
Tala yang berada di ruangan rawat Adya duduk di samping ranjang pasien Adya. Tangan Tala mengelus tangan Adya dan memandang Adya dengan sedih.
Banyak hal yang dipikirkan oleh Tala termasuk yang terjadi dengan Adya. Menurut Tala banyak hal yang mengganjal tidak semenjak dirinya menikah dengan Eve selalu saja ada hal yang terjadi.
Keguguran Eve karena genangan minyak di lantai itu masih belum ketemu siapa pelaku dibalik dalang tersebut. Karena pembantu yang sengaja menuangkan minyak itu mati bunuh diri itulah yang dikatakan oleh orang kepercayaannya.
Sehingga minim bukti untuk mencari tau lagipula kehamilan pertama saat itu tidak banyak yang tau termasuk dirinya kedua orangtuanya dan Adya sendiri kecuali kepala pelayan dan beberapa pelayan termasuk pelayan yang bunuh diri tersebut.
Entah motif apa namun tidak ada hal yang mengganjal mengenai pelayan yang menuangkan minyak sehingga membuat Eve keguguran tersebut dengan Eve sendiri.
Semuanya terjadi begitu saja, Tala berpikir mungkinkah di mansion ayah dan ibunya ada mata-mata dari musuh sehingga bisa melukai orang yang ada di sekitarnya dengan mudah.
Mengingat hal di mana Eve harus keguguran membuat Tala sangat kesal karena dirinya tidak mampu menangkap dalang dibalik semua itu.
Yang Tala harus cari dan lakukan adalah menangkap si pelaku agar dirinya bisa menghukum si pelaku.
Hal yang terjadi mansion ayah dan ibunya itu membuat harga diri Tala merasa terluka sebagai laki-laki sekaligus pewaris. Bagaimana tidak dirinya dimarahi oleh kakek Werawan kala itu karena kelalaiannya yang tidak bisa menjaga istri.
Padahal Tala sudah menyiapkan pengawal banyak di sudut-sudut mansion jika bepergian pun Tala menyuruh pengawal yang ada di markas mengikuti ke mana langkah pergi Eve dan Adya bagaimana bisa dirinya kecolongan di lingkup wilayahnya sendiri.
Apalagi kemarin malam sebelum kejadian dia melihat ada hal yang mengganjal dengan mata kepalanya sendiri.
Bahkan demi mencari tau segalanya dirinya harus berusaha mendekati Eve yang selama satu bulan seperti menghindar dari dirinya jika tidak ada orang di sekitar mereka.
Kegelisahan di dalam diri Eve bisa Tala tangkap, ketikakterbukaan Eve membuat Tala merasa kesal dengan sikap Eve.
Dari dulu sikap ketidakterbukaan Eve yang membuat Tala merasa bahwa ada tembok besar, keegoisan Eve, dan haus perhatian Eve membuat Tala tampak muak dengan segala apa yang Eve lakukan sekarang.
Tapi, anehnya kenapa semua orang terdekatnya begitu menyukai Eve padahal Eve sangat menjijikkan begitulah menurut Tala.
“Segeralah bangun kak jika tidak maka aku akan semakin membencinya.” Ujar Tala dengan datar.
Setelah mengatakan itu Tala langsung pergi dari ruang rawat Adya untuk menjernihkan pikirannya yang terasa berat terhadap masalah yang terjadi.
Tala memikirkan dulu semenjak kepergian Eve tanpa kabar dirinya begitu terpuruk dan Adya yang sudah dia anggap sebagai kakak selalu menghibur dirinya.
Semua masalah dilewati mereka bersama dan terasa begitu mudah dijalani tapi kenapa semenjak ada Eve terasa berat dan menambah beban pikirannya.
Entah karena pikiran Tala yang sudah rusak mengenai seorang Elakshi Feshika Adwitya itu sehingga apa pun yang dilakukan oleh Eve selalu membuat Tala banyak tidak menyukainya.
Tala berjalan ke arah rooftoft rumah sakit untuk menenangkan dirinya. Menurut Tala ketika angin berhembus dan menerpa dirinya terada menyegarkan apalagi melihat pemandangan yang bisa dijangkau oleh jangkauan mata.
__ADS_1
Namun, saat membuka pintu dan berjalan ke tempatnya yang biasa Tala melihat siluet tubuh kekar dan tinggi berdiri menjulang menghadap ke depan seolah pintu yang dibuka oleh Tala tidak membuat pria itu merasa terganggu.
Tala yang melihatnya ingin membalikkan badannya namun langkah kakinya terhenti saat mengingat siluet pria tersebut.
Pria dengan jas kedokterannya itu sudah membalikkan badannya sehingga pandangan kedua pria itu bertemu.
Pria berjas kedokteran yang tidak lain adalah dokter Raka menatap ke arah Tala dengan tersenyum sambil memegang cangkir es kopi amerikano di tangannya.
“Selamat sore Tuan muda Werawan.” Sapa dokter Raka dengan ramah senyum di wajahnya tetap dokter Raka tampilkan dengan tulus walaupun tidak mendapatkan balasan baik sapaan maupun senyuman.
Dokter Raka yang sudah mengerti dan memahami bagaimana seorang Nabastala Affandra Werawan suami dari rekannya dokter Elakshi Feshika Adwitya ini memang selalu memasang wajah datarnya.
Dokter Raka sebenarnya agar bingung dengan konsep wajah datar yang selalu ditunjukkan oleh Tala karena menurut dokter Raka itu terlihat menakutkan jika orang tidak tau dan akan membuat orang berpikir kurang baik mengenai kepribadian orang itu sendiri.
Dalam benak dokter Raka bertanya apa karena seorang pembisnis maka wajahnya harus seperti itu agar klien atau orang yang ingin mengajak bekerja sama atau ingin meremehkan merasa takut atau segan.
Entahlah mungkin dokter Raka berpikir positif saja bisa jadi karena pria di depannya ini terlahir dari keluarga pembinis dan orang terpandang apalagi orang terkaya no. 1 di negara K ini makanya dididik seperti itu agar selalu berwajah datar dan tidak mengeluarkan banyak ekspresi.
Namun, jika dilihat ayah dari suami rekannya ini terlihat ramah dan murah senyum apa karena sudah pensiun dari dunia bisnis makanya seperti itu.
Entahlah apa pun yang dipertanyakan di dalam benaknya jika sudah menemukan jawabannya maka akan selalu ada pertanyaan baru lagi.
Dalam ilmu filsafat memang begitu konsepnya karena manusia tidak akan pernah puas dan akan terus mencari dan mendapatkan apa yang diinginkannya jika sudah didapat dan menemukannya maka akan ada hal yang baru lagi.
“Kamu hanyalah rekan kerjanya buat apa kamu bertanya.” Jawab Tala dengan dingin.
Dokter Raka yang mendengarnya tidak ambil hati akan sikap, nada bicara dan jawaban yang dilontarkan oleh Tala.
“Maafkan saya Tuan muda jika saya lancang memanggil dokter Elakshi dengan nama panggilannya. Saya memang rekan kerja dan sesama rekan kerja wajar bagi saya untuk tau yah hanya sebatas tau dan ingin menjenguk untuk memberikan dukungan moril.” Ujar dokter Raka dengan santai.
“Selain saya rekan kerja juga kami sudah sepakat untuk berteman Tuan muda.” Ucap dokter Raka dengan senyum.
Tala tidak mengubah raut wajahnya itu. “Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan.” Ucap Tala.
Dokter Raka yang mendengarnya tertawa merasa mengakui apa yang dikatakan oleh Tala. “Tuan muda benar tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan.”
Namun, setelah mengatakan itu wajah dokter Raka sedikit serius. “Kalau begitu menurut Tuan muda siapa di antara kami yang menyukai atau kami sama-sama menyukai satu sama lain?” Tanya dokter Raka dengan menaikkan kedua alisnya.
Walaupun sebenarnya dokter Raka tau bahwa Tala mengetahui dengan baik siapa yang menyukai di antara dirinya dan Eve.
Tala berjalan mendekat dan dokter Raka memperhatikan setiap langkah dari Tala. Kini Tala berdiri di samping dokter Raka dengan jarak satu meter di antara keduanya.
__ADS_1
Dokter Raka melihat ke arah Tala yang menatap ke depan. “Bukankah itu tidak perlu ditanyakan lagi.” Ujar Tala tanpa melihat ke arah dokter Raka.
Dokter Raka yang mendengarnya tertawa. “Tuan muda benar, lagipula siapa yang tidak menyukai dokter Elakshi. Ouw karena sekarang Tuan sudah tau perasaan saya jadi saya bisa memanggilnya dengan nama panggilannya Eve.”
“Eve memang sangat menakjubkan luar dalam tidak hanya parasnya yang cantik tetapi hatinya juga sangat lembut dan baik hati. Saya rasa Tuan muda sering mendengar bagaimana Eve yang selalu dipuji di rumah sakit ini padahal beberapa dari mereka tau bahwa Eve adalah istri kedua dari Nabastala Affandra Werawan.”
“Atau mereka semua sudah dikasih tau dan diperingatkan jika mereka membicarakan hal buruk tentang menantu dari keluarga terpandang akan menerima akibatnya.”
Tala yang mendengar tentang keluarga merasa terusik dan menatap ke arah dokter Raka namun dokter Raka malah memandang ke depan dan tersenyum melihat reaksi dari Tala melalui ujung ekor matanya itu.
“Tuan muda tidak perlu bereaksi berlebihan seperti biasanya dan tidak perlu menunjukkan kepedulian Tuan muda karena kenyataannya di mata saya itu semua hanyalah palsu. Wanita itu perlu yang pasti Tuan muda.” Dokter Raka sudah merubah ekspresinya menjadi serius sekarang tidak ada lagi senyuman ramah di wajahnya.
“Apalagi begitu banyak kesedihan yang disembunyikan oleh Eve walaupun wajahnya terus tersenyum dan ramah kepada orang di sekitarnya. Lama-lama kepribadian aslinya akan terkucilkan dan itu bisa menjadi bom waktu.”
Tala mengepalkan kedua tangannya merasa dokter yang sedang berdiri dan berbicara dengannya sudah lancang tadi memuji istri orang cantik di depan suaminya sendiri, mempunyai perasaan terhadap istri orang dan mengakuinya lalu sekarang menasehatinya.
“Jaga bicara mu.” Ucap Tala dengan datar dan dingin.
Dokter Raka menghadap ke arah Tala dengan wajahnya yang tak berekspresi mata keduanya bertemu dengan menatap tajam.
“Aku membicarakan soal realita Tuan muda. Dan Anda sebagai seorang suami yang tidak mempedulikan istrinya dan tidak memberikan kasih sayang dan perhatian lebih seharusnya tidak perlu merasa marah. Bukankah tidak ada cinta di antara pernikahan kalian melainkan banyak luka dan duka di dalamnya.” Sinis dokter Raka.
“Jangan sampai menyesal Tuan muda karena potensi di dalam istri Anda itu sangat besar, banyak orang yang akan dengan mudahnya untuk mendekat dan mendekati istri Anda bukan cuman hanya saya seorang. Jadi, jika Anda sudah mendapatkannya jangan sia-siakan.”
“Apalagi istri pertama sakit-sakitan.” Ujar dokter Raka.
Tala yang mendengar kalimat terakhirnya merasa marah dan meninju pipi dokter Raka dengan bogeman mentah dan kuatnya. “Jaga bicara mu aku sudah memperingatkan. Jangan sebut istri aku sakit-sakitan.” Ucap Tala memendam rasa marahnya yang memuncak.
Dokter Raka yang mendapat bogeman mentah dari Tala hanya tersenyum saja walaupun sebenarnya pipinya terasa kebas dan sakit karena pukulan itu sangat kuat tapi ketika mendengar perkataan Tala membuat dokter Raka tidak bisa untuk tidak tersenyum.
“Sakit bukan hanya bisa dilihat dari fisiknya. Orang yang kelihatan baik-baik saja belum tentu bahwa sebenarnya dia baik-baik saja.” Ucap dokter Raka.
“Sekarang saya semakin yakin untuk melangkah ke depan karena saya sudah mengetahui di mana hati Tuan muda Nabastala Affandra Werawan ini. Saya harap Tuan muda tidak menyesal kemudian hari.” Ujar dokter Raka dengan tangan menepuk sebelah bahu Tala.
Sementara Tala yang melihatnya menatap tajam ke arah tangan yang bertengger di bahunya dengan segera Tala melepaskan tangan itu.
Dokter Raka hanya tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan rooftoft. Setelah kepergian dokter Raka membuat pikiran Tala bertambah berat.
Tangan Tala terkepal kuat sampai urat-uratnya yang memang timbul tambah muncul dan semakin kuat. Urat-urat tangan Tala tampak tegang karena menahan emosi yang ada di dalam dirinya karena pembicaraannya dengan dokter Raka.
__ADS_1
*Bersambung*