
Keesokan harinya Geya mengerjapkan kedua matanya karena sinar matahari pagi yang menyinari kamar.
Mata Geya langsung terbelalak saat melihat bahwa sinar matahari sudah meninggi.
Geya turun dari ranjang dengan terhuyung dan hampir jatuh untungnya Axel menangkap tubuh Geya yang hendak limbung itu.
Mata Geya dan Axel bertemu. Axel tersenyum manis ke arahnya setelah tiga hari Axel mendiamkannya dan dirinya tidak menegur suaminya itu.
"Kenapa langsung bangun seharusnya duduk dulu." Ujar Axel dan menuntun badan Geya duduk di atas tempat tidur.
Geya menurut saja karena dia masih mengumpulkan kesadarannya dan memikirkan bagaimana bisa dia bangun kesiangan. Memang Geya merasa tidurnya sangat nyenyak semalam bukan seperti tiga beberapa malam sebelumnya.
Axel menuangkan segelas air untuk Geya dan Geya menerimanya saja karena memang biasanya setelah bangun tidur Geya akan minum air dan tenggorokannya akan selalu kering.
"Apakah sudah benar-benar sadar?" Tanya Axel dengan lembut.
Mendengar nada suara Axel membuat Geya semakin linglung, "eung!" Axel yang melihat istrinya itu tertawa kecil.
"Beristirahatlah tidak perlu membuatkan aku sarapan mama tadi sudah membuatnya dan menyuruh mu untuk beristirahat saja."
Geya bingung harus bagaimana menanggapinya batinnya bergejolak.
Ada perasaan senang karena Axel mulai memberikan perhatiannya kepadanya lagi namun ada perasaan lain yang dimana dia tidak boleh terkena seperti ini.
Axel dan mama Axel harus bahagia kebahagiaannya adalah mereka harus mendapatkan keturunan agar rumah ini ramai.
"Kenapa hmmm?" Tanya Axel berjongkok untuk melihat wajah Geya yang sedang duduk di atas ranjang.
Sejenak Geya terpana akan tatapan penuh cinta dari Axel namun itu hanya sejenak karena Geya langsung memalingkan wajahnya.
"Apa kamu sedang sakit?" Tanya Axel sembari memegang kening Geya untuk memeriksa keadaan Geya.
Geya menggigit bibir bawahnya dan menepis tangan Axel yang berada di jidatnya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya jangan bersikap seperti ini padaku." Ucap Geya dengan dingin.
Axel mengerutkan dahinya mendengar nada bicara Geya yang dingin ini sama waktu pertama kali dia kembali dan mendekati Geya sebelum mereka menikah dulu. Axel tidak suka namun karena tidak mau merusak suasana pagi yang cerah ini Axel mengambil nafas dan lebih banyak bersabar.
"Aku kan suami kamu sayang, jadi wajar aku bersikap perhatian kepada istri sendiri."
"Tidak kamu tidak boleh bersikap seperti itu." Tegas Geya menolak dengan keras dan menatap ke arah mata Axel yang sedang menatap ke arahnya.
"Baiklah sepertinya kamu dalam suasana hati yang tidak baik. Aku akan berangkat ke kantor nanti aku akan pulang cepat dan kita akan berkencan sudah dua minggu bukan kita tidak berkencan." Ujar Axel yang tidak mau ada keributan.
"Tidak usah. Aku nanti akan mengurus surat perceraian kita." Ujar Geya.
Axel yang hendak mencium kening istrinya itu terhenti selain penolakan dari sikap Geya yang menghindar dan pernyataan Geya.
"Tidak ada perceraian." Ujar Axel dengan tegas, "selamanya kamu akan tetap menjadi istriku. Kita bicarakan lagi ini nanti, karena aku ada rapat pagi ini." Ujar Axel.
"Tidak bisakah kamu melepaskan aku. Aku sudah tidak ada gunanya lagi." Ujar Geya menghentikan langkah kaki Axel yang hendak membuka pintu kamar. "Carilah wanita lain yang bisa memberikan mu keturunan dan keluarganya yang bisa menerima kamu dan mama apa adanya." Geya semakin menjadi sekarang membuta Axel kembali meradang.
Axel membalikkan badannya dan menatap ke arah Geya yang tampak kacau walaupun Geya berusaha untuk terlihat lebih tegar.
"Keputusan aku masih sama. Aku tidak akan menandatangani surat perceraian itu." Nada Axel masih lembut walaupun perasaannya mulai bergemuruh.
Semudah itukah Geya mengucapkan kata perceraian? Apa Geya tidak memikirkan bagaimana perasaannya yang sedari dulu tidak pernah sama sekali berpaling dari wanita lain. Di mata Axel hanyalah Geya, di hati Axel hanyalah Geya, dan di dalam pikiran Axel hanyalah Geya, hidup Axel hanyalah Geya.
"Aku tidak mau mendengarkan perkataan seperti itu lagi sayang. Kita sudahi drama tentang anak, keturunan ataupun perceraian. Aku sudah cukup bahagia hanya dengan mu anak hanya pelengkap sebagian kecil saja. Mama juga tidak menuntut apa-apa pun sebaiknya kita fokus saja pada apa yang bisa kita nikmati dan jangan fokus pada apa yang kurang. Manusia tidak ada yang sempurna."
"Kalau begitu aku akan mencari wanita lain untukmu. Untu kamu nikahi, aku tidak----"
"---Apa? Kamu mau bilang bahwa kamu tidak apa-apa dimadu begitu!?" Seru Axel mulai dingin. Rahang Axel mengeras dan tatapan matanya menusuk. Ini adalah pertama kalinya Geya melihat Axel seperti ini. Nyali Geya sedikit menciut namun ia harus kuat.
"Jika kamu tidak apa-apa maka aku yang kenapa-napa. Apa kamu tidak memikirkan perasaan ku? Apa kamu tidak tau aku sudah berkorban dan berjuang untuk mendapatkan mu sampai sejauh ini lalu karena masalah keturunan aku begitu mudahnya berpaling darimu? Apa kamu berpikir aku adalah pria yang mudah berpaling dan mudah luluh oleh wanita lain? Kamu melukai harga diriku Geya, apa kamu tidak percaya dengan rasa cinta yang aku miliki padamu. Aku menerima kamu apa adanya baik kekurangan dan kelebihan mu."
"Aku tidak bermaksud sep---". Ujar Geya dengan mata yang berkaca-kaca. Sangat sakit hati Geya saat melihat ada kesakitan di mata Axel yang selalu menatapnya dengan binar cinta dan kasih sayang mini terluka.
__ADS_1
"Kamu tidak bermaksud apa? Kamu egois Geya!" Seru Axel. Axel mengambil nafas dalam untuk menetralkan emosinya yang memuncak. "Sudahlah kita akhiri pembicaraan ini cukup sampai di sini. Aku tidak mau pulang dari kantor kamu membahas ini lagi. Bersiaplah nanti aku akan mengirimkan pesan kepadamu kita akan berkencan." Nada Axel menjadi lembut.
Geya terduduk lemah di samping tempat tidur mereka melihat Axel yang sudah pergi keluar dan menutup pintu. Tangis Geya pecah sembari memukul dadanya yang terasa sesak.
Axel bersandar di depan pintu kamar dan memejamkan kedua matanya untuk menenangkan dirinya. Hampir saja ia tadi terbawa emosi. Axel tidak mau menyakiti Geya walaupun hanya dengan perkataan. Geya adalah wanita yang dicintainya setelah mamanya dan sangat berharga. Wanita tidak boleh dilukai dan harus disayang.
Axel membuka kedua matanya lalu melangkahkan kakinya namun terhenti saat melihat mamanya menatap ke arahnya.
Mama Axel tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya ke arah Axel.
Axel melangkah dengan cepat mamanya selaku tau bahwa dia sedang tidak baik-baik saja walaupun dia tidak pernah mengatakannya.
"Anak mama." Ucap mama Axel sembari menepuk tubuh kekar Axel. Axel mengeratkan pelukannya kepada mamanya itu.
"Tidak apa-apa masalah dalam rumah tangga itu wajar. Tapi, berpikirlah dengan kepala dingin. Semuanya akan baik-baik saja, ini adalah ujian Tuhan untuk kalian." Axel menganggukkan kepalanya.
Mamanya Axel tidak mendengar suara pertengkaran antara anaknya dan menantunya itu namun mama Axel melihat gelagat aneh dari keduanya yang tampak tidak seperti biasanya.
Mama Axel juga tidak menanyakan tentang perihal apa namun ia sedikit mengerti dan memahami Geya.
Ia ingat dua minggu yang lalu menantunya pulang dalam keadaan murung setelah berkumpul dengan para ibu muda. Biasanya Geya akan kembali dengan senang dan wajah yang ceria namun hari itu Geya tampak murung.
Para ibu muda Yasmin, Wendy dan Daisy mereka hamil anak kedua. Mama Axel bisa memahami perasaan Geya tidak mudah memang melewatinya namun jika sudah yakin dan pasrah sama Tuhan maka akan dipermudah. Apalagi besannya yang menuntut agar Geya menceraikan anaknya karena Geya belum saja hamil. Mama Axel tentu tidak tau siapa yang tidak subur bisa saja itu adalah Axel karena dirinya dulu juga sulit mendapatkan Axel dan bisa saja itu dari Geya. Mau dari pihak mana pun mama Axel tidak mau menuntut lebih banyak cukup melihat anak dan menantunya bahagia itu sudah memberikan kebahagiaan tersendiri baginya walaupun di dalam lubuk hati kecilnya juga menginginkan cucu dari putra semata wayangnya itu namun apa boleh buat semuanya tergantung pada Tuhan. Geya dan Axel juga pasti sudah berusaha.
Mama Axel hanya bersikap sebagai ibu yang baik buat Axel dan Geya. Mama Axel tidak mau membedakan antara menantu dan anaknya. Menantunya sudah dia anggap sebagai anak sendiri. Lagipula dia juga sudah punya cucu dari Eve, Airen, Yasmin, Daisy, dan Wendy itu sudah cukup menghiburnya.
Mama Axel tau bagaimana rasa tertekan yang dirasakan oleh Geya karena dulu dia mengalaminya bedanya dulu dirinya tidak ada siapa-siapa yang bisa dijadikan tempat bersandar apalagi dirinya hidup sebatang karena karena kedua orangtuanya sudah meninggal dan berasal dari keluarga sederhana. Tidak mempunyai teman karena dirinya yang terlalu sibuk untuk belajar dan mengejar beasiswa agar bisa melanjutkan sekolah. Bekerja pun dia hanya pergi, kerja, dan pulang sama sekali tidak bergaul intens dan mempunyai teman yang akrab. Tapi, semua itu sudah berlalu dirinya tidak mau mengingatkan lagi dia sudah cukup bahagia hanya bersama dengan Axel dan menantunya.
Mama Axel tau betapa Axel sangat mencintai Geya sedari dulu karena Axel selalu menceritakan tentang Geya setiap harinya. Mama Axel memposisikan dirinya sebagai teman, ibu dan ayah untuk Axel.
Walaupun orang-odang memandang buruk Geya yang selalu bersikap arogan namun kata Axel bahwa sebenarnya Geya sangat baik hatinya hanya saja Geya salah mempunyai teman yang memengaruhinya dan kedua orang tua Geya yang mengabaikan Geya sehingga Geya mencari perhatian dengan cara yang salah. Yang dilakukan mama Axel saat itu percaya saja bahwa putranya itu pasti tidak akan salah menempatkan hatinya mama Axel percaya bahwa Geya memang baik dan menantunya kenyataannya memang baik hati dan lembut tidak seperti yang orang-orang katakan.
*Bersambung*
__ADS_1