
Tala berjalan dengan wajah dingin dan datarnya menuju ke ruang rawat kakek Werawan.
Dari jauh Tala melihat ada Adya yang sedang duduk di ruang tunggu bersama dengan pengawal yang dipersiapkan untuk menjaga Adya di sana.
Adya menolehkan kepalanya ketika mendengar suara ketukan sepatu di lantai rumah sakit.
Apalagi lorong di lantai ini sangat sepi karena memang lorong ini sangat private dan hanya digunakan untuk keluarga besar Werawan semata.
Adya berdiri dan melihat ke arah Tala sambil mata Adya melirik ke belakang seperti mencari seseorang. "Di mana Eve?" Tanya Adya menatap mata Tala.
Tala hanya diam dan memperhatikan. "Kenapa kamu berdiri nanti kamu lelah cepat duduklah." Ujar Tala tanpa menghiraukan pertanyaan Adya.
"Di mana Eve?" Tanya Adya kembali tanpa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tala yang menyuruhnya untuk duduk.
"Apa kamu tidak mendengar perkataan suami mu." Ucap Tala dengan dingin Adya yang melihatnya menatap ke dalam bola mata Tala lalu dengan segera menuruti perintah Tala.
"Sekarang aku sudah duduk. Di mana Eve?" Tanya Adya untuk ketiga kalinya.
"Buat apa kamu bertanya di mana dia. Dia bisa mengurusnya sendiri lebih baik kamu fokuskan saja sama kesehatanmu okay." Ucap Tala dengan lembut namun datar.
"Ibu bilang tadi kamu membawa Eve. Tapi, kenapa setelah kamu kembali tidak membawa Eve lagi?" Tanya Adya meminta jawaban dari Tala.
Tala menghela nafasnya. "Aku tidak tau." Ucap Tala singkat jelas dan padat.
Tentu saja Adya yang mendengarnya tidak akan puas dan masih menuntut jawaban dari pertanyaannya. "Kenapa susah sekali sih tinggal menjawab saja padahal. Di mana Eve?" Tanya Adya yang sudah mulai menggerutu kesal.
"Dia sedang berada di rooftoft dan menangis di sana." Jawab seseorang di belakang Tala dan membuat Adya dan Tala menoleh ke asal sumber suara.
Adya menatap datar ke arah wanita itu yang tidak lain adalah Geya Werawan. "Apa yang telah kamu lakukan?" Tanya Adya dan memandang tajam ke arah Geya.
"Kali ini bukan aku. Aku bersumpah." Ucap Geya dengan senyum sinisnya.
__ADS_1
Adya menatap kembali ke arah Tala yang hanya diam saja. "Apa yang membuat Eve menangis?" Tanya Adya.
"Aku tidak tau." Jawab Tala kembali rasanya Adya sungguh merasa kesal dengan sikap yang ditunjukkan Tala kepada Eve.
Adya menghela nafasnya sejenak tidak baik juga dirinya memarahi suaminya itu di depan orang lain apalagi sekarang ada sepupu suaminya yang sangat tidak menyukai dirinya dan Eve.
"Kenapa kamu masih ada di sini?" Tanya Adya melihat ke arah Geya.
Sementara Geya mengangkat alisnya ketika pertanyaan itu ditujukan untuknya. "Tentu saja untuk melihat kakek. Tadi, aku belum sempat melihat kakek." Jawab Geya dengan santai.
Namun di dalam hatinya Geya ingin sekali mencabik mulut Adya dan mengeluarkan kata-kata mutiara pedasnya kepada Adya.
Tapi, Geya harus menahannya karena ada Tala yang berada di dekat mereka.
"Terus kenapa kamu masih di sini dan tidak masuk?" Tanya Adya kembali dengan senyumannya.
Geya sungguh muak melihatnya dan Geya dengan terpaksa membalas senyuman Adya. "Ini aku baru mau masuk kak. Apa kalian tidak ikut masuk?" Tanya Geya.
"Tidak kami nanti saja, tidak baik jika terlalu banyak orang sedangkan kakek memerlukan waktu istirahat yang cukup." Ujar Adya.
Adya melihat Geya yang sudah masuk ke dalam ruang rawat kakek menghela nafasnya lalu menatap Tala yang sejak tadi diam. "Sekarang jelaskan kepadaku apa yang membuat Eve menangis." Pinta Adya.
"Aku tidak tau." Jawab Tala yang sejak tadi hanya menjawab tidak tau.
"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan Tala. Kamu tidak menekan Eve karena menerima wasiat dari kakek yang meminta Eve untuk menjadi dokter di ruang operasinya jika keadaan darurat kan?" Tanya Adya sambil menilik wajah dan ekspresi Tala.
"Kenapa kamu selalu membelanya tidak kakek, ibu dan ayah juga kenapa kalian selalu membelanya?" Tanya Tala.
"Apakah kamu tidak bisa melihatnya atau mata hati kamu sudah tertutupi sehingga kamu tidak bisa melihatnya?" Tanya Adya balik.
"Huh, mata aku terbuka dengan luas begitu juga hatiku." Ucap Tala dengan awalan sinis di kalimatnya.
__ADS_1
"Tidak, Tala mata hatimu tertutupi oleh rasa egois mu sendiri. Jika itu terbuka maka kamu tidak akan bersikap dingin dan tidak peduli kepada Eve." Ujar Adya.
"Bagaimana jika Eve sudah tidak tahan lagi bersama mu dan meminta pisah dengan mu. Kamu akan sangat menyesal." Ucap Adya.
"Aku tidak peduli." Ucap Tala yang menekankan setiap kata yang diucapkannya.
Adya menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Tala.
"Laki-laki di luar sana banyak yang menyukai Eve dan siap merebut Eve dari kamu kapan saja. Dan kamu dia sudah ada di samping kamu dan berada dekat dengan kamu dan kalian mempunyai sebuah ikatan yang sakral sekarang. Jangan sia-siakan Eve." Ucap Adya menasehati Tala.
"Kenapa kamu semakin hari semakin cerewet." Ungkap Tala sedangkan Adya memutar bola matanya malas.
Adya tau bahwa sekarang ini Tala tidak ingin dan tidak menerima nasihat dari siapapun termasuk dirinya apalagi jika itu berkaitan dengan Eve.
Namun, jika tidak diingatkan Adya tidak tau kapan lagi dirinya bisa mengingatkan Tala dan berbicara secara leluasa mengenai Eve.
Kesehatannya semakin tidak stabil setiap harinya bahkan kini dirinya harus memakai rambut palsu dan tubuhnya semakin lemah.
"Huh." Adya menghela nafasnya lelah. "Jangan sampai kamu menyesal. Dan jangan karena keegoisan mu membuatmu menyesalinya nanti."
Setelah mengatakan itu kepada Tala, Adya meminta kepada pengawalnya untuk mendorong kursi rodanya dan masuk ke dalam ruang rawat kakek Werawan.
Tala memandang Adya yang masuk ke dalam ruang rawat kakeknya
"Sayang di mana Eve?" Tanya ibu Dhara ketika hanya melihat Adya dan pengawal menantu pertama saja yang masuk. Karena tadi ibu Dhara sudah mengajak Adya untuk masuk dan Adya ingin menunggu Eve.
Adya memandang ke arah ibu Dhara lalu pintu terbuka menampilkan Tala yang baru masuk.
"Tala, di mana Eve?" Tanya ibu Dhara yang melihat bahwa hanya ada Tala sendiri. Sedangkan tadi Tala yang membawa Eve pergi dengan memegang tangan Eve.
Tala berdeham dan menatap ke arah ibu Dhara, ayah Davka dan juga kakek Werawan lalu terakhir Adya.
__ADS_1
"Dia sedang ada pekerjaan darurat ibu." Jawab Tala dan Adya hanya diam saja mendengarkan.
Ibu Dhara nampak tidak puas namun ayah Davka memberi peringatan kepada ibu Dhara untuk menahannya karena di sini masih ada keluarga dari adiknya yang sangat tidak menyukai kedua menantunya.