
"Kita tidak usah saja datang ke rumah sakit aku sudah baik-baik saja." Ucap Geya.
Axel yang menjemput Geya yang berada di mansion Abraham menggelengkan kepalanya.
"Tadi, kak Airen bilang bahwa kamu sangat sakit. Jadi, kamu harus diperiksa sayang takut terjadi sesuatu."
Ucapan Axel membuat Geya cemberut kesal dia sekarang tidak mau ke rumah sakit sangat malas sekali.
"Ayolah sayang aku tidak mau sekarang aku sudah baik-baik saja."
Rengekan Geya tidak mempan bagi Axel, sembari menyetir dia berkata bahwa, "sekarang kamu memang terlihat baik-baik saja tapi tidak nanti atau ke depannya. Lebih baik mencegah daripada mengobati."
Akhirnya Geya hanya diam saja dan memasang wajah kesalnya membuat Axel terkekeh melihatnya.
Axel bersyukur bahwa omongan dari kedua mertuanya kepada Geya tidak terlalu memikirkannya.
Ada perasaan cemas saat memikirkan bagaimana nanti jika Geya menuruti ucapan kedua mertuanya itu untuk bercerai dengannya atau berkenalan dengan pria yang dijodohkan pada Geya padahal Geya sudah memiliki suami.
Masalah rumah tangga mereka tidak pernah mereka bicarakan pada siapa pun. Geya dan Axel berpegang teguh pada hal itu. Mereka tidak tau bahwa yang tidak mampu dan didiagnosis dokter sulit mendapatkan anak adalah Geya bukan Axel. Kedua orang tua Geya mengira itu adalah Axel melihat latar belakang dari mama Nara.
Axel menggandeng tangan Geya agar Geya tidak lari dan mempunyai alasan. Sebenarnya terlalu lebai tapi ya sudahlah namanya juga suami istri mau modus atau tidak kan sudah sah bukan yang di luar sana asik pegang sana pegang sini.
Geya terlihat malas-malasan saat berada di ruangan dokter. Axel menjelaskan apa yang dikatakan oleh Airen tadi kepadanya.
"Baik Bu Barata mari kita periksa ya." Ucap dokter tersebut Geya hanya berdehem sebagai bentuk responnya.
Axel mengelus kepala Geya dengan lembut dan menggenggam tangan Geya.
Dokter tersebut mengernyitkan dahinya membuat Axel sangat cemas sekaligus khawatir takut Geya kenapa-napa dan ada masalah di organ dalam Geya.
Dokter tersebut menatap ke arah Axel dan tersenyum melihat senyuman dokter tersebut membuat Axel tidak nyaman karena merasa terlalu berlebihan otaknya berpikir. Apa pun mengenai Geya dia akan bersikap atau berpikir berlebihan. Geya adalah segalanya bagi Axel setelah mamanya.
Geya merasa kesal saat dokter tersebut hanya tersenyum kepada Axel saja. Dokter tersebut laki-laki.
"Kenapa dokter tersenyum seperti itu kepada suami saya. Dokter tidak belokkan." Tuding Geya membuat Axel melotot dan menganga tidak percaya dengan apa yang dikatakan Geya barusan.
Mulut istrinya terkadang memang tidak bisa dikendalikan ini karena terlalu banyak bergaul dengan para ibu muda itu.
Sedangkan dokter tersebut sempat menyurutkan senyumannya namun kembali lagi tersenyum karena ini adalah pasien VVIP-nya. Apalagi ini adalah rumah sakit milik keluarga wanita yang menyebutnya belok tersebut.
"Ekhm maafkan istri saya dokter terkadang dia memang suka berlebihan dalam bercanda hahah." Ucap Axel dengan ketawa canggungnya.
Ucapan Axel membuat Geya mendengus dan semakin kesal kenapa Axel malah semakin tersenyum kepada dokter tersebut.
Gyutt
Pinggang Axel dicubit membuat Axel meringis merasakan cubitan tersebut.
__ADS_1
Dokter laki-laki yang melihatnya menatap prihatin mengenai nasib Axel yang terasa sangat menyedihkan mempunyai istri seperti Geya.
"Tidak apa-apa itu wajar karena dia adalah wanita." Jawab Dokter laki-laki tersebut dengan santai. Wanita memang sensitif apalagi...
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" Tanya Axel yang sudah tidak sabar.
Baru saja dokter itu duduk di kursinya ternyata Axel sudah sangat tidak sabar. Dokter laki-laki tersebut bisa melihat ada banyak kecemasan dari nada bicaranya.
"Tidak terjadi apa-apa Tuan Barata. Bu Barata baik-baik saja. Saya akan merekomendasikan Bu Barata kepada---"
"---Kenapa aku dipanggil Bu bukan Nyonya. Dokter harus konsisten jika aku dipanggil Bu berarti suami ku harus dipanggil bapak begitu juga sebaliknya." Sinis sekali Geya berkata membuat perawat yang ada di ruangan tersebut menelan ludahnya dan menatap ke arah dokter laki-laki tersebut prihatin.
"Baik maafkan saya Nyonya Barata." Ucap dokter laki-laki tersebut.
"Nanti ikutlah perawat itu mereka akan membawa Anda ke ruangan yang tepat. Semoga dugaan saya benar saya tidak mau mengatakan apa-apa. Tapi, saya mengucapakan selamat."
Geya dan Axel mengikuti perawat yang akan membawa mereka ke ruangan yang disebutkan oleh dokter tersebut.
Selama di perjalanan Geya terus menggerutu kepada dokter laki-laki tadi. "Sayang apa kamu tidak haus nanti tenggorokan kamu kering." Ucap Axel untuk menghentikan Geya yang terus mengomel dari tadi mengenai dokter laki-laki yang memeriksa keadaannya.
Tentu saja Axel harus memilih kata-kata yang bagus untuk diutarakan ke Geya agar Geya tidak merasa tersinggung sama sekali.
Di mana kalian bisa mendapatkan pria seperti Axel hanya Geya yang bisa memilikinya.
"Ini ruangannya Tuan dan Nyonya Barata." Ucap perawat tersebut.
Geya tidak memperhatikan sama sekali walaupun ia sering ke sini mengantar para ibu muda tersebut jika para suami mereka yang sibuk kerja itu tidak bisa menemani. Geya sedari tadi asyik menggerutu dan mengomel.
Axel dan Geya masuk kembali setelah dipersilahkan tapi sebelum itu Axel mengucapkan terimakasih kepada perawat yang telah mengantarkan mereka.
"Tunggu kenapa kita berada di sini?"
Rupanya Geya baru menyadari saat melihat seorang dokter berjenis kelamin wanita yang memberikan senyuman kepadanya.
"Selamat sore Nyonya Geya sudah lama kita tidak bertemu. Dan selamat sore Tuan." Sapa dokter wanita tersebut.
Geya hanya diam sembari menganggukkan kepalanya yang menjawab sapaan itu hanyalah Axel.
"Saya sudah diberitahu oleh dokter Jan. Dokter yang memeriksa Nyonya Geya tadi." Lanjut dokter wanita bernama Katrina itu melihat ada kebingungan di wajah keduanya.
Dokter wanita bernama Katrina itu terus tersenyum sedari tadi membuat Axel bingung apa dokter tersebut sedang memamerkan gigi dengan senyum Pepsodentnya ataukah memang dia seramah itu.
"Sudah berapa lama Nyonya Geya tidak menstruasi?"
"Saya lupa."
"Istri saya jarang sekali dokter menstruasi sudah sekitar dua bulan dia tidak menstruasi." Jelas Axel membuat dokter Katrina tersenyum.
__ADS_1
"Sok tau, memangnya kamu ingat dan hitung?" Tanya Geya dengan sewot entah kenapa Axel merasa nada bicara Geya hari ini tidak satu minggu ini terlihat sangat sensitif. Makanya Axel berhati-hati.
"Kamu tidak mudah mengingat hal yang berkaitan dengan angka dan come moon mu honey."
"Jadi, kamu mau bilang bahwa aku sudah mulai tanda-tanda penuaan." Lihat Geya sangat sensitif bukan.
"Tidak begitu sayang, jangan seperti ini nanti dokter susah memeriksa mu." Ucap Axel melihat Geya yang bergerak-gerak. Bangun dari tidurnya terus tidur lagi. Baju yang sudah disingkapkan ke atas kini harus tertutup karena ulah Geya yang tidak bisa diam.
"Tidak apa-apa Tuan Barata itu wajar." Ujar dokter Katrina yang sudah selesai memeriksa lalu mengintruksikan kepada perawat untuk mendekat dan perawat tersebut dengan cepat mengerti.
"Tuan dan Nyonya bisa melihat ke arah layar sana." Geya dan Axel mengikuti arah yang ditunjuk oleh dokter Katrina tersebut.
Geya mengerjapkan kedua matanya jantungnya semakin berdegup kencang tanpa sadar Geya memegang jantungnya. Sementara Axel juga ikut terdiam.
"Selamat Nyonya Geya hamil dan usia kandungannya sudah dua bulan dan kalian mendapatkan bayi kembar."
Geya dan Axel masih terdiam hanya ekspresi wajah keduanya yang berkata bahwa mereka tidak menyangka bahkan Axel meneteskan air matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya Geya sudah menangis sesenggukan.
Sudah sangat lama sekali mereka menantikan kehadiran bayi di dalam pernikahan mereka.
Mereka menikah kurang lebih lima tahun lamanya dan mereka mendapatkannya.
Keduanya menangis terharu sembari berpelukan dokter Katrina dan perawat hanya tersenyum bahagia menyaksikan pasangan suami istri untuk menikmati euforia mereka sebagai orang tua.
......***......
Eve terdiam di balkon kamarnya hari sudah menjelang malam. Tala sedang berada di dalam kamar mandi dia baru saja pulang dari kantor.
Banyak pikiran yang menganak di dalam benaknya terlebih pertanyaan kakaknya Joha tadi kepadanya.
Hati Eve menjadi resah dan tingkah lakunya menjadi gelisah.
Tala menatap ke arah Eve berjalan mendekati Eve dengan masih menggunakan selembar handuk yang melilit di pinggang rampingnya.
"Bunda kenapa? Apa bunda merasa lelah menjaga Orion dan Gala? Apa mereka sangat aktif hari ini?"
Seperti biasa Tala memang sangat perhatian kepadanya. Tala memeluk Eve dari belakang Eve menatap ke arah tangan kekar yang melingkar di perutnya tersebut sembari membatin di dalam dirinya.
Eve melepaskan pelukan Tala dan menghadap ke arah suaminya tersebut. "Pakai baju mu sana aku harus melihat Orion dan Gala." Ujar Eve dengan tersenyum.
Tala terdiam semenjak Eve pergi meninggalkannya entah kenapa hatinya resah takut bahwa ia berbuat salah tanpa disengaja. Apalagi melihat Eve yang sepertinya ada tekanan di dalam dirinya.
Haruskah ia mengajak Eve pergi berlibur berdua tapi itu tidak mungkin mengingat Orion dan Gala yang begitu posesif kepada Eve.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
*Bersambung*
__ADS_1