Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 06. Diam dan Memendam


__ADS_3

Eve terbangun dari tidurnya dan melihat Tala suaminya yang masih tertidur lelap di sampingnya dengan jarak di antara keduanya yang begitu dekat.


Dapat Eve lihat alis Tala yang tebal dengan hidung yang bangir serta rahangnya yang tegas tidak lupa dengan bibir kecil dan tebal milik Tala membuat Tala terlihat sangat tampan bagi siapapun yang melihatnya.


Hal yang paling disukai Eve dari dulu adalah alis milik Nabastala yang menurut Eve tidak ada siapapun yang menggantikannya. Terlalu berlebihan tapi itulah kenyataannya alis Tala sangat begitu memikat di mata Eve.


Ingin rasanya Eve memiliki seluruh raga dan hati seorang Nabastala namun dirinya adalah istri sementara yang tidak ada cinta di dalam diri Nabastala untuknya. Di hati Nabastala hanya ada seorang Adya Parabawa sang istri pertama yang baik hati dan cantik rupanya.


Bangun untuk membersihkan diri setelah sebelumnya mengambil pakaian yang dikenakannya semalam yang berserakan di lantai akibat aktivitas suami istri yang harus dilakukan oleh istri dan menjadi hak seorang suami. Berendam untuk membuat pikiran lebih tenang dan rileks walaupun hati Eve rasanya ingin menjerit jika saja hati bisa berbicara seperti layaknya mulut.


Setelah Eve pergi ke kamar mandi Tala membukakan kedua matanya dan memandang pintu kamar mandi yang sudah ditutup. Membangkitkan badannya dari tiduran dan memakai celana tidurnya semalam. Menghela nafasnya dengan berat saat Tala memikirkan keadaan Adya yang jauh darinya.


Untuk pertama kalinya Nabastala harus pergi meninggalkan istri pertamanya. Biasanya ke mana pun Nabastala pergi Adya pasti akan mengikutinya, Tala tidak akan pernah meninggalkan Adya sendirian.


Tala takut bahwa jika dirinya meninggalkan Adya maka Adya akan melakukan hal yang buruk seperti dulu lagi. Adya sangat berharga bagi seorang Nabastala Affandra Werawan.


Pemandangan pagi yang menyejukkan membuat Nabastala merasa sangat nyaman dan damai. Jika saja ada Adya di sini bersamanya pasti akan terasa lebih menyenangkan dan bermakna. “Halo kesayangannya Adya, kenapa menelpon?” Sapa Adya di seberang telepon ketika menerima panggilan video dari Tala suaminya.


Nabastala tersenyum ketika melihat bahwa Adya dalam keadaan baik-baik saja dan terlihat sangat bersemangat serta ceria seperti biasanya, “Kesayangan Adya belum menjawab pertanyaan. Kenapa menelpon hmmm?” Tanya Adya dengan lembut tidak lupa dengan senyuman yang selalu membuat Nabastala sangat rindu.


“Aku sangat rindu.” Jawab Tala dengan manja hal itu terdengar dari telinga Eve yang baru keluar dari kamar mandi. Eve melirik ke arah Nabastala yang sedang menelpon sambil memandang pemandangan di luar jendela.


“Baru dua hari sudah sangat rindu bagaimana kalau tidak ada aku selamanya.” Canda Adya hal itu membuat senyum Tala meredup mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Adya.


“Aku sudah bilang jangan berbicara hal yang aneh.” Ucap Tala dengan dingin untuk mengingat Adya. Rasanya tidak bisa dibayangkan jika Tala harus kehilangan Adya di dunia ini.


“Aku hanya bercanda kenapa kamu selalu serius sih sayang. Lagian sudah ada Eve yang akan menemanimu selamanya nanti.” Ungkap Adya dengan cerianya sedangkan Eve yang mendengar namanya disebutkan menghentikan aktivitasnya untuk menyisir rambutnya sejenak.


“Tidak ada siapapun selain kamu yang aku inginkan hanya kamu dan hidup berdua dengan kamu selamanya.” Ucap Tala dengan dingin tanpa menghiraukan Eve yang berada di dalam satu ruang dengannya yang ikut mendengarkan.


Eve merasakan sakit dihatinya namun Eve hanya bisa diam karena memang itu bukanlah haknya di sini dirinya hanyalah orang ketiga di antara keduanya. Menghela nafas dengan berat berusaha bersikap biasa saja agar Tala tidak semakin membenci dirinya. Keluar kandang buaya masuk ke kandang harimau begitu yang Eve rasakan sekarang. Hanya bisa menenangkan diri dan menghibur diri sendiri itu sudah menjadi hal yang biasa dilakukan seorang Elakshi Feshikha. Sendiri dalam kesedihan dan keterpurukan tanpa ada seorang pun yang menghibur diri.

__ADS_1


Sungguh di saat seperti ini membuat Eve sangat rapuh namun harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Eve tau berusaha baik-baik saja di depan semua orang agar berusaha membuat orang tidak risih dengannya adalah jalan terbaik bagi Eve setidaknya Eve tidak harus mendengar hinaan ataupun perkataan pedas dari orang-orang terdekatnya.


Berteman dengan diri sendiri itu adalah hal yang biasa. Kesepian menjadi suasana yang selalu ada ke mana pun dan di mana pun dirinya pergi. Langkah terakhir adalah menangis sepuas-puasnya jika rasa sesak dan pikiran merasa tertekan yang sudah tidak bisa dikendalikan.


“Istriku ingin berbicara denganmu.” Ucap Tala dengan dingin dan menutup speaker suara telepon agar Adya tidak mendengar perkataan dirinya yang dingin kepada Eve. Perkataan Tala membuat Eve tersentak dari lamunannya, tidak ada senyuman dan tidak ada kelembutan.


“Halo kak Adya.” Sapa Eve ceria yang sebelumnya menghela nafas sejenak agar orang tidak risih dengannya. Tala kembali ke sofa yang berada di dekat jendela tanpa banyak kata setelah memberikan ponsel miliknya kepada Eve. Hampir tiga puluh menit lamanya Adya dan Eve bercerita hingga Tala harus segera menghentikan pembicaraan di antara keduanya.


“Sudah bercerita-nya, hari sudah larut malam di sana dan itu tidak baik buat kesehatanmu.” Ucap Tala yang merebut ponsel miliknya di tangan Eve hingga membuat Eve terkejut dengan pergerakan Tala. Sementara di seberang sana Adya cemberut mendengar perkataan Tala yang menghentikan percakapan dirinya dengan Eve.


“Seharusnya kamu segera menghentikan percakapan kamu dengan istriku. Apa kamu masih sangat begitu egois sampai tidak memikirkan kesehatan orang lain. Kamu sendiri adalah seorang dokter seharusnya tau bahwa waktu yang baik untuk bercakap berlama-lama apalagi kesehatan istriku sekarang tidak seperti orang lain atau dirimu.” Omel Tala dengan dingin dan pedasnya kepada Eve sementara Eve hanya diam saja sambil menahan luka di hati yang sangat sakit dan menusuk.


“Maafkan aku lain kali aku tidak akan melakukannya.” Ucap Eve dengan sakit di hatinya. Kalimat yang selalu diucapkan Eve ketika dirinya berada dalam kondisi seperti ini. Baik itu adalah salah dirinya atau pun bukan Eve harus meminta maaf dan menanggung akibat kesalahan atau perbuatan yang dilakukan oleh orang di sekelilingnya.


Setelah mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan bagi Eve, Tala pergi meninggalkan kamar hotel tanpa pamit kepada Eve. “Sabar Eve.” Ucap Eve mengusap air matanya yang tidak kaut mendengar perkataan tajam dan pedas dari Tala. “Kamu hidup di dunia ini memang harus menerima segala pelampiasan dan perbuatan orang di sekitarmu. Setidaknya hidupmu bermakna untuk orang-orang yang melampiaskan emosinya dengan adanya kamu. Ingat Eve kamu hanyalah boneka, posisimu tidak lebih dari itu.” Ucap Eve yang berusaha menyemangati hatinya yang terluka dan berpikir positif.


Eve merasa sangat lapar karena sejak semalam Eve yang dilakukannya tadi malam sebagai seorang istri. Saat Eve hendak menelpon resepsionis untuk menyiapkan untuknya karena tidak mungkin bagi Eve untuk pergi dari kamar hotel ini tanpa izin dari Tala. Eve harus menghargai Tala sebagai suaminya dan Eve mengingat jelas bagaimana ibu angkatnya yang selalu pamit kepada ayah angkatnya dulu ketika hendak pergi ke mana pun.


 “Tidak apa-apa kan jika saya membantu?” Tanya Eve kepada kedua pegawai layanan hotel tersebut namun tangan Eve tetap melakukannya. Kedua pegawai layanan tersebut tersenyum dengan sopan kepada Eve tanpa membantah.


“Terimakasih Nona. Semoga bulan madu Anda menyenangkan.” Ucap salah satu pegawai layanan kepada Eve dan dibalas dengan senyuman oleh Eve. Nabastala yang baru datang dari luar melihat makanan yang sudah tersaji di atas sofa dan menatap tajam ke arah Eve dan kedua pegawai layanan tersebut. “Saya permisi Nona dan Tuan. Selamat menikmati.” Pamit pegawai layanan tersebut ketika melihat Tala yang berdiam diri di dekat pintu dengan wajah datar dan dinginnya.


“Apakah kamu sudah terlalu biasa memasukan laki-laki ke dalam kamar. Ingat batasanmu jangan sampai kamu memalukan aku dan keluarga besarku.” Ucap Tala dengan dingin hal itu membuat Eve kembali harus mendengarkan kata yang menyakitkan.


“Maafkan aku lain kali aku tidak akan melakukannya.” Ucap Eve tanpa membuat pembelaan akan dirinya sendiri. Karena akan sangat percuma bagi Eve jika menjelaskan sesuatu kepada seseorang yang sudah sangat tidak menyukai dan membenci kita karena mereka akan menutup mata dan telinga. Tala hanya mendengus dan menatap tajam ke arah Eve dan kembali meninggalkan Eve seorang diri.


Eve makan-makanan yang sudah di sediakan oleh pihak hotel dan yang di antar oleh pegawai layanan hotel tadi. Air mata sudah menjadi hal yang biasa bagi manusia terutama bagi Eve. Ketika sedang makan pun air mata adalah hal yang biasa ditumpahkan Eve sambil makan. Setidaknya Eve memerlukan energi untuk menguras emosi negatif dalam hati dan pikirannya melalui air mata. Setelah sarapan Eve duduk termenung di atas lantai sambil melipatkan kedua kakinya dengan memandang pemandangan di luar jendela yang hanya bisa Eve lihat dari dalam kamar.


POV ON (EVE)


Aku hanya bisa diam karena aku tidak punya hak untuk berbicara walaupun untuk sekedar membela selain mengucapkan kata maaf yang selalu aku ucapkan kepada semua orang. Hanya bisa menghela nafas dengan sabar untuk menguatkan hatiku yang rapuh dan menjaga diriku yang lemah ini. Kak Zee benar bahwa aku hanya lah boneka bagi semua orang dan aku pun berpikir bahwa aku memang boneka yang bisa orang lakukan sesuka hatinya.

__ADS_1


Setidaknya dalam pikiranku, aku berguna buat mereka maka aku tidak mau menjadi apapun selain apa yang dikatakan kak Zee tentang aku karena kenyataannya aku memang begitu. Aku harus seperti boneka yang tidak mempunyai rasa dan jiwa walau bagaimana pun orang memperlakukan aku, mencampakkan aku, mengabaikan aku.


Pikiran aku adalah boneka selalu tertanam dalam alam bawah sadarku seperti sekarang ini apa pun yang dilakukan dan dikatakan Tala sebagai suamiku maka aku harus menerimanya karena aku adalah boneka. Aku berpikir bahwa liburan yang bertemakan bulan madu ini akan sangat menyenangkan dan menangkan pikiran ternyata sama saja tapi setidaknya aku harus bersyukur seperti yang dikatakan bibi Bora bahwa aku bisa menaiki pesawat, tinggal di tempat bagus, makan-makanan enak karena bentuk rasa kasihan keluarga Adwitiya dan suamiku Nabastala.


Memang siapa yang mau menerimaku sebagai istri melihat asal usulku yang tidak jelas seperti ini tidak ada bukan. Aku tidak suka dengan Eve yang sedih seperti ini dan selalu berandai-andai. Maafkan aku Tuhan pikiran dan perasaanku terkadang tidak mensyukuri nikmatmu.


Kira-kira apa ya yang harus aku lakukan setelah dua tahun pernikahan ini, aku akan pergi ke mana dan pekerjaan apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin menyandang gelar dokter bedah seperti ini karena itu aku dapatkan dari uang yang telah dikeluarkan oleh keluarga Adwitiya untukku.


“Semut kenapa kamu begitu kuat memikul beban.” Ucapku bermonolog sendiri ketika diriku melihat semut yang sedang membawa makanan di atas kepalanya. “Kamu hebat dan kalian juga rukun. Apakah aku boleh menjadi bagian dari kalian.” Ucapku yang terkekeh sendiri.


Berbicara sendiri adalah yang biasa untukku jika aku merasa kesepian apalagi sekarang boneka panda tidak ada di dekatku sehingga tidak bisa aku ajak bermain seperti saat aku bermain waktu kecil dan masih di panti asuhan.


Panti asuhan ya, mungkin nanti setelah perceraian aku akan kembali ke panti asuhan untuk mendedikasi diriku di sana. Anak-anak akan terlihat sangat murni dan tidak penuh dengan pura-pura layaknya seperti orang dewasa kayak aku. Tapi, bagaimana jika aku hamil dan mempunyai anak ya apa aku diberi hak nanti untuk bertemu dengan anakku sendiri. Lihat sekarang aku kembali menangis memang benar aku sangatlah lemah jadi wajar orang di sekitarku sangat suka menindasku.


“Semut menurutmu nanti apa yang akan aku lakukan setelah dua tahun nanti. Akankah aku tetap waras dengan keadaanku seperti ini.” Tanyaku kepada semut yang tentunya tidak akan bisa menjawab pertanyaanku. “Orang-orang selalu memberikan penilaian buruk ya semut tanpa mau mendengarkan penjelasan dari orang tersebut. Bodoh sekali aku ini memangnya siapa yang percaya dengan seorang anak pungut seperti aku ini tidak ada bahkan aku juga tidak percaya dengan diriku sendiri.”


Aku langkahkan kakiku saat aku mendengar suara dering ponselku yang berbunyi dapat aku lihat bahwa itu adalah teman seprofesi denganku tapi bedanya dia adalah seorang psikiater. “Halo Elakshi, kamu di mana kenapa tidak ada kabar?” Lihatlah dia tetap saja cerewet hanya dia satu-satu sahabat yang aku miliki.


“Kenapa kamu semakin cerewet.” Ujarku kepadanya sambil tersenyum mendengar kalimat yang perhatian dari mulut sahabat aku ini.


“Kamu tidak melakukan yang aneh-aneh kan?” Tanyanya dengan curiga lihat sahabat aku ini tau bahwa sekarang aku merasa terpuruk tanpa aku kasih tau memang benar-benar seorang psikiater ucap benakku berkata.


“Aku tadi memulai berbicara sendiri tidak tapi dengan semut.” Ucapku dengan tersenyum miris. Aku bisa mendengar suara helaan nafas yang terdengar dari mulutnya. “Jangan khawatir aku baik-baik saja, kamu tau kan aku sangat kuat dan hebat. Dalam dua tahun ke depan aku akan kembali menemuimu dan akan bebas. Jadi, kamu harus bersiap-siap dengan sikap cerewet aku ya.” Ucapku lalu dengan segera mematikan sambungan telepon dan memblokir nomor telepon sahabatku.


Aku sengaja melakukannya supaya sahabat aku tidak terlalu mengkhawatirkan aku. Aku menghela nafas dengan berat lalu mataku terdiam menatap seorang pria yang telah menjadi suamiku sedang menatapku dengan tajam dan dinginnya.


Kali ini aku berpikir apalagi ya kesalahan yang aku perbuat bahkan mungkin di matanya aku bernafas pun akan sangat salah di matanya. Aku hanya bisa diam dan sedikit menunduk sambil menunggu kata-kata mutiara yang keluar dari mulutnya.


Tanpa aku bisa prediksi bahwa dia langsung mencium bibirku, aku mencium bau alkohol dari mulut dan tubuhnya. Apakah sebegitu menderitanya ya orang-orang yang berada di dekatku sampai harus merusak diri mereka dengan minuman yang tidak baik buat kesehatan. Aku hanya pasrah menerima apa yang dilakukan oleh pria yang menjadi suamiku tanpa banyak protes. Walaupun sebenarnya aku sangat lelah dan merasa bosan di dalam kamar namun bagaimana lagi aku adalah seorang istri yang harus melayani suami. Aku tidak punya hak untuk meminta dan mengungkapkan apa yang aku rasakan dan apa yang menjadi keinginanku karena aku adalah boneka.


POV OFF

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2