
Merencanakan Bulan Madu Kedua Demi Mendapatkan Cucu
Adya yang mendengarnya melemaskan bahunya dengan lesu. “Tapi, sepertinya Tala sudah menunjukkan perhatiannya dengan Eve.” Ujar ibu Dhara dengan semangat lagi.
Adya kembali semangat untuk mendengar cerita selanjutnya, “kata Eve yang mengompres kaki Eve adalah Tala dan Tala juga memberikan salep di kaki Eve yang sakit.” Ujar ibu Dhara.
“Bibi juga bilang tadi bahwa Tala menggendong Eve sampai kamar, pengawal juga bilang begitu. Bibi juga melihat bahwa wajah Tala terlihat sangat khawatir.” Cerita ibu Dhara dengan semangat.
“Terus ibu goda mereka agar segera membuat cucu buat ibu dan sering-sering lah melakukannya.”
Adya yang sejak tadi terdiam memikirkan sesuatu. “Ibu apakah kita beri lagi ramuan itu?” Tanya Adya kepada ibu Dhara.
Ibu Dhara memikirkan pertanyaan dari menantunya itu, “apa harus?” Tanya ibu Dhara balik.
Ibu Dhara merasa ragu karena melihat perkembangan hubungan Tala dan Eve yang terlihat bahwa Tala sudah menunjukkan perhatiannya kepada Eve walaupun bukan lewat kata-kata.
Menantu dan mertua menatap ke depan dengan pemikirannya masing-masing. Ayah Davka yang melihat istri dan menantu pertamanya tidak menyadari kehadirannya berdehem untuk memberikan perhatian akan keberadaannya kepada istri dan menantunya tersebut yang sedang memikirkan sesuatu.
Ekhm
“Ayah.” Ucap ibu Dhara dan Adya bersamaan sambil melihat ke arah ayah Davka yang sudah mengangkat sebelah alisnya.
“Sejak kapan ayah ada di sini?” Tanya ibu Dhara dengan bingung melihat suaminya yang sudah ada di sini bahkan sudah duduk dengan santai.
Karena yang ibu Dhara dan Adya rasakan mereka tidak mendengar suara langkah kaki ayah Davka.
“Sejak dua menit yang lalu.” Jawab ayah Davka dengan santai. “Apa yang kalian pikirkan sehingga tidak menyadari kehadiran ayah?” Tanya ayah Davka penasaran.
Ibu Dhara kembali bersemangat menceritakan kembali perkembangan hubungan Tala dengan Eve yang ia lihat tadi.
“Apakah benar seperti yang ibu katakan? Bisa saja Tala hanya berniat ingin membantu Eve karena kaki Eve lagi sakit?” Tanya ayah Davka.
Ibu Dhara yang mendengarnya melemaskan bahunya, “ayah ibu melihat sendiri bagaimana hidung keduanya bertemu dan tatapan keduanya bertemu satu sama lain saling menatap begitu.” Jawab ibu Dhara meyakinkan ayah Davka.
Ayah Davka melipatkan kedua tangannya di depan dada dengan tangan yang mengelus lembut dagunya sambil menganggukkan kepalanya. “Tapi, ayah yakin bahwa hubungan mereka belum ada perkembangan.” Ucap ayah Davka dengan yakin.
“Kenapa ayah terlihat tidak senang dengan perkembangan hubungan Eve dan Tala?” Tanya ibu Dhara dengan kesal.
Ayah Davka yang melihat bahwa istrinya sudah mulai merajuk segera menjelaskan agar istrinya itu merajuk dengannya bisa ribet nanti. “Bukan begitu maksud ayah, ibu.” Ujar ayah.
“Lalu apa maksudnya?” Tanya ibu Dhara yang memajukan bibirnya dan melipat kedua tangannya hal itu membuat ayah Davka terkekeh melihat istrinya itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan jika sedang merajuk.
__ADS_1
Apalagi istrinya ini sudah kepala lima namun ekspresi yang ditunjukkan tidak lebih dari ekspresi anak kecil yang meminta untuk dibelikan es krim oleh ibunya. “Kenapa ayah tertawa?” Tanya ibu Dhara dengan kesal melihat bahwa suaminya itu malah tertawa dengan pertanyaannya.
Sementara Adya hanya diam dan menyimak pertengkaran kedua mertuanya yang sudah biasa bertengkar dengan menggemaskan seperti ini. Malah Adya merasa sangat senang dan bersemangat. “Ibu lihat wajah menantu pertama ibu sudah terlihat sangat senang dan sudah siap menjadi penonton.” Ujar ayah Davka membuat ibu Dhara menatap ke arah menantu pertamanya itu dengan tatapan kesal.
Adya yang mendengar perkataan ayah Davka membulatkan matanya lalu menatap ke arah ibu Dhara yang sedang memberikan wajah kesalnya dan dibalas dengan Adya dengan tersenyum dan mengedipkan matanya.
Ibu Dhara memicingkan matanya melihat menantu pertamanya itu. “Nggak usah pura-pura sayang ibu sudah tau bahwa akan sangat senang melihat ibu dan ayah mu bertengkar apalagi melihat ibu merajuk kan.” Ucap ibu Dhara dan dengan wajah tanpa dosanya Adya menganggukkan kepalanya.
Hal itu membuat ayah Davka tertawa melihatnya, “bukankah ibu ini sangat menggemaskan menantu ku?” Tanya ayah Davka kepada Adya dan Adya menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Ayah Davka dan Adya sangat senang menggoda ibu Dhara. “Sudahlah jika ayah tidak percaya dengan ibu.” Ucap ibu Dhara.
“Lihatlah ibu sudah merajuk maka Adya akan angkat tangan sambil menonton kalian.” Goda Adya kepada ibu Dhara dan ayah Davka. “Sebagai laki-laki ayah harus bertanggungjawab.”
Ayah Davka masih menahan senyumnya melihat istrinya itu. “Maksud ayah bukan seperti itu ibu. Ayah senang jika ada perkembangan hubungan Eve dengan Tala. Tapi, bukankah masih terlalu dini untuk mengatakannya.”
“Ya bagus jika ada perkembangan seperti yang ibu katakan tapi kita jangan terlalu berharap. Ayah tidak ingin ibu menjadi sedih jika kenyataannya hubungan keduanya masih jauh.” Ujar ayah Davka.
Adya tersenyum mendengar perkataan dari ayah mertuanya itu, setiap kali ayah Davka berbicara terasa menenangkan itulah yang dirasakan oleh Adya.
Ibu Dhara hanya diam tapi membenarkan apa yang dikatakan oleh ayah Davka di dalam hatinya dan masih menunjukkan wajah kesalnya kepada ayah Davka.
“Jadi, apa yang sedang kalian pikirkan tadi sampai tidak menyadari kehadiran ayah?” Tanya ayah Davka.
Tala yang mendengar namanya disebut oleh wanita pertama yang dicintainya dengan segera berjalan dengan cepat. “Memberikan apa ibu?” Tanya Tala membuat ketiganya menoleh ke arah Tala.
Ibu Dhara mengernyitkan dahinya melihat rambut Tala yang terlihat masih basah. Bukankah tadi rambut Tala kering dan kalaupun habis kehujanan biasanya Tala akan segera mandi. “Apa kamu mandi lagi?” Tanya ibu Dhara kepada anaknya yang kini sudah duduk di sampingnya itu.
Tala hanya menganggukkan kepalanya. “Bukankah tadi kamu sudah mandi kenapa mandi lagi?” Tanya ibu Dhara.
Mendengar pertanyaan ibu Dhara membuat Tala menjadi gugup. “Memangnya kenapa kalau Tala mandi lagi ibu, kan mandi supaya bersih dan wangi kembali.” Jawab Tala berusaha sesantai mungkin.
Ibu Dhara memajukan tubuhnya ke arah Tala sehingga membuat Tala yang berada di pojok sofa memundurkan tubuhnya. “Kamu…” Ucap ibu Dhara dengan jeda.
“Aku kenapa?” Tanya Tala dengan gugup melihat ibunya itu. “Ayah ibu kenapa sih?” Tanya Tala yang mulai risih.
“Sudahlah lupakan sepertinya kamu masih OCD (Obsesive Compulsive Disorder).” Jawab ibu Dhara. Tala bernafas dengan lega mendengar perkataan dari ibu yang telah melahirkannya.
“Ibu belum menjawab pertanyaan Tala, tadi ibu ingin memberikan Eve dan Tala apa?” Tanya Tala kembali.
“Obat kuat, siapa tau stamina kamu kurang sehingga Eve tidak hamil-hamil.” Jawab ibu Dhara dengan wajah tanpa dosanya.
__ADS_1
Tala yang mendengarnya melongo tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ibunya itu. “Kenapa ibu berbicara begitu?” Protes Tala tidak terima karena ibunya mengatakan bahwa staminanya kurang. Sebagai laki-laki harga diri Tala merasa terinjak-injak apalagi yang dibahas adalah kejantanannya.
“Buktinya Eve tidak hamil-hamil.” Ujar ibu Dhara dengan kesal. Adya dan Ayah Davka hanya mendengar saja perdebatan ibu dan anak itu. Dan pertengkaran keduanya sudah menjadi hal yang biasa.
Tala menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar perkataan dari ibunya itu. “Kan semuanya tergantung dengan Tuhan ibu.” Ucap Tala mengambil aman. Padahal sebenarnya dirinya juga tidak berusaha dan sudah lama tidak menyentuh Eve.
Tala sedikit berpikir bagaimana dirinya bisa sekuat begitu tidak menyentuh dengan seorang wanita yang sudah sah baginya.
“Kamu tidak main dengan perempuan lain di luar sana kan?” Tanya ibu Dhara dengan curiga.
Tala yang mendengarnya kembali melongo. “Ibu tidak boleh sembarangan bicara. Mana mungkin Tala bermain dengan perempuan di luar sana. Tala sudah mempunyai istri dan dua malah.” Jawab Tala dengan kesal.
“Atau jangan-jangan kamu kelainan lagi dengan hormon mu?” Tuding ibu Dhara lagi.
“Ayah ibu kenapa sih bicaranya ngelantur terus dari tadi dan kenapa ayah diam saja. Aku kan anak ayah.” Ucap Tala meminta pertolongan kepada ayah Davka.
“Ayah membuat ibu kesal ya, perasaan tadi pas keluar kamar Tala ibu senang-senang saja bahkan giginya hampir kering karena tersenyum terus.” Ujar Tala dan mendapat tamparan di tangannya.
“Enak saja ngatain gigi ibu kering karena tersenyum terus.” Ujar ibu Dhara tidak terima dengan perkataan anaknya itu.
Tala mengusap-ngusap tamparan ibu Dhara yang terasa di tangan kirinya itu. “Ibu lagi kesal ya? Siapa yang membuat ibu kesal atau ibu lagi PMS ya?” Tanya Tala kepada ibu Dhara.
Dan lagi Tala mendapatkan cubitan sayang dari ibunya. “Enak aja kalau berbicara.” Ujar ibu Dhara lalu segera memeluk Tala.
Tala yang mendapatkan pelukan dari ibunya itu semakin merinding. “Ibu pengen cucu segera. Buatlah cucu atau kalian pergi bulan madu lagi. Sering-sering lah melakukannya. Ibu rindu tangisan bayi.” Ujar ibu Dhara sambil memberikan wajah memelasnya.
Tala menatap ke arah ibunya dengan ngeri lalu menatap ke arah Adya dan ayah Davka secara bergantian. “Iya kami juga merindukan suara bayi di rumah ini.” Ujar Adya sementara ayah Davka mengangguk setuju mendengarkan.
“Kan membuat bayi tidak semudah membuat kue. Kalau kue kan tinggal buat adonannya terus bikin udah jadi.” Ucap Tala. “Sudahlah Tala mau ke ruang kerja dulu. Dadah ibuku tersayang muach.” Ucap Tala dengan cepat-cepat agar segera pergi dan tidak ingin membahas masalah bayi apalagi ibunya saat ini terlihat sangat kesal.
“Anak ayah tuh.” Ujar ibu Dhara dengan kesal. Ayah Davka hanya tersenyum saja.
“Sebaiknya kita menyiapkan bulan madu kedua deh ibu buat mereka seperti dulu dengan begitu kan mereka tidak bisa menolak lagi.” Celetuk Adya.
Ibu Dhara menganggukkan kepalanya setuju. “Kamu benar sayang.” Ujar ibu yang langsung setuju.
Ayah Davka hanya diam dan mendengarkan. “Kan membuat izin untuk Eve gampang ada ayah yang akan membantu begitu juga dengan Tala ada asisten dan sekretaris yang cekatan.” Ujar Adya.
Ayah Davka hanya bisa pasrah dengan kedua wanita yang sangat disayanginya itu apapun yang dikatakan keduanya pasti ayah Davka tidak bisa lagi menolaknya jika keduanya sudah memutuskan sesuatu.
__ADS_1
*Bersambung*