
Setelah dokter umum itu keluar dari ruang rawat Eve. Tala juga pamit kepada ibu Dhara dan ayah Davka untuk pergi ke kantor.
Ibu Dhara dan ayah Davka mengangguk mengizinkan karena Tala ada rapat yang harus dilakukannya.
Sebenarnya Tala tidak tenang jika harus meninggalkan Adya yang dalam kondisi kritis namun karena Tala berusaha untuk percaya kepada orang lain terlebih orang yang menjaga Adya adalah ibu dan ayahnya.
“Sayang ibu lupa bahwa Tala belum sarapan.” Ingat ibu Dhara kepada suaminya itu.
“Nanti kita ingatkan asistennya ibu untuk menyiapkan sarapan dan memastikan Tala memakan sarapannya.” Ujar ayah Davka.
Ayah Davka sudah memahami bagaimana istrinya ini yang sangat khawatir dengan kesehatan sang anak dan sangat menjaga pola makan sang anak.
Siang harinya ruang rawat Adya kedatangan Geya. Ayah Davka menyambut dengan baik keponakan perempuannya itu.
Geya tidak datang sendirian, Geya datang bersama sahabatnya yang tidak lain adalah Harsha Adwitya yang ayah Davka ingat adalah sepupu dari menantu keduanya itu.
Walaupun ayah Davka tau bagaimana buruknya sifat Geya namun sebagai paman ayah Davka memakluminya karena menurut ayah Davka manusia itu tidak semunya putih pasti ada hitamnya.
“Paman bagaimana keadaan kak Adya?” Tanya Geya kepada ayah Davka sambil membawa parsel buah-buahan.
Ayah Davka yang memang berada di luar ruangan Adya tersenyum. “Masih kritis Geya.” Jawab ayah Davka. “Jadi, yang masuk ke kamar rawatnya tidak boleh lebih dari satu orang. Di dalam ada bibi mu.” Ujar ayah Davka menjelaskan.
Geya menganggukkan kepalanya dan Harsha hanya diam dan sesekali tersenyum jika ayah Davka melihatnya.
“Apa kamu ingin melihatnya?” Tanya ayah Davka menawarkan.
Geya dengan cepat menggelengkan kepalanya, “tidak paman, Geya ke sini hanya berkunjung sebentar untuk menjenguk. Mungkin lain kali ketika kondisi kak Adya sudah membaik.”
Harsha yang mendengarnya merasa muak karena menurut Harsha, Geya itu mempunyai banyak topeng wajah.
Apalagi tadi dirinya mendengar bahwa Adya pasti akan membaik. “Kondisinya sudah pasrah seperti ini menyusahkan saja kenapa tidak mati saja.” Ucap Harsha di dalam hatinya.
“Geya dengan bahwa selama satu bulan ini kondisi kak Adya semakin membaik perkembangannya kenapa tiba-tiba kak Adya sampai berada di dalam kondisi seperti ini.” Ucap Geya membuat ayah Davka menoleh dan tersenyum.
“Namanya sudah menjadi takdir Tuhan. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya bisa saja kita saat ini baik-baik saja tapi besoknya kita tidak tau apakah nyawa kita masih ada apalagi keluarga kita adalah keluarga terpandang. Musuh bisa datang di mana dan kapan saja. Atau yang lebih menyeramkan musuh di dalam selimut sendiri.” Ujar ayah Davka melihat ke keponakannya itu namun saat kalimat terakhirnya ayah Davka menatap ke arah Harsha.
__ADS_1
Sementara Harsha yang melihat pandangan ayah Davka mengarah kepadanya hanya tersenyum sambil sedikit menganggukkan kepalanya.
“Benar sekali paman. Kita tidak pernah tau mana kawan dan mana lawan semuanya bisa berubah dengan cepat. Geya harap semoga kak Adya cepat sadar dan sembuh. Kalau begitu Geya dan Harsha pamit pergi ke kantor lagi.” Ujar Geya mengundurkan diri.
Ayah Davka hanya mengangguk dan tersenyum melihat kepergian keponakannya dan temannya itu.
Pintu ruangan Adya terbuka menampilkan ibu Dhara yang berada di dalam ruangan rawat Adya. “Ayah sedang melihat apa?”
Ayah Davka membalikkan badannya dan menatap ke arah istrinya itu. “Apakah sudah selesai membersihkannya?” Tanya ayah Davka tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya itu.
“Ayah jangan mulai deh. Pertanyaan itu harus dijawab dengan adanya jawaban bukan dengan pertanyaan.” Protes ibu Dhara kepada ayah Davka yang sudah terkekeh.
Ayah Davka merangkul pundak istrinya dan kemudian duduk di kursi ruang tunggu tersebut. “Tadi, Geya ke sini dia datang untuk menjenguk namun tidak lama.” Ujar ayah Davka.
Ibu Dhara hanya menganggukkan kepalanya dan mengerti. “Datang bersama siapa?” Tanya ibu Dhara kembali.
“Bersama temannya yang biasa.” Jawab ayah Davka sambil menghela nafas panjang membuat ibu Dhara merasa heran.
Ibu Dhara yang merasa heran mengernyitkan dahinya. “Apakah ayah lelah kenapa helaan nafasnya panjang sekali?” Tanya ibu Dhara.
Tanpa mereka sadari Tala yang pergi dari pagi tadi kembali dan melihat kemesraan kedua orang tuanya itu yang sudah menjadi hal biasa.
Tala berdeham membuat pasangan paruh baya itu menoleh ke arah sumber suara ternyata di sana Tala sudah berdiri dengan muka malasnya. “Eh, ternyata sudah ada anak kita.” Canda ayah Davka yang membuat ibu Dhara tertawa mendengarnya dan mencubit pinggang suaminya karena merasa gemas.
“Kenapa ayah dan ibu ada di sini?” Tanya Tala tanpa menghiraukan candan dari ayahnya itu.
“Tentu saja kami merawat kedua menantu yang sedang sakit.” Jawab ibu Dhara dengan enteng. Ibu Dhara ingin menggoda anaknya itu, ayah Davka tertawa mendengarnya.
Ibu Dhara dan ayah Davka tau maksud dari pertanyaan anaknya itu bukan itu melainkan kenapa mereka tidak masuk saja ke ruang istirahat di sebelah.
“Ibu.” Rengek Tala dengan wajah memelasnya membuat ibu Dhara tertawa.
“Jangan dibawa tegang terus dong sayang, kamu ini kenapa serius sekali. Sekali-kali bercanda tidak apa-apa selagi masih wajar. Menikmati hidup itu harus santai.” Ujar ibu Dhara.
Tala hanya mengangguk saja dan pergi ke ruangan sebelah untuk mengganti pakaiannya yang habis dari luar agar dirinya bisa masuk ke ruangan Adya.
__ADS_1
Mata Tala melihat ke ranjang di sana Eve masih terlelap namun kelihatan gelisah namun Tala tidak menggubrisnya dan langsung fokus dengan apa yang menjadi tujuannya itu.
“Kamu sudah makan siang belum sayang?” Tanya ibu Dhara kepada anaknya yang baru keluar dari kamar mandi.
Tala menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari ibunya itu. “Eve sudah makan siang dan meminum obatnya. Dia sekarang sedang istirahat karena efek obat jadi mudah mengantuk jangan khawatir.” Ujar ibu Dhara.
Tala hanya diam saja seolah tidak peduli dengan perkataan dari ibunya itu yang menjelaskan kondisi Eve. Tala malah mencium pipi ibunya lalu pamit ke ruang rawat Adya sambil mengisyaratkan tangannya.
Pintu ruang rawat yang ditempati oleh Eve kembali terbuka dan menampilkan wajah ayah Davka.
Ayah Davka langsung duduk di sebelah istrinya itu. “Ayah menurut mu apakah Tala menyalahkan Eve atas apa yang telah terjadi?” Tanya ibu Dhara karena menurut ibu Dhara itu sangat mengganjal.
Ayah Davka menatap ke arah istrinya. “Bukankah hubungan keduanya mulai membaik seperti yang kita lihat.”
“Tapi, kenapa Tala bersikap tidak peduli kepada Eve padahal Eve lagi sakit. Apa ayah tau waktu ibu tadi menjelaskan kondisi Eve kepada Tala, Tala seolah-olah menghindar dan tidak mau mendengarkan.”
“Mungkin itu perasaan ibu saja, bisa jadi Tala saat ini sedang kelelahan. Mungkin yang diprioritaskan Tala sekarang adalah Adya karena kondisi Adya sedang dalam kritis."
“Bukan berarti kondisi Eve tidak memprihatinkan hanya saja kan menurut Tala seperti itu ibu. Jangan terlalu dipikirkan lagipula kan ada kita yang akan menjaga salah satu di antaranya jika Tala sibuk dengan satunya. Mempunyai istri dua itu tidak mudah ibu.” Ujar ayah Davka.
“Iya memang tidak mudah. Kalau ibu jadi Adya atau Eve, ibu tidak mau menjadi istri pertama atau istri kedua. Ibu ingin menjadi istri satu-satunya.” Ujar ibu Dhara sembari bersedekap dada. “Awas saja ya yah.”
Ayah Davka tertawa dan merasa lucu dengan istrinya ini. “Iya istriku, ayah heran deh yang memaksa Tala untuk menikah kembali kan ibu sama Adya tapi kenapa sekarang ibu membahas istri pertama dan kedua. Nanti jika Eve atau orang lain mendengarnya kan tidak enak ibu.” Ingat ayah Davka.
“Ayah tau waktu ibu tadi pergi ke kantin ibu bertemu dengan dokter Raka yang kada Adya terlihat sangat menyukai menantu kedua kita itu.” Ucap ibu Dhara mengalihkan topik.
Ayah Davka menunjukkan atensinya kepada ibu Dhara. “Tadi, dokter Raka bertanya bagaimana keadaan Eve. Dokter Raka tau bahwa Eve saat ini sedang demam katanya tau dari dokter umum.” Ujar ibu Dhara.
Ayah Davka manggut-manggutkan kepalanya mendengar cerita dari istrinya itu. “Terus ibu jawab apa?” Tanya ayah Davka.
“Ya baik-baik saja sudah membaik maksudnya yah.” Jawab ibu Dhara.
“Ayah bagaimana ya nantinya jika Eve tidak betah dengan Tala dan meminta cerai lalu dokter Raka bisa merebut hati Eve. Ibu rasanya tidak mau jika Eve pergi jauh dari ibu. Ibu ingin Eve maupun Adya tetap menjadi menantu ibu bahkan mereka sudah ibu anggap sebagai putri ibu sendiri.” Ucap ibu Dhara sedih meluapkan kegelisahannya tatkala melihat sikap dingin Tala kepada Eve.
“Ibu jangan memikirkan hal yang belum terjadi, jangan memikirkan hal yang buruk berpikirlah positif. Jika kita berpikir buruk maka itulah yang akan terjadi kan bisa jadi. Ibu tidak mau kan.” Ucap ayah Davka dan ibu Dhara menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
*Bersambung*