
Eve pun kembali ke ruangan kerjanya untuk beristirahat, ayah Davka dan ibu Dhara yang melihatnya tersenyum dan menghela nafasnya. Walaupun menantu kedua mereka terlihat pendiam tapi jika sudah berkemauan dan memutuskan sesuatu tidak ada yang bisa menolak.
Menurut pandangan ibu Dhara dan ayah Davka sangatlah cerdas, baik hati dan pandai bernegosiasi dan memengaruhi orang terhadap keputusannya sehingga membuat orang bisa menurutinya seperti ini.
Di dalam ruangannya Eve merebahkan tubuhnya di sofa setelah sebelumnya mengunci pintu ruangannya. Karena kelelahan dari semalam Eve tidak tidur tidak memerlukan waktu lama Eve sudah terlelap ke alam mimpinya.
Siang harinya Tala pulang ke mansion untuk menjemput Adya sesuai yang dirinya katakan bahwa mereka akan berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk kakek Werawan.
Kepala pelayan yang melihat Tuan mudanya sudah kembali segera menyelesaikan menyusun makan siang di rantang untuk ibu Dhara, ayah Davka, Eve, Tala dan Adya.
“Apakah kamu sudah siap?” Tanya Tala yang menyamatarakan tinggi badannya dengan Adya yang duduk di kursi roda. Adya menganggukkan kepalanya sambil membawa dua rantang di atas pangkuannya.
“Apakah itu panas, jika panas biarkan aku saja yang membawanya.” Ujar Tala namun Adya dengan segera menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.
Tala hanya menghela nafasnya melihat bahwa Adya hari ini enggan untuk berbicara dengannya. Pasti di dalam benak Tala akibat pembicaraan mereka mengenai Eve yang telat pulang karena shift malamnya.
“Kamu jangan khawatir dia berada di rumah sakit dan ingin merawat kakek.” Ucap Tala namun Adya tidak menggubrisnya karena dirinya tau bahwa Eve tidak pulang dan ingin merawat kakek Werawan.
“Jika kamu merasa kesepian karena tidak ada dirinya. Maka aku akan menyuruhnya untuk pulang.” Ujar Tala berusaha untuk mengajak Adya berbicara.
“Tidak perlu, jangan memaksanya. Dia sudah cukup tertekan dengan sikap dingin dan tidak perhatian kamu kepadanya.” Ucap Adya dengan datar sambil melihat pemandangan sekitar dari luar jendela mobil yang membawa mereka ke rumah sakit.
Tala hanya diam dan tidak mau membalas perkataan Adya yang ada nantinya mereka akan berdebat dan bertengkar lagi dan hal itu akan membuat kesehatan Adya menurun Tala tidak ingin itu.
Sesampainya di rumah sakit Adya dan Tala langsung ke ruangan rawat kakek Werawan. Mengetuk pintu dan langsung masuk. “Kakek.” Sapa Adya dengan senyuman saat melihat bahwa kakek Werawan sedang memakan makan siangnya disuapi oleh ibu Dhara.
“Syukurlah bahwa kakek sudah sadar, kakek harus menjaga kesehatan kakek ingat kakek jangan sampai kelelahan.” Lihat baru masuk saja Adya sudah mengomel layaknya seorang ibu yang sedang menasehati anaknya yang tidak mendengar perintahnya.
“Aduh cucu menantu iya iya cucu menantu.” Ucap kakek Werawan sambil terkekeh ketika dirinya diomeli oleh Adya sambil tangan kanannya diayunkan ke atas dan ke bawah.
Adya memajukan bibirnya lucu ketika kakek Werawan melakukan itu. Lalu Adya memeluk kakek Werawan. “Kakek tau betapa khawatirnya Adya mendengar kakek masuk rumah sakit.”
“Iya sayang makasih ya maafkan kakek. Maklum kakek sudah tua tidak muda lagi jadi sering sakit-sakitan.” Ucap kakek Werawan sambil menepuk bahu Adya yang sedang memeluknya.
Adya melepaskan pelukannya dan matanya melihat ke sekeliling ruangan namun dirinya tidak menemukan Eve hal itu membuat Adya merasa lega karena Eve tidak di sini. “Apakah Eve sedang beristirahat di ruang kerjanya?” Tanya Adya kepada ibu Dhara dan ibu Dhara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Syukurlah, Adya khawatir jika Eve tidak istirahat karena shift malamnya.”
“Berarti Eve belum tau bahwa kakek sudah sadar?” Tanya Adya kembali.
“Sayang senang melihat kamu cerewet seperti ini. Tentu saja cucu menantu kedua kakek belum tau karena tadi kakek belum sadar.” Ujar kakek Werawan.
Adya mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan kakek Werawan yang mengatasinya cerewet. “Adya cerewet karena kakek bandel, coba aja nanti kalau Eve sudah ke sini dan melihat kakek sudah sadar ibu dokter satu itu akan lebih cerewet dan protektif kepada kakek.”
Suasana di ruangan kakek Werawan penuh canda dan tawa. “Oh iya ibu, ini makanan untuk Eve. Sayang bisakah kamu memanggil Eve untuk makan siang.” Ucap Adya kepada Tala.
Tala yang mendengarnya menatap datar ke arah Adya yang berbicara sambil menekankan padanya. “Nanti kasihan Eve jika melewatkan waktu makan siangnya. Ibu dokter nggak boleh sakit untuk merawat pasiennya.”
Tanpa banyak kata Tala segera pergi dari ruangan kakek Werawan dengan wajah datarnya tiba di depan ruangan Eve Tala melihat ke dalam ruangan dengan kaca persegi panjang yang memang sengaja di desain seperti itu.
Pengawal yang baru selesai makan siang dengan sopir Eve melihat Tuan mudanya berdiri di depan pintu ruang kerja Eve. “Tuan muda apakah Tuan muda ingin bertemu dengan Nona muda?” Tanya pengawal tersebut.
Tala menganggukkan kepalanya. “Tolong bangunin dia dan suruh dia langsung ke ruang kakek untuk makan siang.” Ujar Tala.
__ADS_1
“Aduh Tuan muda maaf saya tiba-tiba sakit perut saya harus ke toilet dulu.” Ujar pengawal tersebut sambil memegang perutnya dan berlari cepat untuk menuju toilet meninggalkan Tala yang terdiam.
Menghela nafasnya dengan panjang lalu mengepalkan tangannya sebelah dan mengetuk pintu ruangan Eve.
Di dalam ruangannya Eve yang terlelap mendengar suara ketukan di pintu ruangannya mengerjapkan kedua matanya lalu menguap namun Eve masih sama dengan posisi tidurnya sambil memandang langit-langit ruangannya.
Suara ketukan kembali terdengar membuat Eve segera duduk dari posisi tidur dan melihat jam di atas pintu keluar masuk ruangannya. Ternyata sudah jam 1 siang artinya sudah waktunya makan siang.
Eve meraba perutnya. “Pantas saja perut aku berbunyi dan sangat lapar rupanya perlu diisi.” Ujar Eve, “tapi aku males.” Rengek Eve dengan dirinya sendiri.
Suara ketukan masih terus terdengar membuat Eve segera beranjak dari sofa dan bangkit ke arah pintu untuk melihat siapa yang tidak menyerah mengetuk pintu ruangannya.
Saat Eve membukakan pintu dan melihat suaminya Nabastala yang berdiri menjulang di depannya dengan wajah datarnya. “Kamu disuruh ke ruangan kakek untuk makan siang bersama.” Ujar Tala lalu langsung pergi dari hadapan Eve.
Eve melihat kepergian Tala sambil mengedipkan kedua bulu matanya. Lalu Eve segera menutup pintu kembali dan mencuci wajahnya serta merapikan penampilannya.
“Nanti saja aku mandi, tapi eh tidak aku harus mandi supaya bersih dan steril.” Ujar Eve kepada dirinya saat mengingat bahwa kakek Werawan sedang sakit dan dirinya harus bersih agar kuman-kuman tidak menempel.
Tiga puluh menit lamanya Eve keluar dari kamar mandi dan sudah menggunakan bajunya. Betapa terkejutnya Eve saat melihat Tala yang sedang duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya di dinding.
“Kenapa dia diam saja dan kembali lagi.” Ucap Eve dalam benaknya.
“Apakah kamu sebegitu cerobohnya tidak mengunci pintu saat kamu sedang di kamar mandi.” Ucap Tala dengan dingin Eve yang mendengarnya menundukkan kepalanya sambil berkata maaf.
“Cepatlah jangan sampai membuat ibuku dan ayahku menunggu lama hanya karena ingin makan bersamamu jika mereka sakit karena telat makan maka aku akan menyalahkanmu.” Ucap Tala lalu segera pergi meninggalkan ruangan Eve.
Tala yang sudah memberitahu Eve untuk menyuruhnya datang ke ruangan kakek Werawan untuk makan harus kembali lagi ke ruangan Eve saat Adya menyuruhnya untuk menunggu Eve dan pergi bersama-sama.
Sudah seminggu Eve tidak pulang ke mansion karena ingin menjaga kakek Werawan yang sedang sakit. Ibu Dhara dan ayah Davka sangat senang melihat kepedulian Eve kepada kakek Werawan. Apalagi sekarang mereka juga harus merawat Adya yang sering tidak stabil kesehatannya sebelum kakek Werawan masuk rumah sakit dan dua hari sebelumnya Adya keluar dari baru keluar dari rumah sakit.
“Kakek harus menginap dulu di rumah ibu dan ayah. Eve tidak mengizinkan kakek untuk tinggal di mansion kakek sampai batas yang ditentukan oleh Eve.” Ujar Eve sambil tangannya yang sibuk merapikan barang-barang kakek Werawan.
Asisten kakek Werawan yang senantiasa juga ikut menemani Eve dalam menjaga kakek Werawan untuk berjaga-jaga dan menghindarkan Eve agar bertemu dengan anak serta menantunya yang lain agar Eve tidak menelan banyak hinaan dari mereka.
Melihat bahwa Tuan besarnya yang sedang diomeli membuat asisten kakek Werawan mengulum senyumnya dan mendapat lirikan tajam dari kakek Werawan. “Apakah kakek mendengarkan Eve?” Tanya Eve yang membalikkan badannya menghadap ke arah kakek Werawan membuat kakek Werawan langsung melihat ke arah Eve.
“Iya cucu menantu dokter, kakek mendengarnya dan ini sudah sekian kalinya kakek mendengarnya.” Ucap kakek Werawan dengan berkata lirih di ujung kalimatnya agar Eve tidak mendengarnya.
Eve kembali merapikan barang-barang milik kakek Werawan yang tertunda karena tidak ada sautan dari kakek Werawan atas ucapannya tadi. “Selesai.” Ucap Eve dengan senyuman sumringahnya.
“Seharusnya kamu duduk saja cucu menantu kamu pasti sangat lelah biarkan saja asisten kakek yang melakukannya.” Ucap kakek Werawan yang mendengar helaan nafas panjang dari Eve dan juga melihat ketika Eve mengelap keringat di dahinya.
“Eve ingin berbakti dengan kakek. Lagipula ini belum seberapa dengan Eve yang harus melakukan operasi beberapa jam lamanya. Jadi, kakek jangan khawatir Eve bisa menjaga diri Eve agar Eve bisa terus merawat kakek.” Ucap Eve sambil memeluk kakek Werawan.
“Ibu dan ayah pasti senang melihat bahwa kakek tinggal di mansion untuk sementara waktu apalagi kak Adya.”
“Eve juga sudah mengabari kepada ibu dan ayah bahkan kak Adya sekarang sedang semangat menunggu kakek yang akan datang dan menginap di mansion.” Ucap Eve dengan semangat.
“Tentu saja anak dan menantuku akan sangat suka jika aku berkunjung tapi kalau cucu menantu pertama kakek tidak yakin mengingat bahwa saingan terberat kakek adalah orang di hadapan kakek.” Ujar kakek Werawan.
Eve tertawa mendengarnya, “kakek benar memang pesona Eve itu terhadap kak Adya membuat kak Adya berbunga-bunga.” Canda Eve lagi.
__ADS_1
Di dalam mansion Adya sudah duduk di ruang tamu sesekali matanya menatap ke arah pintu utama mansion dan melihat majalah yang sedang dibacanya.
Tala yang melihat bahwa Adya sangat bersemangat hari ini tersenyum. Tala juga yang mendengar kabar bahwa kakek Werawan akan pulang ke mansion ini terlebih dahulu dan menginap sampai batas waktu yang Tala tidak tau tidak jadi pergi ke kantor karena ingin menyambut kepulangan kakek Werawan.
“Bukankah Eve sangat luar biasa sampai membuat kakek harus menginap di sini dan kakek menurutinya tanpa banyak proses. Apalagi melihat ketidakpastian kapan kakek akan kembali ke mansionnya sesuai yang dikatakan Eve.” Ucap Adya dengan membalikkan lembaran majalah di tangannya.
“Pasti akan sangat menyenangkan ada kakek, Eve, dan ibu di mansion ini.” Lanjut Adya kembali sambil membayang-bayangkan hal yang indah dari benaknya.
Eve dan kakek Werawan akhirnya tiba juga di mansion dengan Eve yang mendorong kursi roda kakek Werawan. “Ibu, ayah Eve dan kakek pulang.” Ucap Eve dengan raut wajah bahagianya seperti tidak pulang ke mansion selama bertahun-tahun lamanya.
“Eve.” Teriak Adya dengan semangat dan langsung berlari menghampiri Eve dan memeluknya erat sementara di belakang Tala sangat khawatir dan mengikuti Adya.
“Kakak.” Ucap Eve terkejut mendapat sambutan hangat dari Adya sambil mengerjapkan matanya.
“Kakek kan sudah benar cucu menantu dokter bahwa cucu menantu pertama senang dan semangat karena kamu akan pulang ke mansion lagi setelah satu minggu kalian tidak bertemu bukan kakek. Ekhm kenapa kakek menjadi sedih.” Ucap kakek Werawan dengan bercanda dan membuat drama.
Adya segera melepaskan pelukannya dari Eve dan tertawa mendengar ucapan dari kakek Werawan. “Bahkan dia tidak menggunakan kursi rodanya dan berlari.”
“Aduh kakek kesayangan Adya sedang cemburu dengan cucu menantu dokter yang cantik ini. Tapi, mau bagaimana lagi Eve terlihat sangat menggemaskan dan ngangenin.” Ucap Adya bercanda dnegan tawanya.
Tala yang semenjak tadi diam memberikan salamnya kepada kakek Werawan dengan mencium tangan kakek Werawan. Adya dan kakek Werawan memang sangat cocok jika sudah bersama mereka akan berdrama, bercanda, bercerita sampai tidak ada habisnya.
Ibu Dhara dan ayah Davka segera turun ke bawah untuk menyambut kakek Werawan yang baru tiba bersama dengan Eve itu.
Suasana di mansion menjadi sangat hidup karena ala-ala humor kakek Werawan yang garing dan sangat cocok dengan Adya yang juga sangat garing karena selera humor mereka.
“Apakah belum selesai berceritanya?” Tanya Eve yang baru turun setelah membersihkan tubuhnya dan beristirahat sebentar.
“Tuh kan sudah Adya bilang bahwa ibu dokter itu lebih cerewet dan protektif. Makanya kakek jangan sakit.” Bisik Adya di telinga kakek Werawan.
Kakek Werawan melirik Eve dan berdeham. “Ekhm ini mau selesai cucu menantu. Kamu benar kakek harus semangat untuk sembuh. Dari kemarin cucu menantu dokter mengomel terus.” Bisik kakek Werawan.
“Kenapa kalian berdua bisik-bisik. Sekarang sudah waktunya buat kakek dan kak Adya untuk beristirahat di kamar. Ingat bahwa kakek dan kakak adalah pasien Eve.” Ucap Eve dan memang benar adanya karena dirinya meminta kepada pihak rumah sakit dengan mudah untuk merawat kedua pasien yang sangat disayanginya ini sampai Eve melihat perkembangan kakek Werawan sudah lebih baik baru Eve kembali lagi ke rumah sakit.
Eve mengantar Adya ke dalam kamarnya sedangkan kakek Werawan diantar oleh asistennya. Tala sedang berada di ruang kerjanya, ibu Dhara sedang keluar untuk membeli perlengkapan yang sudah habis dan membeli lebih banyak bahan masakan mengingat bahwa kedua menantunya terutama Eve akan di mansion dan tidak ke rumah sakit.
“Sekarang kakak harus istirahat.” Ujar Eve setelah membantu Adya untuk duduk di tempat tidurnya. Adya menyandarkan kepalanya di sandaran kepala ranjang sambil menggenggam kedua tangan Eve membuat Eve terduduk di samping Adya.
“Aku senang kamu kembali lagi dan sementara waktu kamu tidak ke rumah sakit. Kamu tau aku begitu sangat kesepian jika kamu tinggalkan walaupun untuk bekerja.” Ucap Adya dengan memajukan bibirnya.
“Eve juga senang bersama dengan kakak. Eve tidak berhentinya bersyukur kepada Tuhan karena mendapatkan kedua mertua serta kakek dan juga kak Adya di sisi Eve.” Ucap Eve. “Sudahlah sebaiknya kakak istirahat saja.”
“Nggak mau aku ingin bercerita mumpung ada waktu kita untuk bersama dan berlama-lama. Kamu berbaringlah di sisi ini. Atau kamu tidur bersama dengan aku saja aku sangat merindukan kamu. Biarlah suami kita tidur sendirian di kamarnya siapa suruh sangat menyebalkan benar bukan.” Ujar Adya membuat Eve hanya tersenyum saja.
“Kakak mau bercerita apa memangnya?”
“Apakah kamu mau mendengarkan cerita aku?” Tanya Adya menatap ke arah Eve yang juga ikut bersandar dengan kepala ranjang. Eve menganggukkan kepalanya setuju karena mendengar cerita orang sangat menyenangkan dan memberikan kekuatan bagi Eve entah itu sedih, bahagia, cemas, ataupun lainnya menurut Eve semuanya sangat bermakna dan Eve bisa lebih terbuka lagi pandangannya.
*Bersambung*
Halo teman-teman kembali lagi Lunar update maaf ya nggak update selama dua hari ini. Oh iya jadwal update untuk cerita ini sementara waktu akan malam ya jam 22.00 WIB dan jam 23.00 WIB ya. Mohon dimaklumi. Lunar akan update besok semangat ya. Dan maaf jika Lunar hari ini atau besok updatenya hanya satu kalau ada waktu banyak Lunar akan update sebanyak dua kali. Terimakasih 🥰
__ADS_1