Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 112. Aku Tidak Tau Aku Kenapa!!!


__ADS_3

Di malam harinya Eve tidak bisa tidur sehingga Eve bangkit dari tempat tidur dengan pelan namun sebelum itu Eve sudah melihat seperti biasa saat dirinya terbangun Orion tidur di atas dada Tala.


Selama ada Tala Orion tidak pernah terbangun di malam hari ingin meminta susu darinya dan Eve hal itu membuat Eve bisa tidur lebih nyenyak dan nyaman karena tidak terbangun dengan Orion namun malam ini terasa berbeda Eve sudah berusaha memejamkan matanya dan tertidur namun terbangun lagi karena mimpi buruk.


Berjalan keluar dari dalam kamar dan duduk di ruang tamu sembari memandang ke arah luar kaca hotel.


Duduk dengan berpangku tangan dengan lutut yang ditekukkan.


Tala sudah bangun saat Eve bangkit dari tempat tidur dan berjalan dengan perlahan agar tidak membangunkan dirinya dan Orion.


Lampu kamar hotel memang dipasangkan agak temaram sehingga Tala bisa melihat siluet Eve yang berjalan dengan langkah kakinya yang pelan keluar dari kamar.


Tala menghela nafasnya dengan hati-hati sebelum memindahkan Orion yang tidur di atas dadanya yang tidak memakaikan atasan itu.


Anaknya Orion mungkin merasa sangat nyaman dengan dada bidang ayahnya yang berbentuk enam kota tersebut serta otot-ototnya


Setelah berhasil meletakkan Orion kembali tidur di atas kasur Tala mencium pipi gembul putranya itu yang sangat menggemaskan rasanya ingin sekali Tala menggigit pipi gembul bulat itu seperti tahu bulat di goreng dadakan.


Sama seperti Eve Tala berjalan dengan hati-hati sembari sesekali menolehkan kepalanya ke arah ranjang di mana Orion masih tertidur nyenyak.


"Jangan bangun ya sayang dan jangan gelisah tidurnya ayah khawatir jika kamu bisa saja jatuh walaupun sudah menaruh bantal guling di sisi kiri dan kanan." Ujar Tala memandang ke arah Orion sebelum melewati pintu kamar.


Mata Tala mencari di mana keberadaan Eve ternyata Eve sedang duduk di pojokan dengan dengan kaca hotel memandang ke arah luar tepatnya langit malam.


Tala duduk di depan Eve sembari memegang kaki Eve apakah Eve merasakan kedinginan atau tidak karena saat ini Eve sedang menggunakan piyama dasteran di bawah lutut.


Tala memang sengaja membelikannya untuk Eve karena selama memperhatikan kebiasaan istrinya itu memang suka sekali memakai piyama ketika tiduran kebanyakan piyamanya biasanya pakai celana namun kali ini tidak.


"Apa yang sedang kamu pikirkan ceritakan kepada ku maka aku siap mendengarkan jangan dipendam." Ujar Tala dengan berbisik namun Eve masih bisa mendengarnya.


Perkataan Tala membuat Eve mengeluarkan air matanya karena mengingat dulu pernah ada yang mengatakan itu kepadanya yaitu Adya istri pertama dari suaminya itu.


Tala hanya diam saja setelah mengatakan itu dan belum tau bahwa Eve saat ini sedang menangis.


Eve mengangkat kepalanya baru Tala tau bahwa Eve sedang menangis. Dengan segera Tala memeluk Eve. Eve sama sekali tidak menolak.


Hati Tala terasa sakit Eve yang biasanya terlihat kuat dan berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang akhirnya runtuh juga.


"Tolong jangan dipendam bukan kah itu akan menumpuk. Berbicaralah." Ujar Tala dengan lembut.


Eve menggelengkan kepalanya Eve juga tidak tau dia kenapa. Kenapa bisa-bisa merasa emosinya lagi berada di bawah banget dan menangis seperti ini hanya karena kata-kata yang diucapkan oleh Tala kepadanya.

__ADS_1


Tala hanya bisa bersabar mungkin bagi Eve perlu perjuangan yang banyak untuk membuat Eve bisa bercerita nyaman dengan orang dan memerlukan waktu untuk itu.


Setiap karakter orang berbeda-beda Tala tau bahwa Eve adalah orang yang sangat tertutup.


Eve melepaskan pelukannya lalu beranjak dari tempat duduknya Tala memegang tangan Eve agar Eve tidak kenapa-napa.


"Lepaskan aku." Ujar Eve dengan lirih dan pandangannya yang kosong.


Tala tidak melepaskan pegangan tangannya dari Eve. "Aku tidak akan melepaskannya." Ujar Tala. "Ayo berjalan lah kamu mau ke mana aku akan ikuti."


Eve, "..."


"Aku haus." Dengan sigap Tala berjalan ke dapur dan mengambil air mineral yang tentunya Tala meminta kepada pihak layanan hotel untuk memberinya air mineral.


'Tadi katanya tidak akan melepaskan namun sekarang saat Eve meminta minum dia malah melepaskan'


"Ini minumlah eh sebentar duduk tidak boleh berdiri minumnya." Eve diperlakukan seperti anak kecil oleh Tala saat ini.


Eve hanya diam saja sembari termenung setelah meminum airnya.


"Semua akan baik-baik saja." Ujar Tala sembari merapikan rambut Eve yang sedikit berantakan serta agar dirinya bisa leluasa melihat wajah Eve.


Pasti banyak hal yang telah dilewati oleh Eve selama ini dan seorang diri tanpa ada orang di sampingnya.


Ketakutan dan kekhawatiran yang Eve rasakan bahwa dirinya akan meninggalkan Eve sama seperti orang lain atau teman-temannya membuat Eve menutupi diri darinya.


Tala merasa tidak berguna jika mengingat dulu dirinya yang tidak tau apa-apa dan malah menjauhkan Eve karena merasa cemburu melihat Eve yang begitu dekat dengan sepupunya Adhikari.


Sekarang sepupunya itu tidak Tala bebaskan untuk keluar dari markas.


Adhikari tinggal di sebuah tempat yang tentunya tidak ada yang tau selain dirinya dan orang yang menjaganya.


Semua akses ditutup oleh Tala karena merasa geram dengan apa yang dilakukan oleh Adhikari yang telah melukai hati Adya dan juga membuat dirinya salah paham dengan Eve.


Walaupun sebenarnya bukan hanya salah Adhikari saja melainkan dirinya yang terlalu besar rasa egois dan harga dirinya sebagai laki-laki terluka karena merasa tidak dianggap oleh Eve tentang permasalahan yang dialami oleh Eve.


Padahal seharusnya Tala mengerti bahwa saat itu dirinya hanyalah seorang kekasih bukan keluarga dari Eve dan juga bukan suami Eve seperti sekarang ini. Jadi, wajar bagi Eve kala itu merasa ragu akan dirinya yang sebenarnya tulus apalagi lingkungan yang membuat Eve tidak mudah percaya dengan orang lain jadi Eve berpikir bahwa semua orang sama saja akan meninggalkannya setelah tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Maafkan aku seharusnya aku lebih bisa memahami mu dan keadaan mu." Ujar Tala sembari mengelus tangan Eve yang di genggam olehnya.


"Ak-aku ti-dak tau kenapa. Aku tidak tau kenapa, aku tidak tau kenapa, aku tidak tau kenapa." Eve terus mengulang kalimat itu sembari air matanya menetes.

__ADS_1


"Tidak apa-apa semua akan baik-baik saja aku di sini dan ada Orion juga." Ujar Tala menenangkan Eve.


Mungkin saat ini hati dan pikiran Eve bergejolak untuk membuatnya agar cepat sadar namun kenyataan masa lalu menghantamnya dan efeknya baru terjadi sekarang.


"Aku tidak tau kenapa aku begini!" Ujar Eve sembari menangis dengan sesenggukan.


Sungguh pikirannya merasa melayang dan perasaannya bercampur tidak menentu membuat Eve menjadi bingung harus mengungkapkan apa tentang keadaannya seperti ini hal itu membuat Eve sangat frustrasi.


Sungguh sangat membingungkan dan sangat tidak nyaman dengan apa yang dipikirannya dan dirasakannya.


"Tidak apa-apa jangan bercerita sekarang tenangkan diri mu saja okay. Tidak apa-apa jangan memaksa." Ujar Tala menenangkan Eve sembari menepuk punggung Eve dan memberikan ketenangan.


Di dalam kondisi Eve saat ini Tala tidak boleh merasa panik sama sekali.


"Aku kenapa...aku kenapa...?" Tanya Eve ke Tala sembari menatap ke wajah Tala yang sedang memandang ke arahnya itu.


Tala merasa sedih dengan keadaan Eve yang sekarang. "Kamu tidak kenapa-kenapa hanya terguncang saja semua orang pernah merasakannya."


Eve menggelengkan kepalanya sembari menggaruk rambutnya dan penampilannya sekarang sudah acak-acakan.


"Aku gila bukan kamu mau bilang bahwa aku gi---"


Tala sudah tidak tahan mendengar racauan Eve yang mengatakan dirinya sendiri gila akhirnya Tala mencium bibir Eve agar membuat Eve tidak lagi berbicara tidak-tidak.


Melihat Eve yang hanya diam saja dan hendak menjauh darinya Tala memegang kedua pipi Eve dan berkata. "Tidak kamu baik-baik saja semua orang pernah merasakannya jadi tenangkan diri mu hmmm." Ujar Tala.


"Aku gila..." Eve menyanggah apa yang dikatakan Tala kepadanya dan meyakini bahwa di dalam pikirannya bahwa saat ini dirinya benar-benar sudah gila.


Tala kini kembali mencium bibir Eve dan memberikan lum*Tan sehingga membuat Eve terbawa dan mengikuti apa yang dilakukan Tala kepadanya.


Tala tidak tau lagi harus berbicara apa mengenai Eve yang mengatakan bahwa dirinya adalah gila saat ini hanya cara ini bisa membungkam mulut Eve agar tidak berucap kata gila.


*Bersambung*


Kalian lebih suka Lunar update lebih dari satu kali sehari atau gimana...?


Kayaknya Lunar akan jarang update aja kali ya tiga hari update satu kali biar berkualitas dan fresh kali ya...🤔dan banyak yang komen serta like.


Jadi, bingung!?


Maaf ya kalau jarang interaksi soalnya Lunar sebenarnya nggak suka jika berbicara di isi dalam cerita mengurangi ke estetikkan🤣😅tapi kalau di dalam komen boleh lah tapi masalahnya jarang ada yang baca kan itu pemikiran Lunar sih😅cerita aja sedikit yang baca apalagi kalau ada salam dari Lunar seperti ini😅

__ADS_1


Selamat menikmati semoga dapat mengisi waktu luang maaf jika membuang waktu untuk membaca cerita Lunar yang jauh dari kata baik ini.


__ADS_2