak betah dengan Tala. Eve sudah cukup menderita selama ini." Ujar Adya yang sudah menangis mengingat ketabahan dan kesabaran Eve dalam menghadapi Tala selama ini.
Ibu Dhara mengelus tangan Adya dengan lembut dan menenangkan Adya. "Sayang tenanglah jangan seperti ini nanti kamu drop lagi."
"Nyonya, Nona." Panggil kepala pelayan membuyarkan percakapan ibu Dhara dan Adya yang mana masih tersambung dengan telepon kepala pelayan.
"Bagaimana bibi?" Tanya Adya mengusap air matanya.
"Di CCTV kami melihat bahwa Nona Geya dan Nona Eve bertemu di lorong lantai dua dan mereka bercakap-capak tapi dilihat dari ekspresi wajah Nona Eve terlihat pucat dan cemas ketika mendengar perkataan dari Nona Geya. Tapi, sayangnya kami tidak bisa mendengar percakapan tersebut." Jelas kepala pelayan.
"Dan di belakang Nona Eve Tuan besar keluar dan mendengar perkataan dari Nona Geya sehingga membuat Tuan besar sangat terkejut dan berakhir Tuan besar masuk rumah sakit Nona."
__ADS_1
"Bibi bisakah kirimkan video rekaman CCTV itu kepadaku dan juga ibu." Pinta Adya dan dengan segera diangguki oleh kepala pelayan.
*Bersambung*