
"Kenapa ayah tidak mau pergi. Ayah harus profesional." Tegur Eve kepada Tala yang memberitahukan bahwa sebenarnya ada perjalanan bisnis dua hari sebelum keberangkatan.
Saat itu usia kehamilan Eve memasuki usia 9 bulan. Tala merasa khawatir dan takut meninggalkan Eve seorang diri yang sedang hamil besar.
"Kasihan Juan sama Kevin dia pasti kerepotan." Ujar Eve, Tala merasa tidak suka jika Eve menyebut laki-laki lain selain dirinya dan Orion. Namun sebisa mungkin dia harus sabar menghadapi ibu hamil yang ada nanti dia akan disuruh tidur di luar seperti yang sudah-sudah karena suasana hati Eve.
"Sayang ayah nggak mauuuuuuuu." Tala merengek sembari menyembunyikan wajahnya di perut besar Eve.
Eve saat ini sedang sibuk memakan cemilannya dan menonton acara masak-memasak.
Hobi Eve sekarang adalah menonton acara masak-memasak jika dirinya tidak boleh keluar kamar oleh Tala saat suaminya itu tidak ada.
"Iya nggak maunya kenapa?" Tanya Eve yang sudah jengah dengan sikap suaminya itu yang terkadang memang suka seenaknya.
"Kalau ayah begini nanti bagaimana dengan Orion dan adik bayi yang melihat sikap ayahnya yang tidak profesional. Bukankah ayah ingin menjadi ayah yang sempurna."
Tala membangkitkan badannya dan mendudukkan dirinya di samping Eve. Namun, tangannya mengelus lembut perut Eve yang membesar. Ingin sekali rasanya dia mengigit perut Eve karena gemas.
"Ayah nggak mau ninggalin bunda sendirian apalagi dengan kehamilan bunda yang semakin besar dan akan melahirkan."
Eve memutar kepalanya ke samping dan mengelus lembut pipi Tala terkadang suaminya itu memang suka berlebihan.
"Bunda tidak sendiri ada ayah dan ibu serta ada Geya yang datang kesini bersama mertuanya. Ada banyak orang di mansion ini apa ayah lupa bahwa ada pengawal Ai dan pengawal Bee juga."
"Tapi, bunda ayah itu ingin melihat bunda melahirkan ayah ingin berada di samping bunda. Ini adalah momen pertama bagi ayah, ayah tidak mau melewatkannya nanti bagaimana kalau terjadi kenapa-napa saat bunda berada di kamar. Please bunda jangan memaksakan ayah untuk pergi."
"Itu adalah proyek besar dan ayah akan bertemu dengan pengusaha yang berpengaruh dari beberapa benua. Bukankah ini adalah kesempatan bagi ayah dan ini juga mimpi ayah kan."
"Kalau begitu kita tinggal saja di Lembah Hunza sana ayah akan bekerja sebagai tukang kebun atau membuka usaha kecil-kecilan saja yang penting bersama dengan bunda dan anak-anak." Lihat sekarang pria itu merajuk.
"Ayah tidak mau meninggalkan momen kebersamaan saat bersama kalian." Ujar Tala menyenderkan kepalanya dan mengelus perut besar Eve.
Eve hanya menghela nafasnya percuma saja memberitahukannya. "Bunda tidak mau tau pokoknya ayah harus pergi, jangan khawatir kata dokter HPL nya kan seminggu lagi. Ayah hanya di sana tiga hari."
"Dokter mana tau kapan adik bayi akan lahir dokter bukan Tuhan. Yang menentukannya adalah Tuhan. Nanti bagaimana kalau ayah di sana dan bunda tiba-tiba melahirkan."
"Sudahlah ayah tidur di luar bunda tidak mau melihat ayah untuk sementara waktu." Selalu saja seperti itu jika suasana hati Eve kurang baik.
Tala mana bisa harus tidur di luar dan tidak memeluk istrinya yang ada di malah sangat khawatir. Meninggalkan istrinya seorang diri di kamar saja dia sudah sekhawatir ini bagaimana kalau dia harus pergi ke luar negeri.
Tala memandang sendu ke arah Eve, "bunda, bunda janganlah marah. bundaaaaaaaa." Rengek Tala.
__ADS_1
"Kalau ayah tidak mau ya sudah bunda akan tidur bersama dengan ibu saja." Ujar Eve.
Alhasil malam itu Tala tidur di luar dan meminta ibu Dhara untuk tidur bersama Eve. Namun tetap saja Tala merasa khawatir walaupun ada ibunya. Rasanya belum tenang hatinya jika bukan dia yang berada di sisi Eve.
"Kenapa lagi di usir? Nggak nurut ya sama istri." Tuding ibunya yang sudah biasa melihat pasangan suami istri itu. Lihat bahkan ibunya pasti akan mendukung penuh apa yang dilakukan Eve kepadanya padahal dia adalah anak kandung dan juga anak tunggal. Sepertinya memang benar dia dianak tirikan jika sudah ada istrinya. Tala tentu saja bersyukur melihat istri dan ibunya lengket seperti anak kandung.
"Lagian kamu ini kan ada ayah dan ibu yang menjaganya. Jangan khawatir nanti Eve akan membaik, hormon ibu hamil memang suka sekali berubah. Itu adalah risiko seorang suami yang menghamilinya." Ucap ibu Dhara lalu segera masuk ke dalam kamar putra dan menantunya.
Tala menatap ke arah ayahnya yang juga nelangsa karena dirinya akan tidur sendiri dan menatap prihatin ke arah sang putra yang terlihat tidak rela itu jika harus tidur di luar kamar.
Tala masuk ke dalam kamar Adya yang mana itu sekarang menjadi kamar Orion. "Karena istri ayah menemani putri ayah tidur jadi ayah tidur di kamar cucu saja." Ketiga pria Werawan beda generasi itu tidur bersama akhirnya. Orion sudah jatuh tertidur dan mungkin sedang bermimpi.
Tala uring-uringan di dalam mansion melihat istrinya yang bersikap dingin kepadanya. Istrinya hanya menjawab dengan singkat jelas dan padat. Istrinya mengurung diri di kamar membuat Tala frustrasi karena tidak membiarkannya juga masuk.
"Bundaaaaaaaaaaaaa." Panggil Tala lemah dari jauh Geya menggelengkan kepalanya melihat sepupunya yang tampak berantakan. Ini masih tengah hari tapi wajah Tala sudah tidak enak di pandang apalagi penampilannnya.
"Kakak minggir deh aku mau masuk." Usir Geya kepada Tala yang sedang duduk selonjoran sembari menyandarkan punggungnya ke pintu dengan lesu.
Tala tidak banyak bicara dia hanya menyingkirkan tubuhnya dengan menggeser kan badannya sedikit untuk memberikan ruang bagi Geya masuk dan menemani Eve di dalam kamar.
Eve saat ini sedang sibuk merajut pakaian bayi hak yang suka sekali dilakukan Eve semenjak dia hamil Orion. Memang tidak sia-sia dia belajar dari Adya dulu.
Geya menutup pintu kamar dan tidak lupa mengulurkan lidahnya ke arah Tala untuk mengejek. Tala mendengus melihatnya.
"Kakak Geya masuk ya." Ujar Geya namun tidak dihiraukan oleh Eve kehadirannya malah...
"Seharusnya kamu bilang sebelum masuk ini kamu sudah masuk dan menutup pintu baru bilang." Celetuk Eve.
Geya hanya menyengir mendengarnya. "Ouw bagus sekali dan cantik nanti ajarin aku untuk merajut juga ya kak. Aku heran deh kak kenapa ya aku tidak ada bakat seperti ini padahal bibi Dhara sangat handal di bidang seni dan karya." Ujar Geya.
"Itu karena kamu keponakan ayah bukan keponakan ibu." Geya menganggukkan kepalanya setuju memang benar adanya.
"Apa aku terlalu berlebihan?" Tanya Eve membuat Geya mengerti.
"Tidak. Menurut aku tidak. Wajar jika kakak bersikap seperti itu kepada kak Tala. Lagipula kak Tala memang terkadang berlebihan. Yang ada kak Tala yang berlebihan tau kak."
Eve tau apa pun yang dikatakannya pasti keluarga suaminya akan mendukungnya.
"Dia pasti sangat sedih." Celetuk Eve namun tetap fokus dengan rajutannya melihat keluarga sang suami memihak kepadanya.
"Jelas sekali kak Tala sangat sedih. Dia kan memang tidak bisa jauh dari kakak. Wajahnya sangat nelangsa."
__ADS_1
"Apa kakak sedih jika berjauhan dengan kak Tala?" Tanya Geya dengan hati-hati.
"Apa kamu sedih jika berjauhan dengan Axel?" Tanya Eve balik.
Geya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, "entahlah. Axel kan sebelas dua belas sama kak Tala. Tapi, apa kakak tidak mau kak Tala melihat kakak melahirkan nanti?"
"Aku tidak mau dia melihat wajah buruk aku saat melahirkan. Aku pasti sangat jelek." Geya tidak menyangka dengan pemikiran iparnya ini.
"Jadi, kakak mengkhawatirkan itu?" Tanya Geya memastikan kembali.
"Iya selain itu aku nggak mau dia selalu seenaknya dia harus jadi panutan untuk karyawannya. Jika dia bersikap seenak ini bagaimana dengan karyawannya. Banyak orang pastinya berada di posisi seperti kami namun mereka harus berlapang dada demi menghidupkan keluarga kecil mereka. Istrinya pasti mau suaminya ada di sisinya saat akan melahirkan namun karena tak berdaya dengan pekerjaannya mereka harus sangat terpaksa berpisah untuk sementara waktu."
Geya mengangguk kali ini dia hanya cukup mendengarkan saja dan akan melaporkan hal ini kepada sepupunya itu.
"Tapi, apa kakak tau bahwa kak Tala sudah membuat peraturan baru bagi siapa yang memiliki istri atau wanita yang sedang hamil akan diberikan cuti. Bagi para pria yang sudah beristri diberi waktu satu bulan sebelum istrinya melahirkan dan tiga bulan setelah istrinya melahirkan. Dan bagi para wanita yang sedang hamil diberi waktu sekitar 7 bulan untuk cuti 3 bukan sebelum melahirkan dan 4 bukan setelah melahirkan."
"Tidak hanya itu walaupun mereka cuti mereka tetap diberikan gaji setiap bulannya."
"Makanya dari itu kak Tala merekrut banyak karyawan yang masih muda dan belum menikah untuk menutupi kekosongan tempat selama waktu dari cuti yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Nanti mereka yang cuti bisa kembali lagi bekerja jika mereka mau."
"Kenapa dia tidak memberitahuku." Ujar Eve pada akhirnya.
"Mungkin karena kak Tala menganggap bahwa itu bukanlah hal yang penting yang harus dipikirkan kak Eve. Kakak tau kan bahwa kak Tala sangat overprotective dan kak Tala ingin bahwa kak Eve hanya fokus pada kehamilan dan menikmati masa-masa kehamilan saat bersamanya."
"Walaupun kak Tala suka tidak masuk kantor namun kak Tala tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang direktur."
"Aku tidak membela kak Tala ya kak. Aku mah udah pasti akan membela kak Eve dan paling terdepan seperti kata iklan motor Yamahi." Lalu Geya tertawa kecil mendengar candaannya itu.
"Sekarang kamu semakin receh seperti Axel." Celetuk Eve dan Geya tertawa mendengarnya.
"Pasti tidak mudah baginya." Ujar Eve membuat Geya tidak mengerti awalnya.
"Iya kak Tala dari kecil sudah menanggung banyak beban di pundaknya. Menjadi seorang pewaris tunggal." Ujar Geya dengan matanya yang sedikit kosong.
Sebenarnya Geya sangat ingin tau dan sangat merindukan kakak kandungnya itu yang tidak tau di mana keberadaannya. Ia tau bahwa Tala pasti menyembunyikan kakak kandungnya itu.
Geya sangat memahami betul kesalahan kakaknya yang fatal karena telah mengambil seroang perempuan muda yang lemah dan tak berdaya lalu menyuruh Adya untuk menggugur kandungan sebanyak 7 kali dan lebih parahnya kedua orangtuanya menyetujui semua itu dan menyuruh perempuan itu menjauh termasuk dirinya dulu yang berada di pihak kakak dan kedua orangtuanya.
Kakak kandungnya tidak pantas untuk disebut sebagai pria karena sudah menghancurkan kehidupan seorang perempuan yang bahkan sudah berapa kali ingin mengakhiri hidupnya dan masih begitu percaya kepada kakaknya bahwa tidak akan ditinggalkan. Membayangkan saja Geya tidak akan sekuat dan setangguh Adya jika dia berada di posisi seperti itu. Dia beruntung karena mendapatkan Axel yang begitu sangat mencintainya dan melakukannya layaknya ratu.
*Bersambung*
__ADS_1