
Flashback On
3 Tahun yang lalu
“Geya ayo kita pergi jalan. Ini Axel.” Pesan pertama Axel kirim ke Geya. Geya menghela nafasnya dengan panjang saat ada notifikasi pesan di ponselnya.
Axel memang pria yang langsung to the point dan menunjukkan ekspresi perasaannya dengan bebas. Lihat belum apa-apa saja pria itu tidak canggung untuk mengajaknya jalan.
Geya berpikir apa salahnya untuk menerima ajakan Axel, “memangnya mau pergi ke mana?” Tanya Geya sementara Axel yang mendapatkan balasan pesan dari Geya bersorak kegirangan.
Mama Axel hanya menggelengkan kepalanya melihat anaknya itu yang memang terkadang suka bertingkah aneh atau di luar dugaan.
“Mama nanti Axel akan mengajak pujaan hati Axel pergi jalan. Do’akan Axel yang tampan ini ya semoga mendekati calon menantu mama mudah.” Ujar Axel sembari merangkul mamanya itu.
“Memangnya sudah ketemu?” Tanya mamanya Axel.
“Kalau belum ketemu tidak mungkin Axel sumringah seperti ini dong mama yang cantik.”
Axel melangkah ke kamarnya dengan riang tidak disangka akan begitu mudah mengajak Geya jalan dengannya dulu sangatlah susah akan selalu ada saja alasan Geya menolaknya.
“Kamu bisanya kapan dan mau pergi ke mana?” Balas Axel.
“Aku punya waktu di malam hari dan libur.” Axel menghentakkan kakinya ke kasur sembari menggigit tangannya karena merasa kegirangan tidak lupa pria dewasa itu menggulingkan tubuhnya ke kanan ke kiri.
“Baiklah kalau begitu aku akan mengajak mu jalan setiap malam kalau kamu tidak kelelahan dan mengisi waktu libur mu jika kamu ingin berlibur.” Geya tersenyum membaca pesan dari Axel.
Walaupun pria itu bersikap agresif namun Axel sangat menghargai dirinya, “tidak ada salahnya aku membuka diri.” Ujar Geya dengan dirinya sendiri sembari memandang kosong ke depan.
“Tempat kerjamu di mana?” Tanya Axel
“Memang di mana lagi.” Balas Geya
__ADS_1
“Okay nanti aku akan menjemput mu my love.” Axel menggigit bibir dalamnya ketika dirinya mengetik kata sayang ke Geya.
“Kamu sedang membalas pesan dari siapa?” Tanya Tala yang tiba-tiba sudah berada di belakang Geya membuat Geya kaget dan membalikkan badannya menatap sepupunya itu.
Tala memicingkan matanya menatap ke arah Geya dan memajukan wajahnya sehingga membuat Geya mengerjapkan kedua matanya melihat pandangan kakak sepupunya yang protektif itu.
“Kapan kakak ekhm Tuan muda Nabastala datang?” Tanya Geya bersikap profesional.
Geya memang Tala tempatkan menjadi asistennya setelah asisten Kaivan agar Tala lebih mudah mengontrol sepupunya itu.
Geya melirik ke arah asisten Kaivan yang juga penasaran dengan siapa Geya berbalas pesan saat melihat Geya dengan cepat membalas pesannya. “Apakah kamu ingin melupakan mantan tunangan mu dengan cepat setelah memutuskan hubungan pertunangan kalian?” Tanya Tala.
Geya menatap ke arah Tala dengan tersenyum, “mohon maaf Tuan muda Nabastala ini masih di jam kerja.” Skak Tala termakan dengan omongannya sendiri kepada sang sepupu.
Di belakang Tala asisten Kaivan menahan tawanya saat perkataan Tala senjata makan tuan dan memberikan kedua ibu jari tangannya ke Geya.
Tala langsung masuk ke ruang kerjanya membuat Geya duduk kembali dan langsung mengerjakan pekerjaannya.
Sore harinya Geya bersiap-siap untuk pulang begitu juga dengan Tala, Geya terlihat terburu-buru karena Axel mengatakan bahwa dia sudah berada di depan lobi sedang menunggunya.
Karena sudah habis jam kerja namun masih berada di kantor jadi Geya masih berbicara sesuai dengan profesionalnya. Hal yang Geya ikuti dari Eve, “Saya mau pulang Tuan muda.”
“Sama siapa?” Geya, Tala, asisten Kaivan dan sekretaris Diego memasuki lift khusus di lantai tempat di mana mereka bekerja.
Mata Geya melirik ke sana kemari. “Huh, sama teman Tuan muda dia sudah menunggu.” Sekretaris Diego menyenggol asisten Kaivan dan berbisik mengenai Tala dan Geya.
“Kenapa si anak ayam itu bertanya kepada mimi peri seperti itu?” Itu adalah julukan sekretaris Diego memanggil kedua orang tersebut. Asisten Kaivan mengedikkan bahunya sembari berpikir mungkinkah ini ada sangkut pautnya dengan nama seorang pria yang disuruh Tala untuk mencari apa yang dilakukan pria bernama Axel Barata.
Sekretaris Diego mencebik bibirnya bagaimana mungkin asisten Kaivan tidak tau dia adalah orang yang paling pertama mengetahui segala hal tentang keluarga Werawan.
Sesampainya di lobi Geya melihat Axel yang melihat ke arahnya dengan melambaikan tangannya. Sedangkan Geya menoleh ke arah sepupunya itu.
__ADS_1
“Buat apa bocah tengil itu ke sini.” Ucap Tala tidak suka wajah Tala semakin menyeramkan bagi karyawan yang melihatnya sang presiden direktur tersebut.
“Halo calon kakak ipar.” Sapa Axel kepada Tala dengan ceria sekretaris Diego menatap tidka percaya dengan keberanian dari pemuda yang sedang menyapa Tala itu.
“Kenapa kamu di sini?”
“Tentu saja untuk mengantarkan pulang sang bidadari hati ku ini yaitu Geya Werawan.” Sekretaris Diego melipatkan bibir dalamnya karena menahan tawa entah kenapa sekretaris Diego berpikir bahwa pemuda itu sangat cocok dengan ibu Dhara yang suka sekali berdrama.
“Apakah teman yang kamu maksud dia?” Tanya Tala dengan dingin membuat Geya rasanya merinding. Dirinya awalnya sudah menyuruh Axel untuk jangan datang menjemputnya namun pria itu sangat keras kepala sekarang lihat habis dia nanti sama kakak sepupunya itu.
“Kamu tidak perlu mengantarnya pulang karena dia akan ikut pulang bersama ku lagipula kamu tidak tau bukan di mana rumahnya.” Karena memang Geya sudah tinggal di mansion ibu Dhara dan ayah Davka.
“Justru karena tidak tau aku mau mengantarnya pulang calon kakak ipar.”
“Saya pamit Tuan muda.” Ujar Geya dengan cepat karena tidak mau menjadi pusat perhatian para karyawan mereka sedang di lobi dan ada banyak karyawan yang juga hendak pulang untuk melihat ke arah mereka.
Geya langsung duduk di bangku mobil Axel dan memandang Tala dengan wajah memelasnya, “kakak nanti akan Geya jelaskan.” Pesan teks Geya kirimkan ke Tala. “Axel ayo buruan atau aku akan berubah pikiran.” Dengan cepat Axel masuk ke dalam sisi kemudi setelah sebelumnya membungkukkan badannya ke arah Tala dan dua orang di belakang yang menjadi penonton mereka tadi.
Tala membaca pesan dari sepupunya itu dan menghela nafasnya saat melihat Axel sudah menjalan kemudi mobilnya.
“Apa dia pria yang kamu suruh aku cari?” Tanya asisten Kaivan yang berjalan di belakang Tala sekretaris Diego hanya menyimak saja.
Melihat Tala yang tidak menjawab itu artinya iya, asisten Kaivan belum sempat melihat hasil kerja keras orang-orangnya padahal sudah dikirim dua jam yang lalu mengenai Axel Barata.
“Apakah sebegitu susahnya untuk mencari tau dia?” Tanya Tala dengan kesal.
“Sebenarnya informasi yang kamu minta sudah dapat namun aku belum mengecek sama sekali.” Asisten Kaivan membuka ipad-nya lalu mencari e-mail yang masuk ke pesannya tadi.
“Dari hasil yang diperoleh tidak ada keanehan dari pemuda itu sangat bersih dan bersikap dingin kepada perempuan lain. Hanya saja ada rumor yang mengatakan bahwa dia tidak tertarik dengan wanita karena menyukai sesama jenis.”
“Melihat dari apa yang barusan terjadi sepertinya rumor itu tidaklah berdasar melihat ada tatapan kasih sayang dan penuh cinta kepada mimi peri.”
__ADS_1
*Bersambung*