
“Ashi harus memanggil apa?” Tanya Ashi sambil menatap ke dalam bola mata Tala yang tersenyum ke arahnya setiap kali Ashi melihat ke arahnya.
Semua yang dilakukan Tala kepada Ashi membuat hati Eve merasa berdegup kencang tanpa sadar Eve mengusap perutnya dan meneteskan air mata.
Dokter Raka melihat semua yang dilakukan oleh Eve bagaimana pandangan Eve yang memandang ke arah Tala dengan penuh cinta dan bagaimana Eve mengusap perutnya tanpa sadar dengan meneteskan air matanya.
“Kak Eve Ashi harus memanggil suami kakak apa?” Tanya Ashi karena tidak mendapatkan jawaban dari Eve.
“Kenapa kak Eve menangis?” Tanya Ashi yang melihat Eve dengan cepat mengusap air matanya.
Eve tersenyum canggung dan melirik ke arah Tala lalu kembali berjalan mendekat ke arah Ashi dan duduk di samping Ashi. “Ashi mau memanggil suami kakak apa?” Tanya Eve balik.
Eve tidak ingin memaksa atau pun mengutarakan apa yang ingin dikatakan di dalam benaknya karena merasa tidak biasa. “Emmm jadi Ashi panggil saja kakak ya.” Ucap Ashi sambil menganggukkan kepalanya dan memikirkan sesuatu.
“Tapi, Ashi nggak mau panggil kakak Ashi mau panggilnya oppa.” Ucap Ashi membuat Eve terkekeh mendengarnya.
Tala seolah lupa waktu ketika masuk ke ruangan gadis kecil bernama Ashi itu hingga membuat ayah Davka yang sejak tadi menunggu bertanya-tanya kenapa Tala dan Eve belum juga kembali.
“Ke mana Tala?” Tanya ayah Davka yang melihat jam di pergelangan tangannya jam sudah menunjukkan pukul 3 sore namun baik Tala maupun Eve masih belum menampakkan wajahnya.
Sementara ayah Davka harus pergi menemani ibu Dhara dalam acara yang sudah dipersiapkan ibu Dhara jauh-jauh hari.
Ayah Davka sudah berapa kali menelpon Tala namun Tala tidak mengangkatnya sama sekali. Bagaimana Tala mau menjawab telepon dari ayah Davka sementara Tala tidak membawa ponselnya dan melupakan benda canggih itu di mobilnya karena membawa bingkisan kado buat Ashi tadi.
Sedangkan ayah Davka tidak menelpon Eve karena ayah Davka pikir bahwa Eve saat ini sedang bekerja ayah Davka tidak mau mengganggu Eve.
Tadi, ayah Davka juga sempat menelpon ibu Dhara yang berada di mansion dan ibu Dhara mengatakan bahwa Eve dan Tala sudah berangkat dua jam yang lalu.
Eve melihat jam yang berada di pergelangan tangannya yang sudah menunjuk pukul 3 sore itu berarti dirinya harus bersiap untuk bekerja memeriksa pasien yang dioperasinya satu minggu yang lalu secara rutin untuk melihat perkembangannya.
Lalu Eve menatap ke arah Tala seolah mengingat sesuatu. “Kak.” Panggil Eve dengan nafas yang terasa tercekat dan menghembuskannya dengan cepat seolah-olah dirinya baru mengingat sesuatu.
__ADS_1
Semua orang menatap ke arah Eve, Tala yang merasa dirinya dipanggil menatap ke arah istrinya yang menatapnya dengan mata melebar itu membuat Tala mengernyitkan dahinya.
“Ayah.” Ucap Eve satu kata kepada suaminya itu membuat Tala yang tadi semulanya duduk langsung berdiri.
“Ashi kakak kami pamit pergi dulu karena ada urusan yang penting.” Ujar Eve lalu menggeret Tala tanpa sadar dan berjalan cepat.
Dokter Raka hanya memandang ke arah dua orang yang sedang berjalan cepat dengan tangan Eve yang sama seperti waktu keduanya datang ke ruangan Ashi.
Eve lupa untuk pamit kepada dokter Raka karena dokter Raka hanya diam dan mengamati saja makanya Eve lupa pamit.
Dokter Raka tentunya merasa berkecil dengan sikap Eve yang tanpa sengaja itu namun untuk menguatkan hatinya dokter Raka berpikir positif mungkin saat ini urusan penting yang dimaksud oleh Eve menyita atensinya.
Ibunya Ashi merasakan bahwa dokter Raka mempunyai perasaan kepada Eve dan mewajarkan juga bagaimana seorang pria bisa dengan mudah jatuh cinta dengan Eve melihat Eve yang sangat penuh dengan aura ditambah lagi jika Eve sudah mengenakan pakaian dokternya.
Eve masih memegang tangan Tala. “Bagaimana bisa kita melupakan ayah yang sudah lama menunggu kita.” Ucap Eve sambil menekan tombol lift.
Tala hanya diam saja dan mengikuti ke mana langkah kaki Eve membawa dan menggeretnya itu.
Sesampainya di lantai di mana Adya dirawat pintu lift terbuka menampilkan dua sosok yang ditunggu sedari tadi oleh ayah Davka.
Ayah Davka menoleh ketika mendengar suara ketukan sepatu saling bersahutan dari kaki jenjang Eve.
Ayah Davka melihat bagaimana anaknya yang digeret oleh Eve dan berjalan mengikuti Eve dari belakang.
Dari jauh ayah Davka bisa melihat wajah kepanikan dari menantunya, “ayah maafkan kami karena telat datang.” Ujar Eve lalu melepaskannya dengan spontan sambil mengatur nafasnya.
Ayah Davka tersenyum menatap ke arah menantunya yang tampak ngos-ngosan itu. “Tidak apa-apa sayang. Memangnya kalian dari mana?” Tanya ayah Davka.
Awalnya ayah Davka merasa tidak yakin jika Tala masih bersama dengan Eve karena Eve harus bekerja sedangkan Tala tidak.
“Tadi, kami berhenti ke mall untuk membeli boneka sebagai hadiah ulang tahun Ashi lalu kak Tala membantu aku membawa bingkisan itu ke ruang rawat Ashi dan akhirnya kami mengobrol sehingga lupa waktu.” Jelas Eve.
__ADS_1
"Emm, kenapa ayah tidak menelpon?" Tanya Eve kepada ayah Davka.
Ayah Davka menatap ke arah Tala. "Tadi ayah sudah menelpon Tala namun tidak diangkat kalau ayah menelpon kamu ayah takut mengganggu kamu. Ayah pikir kamu tidak bersama dengan Tala." Jelas ayah Davka.
Eve menganggukkan kepalanya. "Maafkan aku ayah, ponsel aku ketinggalan di dalam mobil karena tadi membawa bingkisan kado." Ujar Tala dan ayah Davka memaklumi itu.
Ayah Davka menganggukkan kepalanya lalu menatap ke arah kaki menantunya itu yang memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam itu. “Apakah kaki tidak lecet berjalan dengan cepat seperti tadi?” Tanya ayah Davka perhatian.
Terkadang di dalam benak ayah Davka sebagai laki-laki merasa heran kenapa banyak sekali perempuan suka sekali memakai sepatu hak tinggi. Menurut ayah Davka itu sangat menyusahkan dan menyakiti diri sendiri.
Eve tersenyum ke arah ayah Davka. “Tidak apa-apa ayah ini hanya untuk pergi dan pulang kerja saja nanti diganti ketika Eve sampai di ruang.” Jawab Eve.
“Ibu pasti sudah menunggu ayah, sebaiknya ayah segera pulang ke mansion untuk siap-siap.” Ingat Eve lagi karena tidak mau sampai kelupaan seperti tadi hanya karena masih ingin mengobrol dan berkata kepada dirinya sebentar, sebentar dan akhirnya kebablasan.
Ayah Davka pun pergi setelah menganggukkan kepalanya dan mengusap lembut kepala Eve dengan sayang.
Eve memandang kepergian ayah Davka sampai ayah Davka tidak terlihat lagi karena masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai bawah.
Eve pun duduk di kursi depan ruang rawat Adya sembari mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Eve dan Tala bahkan melupakan bahwa baju mereka yang ada di dalam mobil namun beruntungnya karena memiliki pengawal jadi pengawal yang membawa segala peralatan majikannya itu.
Tala masih berdiam diri di samping Eve yang duduk di kursi, pengawal satu dan pengawal lainnya melirik satu sama lain ketika melihat Eve dan Tala hanya diam saja.
Mereka penasaran kenapa Tuan muda mereka itu tidak masuk langsung ke ruang rawat istri pertamanya apa masih ada hal yang perlu dibicarakan.
“Kalau begitu aku juga pergi dan harus mengganti baju.” Ujar Eve kepada dirinya sendiri lalu pergi tanpa menyadari bahwa Tala sedang menatapnya sedari tadi degan berdiri di samping kursi yang dirinya duduki.
Pengawal menundukkan kepalanya karena merasa apa yang dilihatnya adalah hal yang tidak pantas untuk mereka lihat sebagai pengawal. Privasi mereka tentunya sangat menjaga privasi majikannya.
*Bersambung*
__ADS_1