Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 08. Pulang Berbulan Madu


__ADS_3

Semenjak kejadian di mana Nabastala yang memarahi dan berkata kejam kepada Eve malam itu juga baik Tala dan Eve pulang dari berbulan mdau mereka. Eve berpikir bahwa mereka pulang karena Tala sudah tidak ingin lagi untuk melanjutkan bulan madunya karena akibat kejadian di pesta malam itu dan sudah tidak tahan untuk selalu bersama dengan dirinya sehingga membuat Tala yang baru kembali ke dalam kamar pukul jam dua malam membangunkan Eve untuk segera membereskan pakaian mereka karena mereka akan segera kembali tanpa menjelaskan apa penyebabnya sehingga Eve hanya bisa menduga.


Sesampainya di tanah air Eve melihat bagaimana Tala yang berjalan tergesa-gesa tanpa memedulikannya yang cukup kesulitan membawa kedua koper mereka sebelum salah seorang sopir yang akan menjemput mereka datang untuk membantu. Namun ketika di dalam mobil Eve tidak melihat Tala sehingga membuat Eve bertanya dalam kebingungannya. "Nona apakah kita langsung pulang atau ke rumah sakit?" Tanya sopir tersebut hingga membuat Eve menatap penuh tanda tanya kepada sopir tersebut.


"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit pak?" Tanya Airell dengan lembut dan ramahnya kepada sopir tersebut. Sementara sopir yang melihat bahwa istri muda dari Tuan mudanya ini tidak tau apa-apa mengenai alasan kepulangan bulan madu mereka dipercepat.


"Mohon maaf Nona, apakah sebelumnya Tuan muda memberitahu alasan kenapa Nona dan Tuan muda harus segera kembali ke negara K?" Tanya sopir tersebut takut salah berbicara dan memikirkan bagaimana caranya didirnya sebagai sopir menyikapi istri muda dan Tuan mudanya ini. Eve menggelengkan kepalanya menatap ke arah sopir yang sedang menatap dirinya melalui kaca dalam mobil tersebut. "Nona Adya masuk ke rumah sakit Nona." Jawab sopir tersebut dan melihat bagaimana reaksi Eve yang terdiam mendengarnya.


"Kapan pak?" Tanya Eve yang penuh khawatir mendengar kabar bahwa Adya masuk ke rumah sakit. Pantas saja Eve tadi melihat bagaimana wajah panik dan khawatir di wajah Tala jadi ini alasan mereka harus segera kembali dari bulan madu.


"Semalam Nona." Jawab sopir tersebut dengan sopan.


"Bapak sebaiknya antar saya pulang ke rumah dulu untuk membersihkan diri lalu nanti saya minta tolong kepada bapak untuk mengantar saya ke rumah sakit ya. Saya harus membersihkan diri supaya tidak ada kuman yang melekat di saya jika saya datang melihat kak Adya." Ucap Eve.


Sopir tersebut yang mendengarnya awalnya merasa terkejut ketika mendengar bahwa istri muda dari Tuan mudanya ini meminta untuk pulang ke rumah namun mendengar alasan dari Eve membuat sopir tersebut tersenyum mengangguk. Sopir tersebut dapat melihat raut wajah khawatir dan cemas yang ditunjukkan oleh Eve. Sopir tersebut berdoa semoga Tuan mudanya segera menerima Nona mudanya ini. Sopir tersebut bisa melihat bahwa Tuan muda masih bersikap sangat dingin kepada istri mudanya apalagi melihat Nona muda tidak tau apa-apa mengenai alasan mereka harus segera kembali dari bulan madu dan ditinggalkan sendiri dengan dua koper yang berada di kedua tangan Nona muda Eve.


"Sungguh baik hatimu Nona muda semoga Tuan muda dengan cepat menerima Nona muda sebagai istrinya." Ucap sopir tersebut dalam benaknya mendoakan pernikahan Eve dan Tala.


Sesampainya di rumah Eve segera berjalan menuju kamarnya dan Tala untuk segera membersihkan diri tidak ada waktu bagi Eve untuk berisitirahat melihat Adya yang dilarikan ke rumah entah karena apa Eve tidak tau dan tidak mau banyak bertanya mengingat Eve harus menjaga nama baik Tala sebagai suaminya cukup Eve bertanya kenapa harus ke rumah sakit.


Saat Eve selesai membersihkan dirinya Eve teringat bahwa dirinya harus menyiapkan pakaian buat Tala di sana mengingat bahwa Tala tidak membawa apa-apa tadi. Entah bagaimana Tala pergi ke rumah sakit tapi yang pasti buat seorang Nabastala ia bisa melakukan apapun dengan mudah dan cepat apalagi untuk orang yang disayangi dan dicintainya.


Langkah kaki Eve berjalan melewati koridor rumah sakit setelah bertanya kepada resepsionis mengenai di mana ruangan Adya Parabawa Werawan berada.


Memasuki lift khusus VVIP untuk menuju ruang rawat Adya saat langkah kaki Eve mendekat Eve mendengar bahwa ada perkataan yang kurang enak di dengar hingga Eve yang merasakannya sangat sakit di hatinya.


"Kenapa sih Tala tidak menceraikan wanita murahan itu. Membuang-buang uang keluarga Werawan saja. Kak Davka juga kenapa harus menerima perempuan itu menjadi bagian keluarga Werawan setelah mengetahui betapa murahnya wanita itu memberikan kehormatannya kepada laki-laki lain sebelum menikah ditambah banyaknya perempuan itu melakukan aborsi. Pantas saja bahwa wanita itu tidak bisa hamil sehingga dia tidak bisa lagi memberikan keturunan. Itulah namanya karma."


Eve terdiam mendengar perkataan tidak pantas wanita paruh baya tersebut yang sedang berbicara pria paruh baya di sampingnya.

__ADS_1


"Selamat sore paman, bibi." Sapa Eve dengan sopan kepada paman dan bibi dari Nabastala suaminya itu. Sepasang pasangan paruh baya tersebut melihat Eve dari atas sampai bawah namun sama seklai Eve tidak merasa risih karena dirinya sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu.


"Ouw kamu istri kedua dari Tala." Ucap wanita paruh baya tersebut, "ternyata kamu cantik juga walaupun hanya anak pungut dari keluarga Adwitiya." Eve yang mendengarnya hanya diam saja karena jika Eve melawan itu akan terlihat tidak sopan apalagi itu adalah orang yang lebih tua darinya dan memang benar apa yang dikatakan wanita paruh baya tersebut bahwa dirinya adalah anak pungut.


"Perkenalkan bibi paman nama saya Elakshi Feshika biasa dipanggil Eve." Ucap Eve dengan senyum ramahnya dan menyebut namanyanya tanpa ada embelan nama Adiwitiya ataupun Werawan di belakangnya.


 


"Ternyata kamu punya kesadaran juga ya baguslah. Memang kamu dan wanita murahan itu tidak selevel untuk menyandang nama keluarga Werawan. Baguslah kamu sadar akan posisimu." Wanita paruh baya tersebut terus mengungkit status dirinya sebagai anak pungut namun Eve merasa tidak terima jika Adya istri pertama dari suaminya dijelek-jelekkan.


"Mohon maaf bibi setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan tidak ada manusia yang sempurna di dunia termasuk kak Adya, bibi, paman dan saya. Tapi, ada baiknya bibi jangan berkata seperti itu apalagi jika didengar oleh orang lain akan tidak enak untuk didengar nantinya." Nasihat Eve dengan lembut namun membuat wanita paruh baya tersebut meledak akan tetapi di tahan oleh laki-laki paruh baya yang sejak tadi diam dan menyimak.


"Kamu masih muda dan berpendidikan tidak sepatutnya kamu menasehati orang yang lebih tua darimu. Pengalaman kami lebih banyak darimu wahai anak muda. Jaga bicara dan sikapmu kamu hanyalah orang baru di keluarga Werawan jangan mentang-mentang kamu sudah masuk ke keluarga Werawan seenaknya kamu berbicara apalagi berbicara tidak sopan dan menasehati kami di sini." Ucap pria paruh baya tersebut kepada Eve, wanita paruh baya tersebut menatap sinis ke arah Eve ketika mendapat belaan dari sang suami.


Sementara Eve merasa bahwa orang-orang sekarang sangat gila penghormatan dan kekuasaan lalu memandang rendah orang lain hanya karena status dan kasta yang dimiliki. Eve hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kepada sepasang pasangan paruh baya tersebut.


"Terimakasih nasihatnya paman tapi orang muda juga berhak menasihati orang yang lebih tua darinya jika sudah melewati jalurnya agar bisa kembali ke jalur yang yang benar agar sampai di tempat tujuan. Muda dan tua harus saling menghargai dna menghormati satu sama selain tanpa memandang rendah ataupun buruk perbuatan orang di masa lalu ataupun sekarang. Karena setiap perbuatan pasti ada alasan." Ucap Eve dengan bijak hal itu membuat sepasang suami istri paruh baya tersebut merasa geram mendengarnya.


Lalu mata ibu Dhara melihat menantu barunya kemudian tersenyum. "Sayang kamu datang seharusnya kamu istirahat saja di rumah. Ibu sudah menyuruh Tala pulang sebentar lagi namun Tala masih belum kembali dari ruangan dokter untuk berkonsultasi mengenai kesehatan Adya. Kamu pasti sangat lelah maafkan Tala ya sayang yang tergesa-gesa pulangnya dari acara bulan madu kalian. Ibu sudah kasih tau ke Tala bahwa tidak perlu khawatir mengenai kondisi Adya tapi anak itu malah pulang padahal Adya hanya kelelahan saja." Ucap ibu Dhara menjelaskan kepada Eve. Sementara Eve yang mengangguk dan tersenyum.


"Tidak apa-apa ibu malah kalau Eve berada di rumah membuat Eve tidak tenang sebelum mendengar kabar dari kak Adya. Apa boleh Eve melihat kak Adya ibu?" Tanya Eve dengan sopannya membuat ibu Dhara senang karena mempunyai menantu yang sangat bagus tata kramanya baik kepada orang tua ataupun semua orang.


"Tentu saja boleh sayang. Ayo kita masuk ke dalam. Dan untuk kalian berdua pergilah ke rumah untuk beristirahat." Ucap ibu Dhara dengan lembut walaupun ke dua orang itu sudah merusak ketenangan bagi menantu-menantunya.


"Sayang kamu masuklah duluan." Eve yang mendengarnya segera masuk ke dalam di mana di sana sudah ada Adya yang terbaring di atas ranjang pasiennya sedang menatap tersenyum ke arahnya.


Di luar ruangan ibu Dhara menasehati kedua pria paruh baya, "aku sudah bilang jangan mengusik ketenangan menantuku ataupun keluargaku. Apa kalian tidak mendengar apa yang dikatakan suamiku, jika kalian belum menerima Adya sebagai menantu di keluarga Werawan dan belum sadar akan kesalahan kalian serta kesombongan kalan jangan pernah menampakkan wajah kalian jika hanya ingin memberikan kata-kata yang menyakiti atau melakukan perbuatan yang buruk terhadap menantuku. Ingatlah roda terus berputar." Ucap ibu Dhara lalu meninggalkan kedua paruh baya tersebut.


Tak lama setelah itu Tala berjalan mendekati ruangan Adya dan melihat bagaimana sang ibu yang tetap lembut dalam menasehati kedua orang tersebut. "Buat apa paman dan bibi ke sini. Jangan merusak suasana cukup urus saja urusan keluarga paman dan bibi." Ucap Tala dengan dingin tanpa menyapa dengan sopan karena Tala sudah kehilangan hormatnya terhadap kedua paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Apa sih yang dilihat kak Dhara dan juga Tala pada wanita itu apa yang telah diberikan Adya kepada mereka papa. Mama tidak habis pikir dengan pemikiran keluarga itu. Apalagi menantu baru itu sungguh membuat mama jengkel." Ucap bibi Tala yang tidak terima bahwa mereka disalahkan dan terus menganggap mereka adalah benar.


"Sudahlah mah lebih baik kita pergi dari sini sebelum kita mendapat omelan dari kak Davka lagi dan membuat kak Davka memberhentikan kerjasamanya dengan perusahaan kita." Ucap laki-laki paruh baya tersebut.


"Eve maafkan kakak ya sudah membuat acara bulan madu kalian berantakan." Ucap Adya dengan wajah sedihnya dan merasa kesal dengan Tala. "Tala itu memang benar-benar, padahal aku sudah kasih tau untuk tidak khawatir entah apa yang dipikirannya." Omel Adya kepada Tala.


"Sudahlah kak itu karena kak Tala sangat mencintai kakak. Lagian siapa yang tidak khawatir melihat istri sedang sakit sementara sang suami pergi jauh. Pasti semua suami yang ada di dunia ini akan melakukan hal itu." Ucap Eve yang tidak mempermasalahkannya. "Mungkin tidak untukku jika aku berada di posisi kakak." Ucap Eve dalam hatinya menyembunyikan lukanya dengan senyuman.


Ibu Dhara yang baru masuk memberikan senyuman kepada kedua menantunya, "ibu senang kalian sangat akur tetaplah seperti ini selamanya." Ucap ibu Dhara dan mendapatkan senyuman dari kedua menantunya.


Ceklek


Pintu ruang rawat Adya kembali dibuka dan nampaklah suami dari kedua wanita tersebut, "kenapa kamu sekali?" Tanya ibu Dhara yang melihat Tala kembali dari ruang Adya. Tala menatap tajam dan dinginnya ke arah Eve kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Adya dan tersenyum.


"Maafkan aku ibu ada beberapa hal yang harus aku urus mengenai pengobatan yang akan dijalani Adya. Aku sudah berkonsultasi dengan dokter bahwa mulai besok aku akan membawa Adya ke negara S untuk memulai pengobatannya selama satu minggu dan aku sendiri yang akan menemaninya di sini. Aku tidak ingin mendengar bantahan." Ucap Tala dengan tegas hingga membuat Adya dan ibu Dhara tidak bisa memberikan protesnya lagi berbeda dengan Eve yang terlihat tenang dan tidan ingin mengeluarkan sepatah kata pun karena menurutnya dirinya tidak berhak untuk berpendapat.


"Eve apakah kamu ingin bekerja?" Tanya Adya hingga membuat Eve melihat ke arah Adya sebenarnya Eve ingin namun dirinya tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan keinginannya. Adya yang tau bagaimana Eve hanya akan diam saja mengerti, "Sayang apa kamu memberikan izin kepada Eve untuk bekerja?" Tanya Adya kepada Tala sementara Eve harap-harap cemas mendengar jawaban dari Tala.


"Terserah." Ucap Tala hanya satu kata Eve yang mendengarnya merasa sedikit kecewa, "jangan terlalu berharap Eve ingat posisimu ini bukan novel ataupun drama yang ada adegan bagaimana suami memberikan nasihat yang panjang dan manis kepada istrinya."


"Kenapa sih irit sekali bicaranya kamu sariawan ya." Ucap Adya dengan kesal kepada Tala dirinya merasa tidak enak dengan Eve melihat sikap dingin Tala. Adya takut dan khawatir bahwa Eve tidak akan betah dan salah sangka dengan sikap Tala yang dingin kepadanya. Sementara Tala hanya diam saja dan duduk di sofa memainkan ponselnya. Ibu Dhara hanya memperhatikan drama pernikahan anaknya tanpa mencampurinya karena ibu Dhara tau bahwa ini bukanlah haknya tapi jika Tala sudah sangat keterlaluan dirinya tidak akan segan untuk menghukum Tala. "Kamu akan bekerja di rumah sakit mana Eve?" Tanya Adya penasaran.


"Aku sudah memasukkannya di rumah sakit ini." Bukan Eve yang menjawabnya melainkan Tala hal itu membuat ketiga wanita itu menatap ke arah Tala. "Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanya Tala melihat tiga pasang mata yang sedang menatap ke arah dirinya.


"Kenapa tidak bilang sih daritadi. Tadi ditanya ngomongnya terserah." Protes Adya kepada Tala, "lihatlah Eve dia terlihat sangat menyebalkan." Ucap Adya yang melihat ke arah Eve sementara Eve hanya tersenyum saja.


"Bagaimana aku mau ngomong jika kamu terus berbicara dan tidak memberikan kesempatan buat orang lain ngomong. Aku tadinya ingin memberitahukannya nanti pas nganter pulang." Ucap Tala menjelaskan. Ibu Dhara yang melihatnya tersenyum begitu juga dengan Eve yang hanya bisa tersenyum.


"Ibu sebaiknya ikut kami pulang dan beristirahat biar nanti Tala yang akan jaga setelah mengantar kalian. Tala juga tidak ingin mendengar protes ya ibu Tala ku tersayang" Ucap Tala kepada ibu Dhara dengan sedikit menggoda ibu Dhara. Eve melihatnya tersenyum Tala sangat berbeda jika bersama dirinya yang Eve lihat hanya wajah dingin dan datar tidak lupa dengan perkataannya yang tajam.

__ADS_1


"Menyenangkan pasti punya orang tua seperti ibu Dhara dan ayah Davka. Sedangkan aku hanya anak pungut. Anak pungut." Batin Eve bergejolak dan kata anak pungut selalu terngiang-ngiang di kepalanya.


*Bersambung*


__ADS_2