Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 117. Hukuman


__ADS_3

“Biarkan saja lagipula ini sudah malam dan di sana siang.” Ujar Tala tanpa wajah berdosanya dan dengan santainya mengukung badan Eve malah kini Tangan Tala melingkar di pinggang ramping Eve.


“Lepaskan.” Ucap Eve dengan datar berada di dalam posisi seperti ini sungguh sangat meresahkan.


Tala menggelengkan kepalanya pertanda bahwa ia tidak mau melepaskan, “tidak mau. Bunda harus dikasih hukuman!”


Eve memutar bola matanya malas kenapa dirinya harus dihukum perasaan Eve tidak melakukan kesalahan lagipula peraturan itu dibuat oleh Tala tanpa persetujuan darinya dan itu malah menguntungkan Tala. Apa Tala pikir Eve sebodoh itu melihat Tala yang dengan licik mengambil kesempatan darinya.


“Aku tidak melakukan kesalahan sama sekali!” Tegas Eve. Eve semakin menatap Tala dengan horor saat melihat Tala tersenyum dengan sangat sumringah ke arahnya.


Tala mengangkat Eve sehingga membuat Eve kembali kaget dan berpegang di leher Tala, “turunkan aku nanti ada orang lain liat bagaimana!” Ujar Eve dengan berbisik sembari matanya melihat ke sekeliling ruangan.


Eve ingat bahwa ada CCTV di sekitar sini, “turun di sini ada CCTV”. Namun Tala tetaplah Tala tidak akan pernah mau.


Eve, “…”


‘Kepala batu’


Tala membawa Eve kembali ke kamar dan mendudukkan dirinya di sofa dengan Eve yang sedang duduk di pangkuan-nya dengan saling berhadapan karena tadi dirinya menggendong Eve seperti koala.


Eve ingin turun namun nampak susah karena tangan Tala melingkar kuar di belakang punggungnya. Apalagi Tala memandang dirinya dengan intens dan tatapan pria itu sungguh sangat menakutkan.


“Emmm, coba ayah ingat berapa kali bunda membuat kesalahan!” Ujar Tala sambil berpura-pura mengingat padahal Tala ingat dengan jelas. Ingin sekali rasanya Eve menghajar wajah Tala yang tidak berdosa itu.


“Emm 4 kali bunda membuat kesalahan sebanyak 4 kali. Bunda tau kan harus dihukum apa tapi sebelum itu ayah mau menambah peraturan lagi!”


Oh, tidak hukuman ini saja sungguh membuat Eve rasanya merasa frustrasi. Apalagi saat tangan Tala bermain di bibirnya dan mengusapnya dengan perlahan dan mata Tala melihat ke arah bibirnya dengan pandangan yang penuh akan dambaan.

__ADS_1


“Tapi, ayah tidak tahan jadi…” Tanpa bisa Eve cegah Tala mencium bibirnya sedangkan Eve hanya diam saja tidak membalas. Tangan Eve mencengkram dengan kuat bahu Tala yang sedang tidak memakai baju tersebut hanya celananya tidurnya saja.


“Satu.” Ucap Tala dengan tersenyum puas saat melihat bahwa bibir Eve nampak basah karena ulahnya. Tala sengaja berhenti karena ingin memberikan nafas bagi Eve. “Bunda harus membalasnya.” Ujar Tala dengan tatapannya yang berkabut.


Eve mengambil nafasnya banyak-banyak sungguh membuatnya sangat hilang akal akibat apa yang dilakukan Tala kepadanya.


Setelah cukup memberikan Eve bernafas selama beberapa detik Tala kembali menyerang Eve kali ini tangan Tala sudah mengusap-ngusap punggung Eve sementara Eve sudah semakin lemas namun Eve masih tidak ingin membalasnya.


Eve memukul bahu Tala yang tidak mengenakan atasan karena ciuman kedua yang diberikan Tala kepadanya membuat Eve kewalahan dan merasa sangat memerlukan oksigen. Tala pun mengerti lagi pula masih ada sisa dua hukuman lagi kali ini Tala akan membuat Eve membalas ciumannya.


Satunya Tala memberikan kecupan di bibir Eve, mata wajah hidung dan pipi Eve. Nafas Eve dan Tala nampak terengah-engah. Selanjutnya Tala kembali menyerang Eve hingga sampai membuat Eve membalasnya hal itu membuat Tala tersenyum di sela-sela apa yang dilakukan oleh mereka berdua.


Baju piyama yang dikenakan Eve sudah sangat berantakan karena tangan Tala yang sudah membuka dua kancing atas piyamanya dan tangan Eve sudah berada di rambut Tala dan mengacak-ngacaknya.


Apa yang dilakukan keduanya semakin memanas dan membuat jiwa lelaki Tala bangkit dan Eve sudah pasrah dengan apa yang dilakukannya walaupun di dalam pikirannya saat ini tidak akan mau membuat kesalahan lagi hanya dengan nama panggilan sayang yang disiapkan Tala.


Suara tangisan Orion menghentikan aksi Eve dan Tala yang kini sudah membuat Eve tertidur di sofa dengan Tala yang berada di atas.


Eve segera mendorong Tala yang berada di atasnya lalu memperbaiki piyama yang sudah diacak-acak oleh Tala dan berjalan cepat ke arah Orion.


Tala memejamkan matanya untuk menahan sesuatu yang ingin sekali dituntas. Eve menggendong Orion lalu membuka dua kancing piyamanya lagi agar Orin bisa dengan mudah untuk meminum susu darinya.


“Jangan melihat.” Ujar Eve saat Tala berjalan mendekat ke arah dirinya yang sedang duduk membelakangi Tala.


Sementara Tala tentunya sudah tidak peduli lagi apa yang dilarang oleh Eve dan malah memeluk Eve dari belakang yang sedang memangku Orion yang sedang meminum susu.


Bahkan Tala menyandarkan dagunya yang runcing di pundak Eve membuat Eve sangat risih namun Eve tidak bisa melakukan apa-apa karena ada Orion yang sedang meminum susu.

__ADS_1


Eve sedikit menyikut lengan Tala agar Tala melepaskan pelukannya. Ingin sekali Eve menjambak rambut Tala apalagi kini wajah Tala sudah berada di lehernya setelah sebelumnya Tala menyampingkan rambut Eve di sebelah kanan.


Eve merasa geli dengan apa yang dilakukan Tala kepadanya, “Sayang kamu sangat wangi ayah suka.” Ujar Tala dengan berbisik sengaja melakukannya untuk menggoda Eve dan agar Orion tidak terbangun.


Eve berusaha menghindar namun Orion yang sedang tidur terlihat gelisah karena pergerakannya akhirnya Eve hanya bisa diam dan bersabar sembari menunggu Orion terlelap kembali.


Tala pun menghentikan aksinya setelah merasa puas memberikan tanda di leher Eve satu. Lalu Tala memandang anaknya yang sedang menyusu tersebut melihat benda yang menggantung dengan bibir Orion yang menempel di sana untuk menghilangkan dahaganya Tala rasanya ingin merasakan juga.


Tala belum pernah merasakan ada isinya rasanya melihat Orion Tala merasa iri karena benda itu sebelumnya adalah miliknya. Tala benar-benar merasa rugi dan bodoh karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya dan Tala merutuki egonya yang setinggi langit.


Jika dulu Tala tidak bersikap dingin kepada Eve mungkin saat ini anak mereka sudah dua atau bahkan dirinya akan membuat Eve hamil kembali.


Tala tidak ingin anaknya merasakan apa yang dirasakannya yang merupakan anak tunggal sungguh itu sangat kesepian.


“Maafkan aku.” Ujar Tala dengan sendu membuat Eve menolehkan kepalanya menatap ke arah Tala yang sedang mengelus rambut Orion dan memandang Orion. “Jika aku lebih peduli dan perhatian kepada mu mungkin saat ini kita sudah mempunyai dua anak.”


Eve yang mendengarnya dan mengingat kembali saat dirinya yang sangat senang ketika mengetahui kehamilannya dan dalam sekejap kebahagiaan itu diambil.


Keguguran itu membuat Eve kala itu semakin tidak percaya diri dan semakin terpuruk atas apa yang menimpanya.


Bahkan Eve pernah berpikir bahwa dirinya sangat tidak baik sampai mendapatkan anugerah yang dititipkan kepadanya tidak mampu dijaganya.


Pandangan Eve kembali kosong dan Tala yang melihatnya juga merasa bersalah dan sedih karena dirinya lah yang membuat Eve seperti ini. “Biarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu sekarang kita harus fokus dengan masa sekarang dan masa depan.” Ujar Tala memeluk Eve dengan erat dan membuat bersandar di dada bidangnya dengan Orion yang berada di rengkuhan Eve.


Tala mencium pipi Eve dengan lembut dan menghapus bulir air mata yang menetes di pipinya. Tidak akan Tala melakukan kesalahan untuk ketiga kalinya sudah dulu Eve menderita karena dirinya yang tidak mengerti, tidak peka dan tidak memahami keadaan Eve.


Jika dirinya dulu memang benar-benar mencintai Eve dengan tulus maka seharusnya dirinya harus percaya kepada Eve dan menerima semua apa yang ada pada Eve dengan banyak bersabar perlahan-lahan pasti Eve akan terbuka dengannya.

__ADS_1


 


*Bersambung*


__ADS_2