
Seharian ini Gala terus menangis karena tidak melihat Eve di mansion sehabis dia pulang sekolah hingga membuat Juan Manuel yang bertiga menjemput Gala menjadi bingung bagaimana menenangkannya terlepas para pelayan tidak tau di mana Eve.
Ibu Dhara dan ayah Davka pergi hari senin kemarin ke luar negeri.
Belum lagi dia harus menjemput Orion karena Orion sebentar lagi akan pulang. "Gala, paman Juan gendong ya. Bunda mungkin lagi beli hadiah buat Gala. Tenang ya sayang."
Juan mau bergerak untuk mencari di mana keberadaan Eve apalagi ponselnya tidak bisa dihubungi dan terlebih Gala terus menangis dan tidak mau di gendong oleh siapa pun selain dirinya.
"Ayahhhhhh." Teriak Gala saat melihat Tala berjalan dengan cepat. Raut wajah Tala tampak gusar dan wajah lesu tampak terlihat hari ini di wajah Tala.
"Sayang sudah ya bunda pasti cepat kembali. Paman Juan kan hebat mencarinya." Hibur Tala yang sudah menggendong Gala.
"Saya akan cari Tuan dengan cepat." Setelah mengatakan itu Juan pergi namun terhenti lagi saat mendengar suara Tala.
"Orion nanti dijemput oleh Jackson dan Daisy. Aku sudah menelpon mereka tadi."
Sudah dua jam lamanya Gala menangis akhirnya tertidur juga. Keringatnya sudah bercampur dengan air matanya.
"Ke mana kamu pergi Eve." Ucap Tala sembari mengelap keringat di dahi Gala.
Ingin sekali ia mencari namun ia tidak bisa meninggalkan Gala sendiri di mansion ini walaupun banyak pelayan dan pengawal.
Beruntungnya Airen yang mendengar kabar dengan cepat datang kemari. Semua para ibu muda sudah ditanyain namun tidak ada yang tau ke mana Eve pergi.
"Tala."
"Kakak. Kakak maaf merepotkan aku harus menitipkan Gala ke kakak." Ucap Tala melihat Airen.
"Tidak apa-apa pergilah cari Lizzy dia tidak mungkin pergi jauh tadi orang-orang Joha sudah mencarinya."
Ada nada dan wajah kekhawatiran dari keduanya. Eve memiliki otak yang jenius namun dan dia pastikan akan dengan mudah menghilang tanpa jejak seperti terakhir kali. Namun yang menambah kekhawatiran adalah bagaimana jika Eve terjadi kenapa-napa dan diculik mengingat identitasnya yang sudah diketahui banyak orang.
Tala masih dan tidak akan menceritakan permasalahannya dan Eve kepada orang lain tidak akan pernah bukan karena apa. Itu adalah masalah rumah tangga mereka dan harus diselesaikan bersama namun semuanya belum pasti apakah Eve pergi sendiri atau dia benar-benar diculik.
Apalagi saat ini...Eve sedang mengandung Tala merasa khawatir dengan kandungannya.
Semenjak Eve melihat pembicaraan antara dirinya, Orion dan Gala. Eve sama sekali tidak berbicara kepadanya dan banyak diam waktu berkumpul dengan para ibu muda juga begitu.
Tala memang merasa bahwa di kehamilannya ini Eve terlihat sangat sensitif semalam saja Tala melihat Eve menangis di dalam kamar Orion dan Gala. Tala saat itu hanya bisa diam dia perlu waktu untuk menerima segalanya dan mengontrol emosinya agar tidak menyakiti Eve melihat Eve yang begitu sensitif.
__ADS_1
Drrt drrt drrt
"Tuan, Nyonya Lizzy sedang berada di villa dekat pantai." Ucap Juan dengan cepat.
Hari sudah mulai sore waktu Tala datang ke villa tersebut. Memang sangat jauh jaraknya dari mansion rumah apalagi harus keluar kota seperti ini.
Tala berjalan dengan cepat tanpa membalas sapaan tukang penjaga villa tersebut. Ia sudah merasa sangat khawatir.
Dari jauh Tala bisa melihat bahwa Eve sedang menyiram bunga terlihat dari selang air yang di pegang ya dan air yang mengalir tersebut.
Tala menghela nafasnya dan berjalan mendekat penampilannya sudah sangat berantakan.
"Tidakkah kamu pikir ini kekanakan Lizzy." Suara Tala terdengar sangat dingin di telinga Eve.
Eve hanya diam saja menahan emosinya yang bergejolak jika dia membalas maka dia akan menjadi istri yang pembangkang dan akan menangis tentunya.
Tala merebut kran air di tangan Eve dan membalikkan badan Eve sehingga keduanya saling berhadap-hadapan. "Kamu membuat semua orang heboh mencarimu."
Eve merasa bahwa dia sangat membebani semua orang karena ulahnya mendengar perkataan Tala. Bahkan Tala menyebut nama pemberian dari kedua orang tuanya tadi dan tidak memanggil bunda atau sayang lagi.
Eve berbalik meninggalkan Tala namun Tala menggenggam tangan Eve sehingga Eve terhenti. "Lihat kamu pergi meninggalkan kami hanya karena dia." Ujar Tala.
"Berhenti Elizabeth Abraham jika kamu melangkah maka aku akan---"
"---akan apa? Mau memberiku obat penggugur kehamilan atau melenyapkan janin ini."
"Elizabeth." Bentak Tala tanpa sadar mendengar perkataan Eve.
Eve menitikkan air matanya mendengar bentakan itu dan berjalan mundur.
"Aku bilang berhenti jangan mundur atau maju cukup diam." Ucap Tala dengan dingin.
Tidakkah Eve tau bahwa dia sangat khawatir dan ketakutan saat ini apalagi pergi tiba-tiba seperti ini.
"KAMU YANG DIAM." Pekik Eve dengan ketakutan melihat Tala yang berjalan mendekat ke arahnya.
Tala benar-benar berhenti mendengar teriakan melengking dari Eve. Tala berpikir apa yang ada di dalam benak Eve kenapa dia seperti ini.
"Lihat dia mempengaruhimu." Ujar Tala.
__ADS_1
Eve mendengus dan menatap Tala dengan nyalang membuat Tala tertegun. "Kamu tidak melihat dirimu Tuan Nabastala Affandra Werawan secara perlahan kamu membuat Orion dan Galaksi menjauh dariku. Aku tidak menyangka bahwa kamu bermain licik. Dan juga kamu mau menjauhkan aku dengan ibumu dan ayahmu untuk mendukungmu."
Tala sungguh tidak mengerti apa yang dikatakan Eve kepadanya kenapa Eve bisa berpikir begitu. "Apa yang kamu mak---"
"---CUKUP DIAM. AKU TIDAK MAU MENDENGAR KAMU BERBICARA LAGI." Ucap Eve dengan nangis tersedu-sedu sekarang Eve benci dia yang lemah dan seperti ini.
"Aku tau maksudmu aku tau maksudmu. Kamu ingin menjauhkan Orion dan Gala dariku dan merebut mereka dariku kan itukan yang kamu mau. ITU KAN."
"Daripada diperlukan seperti itu secara perlahan-lahan lebih baik aku pergi saja tidak usah mengganggu hidupku dan bayiku." Ucap Eve dengan lirih sembari memegang perutnya yang masih datar itu.
"Aku tau kalau kalian tidak suka karena kehamilan ini bukan. Biarkan aku saja yang merawatnya." Ucap Eve dengan pilu.
"BERHENTI DAN DIAM DI TEMPAT." Pekik Eve saat Tala hendak melangkah.
"Aku tau aku memang ditakdirkan hanya untuk sendiri dan tidak punya keluarga sedari dulu. Jadi, Tuan Nabastala aku akan mence---"
Tala langsung berjalan cepat dan membungkam mulut Eve dengan ciumannya yang brutal membuat Eve merasa lemas dibuatnya.
Eve memberontak namun tidak bisa karena Tala tidak memberikan aksesnya dengan mudah.
Eve merasa kehabisan stok di pernafasan Tala mengerti dan melepaskan ciumannya bibir Eve sampai membengkak dibuatnya.
Namun itu hanya bertahan beberapa detik saja karena selanjutnya Tala kembali mencium Eve.
Dengan kekuatan ototnya yang kekar Tala menggendong Eve seperti koala tanpa melepaskan ciuman mereka.
Eve sudah lemah tak berdaya karena terbuai oleh perilaku Tala.
Tala tidak tahan mendengar rentetan perkataan Eve yang keluar dari mulutnya. Eve terlihat berdrama sekali itu yang dirasakannya ia paham Eve sedang hamil dan sensitif karena kehamilannya.
Akhirnya Eve dibuat lemas tak berdaya di atas kasur putih tempat biasanya mereka menginap saat berlibur bersama dengan kedua buah hati mereka.
Keringat membasahi tubuh keduanya akibat olahraga yang penuh dengan emosi di dalamnya. Tala masih berada di atas Eve dan dengan lembut menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu.
Eve memejamkan matanya dan merasa lelah. Rasanya Tala ingin mengulang namun kembali ingat saat di dalam perut Eve ada bayi mereka yang harus mereka jaga.
Tala menggendong Eve sebelum menelpon dan meminta pelayan untuk membersihkan kamar mereka selama mereka mandi.
Eve hanya diam saja dimandikan oleh Tala bersuara dia merasa lemah apalagi harus bergerak yang ada dia hanya bisa pasrah.
__ADS_1
*Bersambung*