Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 77. Mulai Lagi


__ADS_3

Asisten Kaivan akhirnya tiba di bar di mana Tala berada dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


Jika Tala memiliki kulit putih seperti susu sedangkan Diego juga memiliki kulit putih namun tidak seputih Tala berbeda dengan Kaivan yang memiliki kulit eksotis sehingga tidak mengurangi kadar ketampanannya dan malah terlihat membuatnya sangat maskulin.


Pengawal Ai yang sudah melihat kedatangan sang asisten keluar dari dalam mobil, “asisten Kaivan saya serahkan Tuan muda di dalam kepada Anda.” Ujar pengawal Ai membuat asisten Kaivan hanya diam dan menjawab dengan anggukan kepalanya.


Melihat pengawal Ai pergi membuat asisten Kaivan menghela nafasnya lalu segera masuk ke dalam bar.


Sesampainya masuk ke dalam mata tajam asisten Kaivan melihat ke seluruh orang yang sedang ada di sana. Masih sore ternyata sudah mulai ramai.


Mata tajam asisten Kaivan tidak melihat keberadaan Tala sehingga datanglah seorang pelayan laki-laki yang menghampiri dan sudah tau asisten Kaivan datang untuk siapa.


“Tuan Kaivan, Tuan Nabastala berada di ruang yang seperti biasa mari saya antar.” Ujar pelayan laki-laki tersebut dan asisten Tala hanya mengikuti saja.


Tidak ada senyuman di wajah asisten Kaivan walaupun bibirnya berucap terimakasih kepada pelayan laki-laki.


Asisten Kaivan membuka pintu ruangan tersebut dan melihat sang Tuan muda sudah meminum minumannya dan habis dua botol.


Asisten Kaivan melihat jam tangan mahal mereka terkenal di dunia itu baru empat puluh lima menit tapi Tala sudah menghabiskan dua botol.


Dengan santainya asisten Kaivan duduk sembari memperhatikan Tala yang asyik dengan minumannya itu.


Pandangan Tala sangat kosong membuat asisten Kaivan memijit pelipisnya pelan, “kenapa cinta itu merumitkan sekali.” Ujar asisten Kaivan.


“Kenapa kamu tidak minum?” Tanya Tala yang masih sadar walaupun sekarang sudah habis 3 botol minuman.


“Kalau aku minum siapa yang akan membawa kita keluar dari sini lagian besok aku harus bekerja dan tidak ada libur di bulan ini.” Sindir asisten Kaivan yang merasa kesal dengan Tuan muda sekaligus sahabatnya itu.


Nabastala hanya mendengus dan tersenyum sinis ke asisten Kaivan lalu mengambil sebotol minuman kembali untuk ditegakkannya secara langsung tanpa menuangkannya ke dalam gelas yang dilakukannya tadi.


Asisten Kaivan mengangkat alisnya sebelah lalu melipatkan kedua tangannya sungguh terasa membosankan menunggu sang Tuan muda itu untuk selesai dengan minumannya sampai mabuk dan pingsan.

__ADS_1


Tala sangat kuat minum walaupun Tala sangat jarang melakukannya sedangkan asisten Kaivan walaupun asisten Kaivan terlihat nakal dengan matanya yang selalu jelalatan ketika melihat perempuan tidak membuat asisten Kaivan melampiaskan dengan minuman keras karena dirinya tidak kuat seperti Tala maupun sekretaris Diego.


“Apa masalahnya karena dia lagi?” Tanya asisten Kaivan dengan memajukan tubuhnya dan tangan yang berpangku di atas kedua lututnya.


Tala tidak menjawabnya dan meminum minuman beralkohol lagi tanpa dijawab pun asisten Kaivan sudah tau jawabannya dilihat dari reaksi sang sahabat.


“Habiskan sebisa kamu, kamu harus cepat tidak sadarkan diri.” Ujar asisten Kaivan ke Tala arena sungguh asisten Kaivan sangat bosan berada di ruang ini hanya berdua dengan Tala yang sedang asyik dengan minuman dan pikirannya itu.


Apalagi sekretaris Diego belum datang jadi tidak ada yang bisa diajak asisten Kaivan berbicara.


Tak lama kemudian seorang wanita dengan pakaian pelayannya datang untuk mengantarkan minumannya.


Pelayan wanita tersebut memaksakan senyumannya ke arah Tala dan asisten Kaivan yang memandang ke arahnya dengan tatapan tajamnya.


Sungguh hal itu membuat pelayan itu tidak nyaman namun dirinya harus terpaksa melakukannya karena ini semua adalah tugasnya.


“Kamu duduk di sini saja.” Ujar asisten Kaivan kepada pelayan wanita tersebut membuat pelayan wanita mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah asisten Kaivan.


Lalu pelayan wanita tersebut menundukkan kepalanya lagi, “maafkan saya Tuan saya tidak bisa karena ada pekerjaan yang menanti.” Ujar pelayan wanita tersebut dengan sopan kepada asisten Kaivan.


“Duduklah, apa aku harus menelpon bos mu baru kamu percaya tenanglah kamu tidak akan dipecat bos mu tidak akan berani.” Ujar asisten Kaivan.


Mata pelayan wanita dan asisten Kaivan tersebut saling pandang dalam waktu yang cukup lama sampai pelayan wanita tersebut percaya apa yang dikatakan oleh asisten Kaivan kepadanya.


Pelayan wanita tersebut duduk di lantai membuat asisten Kaivan mengernyitkan dahinya melihatnya. “Siapa yang menyuruh mu duduk di situ, sofa ini begitu besar. Duduklah di sini temani aku, aku bosan menunggu dia tidak sadarkan diri.” Ujar asisten Kaivan.


Pelayan wanita hanya menuruti saja karena dirinya mendapatkan pesan dari bosnya bahwa dirinya harus menuruti apa yang dikatakan oleh asisten Kaivan kepada dirinya.


Pelayan wanita tersebut duduk dengan merapatkan kedua kakinya sungguh tidak nyaman rasanya. “Siapa nama mu?” Tanya asisten Kaivan.


“Maafkan saya Tuan saya tidak bisa memberitahukan identitas saya sesuai dengan peraturan di sini.” Ujar pelayan wanita tersebut membuat asisten Kaivan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Asisten Kaivan tau bahwa itu salah satu akal-akalan pelayan wanita tersebut dan asisten Kaivan tau bahwa pelayan wanita tersebut terpaksa melakukan pekerjaan ini.


Dari cara bicaranya bahwa pelayan wanita itu bukanlah wanita yang dia temui di bar ini bahkan tutur kata bahasanya terlihat sangat berkelas.


“Aku menyuruh mu untuk duduk di sini karena aku bosan tidak ada teman yang bisa aku ajak berbicara. Kamu lihat dia sedang patah hati selalu.” Ujar asisten Kaivan yang mulai berbicara dan pelayan wanita tersebut hanya diam dan terkesan tidak peduli.


Pelayan wanita itu tau bahwa asisten Kaivan sedari tadi melihat ke arah dirinya seperti sangat penasaran.


Sudah dua jam lamanya akhirnya sekretaris Diego tiba juga dan asisten Kaivan yang sejak tadi berbicara dan hanya dibalas dengan anggukan kepala dan iya saja dari pelayan wanita tersebut menyuruh pelayan wanita itu pergi.


Sekretaris Diego melihat pelayan wanita tadi lalu menatap ke arah asisten Kaivan yang mengedikkan bahunya. “Kamu terlalu lama sehingga aku menyuruhnya untuk di sini menemani aku berbicara kalau tidak aku bisa gila berbicara dengan dia.” Tunjuk asisten Kaivan kepada Tala.


“Benarkah.” Ujar sekretaris Diego kepada asisten Kaivan.


“Jangan mengalihkan pembicaraan kenapa kamu lama sekali. Lihat dia sudah menghabiskan sepuluh botol aku nggak sanggup melihatnya bahkan sudah teler begitu dia masih saja ingin minum.” Ujar asisten Kaivan.


“Biarkan aku bernafas dulu, biarkan saja dia. Kesadarannya masih ada baru nanti kita pukul tengkuknya saat kesadarannya masih sisa sedikit.” Ujar sekretaris Diego.


“Kamu sudah menanyakannya?” Tanya sekretaris Diego kepada asisten Kaivan.


“Mana mungkin aku menanyakannya yang ada dia meracau nggak jelas lagipula tidak akan jauh bukan masalahnya. Padahal istri pertama terbaring di rumah sakit dan membutuhkan perhatian ckckck.” Ucap asisten Kaivan.


“Dia memang nggak ada akhlak dari dulu.” Ujar sekretaris Diego dan diangguki kepala oleh asisten Kaivan setuju.


“Setidaknya kita kalah dengannya dia lebih muda dari kita dan sudah mempunyai dua istri sedangkan kita dia tidak memberikan waktu bebas untuk berkencan.” Ujar sekretaris Diego. “Memang tidak ada akhlak.” Ucap sekretaris Diego lalu melempar kulit kacang dan mengenai wajah Tala yang sudah hilang kesadarannya.


Bukan karena Tala tidak memberikan kebebasan hanya saja sang sekretaris dan asisten sendiri yang memilih untuk sementara waktu tidak mau berkenalan dengan wanita. Padahal banyak wanita yang juga ikut mengantri dan mencari perhatian keduanya.


Jika Tala sangat suka bekerja berarti kedua sahabat sekaligus sekretaris dan asistennya itu juga gila kerja sehingga yang dipikirkan keduanya hanyalah pekerjaan walaupun keduanya mengomentari wanita jika ada wanita yang melewati mereka dan terang-terangan menggoda mereka.


“Kapan jodoh kita akan ketemu.” Ujar sekretaris Diego membuat asisten Kaivan malas mendengarnya. Obrolan kedua pria jomblo itu selalu seperti itu selagi menunggu Tala tidak sadarkan diri.

__ADS_1


 


*Bersambung*


__ADS_2