
Ayanna mengunci pintu kamarnya dia khawatir pria itu akan masuk sembarangan lagi.
Apa itu menjadi kebiasaannya masuk ke dalam kamar wanita? Tanpa mengetuk pintu lagi.
Apa benar dia tidak pernah berkencan dengan wanita. Tapi, mengingat bahwa ciuman yang dilakukan pria itu seperti sudah mempunyai pengalaman.
Tanpa sadar Ayanna memegang bibirnya dan menatap pantulan dirinya. Kini hanya handuk yang melilit di tubuh profesional bak modelnya.
Di sana sudah ada tanda merah yang dibuat oleh pria itu. Pria yang dengan cepat memporak-porandakan hati, pikiran, dan hidupnya.
Kenapa dia bisa luluh dengan mudah para pria itu.
Mata itu setiap kali menatapnya membuatnya terjerat.
Apa dia begitu mudah untuk terpikat atau karena hasratnya?
Ayanna membuka pintu kamar dan berjalan ke arah ruang tamu di apartemen itu di mana pria itu menunggunya.
"Kamu lebih lima menit dua puluh dua detik Nona." Ucap pria itu dengan mengotak-ngatik laptop miliknya lalu layar laptop itu langsung mati seketika.
Ayanna memutar bola matanya malas. Dia sangat tepat waktu. "Jadi, berpikirlah beruang kali kalau mau mengajakku untuk berkencan. Inilah aku. Kalau tidak suka menunggu lama maka bilang tidak."
Gulzar berdiri menatap penampilan Ayanna dari atas sampai bawah. Okai tidak ada yang kurang pakaiannya tertutup tapi kaki jenjangnya tetap terlihat karena ia memakai celana ketat berwarna biru dongker dengan kemeja berwarna krim sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
"Setelah ini kita akan pergi berbelanja. Aku tidak mau melihatmu memakai pakaian seperti ini lagi." Terang Gulzar.
"Aku mempunyai banyak pakaian jadi itu sudah lebih dari cukup. Lagipula ini sangat bagus dan modis." Bantah Ayanna.
"Ohooo. Apa kamu mau memperlihatkan tubuhmu pada semua orang? Tidak, Ayanna aku tidak mau itu terjadi. Apa yang ada pada dirimu hanya milikku." Deklarasi keposesifan Gulzar membuat Ayanna tidak suka.
__ADS_1
Ayanna memalingkan wajahnya dengan tangan yang berlipat di depan dada. "Pergilah aku di apartemen saja dan aku akan mengatakan pada manajerku bahwa kita tidak sedang berkencan."
"Apa yang membuatmu marah kembali? Apa wanita begitu mudah untuk emosi?" Tanya Gulzar dengan lembut dan bersikap tenang.
Ayanna tidak suka dengan ketenangan dan kelembutan Gulzar kepadanya itu membuatnya menjadi mudah luluh.
Kenapa dirinya begitu mudah luluh kepada pria ini. "Dengar kekasihku Ayanna aku tidak akan menyerah. Aku bersikap seperti ini supaya para laki-laki di luar sana tidak sembarangan melihatmu. Apa kamu pikir itu adalah bentuk keindahan? Tidak Ayanna saat mereka menatapmu pikiran mereka ke mana-mana. Itu pelecahan terhadap wanita Ayanna. Aku tidak akan memaafkan dan mengampuni mereka jika mereka menatapmu. Kamu tau bahwa pria lebih banyak memikirkan hal yang seperti itu dua puluh kali lipat setiap harinya." Terang Gulzar. Sudah Ayanna bilang bukan Gulzar tidak suka basa-basi dan akan berterus terang. Jika dia cemburu maka pria ini akan bilang cemburu.
"Termasuk kamu bukan?" Tanya Ayanna dengan datar dan menatap ke arah Gulzar namun nada Ayanna tidak lagi ketus.
"Ekhm makanya kita harus cepat menikah Ayanna." Ucap Gulzar lalu menggandeng tangan Ayanna.
Gulzar tidak pernah bersikap seperti ini pada siapapun dan ini pertama kalinya ia menggandeng tangan seorang wanita apalagi wanita yang ditemuinya beberapa bulan ini. Biasanya dia akan mempunyai banyak waktu untuk dekat tapi setelah dia merasa dekat wanita itu bukan lagi menjadi miliknya seperti Geya.
Di dalam mobil tidak ada yang berbicara Ayanna hanya diam saja sembari menikmati perjalanan. Tangan sebelahnya di genggam oleh Gulzar dan sesekali pria itu mengecup punggung tangan Ayanna.
Ayanna sama sekali tidak protes malah pipinya memerah dibuatnya.
"Mereka? Siapa maksudnya?" Tanya Gulzar tidak mengerti
"Para ibu muda dan para pria serta paman Davka, bibi Dhara, bibi Nara."
Gulzar menepikan mobilnya membuat Ayanna bingung. "Kita belum sampai kenapa berhenti? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ayanna lalu menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap ke arah Gulzar yang sedang menatapnya.
"Berapa lama kamu mengenal mereka dan berkumpul dengan mereka?"
Ayanna mengangkat kedua alisnya, "Kurang lebih satu tahun. Aku lupa berapa bulan." Ujar Ayanna yang tetap menjawab walaupun ia bingung.
"Bagaimana para ibu muda itu menurutmu?"
__ADS_1
"Mereka baik, ramah, dan terkadang bar-bar. Tapi, aku nyaman sama mereka. Saat bersama dengan mereka aku merasa ada ketulusan, mereka tidak pernah memanfaatkan kepopuleritas aku di dunia entertainment."
"Kamu belum cukup mengenal mereka Ayanna." Terang Gulzar membuat Ayanna menjadi tidak suka dan memajukan bibirnya dan Gulzar dengan cepat mengecup bibir yang cemberut itu. "Sudah aku bilang jangan memasang wajahmu seperti tadi, aku tidak tahan."
Ayanna menghela nafasnya. "Mereka sangat menyeramkan Ayanna jika mereka sudah bertindak. Menurutmu apa yang terjadi pada kita dari mulai ban mobilnya yang kempes itu hanya kebetulan semata?"
Ayanna mengedipkan kedua matanya sebagai respon masih terdiam untuk mengerti. "Mereka sudah mulainya sedari awal waktu kunjungan pertama mu di mansion. Namun, mereka bermain cantik untuk merencanakannya secara matang. Walaupun gerakan mereka lambat untuk melakukannya setelah beberapa bulan puncaknya adalah hari kemarin saat kamu datang berkunjung dan aku juga berkunjung. Mereka kesulitan untuk membuat aku dan kamu bertemu dengan satu sama lain. Mereka tentunya kehilangan informasi bahwa kita sering bertemu secara tidak sengaja dan berakhir dengan bertengkar."
"Intinya mereka sudah mengatur segalanya Ayanna dimulai dari ban mobil kamu yang sengaja mereka kempesin."
"Rencana ini sudah mereka pikirkan matang-matang dan jauh-jauh hari. Mereka juga tentunya menyiapkan beberapa banyak rencana jika ini tidak berhasil."
"Daisy Mahendra kamu tau suaminya adalah Jackson Harrison. Pria itu mempunyai seorang koneksi yang luas tentu sangat mudah bagi Daisy untuk membuat berita seperti yang terjadi pada kita. Terlebih keluarga Daisy memiliki salah satu perusahaan hiburan. Nama Mahendra pasti tidak asing bagimu kan."
"Yasmin Brawijaya dia paling menyeramkan dan paling bar-bar dari para ibu muda itu. Dia keturunan bangsawan namun sikap kesehariannya tidak mencerminkan bahwa dia wanita yang anggun kamu tidak akan bisa melihatnya karena kalian sudah dekat. Dia adalah kunci dari semua ide ini Ayanna."
"Wendy Johnson dia adalah mantan sekretaris aku. Dia mempunyai wawasan yang luas dan ketajamannya. Dia sangat pemberani dan tidak takut. Latar belakang keluarganya juga tidak main-main, mungkin bagi orang di negara ini jarang tau namanya tapi di negaranya keluarganya adalah keluarga nomor 1. Kenapa dia menjadi sekretaris? Itu karena ada masalah keluarga namun sudah terselesaikan dengan baik. Dia kabur karena dijodohkan dan takdirnya bertemu dengan orang yang dijodohkan padanya Diego Yudhistira."
"Latar belakang yang paling sederhana adalah Airen istri dari Johannes Abraham. Dia tidak mempunyai marga dan aku tidak tau nama lengkapnya karena dia sangat dijaga dengan baik oleh Johannes. Kamu tau bukan koneksi dan latar belakang kakak kandung dari Lizzy itu? Tidak main-main. Hanya Airen yang paling anggun dan tenang. Mungkin karena dia yang paling tua di antara kalian."
"Jangan salah paham. Aku tau mereka karena aku ingin mengetahui orang-orang yang bisa dijadikan teman untuk Lizzy. Adik angkatku. Dia sudah banyak menderita. Tapi, beruntungnya dia bertemu dengan orang-orang baik salah satunya adalah kamu."
Ayanna sangat syok dengan apa yang didengarnya. "Yang jelas semuanya sudah direncanakan oleh mereka termasuk berita itu."
Gulzar menggenggam kedua tangan Ayanna yang masih terkejut. "Tapi, aku tidak bercanda tidak main-main sama apa yang aku utarakan padamu. Mengajakmu untuk segera menikah itu benar-benar langsung dari hati dan pikiranku. Aku tidak mau terlambat lagi."
"Bagaimana dengan Geya?" Tanya Ayanna.
"Geya Werawan." Gulzar tersenyum menyebut nama Geya, "apa aku harus cerita sekarang? Antara aku dan Geya?"
__ADS_1
Ayanna diam karena dia tidak tau maksud dari ucapan Gulzar. "Nanti saja aku akan ceritakan tentang aku setelah kita konferensi pers tinggal beberapa menit lagi. Kita tidak mempunyai waktu. Yang harus kamu tau dia juga bar-bar."
*Bersambung*