
Selama dua minggu ini Eve disibukkan dengan merawat pasiennya, setiap kali mengingat para pasien yang ditangani serta para keluarga yang ditemui Eve membuat Eve selalu terlihat ceria dan semangat.
Tapi, entah kenapa dengan badan Eve hari ini. Eve merasakan badannya sungguh terasa tidak nyaman karena semenjak bangun dari tidur Eve berkeinginan untuk memuntahkan isi dalam perutnya.
Ketika masih ada Tala di kamar Eve berusaha untuk menahan gejolak dari dalam perutnya untuk segera dimuntahkan karena Eve tidak ingin membuat Tala bertambah merasa jijik maupun benci terhadap dirinya.
Tala tidak mempedulikan dan menanyakan kenapa Eve hanya diam dan tidak agak sedikit menjauh darinya walaupun di dalam hatinya sungguh merasa penasaran. Eve tampak sibuk dengan ponsel yang dimainkannya.
Karena merasa tidak betah saat berada di dalam satu ruangan yang hanya berdua dengan Eve membuat Tala segera pergi keluar dari kamarnya dan menghampiri kamar yang ada di depan kamarnya dengan Eve.
Mengetuk pintu lalu membukanya Tala melihat Adya sedang bercermin sambil menyisir rambutnya. Adya memberikan senyumannya kepada Tala, “jangan tersenyum, aku tau bahwa kakak tidak baik-baik saja.” Ucap Tala yang langsung memeluk Adya dari belakang.
“Jangan khawatir kakak pasti akan sembuh, siang nanti kita akan berangkat ke negara S.” Ucap Tala memberitahukan mengenai keberangkatan mereka untuk pergi ke rumah sakit di negara S. Lalu tangan Tala mengambil alih sisir yang dipegang oleh Adya.
“Rambut ini akan segera tumbuh dan tidak akan rontok lagi jika kakak sudah sembuh. Rumah sakit itu sangat bagus.” Adya hanya mendengarkan setiap perkataan dari suaminya itu dan menatap ke arah Tala dalam diamnya.
“Apakah kamu sudah memberitahukan mengenai keberangkatan mendadak kita ke negara S dan perihal bahwa kamu akan menjaga dan merawat aku di sana?” Tanya Adya kepada Tala sementara Tala menghentikan aktivitas menyisir rambut Adya.
“Sampai kapan kamu harus bersikap dingin kepadanya. Kalian adalah sepasang suami istri kamu harus bersikap adil. Eve juga memerlukan perhatian dan kasih sayang kamu.” Nasihat Adya kepada Tala.
“Aku tidak mau membahas ini kakak cukup fokus pada kesehatan dan kesembuhan kakak begitu juga dengan aku. Dia tidak akan semudah itu untuk menyerah.” Ucap Tala melanjutkan menyisir rambut Adya.
Tangan Adya menghentikan tangan Tala yang menyisir rambutnya. “Jangan sampai kamu menyesal karena telah menyia-nyiakannya. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan begitu juga dengan dirinya saat itu kita masih remaja labil.”
Tala tidak mendengarkan perkataan Adya dan berjalan pergi mengambil kursi roda hal itu membuat Adya menghela nafasnya dan menatap sendu ke arah Tala. “Aku harap dan berdoa kepada Tuhan agar kamu segera cepat sadar sebelum semuanya terlambat.”
Di dalam kamar Nabastala dan Eve
Eve yang melihat suaminya keluar dari dalam kamar segera melepaskan ponsel miliknya sembarangan lalu berlari ke arah kamar mandi sambil menutup mulutnya. Berulang kali Eve memuntahkan isi dalam perutnya namun yang keluar hanyalah cairan.
“Huh, ada apa denganku hari ini.” Ujar Eve dengan dirinya sendiri sambil menopangkan tubuhnya dengan kedua tangannya yang memegang kedua ujung wastafel. “Kenapa perutku terasa mual sekali.”
“Aku tidak boleh terlihat pucat jika tidak ibu dan ayah akan menyuruh ku untuk berdiam diri di mansion.” Ucap Eve lalu segera membersihkan mulutnya dan setelah itu keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja rias untuk memoleskan make up ke wajahnya agar tidak terlihat pucat.
Saat Eve keluar dari kamar dan berjalan hampir mendekati dapur rasa bergejolak di dalam perut Eve mulai lagi saat mencium bau yang menyengat. “Huh, sepertinya aku harus pamit dan tidak sarapan.” Ujar Eve saat merasakan perasaan tidak nyaman.
“Ibu, ayah, kak Adya dan kak Tala Eve pergi ke rumah sakit terlebih dahulu karena ada pasien yang harus segera ditangani oleh Eve.” Ucap Eve tanpa mendengar balasan perkataan dan langsung menghampiri ibu Dhara dan ayah Davka untuk mencium tangannya lalu sambil menggigit bibir dalamnya untuk menahan sesuatu yang ingin keluar.
Eve juga berjalan ke arah Tala lalu mencium tangan Tala yang harus menjadi kebiasaannya walaupun Eve tau bahwa Tala sebenarnya tidak suka. Lalu Eve beralih ke arah Adya dan mencium pipi Adya. “Eve pergi bekerja dulu kak, kakak hati-hati di rumah telpon Eve jika kakak merasa kesulitan." Ucap Eve terburu-buru.
Adya yang melihat Eve terburu-buru hendak mencegah Eve untuk memberitahukan bahwa mereka semua hari ini ingin pergi ke negara S untuk menjalani pengobatannya. “Sayang kamu tidak perlu khawatir nanti kita akan memberitahukannya melalui telepon.” Ucap ibu Dhara yang mengetahui kekhawatiran menantu pertamanya.
Adya melirik ke arah Tala dengan tajam karena tidak memberitahukan hal ini jauh-jauh hari kepada Eve. “Baik bu.” Jawab Adya dan melanjutkan kembali sarapannya yang sempat tertunda. Adya merasa bersalah kepada Eve karena dirinya orang-orang sibuk memperhatikannya.
Di dalam mobil Eve menyuruh sopir untuk menghentikan mobil dengan segera karena Eve ingin memuntahkan isi dalam perutnya yang kosong. Sungguh perut Eve rasanya sangat perih, “bapak bisa minta tolong nanti berhenti di tempat toko roti dan tolong beli roti isi coklat dan juga susu coklat ya pak.” Ucap Eve sambil menyandarkan tubuhnya yang lemas.
“Baik Nona.” Ucap sopir tersebut sambil menatap wajah pucat dari istri kedua dari anak majikannya itu dengan raut wajahnya khawatir. “Toko roti yang biasa ya Nona.” Ucap sopir tersebut dan Eve menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Bapak tolong juga beli air mineral ya satu botol. Terimakasih, maaf sudah merepotkan bapak.” Ucap Eve saat mobil berhenti di sebuah toko roti yang menjadi langganan Eve ketika Eve merindukan makan roti.
Sopir kembali dengan membawa pesanan Eve, “Nona ini.” Ucap sopir tersebut sambil menyerahkan kantong berisi roti, susu, dan air mineral kepada Eve dalam satu kantong. “Apa sebaiknya kita kembali ke mansion. Nona terlihat tidak baik-baik saja hari ini.”
Eve yang sedang membuka bungkus roti dengan tangan sedikit bergetar tersenyum mendengar nada perhatian dari sopir yang selalu senantiasa mengantar jemputnya itu ke mana pun dirinya pergi. “Tidak usah bapak, setelah sarapan mungkin Eve akan baik-baik saja.”
Sopir menganggukkan kepalanya lalu kembali menjalankan mobilnya setelah melihat bahwa Eve sudah meminum susu dan meminum air mineral yang dibelikannya.
Eve merasa ada sesuatu yang tertinggal sambil mengunyah roti yang ada di dalam mulutnya tapi Eve merasa tidak ingat apa-apa. “Kira-kira apa ya yang tertinggal semoga itu bukan barang yang penting.” Ucap Eve dalam benaknya.
Mobil sampai di pelataran rumah sakit namun Eve masih sibuk dengan lamunannya membuat sang sopir mengernyitkan dahinya karena tidak biasanya Nona mudanya ini melamun apalagi di pagi hari. “Nona maaf kita sudah sampai.” Pecah sopir tersebut untuk menghentikan lamunan Eve.
Eve yang mendengarnya terkejut dan sedikit linglung. “Ouw benarkah, kenapa terasa cepat sekali.” Imbuh Eve sambil tersenyum dan menatap ke sekelilingnya. “Apakah nanti waktu akan berjalan cepat seperti ini juga.” Ucap Eve dalam benaknya.
“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nona?” Tanya sang sopir saat melihat Eve kembali terdiam dan melamun lagi. Eve tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Terimakasih sudah mengantar Eve, bapak bisa beristirahat. Eve akan pulang nanti sore jam empat.” Ucap Eve sebelum membukakan pintu. Setia hari Eve tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada sang sopir yang telah mengantar jemputnya.
Eve berjalan dengan sedikit linglung sambil memegang kepalanya sesekali dan hal itu diperhatikan oleh sang sopir dan pengawal di belakang mobil yang ditumpangi Eve tadi. “Ada apa dengan Nona muda hari ini. Kenapa terlihat tidak sehat.” Tanya sopir tersebut.
Eve berjalan ke ruangannya dengan segera untuk mengistirahatkan tubuhnya yang entah kenapa semakin lemas. Namun, langkah kaki Eve terhenti saat ada sepasang sepatu pantofel menghentikan langkah kakinya yang hendak masuk ke dalam ruangan-nya.
“Kenapa kamu terlihat tidak sehat hari ini. Dan kenapa kamu berangkat begitu pagi bukankah kamu tidak ada jadwal mendesak pagi ini?” Tanya dokter Raka yang melihat teman sejawatnya ini dari atas sampai bawah.
“Permisi dokter Raka.” Ucap Eve tanpa menggubris dokter Raka dan dengan segera menyingkirkan tubuh kekar dokter Raka yang sedikit menghalanginya masuk ke dalam ruangan-nya.
“Sudah dua minggu dan dia masih tetap dingin serta kaku.” Imbuh dokter Raka yang melihat Eve kini sedang meletakkan barangnya di atas meja. Kemudian dokter Raka berjalan ke arah bagian resepsionis.
“Kamu tidak boleh sakit Eve bagaimana dengan pasien mu nanti jika mereka membutuhkan mu.” Ucap Eve menguatkan dirinya.
Seorang perawat masuk ke ruangan Eve untuk memberitahukan jadwal Eve hari ini, “selamat pagi dokter Elakshi.” Sapa perawat tersebut dan Eve segera menegakkan tubuhnya dan membalas sapaan perawat yang menjadi asistennya itu.
Perawat tersebut memberitahukan bahwa pagi ini tidak ada jadwal yang mendesak atau pun kunjungan kepada pasien yang sehabis operasi kepada Eve. Eve mengangguk pelan dan tau bahwa sebenarnya dirinya memang tidak ada jadwal pagi ini yang mendesak seperti dirinya katakan kepada orang-orang di mansion.
“Lihat kamu berbohong Eve kepada orang tua dan suami mu.” Ucap Eve dengan dirinya lalu berjalan ke arah sofa untuk berisitirahat setelah sebelumnya mengunci pintu agar tidak ada yang masuk dan memberikan perintah agar tidak ada yang masuk ke dalam ruangnya.
Dan tidak lupa juga Eve memberitahukan kepada perawat agar jangan mengganggunya sampai nanti siang dengan alasan bahwa dirinya ada pekerjaan yang mendesak dan tidak bisa diganggu.
“Semakin hari kamu semakin sering berbohong dan menipu dirimu sendiri Eve.” Ucap Eve dengan miris-nya.
Sementara di dalam mansion sekitar jam sepuluh pagi ibu Dhara berusaha menelpon Eve untuk memberitahukan bahwa mereka akan berangkat untuk menemani Adya dalam menjalani pengobatannya dan akan di sana dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Namun Eve sama sekali tidak mengangkatnya.
“Bagaimana ibu apakah Eve mengangkatnya?” Tanya Adya yang melihat bahwa ibu Dhara masih menunggu balasan telepon diterima oleh Eve. Ibu Dhara menggelengkan kepalanya kepada Adya. Sementara Tala hanya diam saja memperhatikan sambil memainkan gadget di ponsel-nya untuk memeriksa email yang masuk.
Adya memukul paha Tala yang sedang duduk santai di sampingnya lalu mencubit Adya. “Kamu kenapa tidak bilang dari kemarin jadi begini kan.” Ucap Adya dengan kesal. “Memang benar-benar tidak bisa dipercayakan.” Dengus Adya memberikan tatapan tajam dan kesal-nya kepada Tala.
“Iya, maafkan aku.” Ucap Tala pasrah karena tidak mau membuat keributan antara dirinya dengan istri pertamanya ini. “Kenapa tidak mengirimkan pesan teks saja.” Saran Tala kepada ibu Dhara yang juga gregetan kepada dirinya.
__ADS_1
Ibu Dhara segera mengirimkan pesan teks kepada Eve untuk memberitahukan bahwa mereka hari ini akan berangkat ke negara S untuk berobat Adya. Serta memberitahukan bahwa mereka tidak tau kapan akan kembali dan menjelaskan kenapa memberitahukannya sekarang karena ada kesalahpahaman yang ada pada Tala.
Namun, sayang pesan teks itu sama sekali belum dibaca oleh Eve. Ibu Dhara dan Adya mengira bahwa Eve sedang berada di dalam ruang operasi seperti yang dibilangkan Eve pagi tadi ketika Eve berpamitan terburu-buru.
“Eve pasti akan membacanya sayang. Kamu jangan khawatir.” Ucap ibu Dhara kepada Adya dan mengusap bahu Adya.
Di siang harinya pintu ruang kerja Eve diketuk oleh perawat dan hal itu membuat Eve terbangun dari tidurnya. “Ternyata aku tertidur, sudah jam berapa.” Ucap Eve lalu matanya beralih ke arah jam dinding di atas pintu masuk ruang kerjanya.
Eve berjalan dan membuka kunci pintu ruang kerjanya, “maaf mengganggu dokter Elakshi kurang dari satu jam lagi dokter jadwal operasi akan dilaksanakan.” Ucap perawat tersebut mengingatkan Eve mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepada sang perawat yang menjadi asisten-nya karena sudah mengingatkannya satu jam sebelum operasi.
Karena sudah menunjukkan jam makan siang Eve berjalan keluar dari ruang kejar-nya dan masih belum ingat dan menyadari bahwa ponsel yang dirasakan Eve tertinggal di dalam kamar miliknya dan Tala.
Eve berjalan sambil menggigit bibir dalamnya saat merasakan kepalanya semakin pusing padahal dirinya sudah beristirahat. Mata Eve berkunang-kunang hingga Eve yang sudah tidak sanggup menopang tubuhnya jatuh pingsan.
Pengawal yang sigap siaga segera berlari menyelamatkan Eve yang hendak menjatuhkan tubuhnya di atas kerasnya lantai namun hal itu tidak jadi saat sepasang lengan kekar yang segera menyelamatkan Eve yang tidak lain adalah dokter Raka.
Dokter Raka menatap khawatir saat melihat wajah pucat Eve dan dengan segera dokter Raka menggendong Eve menuju ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk segera ditangani. Dokter umum yang sedang berjaga dan melihat segera memeriksa keadaan Eve.
Saat dokter umum memeriksa keadaan Eve dokter umu tersebut terdiam lalu tangannya beralih ke nadi Eve dan kembali lagi jantung Eve saat merasakan bahwa ada yang berbeda di dalam tubuh Eve.
“Kenapa?” Tanya dokter Raka yang melihat dokter umum itu terdiam saat memeriksa keadaan Eve. “Apakah ada masalah yang serius?” Tanya dokter Raka lagi saat tidak mendengar sahutan dari dokter umum yang memeriksa keadaan Eve.
Dokter umum tersebut mengambil nafas-nya sejenak lalu matanya menatap ke arah dokter Raka, “sebaiknya dokter Elakshi segera ditangani oleh dokter obygen.” Ucap dokter umum tersebut. “Karena yang saya rasakan bahwa di dalam denyut nadi dan jantung dokter Elakshi berbeda.”
Dokter Raka yang mendengarnya terkejut lalu menatap ke arah Eve yang sedang tertidur karena pingsan. Pengawal dari jauh yang melihat kedua dokter dan perawat di samping mereka terdiam penasaran lalu berjalan mendekat.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Nona Eve?” Tanya pengawal tersebut kepada dokter dan perawat yang memeriksa dan menolong Nona mereka tadi.
Dokter umum memberikan senyuman-nya kepada pengawal tersebut, “tidak terjadi hal yang serius kepada Nona Elakshi Tuan. Hanya saja Nona Elakshi perlu diperiksa oleh dokter kandungan.” Jawab dokter umum tersebut.
Pengawal yang mendengarnya hanya diam saja dan menuruti ketika melihat Nona-nya dipindahkan ke poli ibu dan anak. Sementara dokter Raka juga mengikuti dan menemani proses pemeriksaan itu untuk memastikan sendiri.
“Ini adalah berita bagus bagi keluarga Werawan karena saat ini dokter Elakshi sedang mengandung dan usia kandungannya sudah menginjak satu bulan.” Ucap dokter kandungan tersebut memberitahukan hasil pemeriksaannya kepada dokter Raka yang berada di sampingnya.
Setelah diperiksa Eve segera dipindahkan di dalam ruang rawat yang memang telah disiapkan dan disediakan selalu hanya untuk keluarga Werawan. Eve membukakan matanya dan mengerjapkan matanya karena berusaha untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
Dokter Raka yang selalu senantiasa menemani Eve beranjak dari sofa yang di dudukinya saat melihat bahwa Eve sudah sadar dari pingsan-nya. “Syukurlah bahwa kamu sudah sadar. Kamu tau kamu sempat membuat kehobahan di rumah sakit ini ketika melihat kamu pingsan.” Canda dokter Raka.
Eve menatap ke arah dokter Raka yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu dan Eve bisa merasakan bahwa senyum yang ditunjukkan oleh dokter Raka terlihat palsu dan menyakitkan. “Apa yang sebenarnya terjadi dan saya kenapa?” Tanya Eve formal.
Dokter Raka tersenyum menatap ke arah Eve dan berusaha menguatkan hatinya saat dirinya mendengar kabar bahwa wanita yang dikaguminya saat ini sedang hamil. Dokter Raka memang mengetahui bahwa status Eve adalah wanita yang sudah beristri namun dokter Raka juga mengetahui bahwa pernikahan mereka tidaklah seperti pernikahan orang ada umumnya.
“Selamat dokter Elakshi sekarang Anda sedang mengandung dan usia kandungan Anda sudah menginjak satu bulan. Ini bukan saya yang memeriksa Anda karena Anda tau sendiri ini bukanlah bidang saya, saya hanya menyampaikan bahwa apa yang dikatakan oleh dokter kandungan yang memeriksa Anda tadi.” Jawab dokter Raka memecahkan rasa penasaran dari Eve.
Eve tidak memikirkan kenapa dan apa yang membuat dokter Raka yang berusaha ingin dekat layaknya teman yang berbicara kepadanya untuk pertama kali berbicara formal namun Eve terdiam dan memikirkan bahwa saat ini dirinya sedang mengandung.
“Jaga kesehatan kandungan Anda dan jangan membuat Anda lelah. Mulai sekarang Anda tidak dibolehkan untuk memeriksa keadaan pasien yang serius maupun mengoperasi pasien.” Jelas dokter Raka kepada Eve.
__ADS_1
Eve hanya diam sambil memegang perutnya dengan matanya yang berkaca-kaca karena merasa terharu bahwa saat ini di dalam perutnya ada nyawa lain yang akan berbagi segalanya selama sembilan bulan sepuluh hari.
*Bersambung*