Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 73. Eve Demam


__ADS_3

Eve menggunakan kacamata hitamnya sembari tangan yang dilipat di depan dada.


Tidak ada suara yang dikeluarkan Eve. Menangis Eve sudah lelah dan air mata protes tidak mau keluar.


Pasrah.


Gadis kecil penderita leukemia dengan kasih sayang yang melimpah terhadap ibunya kini meninggal dunia.


Tuhan lebih sayang Ashi.


Di sampingnya wanita yang paling sedih atas meninggalnya Ashi siapa lagi kalau bukan ibunya Ashi, Airen.


Bahkan wanita dengan satu anak itu beberapa kali pingsan dan beruntungnya ada sang sahabat bernama Jo.


Eve hanya tau nama pria yang sedang memeluk Airen itu Jo karena mereka belum sempat berkenalan dengan baik satu sama lain.


Lagipula sangat terlihat jelas bahwa Jo hanya memusatkan perhatiannya ke Airen. Kasih sayang yang ditunjukkan Jo melebihi perasaan sebagai sahabat.


Eve bisa merasakannya dan berpikir beruntung sekali ada yang peduli pada Airen setelah mendapatkan banyak masalah dari mantan suami beserta istri baru mantan suaminya itu dan keluarga mantan suami.


Eve berpikir mungkinkah pertemuannya dengan Ashi menambah bumbu perjalanannya sebelum dirinya pergi dari orang-orang yang tau dirinya.


Pergi jauh.


Eve tidak memiliki harapan lagi atas kebahagiaannya sekarang.


Karena orang-orang menginginkan penderitaannya.


Dari tadi sepasang mata tajam menatap ke arah Eve yang hanya diam menatap Ashi yang dimakamkan.


Siapa lagi jika bukan Nabastala, apalagi di samping Eve ada dokter Raka yang berdiri di sampingnya.


Ingin sekali Tala menyingkirkan dokter Raka yang berdiri di sana. Namun, Tala tau tempat bahwa situasi sedang berduka.


Lagipula setelah ini Tala akan membawa Eve ke apartemennya terlebih dahulu untuk sementara waktu.


Itu niatan Tala jika Eve menolak maka dirinya akan melakukan berbagai macam cara seperti yang dilakukannya terakhir kali.


Dirinya dan Eve harus berbicara ini demi kesembuhan Adya.


"Kak kapan pun kak Airen butuh, Eve akan selalu ada jangan sungkan untuk meminta bantuan." Ujar Eve ke Airen dan Airen menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih karena selama ini telah membuat Ashi lebih semangat sehingga dia bertahan dengan cukup lama."


Eve menggelengkan kepalanya, "ini bukan karena Eve tapi karena Tuhan. Ashi anak yang baik dan Eve suka. Eve pamit pergi."


Setelah mengatakan itu Eve pergi di belakangnya dokter Raka mengikuti dan berniat ingin mengantar Eve pulang.


Langkah kaki Eve terhenti tatkala melihat pengawal Ai dan pengawal Bee berdiri di samping mobil menyambutnya dengan senyuman.


Lalu pengawal Ai membuka pintu sedan untuk Eve. "Silahkan masuk Nona muda."


Eve berjalan mendekat hal itu membuat Tala merasa lega. "Ai, aku akan memanggilmu Ai begitu juga dengan kamu aku akan memanggilmu Bee."


"Mulai sekarang aku bukanlah Nona muda kalian lagi." Ujar Eve dengan datar membuat senyuman di wajah pengawal Bee menyurut karena bingung dan tidak mengerti.


Tala di dalam mobil mengepalkan kedua tangannya.


Eve berlalu setelah member hormat dengan membungkukkan badannya ke pengawal Ai dan pengawal Bee.


Dokter Raka masih mengikuti Eve dari belakang dan ingin menawarkan diri untuk mengantar Eve pulang.


Ketika mendengar perkataan Eve jujur saja di dalam hati dokter Raka ia merasa sangat senang namun dirinya harus menyembunyikan rasa senangnya karena artinya dirinya mempunyai kesempatan untuk mendekati Eve dan merebut hatinya.


"Aku akan mengantarmu pulang Eve." Ujar dokter Raka yang sudah berdiri di samping Eve.


"Tidak terimakasih." Ucap Eve dengan dingin dan datar.

__ADS_1


Eve sudah berubah itu yang dipikirkan oleh dokter Raka. Mungkin karena Ashi meninggal jadi membuat Eve yang ramah tanpa sadar bersikap seperti itu.


Eve berjalan itu sangat jauh jika dari pemakaman Ashi untuk sampai di gerbang pemakaman.


Namun Eve sama sekali tidak mengeluh dan tidak juga melepaskan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Sementara dokter Raka terdiam di tempat mendapatkan penolakan dari Eve.


Di belakang Eve mobil yang ditumpangi Tala mengikuti dari belakang beruntungnya semua orang sudah pulang.


Karena pemakaman Ashi di sore hari jadi langit senja menghiasi pertanda bahwa matahari sudah mau tergantikan oleh gelapnya malam entah ditemani bulan atau bintang atau tidak sama sekali.


Hampir kurang lebih lima belas menit lamanya Eve berjalan keluar dari gerbang pemakaman langkah kaki Eve berhenti di halte dan duduk di sana.


Pandangan Eve memandang toko bunga di depan halte tersebut.


Udara semakin dingin namun tidak membuat Eve kedinginan karena sekarang Eve merasa bahwa hatinya sudah dingin.


Hampir satu jam lamanya Eve duduk di depan halte dan sudah berapa kali bis melewatinya namun Eve sama sekali belum naik.


Pengawal Ai dan pengawal Bee yang melihat Eve dari jauh merasa khawatir.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara Tuan muda dengan Nona muda?" Tanya pengawal Bee.


"Nona muda tetap memilih bercerai sesuai dengan perjanjian pernikahan yang dibuat oleh Tuan muda di awal pernikahan." Jawab pengawal Ai.


Pengawal Bee tentu tidak terkejut mendengarnya karena dirinya yang waktu itu juga menemani asisten Tala mengurusnya.


"Sepertinya kamu sudah tau mengenai hal itu." Ujar pengawal Ai dan pengawal Bee menganggukkan kepalanya.


"Aku terus berdoa agar kepada Tuhan bahwa Tuan muda tidak akan menceraikan Nona muda sesuai dengan perjanjian namun ternyata aku salah bahwa karena tidak berdoa kepada Tuhan agar Nona muda jangan meminta bercerai."


"Semuanya menjadi rumit, Nona muda Adya tau dengan sendirinya dari pertengkaran keduanya."


Pengawal Bee menolehkan kepalanya terkejut. "Padahal harapan besar hidup Nona muda Adya adalah kebersamaan dan kerukunan Nona muda Eve dan Tuan muda Tala."


"Tapi, keduanya sama-sama keras. Dan kamu tau sendiri bagaimana Tuan muda memperlakukan Nona muda Eve dengan Nona muda Adya."


Baik Eve maupun Tala keduanya sama-sama misterius. Jika Tala misterius dengan pemikirannya yang tidak terduga sementara Eve misterius dengan segala aspek kehidupannya sangat tertutup.


"Apa masalah selama mereka pacaran dulu yang menjadi penyebabnya." Gumam pengawal Bee.


Pengawal Ai menolehkan kepalanya "apa maksudmu?"


"Nona muda Eve dan Tuan muda Tala pernah terlibat cinta kasih di sekolah. Tuan muda sangat mencintai Nona muda kala itu tapi karena ada kesalahpahaman membuta Tuan muda membencinya."


Pengawal Ai baru tau tentang masalah ini. "Aku mendengarnya dari Nona muda sendiri waktu itu Nona muda tidak sengaja menceritakannya karena pikirannya sedang kacau waktu almarhum Tuan besar Werawan meninggal."


Pengawal Ai menganggukkan kepalanya dan sedikit tau bahwa ke mana perginya Nona muda waktu itu dari mansion yaitu apartemen Tuan muda.


"Tindakan Tuan muda tidak bisa diprediksikan terkadang Tuan muda terlihat perhatian dan posesif dalam waktu bersamaan namun tidak ditunjukkan di hadapan Nona muda dan semua orang." Pengawal Ai.


Keduanya saling menatap dan tersenyum karena sudah menjadi rahasia umum pengawal bagaimana Tuan muda mereka melarang para pengawal untuk jangan melihat terlalu lama ke Nona muda Eve.


"Apa jika kita memberitahu fakta itu akan mengubah pemikiran Nona muda." Ujar pengawal Bee.


"Aku tidak tau karena selama yang aku lihat walaupun Nona muda terlihat lemah lembut dan anggun namun jika sudah berkemauan keras maka tidak akan ada yang bisa mengubah apa pun."


"Kuncinya adalah Tuan muda dan komunikasi mereka berdua." Lanjut pengawal Ai.


Tala segera keluar dari dalam mobil dan menghampiri Eve.


Eve sama sekali tidak menggubris kehadiran Tala yang sedang berdiri di hadapannya. "Ayo pulang jangan membuat ibuku dan ayahku khawatir." Ujar Tala datar.


Tala menghela nafasnya panjang dari jauh dokter Raka masih memperhatikan keduanya bukan tapi sebenarnya Eve.


Tala mengambil tangan Eve untuk digenggam agar mengikutinya namun Eve segera melepaskan genggaman tangan Tala darinya.

__ADS_1


"Tolong menjauhkan dariku aku tidak ingin kehilangan lagi." Ujar Eve dengan pandangan kosongnya.


Tala mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Eve yang terasa aneh baginya. "Jangan banyak bicara sembarangan ayo kita pulang." Datar selalu.


Namun bukan malah mendengar dan mengikuti Tala yang sudah berbalik badan Eve malah menggeser tempat duduknya di ujung kursi dan menyandarkan kepalanya ke kiri sembari melipatkan kedua tangannya.


Tala memandang Eve dengan tatapannya yang tajam lalu mendekat ke arah Eve dan menggendong Eve ala bridal style.


Eve tentu saja memberontak. "Turunkan aku." Ucap Eve meronta.


Sopir yang melihat Tuan muda dan Nona mudanya dengan segera membukakan pintu agar Tuan muda dan Nona muda bisa masuk.


Tala tidak peduli dengan Eve yang meronta di dalam gendongannya.


Bahkan di dalam mobil Tala tidak melepaskan Eve untuk duduk di kursi mobil melainkan Eve kini sedang di pangku Tala.


Agar Eve tidak memberontak Tala mengunci akses pergerakan Eve sehingga Eve kesulitan untuk bergerak.


Sementara Eve yang sudah lelah baik perasaan, pikiran, dan tubuhnya hanya mendesah pasrah.


Eve tentu saja merasakan nyaman apalagi tadi di luar sangat dingin karena udara malam.


Bau khas Tala yang memang sangat disukai Eve semakin membuat Eve mengantuk. "Aku lelah." Ujar Eve dengan lirih sebelum Eve menyerah untuk tetap sadar.


Tala tidak mendengar suara Eve yang seperti gumaman itu Tala pikir itu dengkuran Eve tatkala dirinya melihat bahwa Eve sudah terlelap.


Tala mengeratkan pelukannya di tubuh Eve yang terasa dingin sepertinya Eve demam.


"Ke apartemen cepat." Ucap Tala datar namun ada rasa kepanikan di dalam suaranya.


"Sepertinya Tuan muda akan membawa Nona muda ke apartemen. Jadi, harus cepat mengemudi." Ujar pengawal Bee yang melihat mobil ditumpangi majikan mereka itu sedang melaju kencang.


Tala keluar dari dalam mobil dengan Eve yang berada di gendongannya sedang kedinginan.


Apalagi tadi ketika punggung telapak tangan Tala menyentuh kening Eve yang terasa sangat panas.


"Siapkan air hangat untuk kompresan dan air hangat untuk mandi." Ujar Tala ke kedua pengawal yang mengikutinya itu.


Pengawal Ai dan pengawal Bee menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Tala membaringkan Eve di ranjang mereka ketika mereka lagi di apartemen.


Tala menyuruh ke kedua pengawalnya bahwa untuk membuka baju dan memandikan Eve dengan air hangat.


Tala tidak ingin ada kuman yang dapat membuat sakit apalagi Eve baru dari luar dan itu pemakaman.


Setelah selesai pengawal Ai dan pengawal Bee memberitahu Tuan muda mereka.


Tala segera masuk lalu mengompres dahi Eve sesekali Tala mengelap keringat Eve yang keluar.


Badan Eve menggigil membuat Tala harus melakukan skin to skin.


Beruntungnya Tala sudah mandi tadi ketika Eve dibersihkan.


Membuka kancing piyama yang dikenakan Eve lalu mengangkat kaos dalam Eve ke atas karena Eve tidak menggunakan bra dan Tala tau kebiasaan Eve yang satu ini.


Sehingga kini Eve hanya menggunakan celana untuk menutupi mahkotanya saja dan kaos dalam yang sudah diangkat oleh Tala ke atas namun dua gunung tetap tertutupi.


Tala juga membuka bajunya dan hanya menggunakan celana pendek saja lalu memeluk Eve dengan erat agar demam Eve turun.


"Aku lelah." Ucap Eve dalam tidurnya sudah berapa kali Tala mendengarnya.


Tala bertanya-tanya apa yang membuat Eve merasa lelah apakah pekerjaannya sebagai dokter atau sudahlah Tala merasa kesal jika dirinya harus menduga karena Eve sangat tertutup sedari dulu.


Sifat Eve yang membuat Tala sangat membencinya. Tala tentu saja ingin seseorang yang bisa terbuka jika terbuka artinya orang itu menghargai dirinya dan mempercayainya sebagai laki-laki.


Laki-laki suka jika perempuan sangat bergantung dengannya karena insting untuk melindungi sangat kuat dan membuat semangat.

__ADS_1


Di dalam diri Eve sampai sekarang Tala tidak menemukannya malah dinding Eve semakin tebal dan tinggi untuk didaki tidak akan sampai untuk dirobohkan akan menyakitkan jika tidak ada rasa percaya dan mau berbicara.


*Bersambung*


__ADS_2