
Satu bulan kemudian Eve berlari di lobi rumah sakit dengan wajah yang sangat cemas dan khawatir.
Eve baru pulang dari perjalanan kota untuk mengisi seminar.
Di dalam perjalanan Eve mendengar kabar bahwa kakek Werawan masuk rumah sakit kembali karena kecelakaan tunggal.
Di depan ruang operasi Eve melihat wajah cemas ibu Dhara dan ayah Davka serta juga ada Tala di sana.
"Ibu ayah bagaimana keadaan kakek?" Tanya Eve dengan nafas yang terngah-engah.
Ibu Dhara melihat wajah penuh keringat dari menantu keduanya dan nafas yang masih belum teratur.
"Sayang kamu harus minum dulu." Ujar ibu Dhara yang tidak menjawab pertanyaan Eve.
Eve menggelengkan kepalanya sambil memegang kedua lengan ibu Dhara meminta jawaban dari pertanyaannya.
Ayah Davka yang sudah tau bagaimana karakter menantu keduanya menghela nafas. "Kakek mengalami kecelakaan ketika mau pergi ke rumah sakit nak." Jawab ayah Davka.
Eve terduduk mendengarnya walaupun tadi dirinya sudah dikabari oleh pengawalnya namun Eve masih tidak percaya atas semua yang terjadi.
Karena kakek Werawan mempunyai banyak pengawal yang mengawalinya dan tidak pernah pergi sendiri hanya bersama dengan sopirnya saja.
Dari arah jauh dokter Raka yang berlari menyusul Eve melihat wajah Eve yang sangat cemas lalu berjalan mendekat.
"Eve tas mu ketinggalan." Ucap dokter Raka sehingga membuat ibu Dhara, ayah Davka, Tala, dan Eve menoleh ke arah dokter Raka.
"Ouw maafkan aku telah merepotkan mu kak Raka aku sampai lupa. Terimakasih." Ucap Eve sambil menerima tas yang dibawa oleh Raka.
Ibu Dhara dan ayah Davka melihat penampilan laki-laki yang memanggil menantu mereka dengan akrab dari atas sampai bawah.
Dokter Raka yang melihat pandangan dari ibu Dhara dan ayah Davka hanya tersenyum. "Terimakasih nak karena kamu sudah mengembalikan tas menantu kami." Ujar ibu Dhara tersenyum dan dibalas dokter Raka dengan tersenyum.
"Sama-sama Nyonya."
"Apakah kamu dokter Raka?" Tanya ibu Dhara kembali karena ibu Dhara teringat perkataan Adya bahwa Eve mempunyai teman dokter laki-laki yang seprofesi dengan Eve.
Dokter Raka yang mendengarnya tersenyum. "Benar Nyonya Tuan nama saya Caraka Arkatama saya biasa dipanggil dokter Raka dan bidang saya sama dengan Eve."
Ibu Dhara yang mendengarnya tersenyum dan melirik sedikit ke arah Tala yang sejak tadi diam malah terkesan tidak peduli hal itu membuat Ibu Dhara merasa kesal.
"Kamu sangat tampan dan sangat baik. Apakah kamu sudah mempunyai pasangan?" Tanya ibu Dhara hal itu membuat Tala mengalihkan pandangannya dari ponsel dan mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan ibunya.
"Belum Nyonya." Jawab dokter Raka dengan canggung.
Ibu Dhara yang mendengarnya hendak ingin bertanya lagi. "Ibu ini bukan saatnya ibu menjadi wartawan." Ujar Tala hal itu membuat ibu Dhara menatap kesal namun tersenyum ke arah dokter Raka.
"Nak Raka bolehkah ibu memanggilmu seperti itu dan ibu juga mau minta tolong kepada nak Raka untuk mengantar Eve beristirahat ke ruangannya dan menjaganya agar tidak keluar. Ibu khawatir menantu ibu ini akan sangat lelah karena baru pulang dari seminarnya di luar kota." Ujar ibu Dhara dengan lembut.
Dokter Raka bingung namun dokter Raka menganggukkan kepalanya. "Ibu Eve baik-baik saja. Eve tidak tenang jika kakek masih di ruang operasi." Ujar Eve namun ibu Dhara menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah ayah Davka untuk membantu menjelaskan kepada Eve.
"Sayang, kamu istirahat terlebih dahulu biarkan ibu, ayah dan suamimu yang menjaga di depan. Nanti setelah kakek keluar dari ruang operasinya kami akan memberitahumu. Kamu jangan khawatir sekarang kamu istirahat." Ucap ayah Davka.
Eve tidak bisa mengelak lagi lebih baik sekarang dirinya mengikuti apa yang dikatakan mertuanya itu.
__ADS_1
Dokter Raka hanya memperhatikan interaksi antara mertua dan menantu yang terlihat saling memperhatikan dan menyayangi layaknya anak sendiri.
"Baiklah Eve akan membersihkan diri dan istirahat dulu nanti dua jam lagi Eve akan kesini." Ujar Eve.
"Jangan terburu-buru sayang kamu harus beristirahat dengan tenang." Ujar ibu Dhara.
Ibu Dhara melihat ke arah putra semata wayangnya yang sejak tadi diam tidak berbicara merasa sangat kesal.
Tala tau bahwa kini ibunya sedang menatapnya kesal. Namun, Tala tidak mempedulikannya apa yang dilihatnya di layar ponsel yang dikirimkan oleh seseorang sudah membuat Tala merasa merasa sangat marah.
"Kedua mertua mu terlihat sangat baik dan memperhatikanmu." Ujar dokter Raka
Eve tersenyum ketika mengingat perhatian yang diberikan oleh kedua mertuanya. "Iya mereka sangat baik dan aku merasa sangat beruntung menjadi menantu mereka."
"Senang mendengarnya." Eve tersenyum dan mengangguk mendengarnya.
"Bahkan ibu dan ayah tidak pernah membedakan aku kak Adya dan kak Tala. Malah mereka menganggap dan memperlakukan aku sebagai anak mereka."
Dokter Raka menganggukkan kepalanya dan bisa merasakan kasih sayang tersebut walaupun hanya berbicara sebentar dengan ibu Dhara dan ayah Davka.
"Jangan khawatir kakek akan baik-baik saja." Hibur dokter Raka.
Eve memandang ke arah dokter Raka yang mengatakan bahwa kakek Werawan akan baik-baik saja. "Semoga saja rasanya aku tidak sanggup jika terjadi apa-apa dengan kakek."
"Jangan memikirkan hal yang lain semaunya pasti sudah diurus. Memiliki kekuasaan dan kekayaan memang ada plus minusnya."
Eve menganggukkan kepalanya. "Sekarang masuklah kamu harus istirahat dan mengikuti perintah kedua mertuamu." Ujar dokter Raka
Eve merebahkan tubuhnya yang lelah banyak hal yang dipikirkannya terkait kecelakaan yang terjadi pada kakek Werawan menurut Eve terasa sangat ganjil.
Tanpa sadar ada sepasang mata tajam yang sedang melihat intens apa yang dilakukan oleh dokter Raka yang sedang menatap pintu ruangan Eve.
Tala mendapatkan telepon dari Adya dan segera pergi dari hadapan ibu Dhara dan ayah Davka untuk menerima panggilan seperti itu.
"Kesayangannya Adya bagaimana keadaan kakek sekarang? Apakah kakek baik-baik saja? Tidak ada luka yang serius kan? Bagaimana keadaan sopir kakek apakah baik-baik saja?"
Pertanyaan Adya yang beruntun membuat Tala bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu. "Kenapa kamu hanya diam saja." Ucap Adya dengan cemas.
Tala menghela nafasnya dengan pelan ketika dirinya diomeli oleh Adya. "Bagaimana aku bisa berbicara jika kamu terus bertanya dan tidak memberiku banyak kesempatan."
Tala bisa menebak bagaimana ekspresi dan apa yang diucapkan Adya kalau tidak tersenyum menyengir sambil memamerkan giginya maka Adya akan. "Iya, maafkan aku. Kamu tau aku begitu sangat khawatir ketika mendengar kakek mengalami kecelakaan. Apakah kamu sudah menyelidikinya dan menangkap pelakunya ini sungguh berbahaya sekarang." Ujar Eve.
Tala hanya diam mendengarkan perkataan Adya yang terlalu banyak mengomel menurut Tala. "Apakah kamu mendengarkan ku?" Tanya Adya yang merasa sedikit kesal dengan Tala yang hanya diam saja.
"Aku mendengar mu." Jawab Tala.
"Lalu kenapa kamu tidak merespon dan menjawab omonganku?" Lihat bahkan Adya sudah mulai mode mengomelnya.
"Bagaimana aku bisa ngomong sama kamu jika kamu terus mengomel dan tidak memberi aku kesempatan."
"Sudahlah berbicara dengan mu membuat rasa khawatir aku tidak berkurang lebih baik aku bertanya kepada ibu saja." Ujar Adya yang langsung mematikan SMA unhan teleponnya setelah mengucapkan kata manis sapaan Adya buat Tala yaitu kesayangan Adya puk puk.
Tala memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku jas dalam yang dikenakannya.
__ADS_1
Pandangan Tala terhenti ketika melihat dari jauh ada paman dan bibi Tala serta sepulu Tala Geya dan Harsha.
"Kakak bagaimana keadaan kakek sekarang?" Tanya Geya sambil bsrgelanjut manja di tangan kanan Werawan.
Sementara Tala yang melihat dengan sembarangan Geya memegang tangannya memberikan tatapan dinginnya.
"Kak bagaimana keadaan kakek?" Tanya Geya namun Tala tidak menghiraukannya dan malah melepaskan tangan Geya dari tangannya.
Geya yang melihatnya terkejut dan hanya mampu terdiam karena kalau protes pun akan terasa percuma. "Kak Tala sudah berubah." Ucap Geya dengan lirih.
Tala yang mendengarnya tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Geya.
Tala kembali ke depan ruang operasi di mana ayah dan ibunya yang senantiasa menunggu di sana.
Semua menjadi hening dan tidak ada satupun yang berbicara hingga dua jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi membuat ibu Dhara, ayah Davka, paman dan bibi Tala serta Geya dan Tala berjalan mendekat ke arah dokter yang menangani kakek Werawan di ruang operasi.
"Bagaimana keadaan ayah saya dokter?" Tanya ayah Davka dengan wajah cemasnya.
"Operasinya berjalan lancar dan Tuan Werawan masih dalam keadaan kritis tapi semuanya baik-baik saja." Jawab dokter menjelaskan.
"Apakah tidak ada hal yang lebih serius dokter?" Tanya paman Tala membuat ibu Dhara, ayah Davka dan Tala menatap tajam ke arah paman Tala tersebut.
"Maksud saya dampak dari kecelakaan ini apakah tidak berdampak buruk atau ada efek sampingnya dokter. Saya khawatir akibat benturan yang terjadi karena kecelakaan membuat ayah saya mengalami sakit yang lebih parah lagi dari sebelumnya."
"Sebaiknya kita bicara saja di ruangan dokter bersama dengan istri saya. Tala kamu jaga kakek." Perintah ayah Davka.
Bibi Tala mengepalkan kedua tangannya dan paman Tala hanya diam menyaksikan bahwa dirinya sudah tidak dianggap oleh ayah Davka.
"Aku harap paman bisa menjaga tutur kata paman lebih baik lagi ke depannya." Ujar Tala dengan dingin.
"Apakah salah jika aku bertanya hal seperti itu? Apakah sebagai anak saya tidak berhak untuk mengetahui lebih jauh mengenai perkembangan kesehatan ayah saya sendiri?"
Tala membalikkan badannya dan menghadap ke arah pamannya itu. "Paman sudah menghilangkan kepercayaan kami terhadap paman. Saya harap paman bisa mengerti hal itu paman berhak mengetahui perkembangan kesehatan kakek hanya sebatas hak yang bisa diberitahu saja. Apakah paman lupa bahwa kakek begitu sangat kecewa dengan apa yang paman lakukan."
"Tala maksud paman kamu bukan seperti itu jadi wajar jika seorang anak sangat khawatir dengan kesehatan ayahnya sendiri. Kenapa kamu memberikan benteng yang kuat bagi kami. Kita ada keluarga." Ujar bibi Tala.
"Keluarga. Apakah benar kita adalah keluarga. Keluarga Werawan adalah orang yang berkelas bukan orang yang rendah dengan merendahkan orang lain di depan umum karena status harkat dan martabat yang dimiliki."
"Kak Tala sudah berubah." Ujar Geya yang diam memperhatikan perdebatan yang terjadi.
"Aku berubah atau tidak itu bukanlah urusan mu karena kamu bukanlah siapa-siapa. Manusia memang harus berubah setiap hari untuk menjadi lebih baik lagi bukan lebih buruk karena apa yang telah dimiliki sehingga dengan mudahnya merendahkan dan menghina orang lain."
Tala membalikkan badannya untuk melangkah namun diurungkannya. "Satu lagi jangan menampilkan wajah pura-pura bertanggungjawab sebagai anak jika tidak mampu membuat anak paman untuk bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya."
Setelah mengatakan itu Tala langsung pergi dari hadapan keluarga paman dan bibinya seperti itu.
"Dia semakin merajalela kamu lihat sendiri bukan kamu harus mendapatkan warisan ayah lebih banyak." Ujar bibi Tala kepada suaminya.
"Aku tidak mau lagi diinjak-injak seperti ini apalagi diinjak oleh Dhara itu aku sangat membencinya. Ini semua karena Adya itu jika dia tidak masuk ke dalam kehidupan putra kita maka putra kita tidak akan kehilangan hak warisannya sebagai pewaris."
"Sekarang lihat kita harus menjauhkan putra kita dari kita karena wanita rendahan Adya itu. Aku bahkan tidak boleh menjenguk dan saling bertukar komunikasi agar dia tetap aman di sana." Ujar bibi Tala yang merasa sedih ketika mengingat putranya Adhikari Ekata Werawan harus diasingkan. "Kamu harus mendapatkan kepercayaan ayah lagi dan hak pewaris harus jatuh kepada putra kita Ad seperti dulu."
Namun kenyataan yang diucapkan oleh bibi Tala itu semuanya adalah salah karena dari awal yang menjadi pewaris keluarga Werawan adalah Nabastala Affandra Werawan bukan Adhikari Ekata Werawan.
__ADS_1
*Bersambung*