Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 113. PTSD


__ADS_3

Tala melepaskan ciumannya dan mengelap bibi Eve menggunakan jari tangannya nafas keduanya terengah-engah akibat ciuman tadi.


Tala berusaha mengendalikan pikirannya apalagi benda di bawahnya terasa sesak ingin dikeluarkan namun melihat kondisi Eve sepertinya tidak akan mungkin dan Tala tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Melihat Eve terpuruk seperti ini membuat Tala merasa sangat sakit, “sebaiknya kita tidur.” Ujar Tala lalu menggendong Eve.


Eve sama sekali tidak memberontak mungkin dalam keadaan sadar dengan Eve yang ditemui Tala setelah kurang lebih 3 tahun mungkin Eve akan menolak.


Tala merebahkan tubuh Eve di samping Orion. Tala meletakkan Eve berada di tengah-tengah antara dirinya dan Orion.


Orion di sebelah kirinya sudah Eve kasih pembatas bantal guling. Tala memeluk Eve yang sedang menghadap ke arah Orion yang tertidur pulas. “Selamat tidur mimpi indah.”


Tengah malamnya Orion terbangun dan merengek membuat Tala terbangun dan melihat anaknya Orion mulai menangis dengan segera Tala melepaskan pelukannya dari Eve dengan pelan agar Eve tidak terbangun lalu Tala mengambil Orion sebelum anaknya menangis dengan keras.


Ini baru pertama kalinya semenjak Tala tidur bersama mereka Orion menangis. Mungkin anaknya itu biasanya terbangun di jam segini lalu melihat ada dirinya Orion berpindah tidur di atas dadanya.


Orion meletakkan kepalanya di bahu Tala dengan muka mengantuknya sementara Tala menepuk punggung Orion dengan pelan menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri sembari menatap Eve yang tertidur pulas.


Tala bertanya di dalam dirinya bagaimana jika tidak ada dirinya apakah Eve tidak akan terbangun seperti ini atau Orion menangis terlebih dulu baru bisa membuat Eve terbangun atau Eve merasa kelelahan selama ini mumpung ada dirinya jadi Eve serahkan dan percayakan Orion kepada Tala.


Jika benar yang terakhir maka Tala akan merasa sangat senang jika Eve mempercayainya untuk mengurus Orion dan memberikannya kesempatan merasakan apa yang dirasakan oleh Eve di kala Orion masih bayi yang berumur beberapa bulan yang tidurnya tidak teratur.


“Bunda tertidur dengan pulas. Anak ayah yang baik besok harus baik lagi ya.” Bisik Tala kepada Orion dengan pelan namun tidak mengganggu Orion tidur.


Tala menguap rasa kantuk yang dirasakannya sungguh kerasa namun Tala tahan melihat Orion harus ia tidurkan segera apalagi anaknya terlihat sangat nyaman.


Sekarang Tala berpikir bagaimana dirinya harus meletakkan Orion kembali ke ranjang sementara dirinya harus menenangkan Eve juga jika terjadi sesuatu dengan Eve.


Saat ini Tala sungguh bingung.


‘Kamu tidak boleh bingung Tala nanti bagaimana kalau kamu mempunyai banyak anak. Kamu kan ingin memberikan adik yang banyak buat Orion’


...***...


Keesokan harinya Eve terbangun dan melihat ke samping tempat tidur sudah tidak ada siapa-siapa mata Eve mengitari keadaan sekitar ini bukan kamarnya lalu di mana dirinya.


Eve sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi dengannya apalagi saat ini kesadaran Eve belum terkumpul semua.

__ADS_1


Lalu mata Eve menatap dua sosok yang sedang tiduran di sofa kamar dengan Orion yang menyandarkan kepalanya di bahu kekar pria tersebut sedangkan pria tersebut menyandarkan kepalanya kedua mata laki-laki yang ada di dalam kamar Eve sama-sama terpejam.


Eve bangkit dari tempat tidurnya dan melihat Orion, ‘apakah semalam Orion terbangun dan menangis?’ Sudah seminggu lebih ini Orion sama sekali tidak menangis di malam hari.


‘Apakah aku sangat kelelahan sampai tidak menyadari bahwa Orion terbangun, biasanya Orion akan menangis jika terbangun di malam hari dan meminta susu kepadanya!’


Eve duduk di samping Tala dengan Orion yang tidur di bahunya setelah sebelumnya selesai mencuci wajahnya dan menggosok gigi.


Eve bingung harus melakukan apa karena merasa asing dengan tempat dia berpijak sekarang. Mau keluar entah kenapa Eve merasa takut tidak tau kenapa.


Padahal semalam dia keluar begitu saja dari kamar dan duduk termenung menatap ke arah luar hotel. Mungkin saat ini memang benar bahwa Eve sedang tidak baik-baik saja mentalnya.


Tidak biasanya Eve seperti ini apa yang dialami oleh Eve dulu muncul sekarang karena terlalu banyak memendam perasaan dan pikiran negatif di dalam dirinya sehingga menumpuk dan meledak.


Eve bahkan tidak menyadari sama sekali bahwa Tala sudah terbangun dan menatap Eve yang sedang memandang ke depan TV yang sama sekali tidak menyala dengan pandangan kosong.


Tala sama sekali tidak bergerak kecuali membuka matanya, mengambil nafas panjang dan membuangnya secara perlahan adalah hal yang tepat dilakukan untuk merilekskan pikirannya.


Orion masih belum terbangun tadi malam Orion tidak mau lepas darinya sehingga membuat Tala memutuskan duduk di sofa sampai menunggu Orion tertidur namun nyatanya dirinya ikut tertidur bersama Orion.


Sebuah sentuhan tangan kekar membuat Eve menoleh ke arah empu tangan yang memegang tangannya dengan lembut jemari tangan kekar itu mengusapnya dengan halus seolah Eve seperti kaca yang akan pecah jika tangan kekar itu menekan sedikit saja atau mengusapnya dengan kasar.


“Tidak apa-apa jika aku memindahkannya nanti dia akan terbangun. Biarkan saja dia terbangun sendiri agar suasana hatinya hari ini membaik.”


“Apa aku bisa meminta tolong? Tolong ambilkan ponsel aku di nakas kita harus sarapan bukan dan kita sarapan di dalam kamar saja.”


Eve mengikuti apa yang dikatakan oleh Tala hal itu membuat Tala merasa gemas dibuatnya padahal Eve biasa saja memang sangat bucin beda ya bunda.


“Bisakah kamu menelpon pelayanan hotelnya nomornya sudah aku kasih nama sesuai 111222.”


“Apakah dia terbangun semalam dan menangis?” Tanya Eve ke Tala.


Tala menggelengkan kepalanya, “hampir namun aku segera datang menenangkannya dengan berakhir seperti ini.” Ujar Tala dengan tersenyum.


“Jika kamu ingin mandi segeralah mandi nanti Orion aku akan memandikannya baju mu sudah ada di dalam lemari itu serta perlengkapan Orion juga.” Ujar Tala dengan suara pelan agar Orion sama sekali tidak terbangun.


Tala sudah pandai memandikan Orion, memasangkan baju untuk Orion dengan keaktifan Orion yang berlari ke sana ke mari tentunya membuat suasana di dalam kamar Eve di mansion Abraham selalu rame karena suara Tala yang bermain-main dengan Orion serta suara tawa Orion yang tertawa karena dikejar oleh Tala.

__ADS_1


Sepeninggalan Eve, Tala menelpon Joha dan memberitahukan bahwa Eve saat ini sudah baikan dan meminta kepada Joha untuk jangan khawatir dan percayakan kepadanya serta niat Tala ingin membawa Eve bertemu ke psikiater dan psikolog.


“Bagaimana keadaan Eve?” Tanya Airen dengan wajah khawatirnya setelah selesai mendandani putrinya Jean.


Joha mencium pipi Jean dengan gemas akan putrinya itu rasanya Joha tidak rela jika suatu saat nanti putrinya ini akan menikah dan bertemu dengan pasangan sehidup sematinya. Ingin sekali Joha menyembunyikan Jean dari semua orang terutama para manusia yang berjenis kelamin laki-laki.


“Eve sudah membaik nanti Tala akan membawanya ke psikiater dan psikolog.” Ujar Joha kepada Airen istrinya.


“Jangan bersedih kita juga tidak tau bahwa Eve memiliki trauma berada di pesta dan keramaian.” Ucap Airen menenangkan suaminya itu. Airen tau bahwa saat ini suaminya merasa bersalah karena telah membuat Eve mengalami seperti ini.


...***...


“Kamu tidak keberatan jika kita hari ini bertemu dengan psikiater dan psikolog?” Tanya Tala sudah berapa kali ke Eve. Tala tidak mau memaksa Eve ia tau semuanya perlu proses terutama bagi Eve yang mempunyai karakter sangat tertutup.


“Emm.” Eve menjawabnya dengan berdehem saja entah karena malas menjawab pertanyaan dari Tala atau karena pikirannya yang sekarang sedang ke mana-mana.


Orion mereka titipkan kepada Joha, Airen dan Cici mereka tidak mungkin membawa Orion ke rumah sakit lagipula rumah sakit penuh dengan orang-orang yang sakit bisa saja Orion akan terkena demam misalnya. Lagipula anak kecil memang dari umur berapa ke berapa tidak boleh memasuki rumah sakit demi kesehatan anak kecil karena ketahanan tubuhnya berbeda dengan ketahanan tubuh orang dewasa.


Selama di ruang konseling Eve terlihat sangat kooperatif itu yang bisa Tala lihat dari Eve dan tidak hanya Eve saja Tala juga diberikan asessmen dan diwawancarai sebagai wali dari Eve.


Setelah selesai dengan pemeriksaan Eve kedatangan sahabat psikiaternya dulu namanya adalah Naraya Gerald. Naraya memandang ke arah Tala dengan muka datarnya namun ketika melihat Eve Naraya memberikan senyuman cerahnya.


Jika Naraya tersenyum akan nampak gigi kelincinya hal yang disukai oleh Eve ketika melihat Naraya tersenyum. “Aku sangat merindukan mu, mau kah kamu ikut dengan ku ke ruangan ku.” Pinta Naraya dengan sangat berharap.


Eve menatap ke arah Tala dan Tala yang melihatnya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya bahwa ia mengizinkan Eve pergi bersama Naraya.


Naraya menggandeng tangan Eve sembari memberikan tatapan penuh arti ke psikiater dan psikolog tersebut.


Sepeninggalan Naraya dan Eve psikiater tersebut menjelaskan bahwa saat ini Eve sedang mengalami gangguan mental bernama PTSD (Post Traumatic Stress Syndrom).


Post Traumatic Stress Syndrom yang disingkat PTSD adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa hal yang tidak menyenangkan. Gejalanya dapat mencakup mimpi buruk atau kenangan-kenangan masa lalu yang melintas. Harus menghindari sesuatu yang membuat seseorang trauma karena akan menyebabkan suasana hati yang tertekan.


“Namun, apa yang saya jelaskan tadi kepada Tuan itu hanyalah diagnosis awal dari hasil wawancara yang Tuan berikan atas keterbukaan Nyonya Eve juga. Jadi, ini perlu pemeriksaan berlanjut istilahnya sambil jalan Tuan untuk mengetahui apakah Nyonya Eve benar-benar mengalami PTSD atau bukan dan mengobatinya. Jadi, mohon kerjasamanya Tuan.” Ujar psikolog tersebut menjelaskan kepada Tala membantu rekannya memberikan pemahaman.


“Tetap selalu berada di Nyonya Eve dan menjaga Nyonya agar kestabilan emosi dan pikirannya tetap stabil. Ini bukanlah sesuatu gangguan yang membahayakan jika ditangani dengan tepat dan cepat.”


 

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2