Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 124. Tamu Tak Terduga!


__ADS_3

Eve sedang duduk dengan nyaman di dalam mobil setelah selesai menyusui Orion sampai tertidur. Kini anaknya itu sedang berada di dalam pelukan ayahnya.


Sementara Tala bersenandung untuk membuat tidurnya anaknya itu sembari menepuk punggung putranya itu.


“Apakah bunda mengantuk, jika bunda mengantuk tidurlah.” Ujar Tala saat melihat bahwa Eve menguap di sampingnya.


Eve hanya meliriknya sekilas sedari tadi dari ujung matanya wajah suaminya itu tampak ceria setelah keluar dari rumah dokter Raka.


“Kenapa hanya melirik saja melihatlah sepuasnya bunda. Melirik-lirik itu bukankah kurang puas ayah tau bahwa ayah sangat tampan.” Terang Tala dengan percaya dirinya.


Eve menolehkan kepalanya ke kiri berlawan dari arah Tala membuat Tala terkekeh. Istrinya itu kenapa terlihat sangat menggemaskan sekali.


Tala mengingat kejadian hari ini semakin membuat Tala tersenyum walaupun tadinya sempat terpancing emosi dan memberikan bendera perang ke arah dokter Raka. Tala tidak menyesali itu malah dia senang karena menunjukkan keseriusan, kesungguhannya kepada orang-orang melalui perkataan dan tindakannya.


Namun, yang membuat Tala sangat senang dan terus tersenyum bukan hal itu melainkan sepertinya Eve istrinya itu sedang bermain-main dengannya. Itu yang dirasakan oleh Tala.


Ternyata selain dia sangat tampan dia juga sangat pandai.


“Emmm berapa kali ya bunda membuat kesalahan hari ini!” Celetuk Tala tiba-tiba membuat Eve menoleh ke arah Tala dengan pandangan horornya.


Tala tersenyum manis ke arah Eve, “ingat kan bunda apalagi tadi bunda sangat apik dalam bermainnya oh tidak sepertinya Orion akan mendapatkan adik sebentar lagi.”


Tidakkah Tala malu bahwa di dalam mobil tidak hanya mereka berdua namun ada sopir dan juga Orion. Apa urat malu Tala sudah putus.


“Sepertinya bunda sangat suka dengan hukumannya karena bunda suka sekali melakukan kesalahannya awalnya ayah pikir bunda kelupaan ternyata setelah ayah tafsir bunda memang menyukainya. Tidak apa-apa bunda ayah ini adalah orang yang peka.” Goda Tala.


Ini kapan mereka akan sampai telinganya sudah panas mendengar penuturan dari Tala, bagaimana dirinya harus menghindar. “Apalagi bunda tadi menguji rasa cinta ayah ke bunda bukan kah begitu bunda?”


“Jangan berisik nanti Orion terbangun.” Ujar Eve dengan datar dan agar Tala memberhentikan pembicaraannya.


“Pangeran kecil ku tidak akan mudah terbangun karena dia sudah terbiasa dengan kebisingan di sekitarnya saat tertidur.” Jawab Tala dengan telak.


Menggoda Eve menjadi hobi Tala sekarang, Andai dirinya tidak termakan dengan rasa egois yang dimilikinya mungkin sekarang Eve tidak akan mengalami gangguan PTSD.


Eve langsung keluar dari mobil ketika mobil yang membawa mereka pulang sudah sampai di mansion Abraham meninggalkan Tala yang sedang menggendong Orion yang tertidur.

__ADS_1


“Sayang bunda malu pasti tuh.” Bisik Tala dengan gemas dan mencium Orion yang sedang tertidur.


Tala memandang ke arah mobil yang ada di depannya dan mengerutkan dahinya ini bukanlah salah satu yang ada di mansion ini.


‘Apakah ada tamu? Mungkin itu tamu kak Joha.’


Tala melangkahkan kakinya yang jenjang sembari melindungi Orion dari sinar matahari siang menjelang sore.


Sayup-sayup Tala mendengar suara yang dikenalinya dari arah ruang keluarga tidak salah lagi salah tidak salah dengar itu pasti suara…


“Ibu, ayah.” Panggil Tala dengan kaget bagaimana bisa ibu dan ayahnya tiba di mansion Abraham dan dengan santainya berbicara dengan iparnya.


Mata Tala menatap ke sekeliling namun tidak melihat di mana keberadaan istrinya, sementara ibu Dhara memandang sinis ke arah Tala yang sedang menggendong cucunya itu.


“Berikan cucu ibu.” Ucap ibu Dhara sembari berjalan melangkah memandang tajam ke arah Tala membuat Tala berjalan mundur.


“Dia sedang tidur ibu.” Ingat Tala namun ibu Dhara terlihat tidak peduli dan malah berjalan mendekat. Ibunya jika sudah berkemauan memang tidak bisa dicegah. “Nanti dia rewel dan menangis.”


“Biarkan saja jika dia rewel maka granny-nya ini akan menenangkannya.”


‘Ap-apa granny!’


Ayah Davka yang menggendong Jean juga beralih ke sisi sebelah Tala sehingga saat ini Tala sedang diapit oleh ayah dan ibunya itu.


“Sejak hari ini Orion dan Jean harus memanggil ibu dengan granny biar ibu ingin terlihat seperti nenek kekinian jangan hanya anak muda saja.” Selama kurang lebih satu bulan tidak bertemu dengan ibunya kenapa ibunya bisa menjadi aneh apalagi kekinian. Siapa yang telah meracuni ibunya itu.


“Terus ayah mau dipanggil apa?” Tanya Tala yang melihat ayahnya diam dan memeluk Jean yang terlihat manja di ayahnya itu.


Tangan Jean menarik rambut Orion sehingga membuat Tala berteriak kaget melihat tangan Jean yang dengan sangat cekatan itu sehingga Orion terbangun.


“Huawaaa.” Orion menangis karena merasakan sakit di kulit kepalanya sementara Jean melepaskan tangannya dari rambut Orion.


Airen yang melihatnya dengan sigap menghampiri Jean dan megambil Jean dari ayah Davka, “ibu ayah Airen permisi dulu ya.” Pamit Airen yang ingin memberikan pengertian kepada anaknya itu agar tidak melakukan hal seperti tadi kepada kakak sepupunya.


Tala menenangkan Orion dengan memeluknya erat hampir lima belas menit lamanya akhirnya Orion berhenti menangis dengan sesenggukan.

__ADS_1


Eve yang turun dari bawah melihat bahwa putranya itu habis dari menangis menghampiri dan mengambil alih Orion.


“Dia kenapa?” Tanya Eve penasaran.


“Rambutnya dijambak Jean saat Orion tidur.” Jawab Tala.


“Minggir.” Ucap ibu Dhara tiba-tiba menyingkir Tala yang berdiri di hadapan Eve dan Orion. “Cucu granny yang paling tampan sakit ya sini granny peluk.” Bujuk ibu Dhara yang sudah tidak sabar untuk menggendong dan memeluk cucunya itu.


Namun Orion yang berada dalam suasana hati yang tidak baik tidak mau malah mengeratkan pelukannya di leher Eve. Kebiasaan Orion ketika memeluk Eve adalah memegang rambut Eve sebagai bentuk dari rasa aman dan nyamannya.


“Ibu Orion sedang berada dalam suasana hati yang kurang baik. Ibu jangan sedih nanti Orion jika sudah baik suasana hatinya akan mau sama ibu.” Hibur Eve. Memang benar situasi dan kondisi sekarang tidak mendukung apalagi dengan kedatangan ibu Dhara dan ayah Davka yang tiba-tiba.


Kakaknya Joha dan kakak iparnya tidak memberitahu bahwa mertuanya akan berkunjung ke sini. “Ibu sepertinya ibu harus melakukan perawatan lagi agar cucu ibu tidak takut dengan ibu siapa tau cucu ibu mengira bahwa ibu adalah nenek lampir.”


Mendengar perkataan putranya yang seperti itu membuat jari jemari ibu Dhara langsung mencubit kuat pinggang putranya itu. “Nabastala jangan berkata seperti itu kepada ibu mu.” Lihat ayah Davka jika sudah memanggilnya dengan Nabastala berarti ayahnya tidak suka dengan itu.


Dirinya dan ibunya memang suka sekali bercanda mulut pedasnya yang diturunkan dari ibunya terkadang memang selalu nyambung jika itu bersama ibunya. Ada-ada saja kata-kata yang terlintas.


“Ayah lihatlah dia sepertinya dia memang tertukar di rumah sakit saat ibu melahirkannya.” Ujar ibu Dhara yang mulai dengan dramanya dan memasang wajah memelasnya ke arah ayah Davka agar ayah Davka membela dan memarahi putranya itu.


Tala yang melihatnya memutar bola matanya malas baru pertama kali bertemu setelah berpisah beberapa minggu dirinya harus melihat drama dari ibunya dan bertengkar seperti biasa dengan ibunya.


“Ayah sudah menasehatinya ibu jadi jangan khawatir hmm.” Joha yang melihat kelembutan ayah Davka tersenyum.


Ternyata keluarga dari iparnya itu memang harmonis baik dan benar apa yang dikatakan oleh istrinya bahwa mertua dari adiknya itu sangat baik dan malah menganggap Eve sebagai putri mereka bukan menantu lagi.


Di sisi lain Airen yang terlihat memberikan nasihat ke Jean, “putri mami yang cantik.” Panggil Airen dengan lembut kepada Jean yang sedang duduk menundukkan kepalanya seolah tau bahwa apa yang dilakukannya kepada kakak sepupunya itu adalah salah.


“Jean tau bukan kesalahan Jean dan Jean tidak boleh lagi melakukan hal itu kepada kakak Orion apa Jean mengerti!” Ucap Airen dengan tegas.


Walaupun Jean masih belum bisa berbicara namun sepertinya Jean mengerti dengan perkataan dari maminya sehingga gadis kecil itu mengangguk dengan wajah sedihnya.


“Jadi, Jean harus minta maaf dengan kakak apakah Jean mengerti!” Jean lagi-lagi mengangguk dan tidak berani melihat wajah Airen yang memasang wajah datarnya dan tatapannya yang tajam.


“Terimakasih anak mami dan papi yang cantik dan pintar sini peluk mami.” Memuat gadis kecil itu dengan segera memeluk Airen dan mulai menangis. “Maafkan mami ya sayang. Mami sayang Jean.” Jean menganggukkan kepalanya. Airen mencium pipi dari anaknya itu dan tersenyum ke arah putrinya itu.

__ADS_1


 


*Bersambung*


__ADS_2