Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 59. Kepergok


__ADS_3

Ibu Dhara yang terus tersenyum dan merasa bahagia baik di dalam diri Eve dan Tala tidak bisa untuk menghilangkan wajah orang yang sangat disayangi keduanya jika mereka menolak.


“Sudah tatapannya. Kalian senangkan?” Tanya ibu Dhara sambil tersenyum Eve dan Tala hanya mengangguk saja lalu memberikan senyumnya.


Banyak hal yang dipikirkan Eve di dalam benaknya mengenai pernikahan mereka yang tinggal beberapa bulan lagi dan mengenai keinginan ibu Dhara, ayah Davka, dan Adya serta almarhum kakek yang menginginkan anak darinya semua itu membuat Eve merasa tertekan.


Setelah berbicara terkait bulan madu kedua mereka baik Eve maupun Tala pamit mengundurkan diri. Jika Eve pergi ke kamarnya maka Tala pergi ke ruang kerjanya.


“Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Eve dengan dirinya sendiri sambil melihat langit yang hampir malam di balkon kamarnya.


Pertanyaan terus menghantui di dalam pikiran Eve, “bagaimana bisa aku hamil jika usia pernikahan kami hanya sebatas dua tahun saja dan itu tinggal beberapa bulan lagi.” Ucap pikiran Eve berkecamuk.


Eve tanpa sadar memegang perutnya dan meneteskan air matanya ketika dirinya mengingat bagaimana dulu betapa senangnya ada nyawa lain di dalam perutnya walaupun itu hanya bertahan dua bulan saja.


Pikiran Eve kembali ke dua tahun di mana dirinya yang baru pulang dari negara L karena permintaan dari paman dan bibinya yang katanya sangat merindukannya yang berakhir itu adalah sebuah kebohongan.


Kebohongan dan menjadi alat untuk mempertahankan bisnis keluarga angkatnya. Boneka itulah dirinya.


Lalu calon suaminya adalah pria di masa lalunya yang dirinya sakiti hatinya.


Menjadi istri kedua dan tidak dihargai oleh suaminya namun sangat disayangi oleh mertua dan istri pertama suaminya.


Tinggal selama hampir kurang dari tahun membuat Eve merasa senang dan sedih. Senangnya mendapat perhatian yang sudah sangat lama dirindukannya dan sedih karena suaminya begitu membencinya.


“Apa aku harus bicara lagi dengannya?” Tanya Eve dengan dirinya sendiri di dalam benaknya. Tak jarang helaan nafas berat nan panjang Eve keluarkan untuk mengurangi tekanan yang ada di dalam pikiran dan hatinya.


Eve yang merasa udara semakin dingin segera masuk ke dalam kamar dan bertatap muka dengan Tala yang baru keluar dari ruang kerjanya.


Tala berjalan ke arah Eve dengan cepat setelah melihat ke arah Eve lalu tindakan Tala berikutnya membuat Eve sangat kaget.


Bagaimana tidak Tala sedang mencium bibirnya bahkan yang dilakukan Tala sangat lembut hal itu membuat Eve berusaha mengembalikan kesadarannya untuk tidak terlena.


Banyak hal yang ada di dalam pikiran Eve kenapa Tala melakukan hal ini kepadanya. Eve berusaha memberontak namun kalah akan kekuatan Tala yang tentunya tidak sebanding dengan kekuatan dirinya apalagi badan Tala yang kekar dan tinggi.


Ciuman itu berubah menjadi semakin panas dan tangan Tala sudah menjalar ke mana-mana. Tala menggiring Eve ke tempat tidur sehingga membuat Eve berada di bawah Tala.


Mata keduanya beradu pandangan dengan nafasnya yang memburu. Eve ingin sekali mengalihkan pandangan dari wajah Tala yang entah kenapa Eve merasa bahwa Tala sedang menatapnya sama seperti dulu namun Eve tidak ingin kehilangan momen di mana tatapan itu yang sangat dirindukannya.


Wajah Tala semakin mendekat dan bibir keduanya kembali bertemu. Keduanya terhanyut kembali bahkan Eve sudah mengalungkan tangannya di leher Tala.


Suara ketukan pintu dan orang yang memanggil dari luar bahkan tidak terdengar oleh pasangan suami istri yang sedang asyik bercumbu itu.


Pintu kamar yang tidak terkunci itu terbuka dan nampaklah wajah ibu Dhara yang menatap tidak percaya dan lagi dirinya harus mengganggu hubungan suami istri yang hendak terjadi dari anak dan menantunya itu. “Aku mengganggu lagi.” Ucap ibu Dhara dengan lirih.


Tala dan Eve segera menghentikan ciuman yang terjadi di antara keduanya saat merasakan ada orang yang sedang melihat ke arah mereka dan suara lirih yang terdengar.

__ADS_1


Eve melototkan matanya dan langsung menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa malu kepergok oleh ibu mertuanya sendiri.


Sedangkan Tala tidak mengubah posisinya yang mengukung Eve dan menatap ke arah ibunya itu dengan tajam.


Sementara ibu Dhara yang melihatnya hanya cengengesan. “Maafkan ibu, tadi ibu sudah mengetuk pintu dan ingin mengajak kalian untuk segera bersiap-siap makan malam.”


“Kata ibu, ibu ingin segera mempunyai cucu tapi ibu sendiri yang mengacaukannya.” Ujar Tala dengan datar tidak bisa dipungkiri tatapan Tala terlihat sangat kesal namun tidak bisa ia tunjukkan kepada wanita yang sudah berkorban nyawa melahirkannya itu.


Ibu Dhara menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. “Kalau begitu lanjutkan saja ibu akan keluar dan akan menyuruh bibi untuk mengantar makanan kalian jika kalian belum selesai, atau mau melanjutkan atau mau menambah atau merasa lelah. Lagipula makan malam satu jam lagi.” Ujar ibu Dhara lalu segera menutup pintu kamar menantu kedua dan anaknya itu.


Ibu Dhara memukul lengannya yang sudah membuka pintu kamar anak dan menantu keduanya itu. “Lain kali jika aku tidak mendengar sahutan aku tidak boleh masuk. Gara-gara aku akhirnya mereka gagal.” Ujar ibu Dhara merasa kesal dengan dirinya sendiri namun ekspresi wajahnya tersenyum dengan sumringah dan tidak sabar ingin memberitahukan kepada suaminya dan menantu pertamanya itu.


Eve memalingkan wajahnya ke kanan sambil memejamkan matanya, Eve merasa malu atas apa yang telah mereka lakukan setelah sekian lama terlebih lagi mereka kepergok oleh ibu mertuanya sendiri.


Tala yang melihat kepergian ibunya segera melepaskan kungkungannya dari tubuh Eve. Tala melihat Eve yang memejamkan matanya namun wajahnya sangat memerah apalagi posisi Eve yang masih tidur dengan kaki yang masih menjuntai menyentuh lantai karena ulahnya.


Akhirnya Tala pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan Eve yang mendengar suara pintu kamar mandi tertutup segera membuka matanya.


Eve memegang dadanya yang masih berdegup kencang lalu memegang pipinya. “Pasti pipi aku sangat merah sekarang.” Ujar Eve. Lalu Eve mendengarkan suara air di dalam kamar mandi.


“Kenapa dia mandi lagi?” Tanya Eve pada dirinya sendiri. “Kenapa aku sampai terbuai Eve kamu terlihat seperti wanita murahan.” Ujar Eve dengan dirinya sendiri.


“Kenapa dia tiba-tiba melakukan hal itu?” Tanya Eve di dalam hatinya sambil memegang bibirnya yang masih terasa akan ciuman yang dilakukan oleh Tala tadi. “Dan kenapa tangan aku bahkan sampai menggantung ke lehernya.” Ucap Eve di dalam hatinya sambil menatap kedua tangannya dengan tidak percaya.


Tapi, sebelum itu ibu Dhara mengetuk pintu dan mendapat sahutan di dalam kamar.


Sementara Adya yang mendengar ada yang mengetuk pintu segera menyembunyikan sesuatu yang ditemukannya tadi siang ketika dirinya masuk ke dalam kamar Eve dan Tala.


Adya langsung tersenyum ketika melihat mertuanya itu yang datang. “Ibu. Sepertinya ibu terlihat senang sekali.” Ujar Adya dan benar saja senyum yang ditahan oleh ibu Dhara kembali merekah.


Tentu saja hal itu semakin membuat Adya merasa sangat penasaran di dalam benak Adya pasti ini ada hubungan dengan Tala dan Eve.


“Coba tebak kenapa ibu terlihat sangat senang?” Tanya ibu Dhara berusaha membuat teka-teki dengan menantu pertamanya itu.


“Siapa lagi kalau bukan Tala dan Eve benarkan?” Tanya Adya sambil memicing dan bibirnya yang tersenyum.


Ibu Dhara semakin senang dan bersemangat untuk menceritakan apa yang dilihatnya barusan. “Kamu tau sebelum ibu datang ke kamarmu?” Tanya ibu Dhara memberikan jeda.


Dan Adya dengan polosnya menggelengkan kepala sambil berkata “tidak tau ibu, karena ibu belum bercerita.” Ujar Adya cengengesan membuat ibu Dhara dengan gemas mencubit kedua pipi Adya.


“Tadi, ibu melihat Tala dan Eve sedang berciuman di atas kasur.” Pekik ibu Dhara dengan semangat.


Adya yang mendengarnya menutup mulutnya tidak percaya dan merasa sangat senang. “Benarkah ibu.” Lalu Adya melemaskan bahunya kembali.


“Kenapa kamu terlihat tidak semangat lagi?” Tanya ibu Dhara yang merasa heran dengan Adya yang semangat dan senangnya hanya beberapa detik saja.

__ADS_1


“Hah, ibu pasti mereka menghentikan apa yang hendak mereka lakukan karena ibu masukkan.” Ujar Adya dan ibu Dhara menganggukkan kepalanya.


Mata ibu Dhara melihat ke arah Adya seolah-olah mengatakan bahwa bagaimana bisa Adya menebaknya dengan tepat.


“Ibu lain kali ibu jangan sembarangan masuk jika tidak ada sahutan dari pemilik kamar.” Ujar Adya. “Pasti mereka tidak jadi melakukannya karena merasa malu satu sama lain ibu kan tau hubungan mereka baru baik-baik saja sekarang. Apalagi Eve sangat pemalu dan pasti Tala yang gengsi itu juga malu.”


Ibu Adya kembali melemaskan bahunya, “sayang kamu benar, terus gimana dong?” Tanya ibu Dhara dengan muka memelasnya.


“Mau bagaimana lagi ibu kan sudah terlanjur. Ibu sudah dua kali lho.” Ujar Adya.


“Yah pembuatan cucu ibu dipending dulu nih berarti.” Ujar ibu Dhara yang merasa kesal dan bersalah karena mengganggu momen keintiman menantu keduanya dan anaknya itu.


“Tidak apa-apa ibu besok malam kan mereka akan bulan madu. Adya sudah menyiapkan segalanya dari baju hingga ramuan yang harus mereka makan.” Ujar Adya merasa bangga dengan apa yang dilakukannya ini.


Ibu Dhara kembali lagi berbinar. “Kamu benar sayang kamu memang bisa diandalkan. Apa kamu tau tadi ibu melihat Eve sudah mengalungkan tangannya di leher Tala dan ciuman mereka sangat panas.” Adya yang mendengarnya merasa semangat.


“Terus Tala bilang ke ibu sebelum ibu pergi. Ekhm ‘ibu katanya menginginkan cucu kenapa ibu mengganggu’ kata Tala seperti itu kurang lebih dengan wajah datar-nya itu tapi tatapan matanya terlihat kesal.” Ujar ibu Dhara cekikikan mengingat ekspresi wajah anaknya itu.


Adya juga tertawa mendengarnya dan membayangkan wajah Tala yang datar karena terganggu akan sesuatu. “Pasti dia sangat kesal ibu. Kita lihat saja apakah mereka akan melanjutkannya atau tidak nanti.” Ujar Adya.


Ibu Dhara bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Adya, “bagaimana kita tau mereka akan melakukannya atau tidak?” Tanya ibu Dhara membuat Ayda menepuk dahinya.


“Ibu, kalau ayah tidak mendapatkan jatahnya apa yang dilakukan ayah?” Tanya Adya kepada ibu Dhara.


Ibu Dhara yang mendengar pertanyaan dari menantu pertamanya itu tersipu. “Emmm ayah biasanya apa ya. Ayah sih akan merayu ibu untuk melakukannya tapi terkadang ayah akan mandi apalagi waktu ibu baru melahirkan Tala ayah terus uring-uringan dan sering kali keramas.” Ujar ibu Dhara lalu setelahnya ibu Dhara melihat ke arah Adya dan mengerti.


“Nah itu ibu tau.” Ujar Adya merasa bangga.


“Tapi, kan biasanya habis melakukan itu juga mandi.” Ujar ibu Dhara.


“Nanti kita juga lihat Eve apakah Eve keramas atau tidak dan pakaian Eve. Ibu masih ingatkan pakaian yang digunakan Eve tadi?” Tanya Adya dan ibu Dhara menganggukkan kepalanya.


Kini para anggota keluarga sudah duduk di meja makan ibu Dhara dan Adya melirik satu sama lain ketika melihat kedatangan Eve dan Tala di meja makan.


Ternyata benar apa yang dikatakannya bahwa Tala keramas dilihat dari rambutnya yang terlihat agak basah baru habis mandi. Sedangkan Eve masih memakai pakaian yang sama waktu sehabis mandi ketika ibu Dhara ingin membicarakan sesuatu.


Ibu Dhara dan Adya saling melirik satu sama lain lalu menggelengkan kepalanya seolah mengatakan bahwa Eve dan Tala tidak jadi melakukannya.


Ayah Davka yang melihat istri dan menantu pertamanya itu menatap satu sama lain lalu menggelengkan kepalanya berdeham. “Apakah bisa kita mulai untuk makan malamnya.” Ucap ayah Davka yang melihat kedua wanita yang menatap satu sama lain itu.


Ternyata bukan hanya ayah Davka yang menatap heran dan penasaran namun Tala dan Eve juga. Eve lalu segera mengalihkan tatapannya dari ibu Dhara dan Adya karena masih malu ketika ayah Davka berdeham sedangkan Tala tau apa yang sedang mereka bicarakan lewat tatapan itu pasti membicarakan apa yang dilakukannya tadi kepada Eve. Dan ibunya itu yang memergoki mereka pasti sudah memberitahukan kepada Adya.


Sebenarnya juga Eve masih bertanya-tanya apa yang dilakukan Tala tadi kepadanya tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Tala ketika Tala keluar dari dalam kamar mandi selama satu jam itu.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2