Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 33. Karena Aku hanya Seorang Boneka!!!


__ADS_3

Eve yang diseret oleh Gulzar hanya bisa pasrah. Gulzar terus-terusan marah dengannya karena mengatakan bahwa dirinya hanya diam saja.


Eve mengangkat kepalanya ketika mendengar kata menyedihkan yang berulang kali Gulzar ucapkan dengannya.


Dengan matanya yang berkaca-kaca. "Iya aku memang menyedihkan." Ucap Eve yang baru membuka suaranya setelah diseret oleh Gulzar dari Geya dan Harsha


Gulzar terdiam melihat mata penuh kesakitan dan berkaca-kaca itu. Sebentar lagi air mata itu akan jatuh menetes dari mata Eve.


"Apa lagi ayo katakan setelah boneka sekarang menyedihkan." Ucap Eve dengan air mata yang mulai jatuh ke pipinya.


"Kakak pikir Eve tidak lelah dengan semua ini?" Ujar Eve dan maju selangkah di hadapan Gulzar.


"Eve juga lelah bukan tapi sangat lelah asal kak Zee tau." Ucap Eve sambil memukul-mukul dadanya.


"Apa yang orang-orang dan mereka katakan semua itu adalah kebenaran bahwa Eve adalah anak pungut."


"Anak pungut yang diangkat menjadi bagian keluarga besar Adwitiya."


"Itu adalah kenyataan dan sebuah fakta. Eve sudah sangat lelah dengan kata-kata itu." Teriak Eve histeris. "Tapi, itu kenyataannya."


"Marah? Eve nggak punya hak untuk itu karena Eve hanya anak pungut tidak lebih dari itu."


"Kesal? Memangnya siapa yang tidak kesal jika dikatain seperti itu selama hidupnya."


"Diam? Karena sedari awal Eve tidak punya hak untuk mengeluarkan pendapat dan diberi kesempatan untuk memilih karena seperti yang kak Zee bilang."


"Bahwa Eve... bahwa aku hanyalah sebuah boneka." Ucap Eve teriak sambil menangis.


"Aku hanyalah boneka bagi keluarga kalian. Kalian bilang bahwa aku anak pungut yang tidak tau diri."


"Setelah semua hal yang aku lakukan kalian tidak menganggap aku sebagai bagian dari keluarga kalian."


"Kalian menikahkan aku dengan keluarga yang terpandang dan nomor 1 di negara inj karena hanya ingin menyelamatkan perusahaan keluarga Adwitiya."


"Lalu, kalian sama sekali tidak pernah menanyakan kabarku bagaimana dan apa yang terjadi dengan ku. Setelah semua yang aku lakukan untuk membalas jasa kalian yang telah mengadopsi aku dari panti asuhan."


"Kalian mengambil hak-hak aku sebagai manusia. Kalian tidak menghargai aku sebagai layaknya manusia."


"Hanya aku yang menganggap kalian keluarga dan kalian menganggap aku sebagai barang yang jika sudah digunakan dibuang."


"Dengan alasan aku harus membalas jasa ibu dan ayah yang telah mengangkat aku menjadi bagian dari keluarga Adwitiya dan menyematkan nama belakangku menjadi Elakshi Feshika Adwitiya."


"Kakak pikir aku mau hidup seperti ini. Jika aku tau bahwa hidup aku seperti ini aku tidak akan pernah mau diadopsi oleh ibu dan ayah."


"Aku terus melakukan sesuatu hal yang bukan menjadi keinginanku karena kesalahan yang kalian lakukan kepadaku."


"Bahkan saat aku kuliah di negara L kalian sama sekali tidak pernah mengunjungi ku, mengabari ku, dan datang ke acara wisuda ku."


Eve sudah terduduk di atas rumput-rumput taman dan menangis sejadi-jadinya. Malam ini Eve luapkan segala keluh kesahnya selama ini.


"Bahkan aku tidak berhak untuk berbicara sama sekali. Semua yang aku lakukan selalu dibatasi, aku dijauhi."


"Salahku apa hah sampai kalian memperlakukan aku seperti itu apa kak apa?"

__ADS_1


"Karena aku anak pungut? Karena aku diam? Kalian memperlakukan aku seenaknya?"


Mata Eve sudah memerah karena menangis dan memandang Gulzar yang sejak tadi terdiam dan berdiri di hadapannya.


"Aku...aku...aku...bahkan ingin bunuh diri dengan semua yang terjadi." Gulzar mengangkat kan kepalanya ke atas ketika mendengar Eve yang berniat bunuh diri.


"Aku sudah dibuang oleh orang tu kandungku di panti asuhan saat aku masih tidak tau apa-apa mengenai dunia ini. Lalu diangkat oleh ayah dan ibu kemudian setelah ayah dan ibu meninggal dan masih dalam duka kalian membuang ku negara L."


"Lalu...lalu kalian menelponku setelah beberapa tahun aku di negara L apa kah kakak tidak tau betapa senangnya aku saat itu?"


"Aku sangat senang bahkan aku terus tersenyum ketika mengingat kata bahwa kami sangat merindukan mu Eve, dan kami minta maaf atas apa yang kami lakukan kepadamu dan kami menyesal." Eve yang masih menangis tersenyum miris.


"Betapa bodohnya aku kan. Kak Zee ingin tertawa melihat aku yang begitu bodoh. Bahkan kak Zee bilang aku bodoh saat itu."


"Lalu kalian membuang ku lagi. Apa memang aku anak yang terbuang dan kalian menganggap aku sebagai sebuah barang"


"Ya aku dilahirkan memang untuk dibuang." Ucap Eve.


Gulzar sudah tidak tahan lagi mendengar perkataan Eve yang menyayat hatinya.


Gulzar memeluk Eve yang sudah terduduk di atas rumput sedari tadi.


Eve menangis histeris mendapatkan sebuah pelukan yang sangat dirindukannya. "Aku hanyalah boneka bagi kalian."


"Untuk ketiga kalinya aku dibuang." Gulzar menepuk bahu Eve dan tidak bisa menahan air matanya yang jatuh mendengar curahan hati Eve selama ini.


"Maafkan kakak Eve. Menangislah." Ucap Gulzar kepada Eve.


Adya sudah menyuruh Tala untuk mencari ke mana perginya Eve. Dan ini sudah tiga puluh menit yang lalu Tala pergi namun masih belum kembali dan belum ada kabar dari Tala maupun Eve.


"Kemana kamu pergi Eve? Apakah terjadi sesuatu denganmu?" Ucap Adya gelisah dengan mata yang terus melihat ke sana kemari siapa tau Eve berada di kerumunan itu.


Adya menatap ke arah kakinya dan merasa kesal karena tak berdaya karena dirinya yang tidak boleh terlalu lama berdiri atau berjalan dan tergantung dengan kursi roda supaya dirinya tidak lelah.


"Bagaimana Adya apakah Tala masih belum ketemu dengan Eve dan belum ada kabar?" Tanya ibu Dhara yang baru kembali dari tempat duduknya setelah menemani suaminya yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya.


"Masih belum ibu. Mungkin Tala dan Eve memerlukan waktu juga untuk bicara ibu jangan khawatir. Temani ayah sana nanti ayah digoda lagi oleh banyak wanita. Ayah kan masih tetap ganteng luar biasa walau sudah berumur." Canda Adya membuat ibu Dhara tertawa mendengarnya.


"Kamu ini bisa saja. Ya sudah ibu temani ayah dulu ya." Pamit ibu Dhara.


Adya mengangguk dan duduk gelisah melihat ke sekitar ruangannya.


Adya memperhatikan semua keluarga Werawan dan Adwitya. "Geya dan Harsha ada di sini. Itu artinya Eve tidak bersama dengan mereka."


"Lagipula ini di mansion kakek dan pesta ulang tahun kakek mereka tidak akan berani untuk menyakiti Eve." Gumam Adya saat melihat Geya dan Harsha di seberang sana yang sedang bercerita dengan sepupu yang lainnya.


"Lihat Adya sedang sendiri apakah kamu tidak mau mengganggunya?" Ujar Harsha.


Geya melihat arah pandang Harsha dan benar apa yang dikatakan oleh Harsha bahwa Adya sedang sendiri di sana namun melihat situasi itu tidak memungkinkan.


"Jangan bodoh banyak pasang mata yang melihatnya." Ujar Geya.


Harga menatap ke arah Geya dan merasa kesal karena dirinya dikatai bodoh oleh Geya namun dirinya harus menahannya.

__ADS_1


"Kamu benar Geya. Rasanya aku masih gatal ingin menghajar Adya dan Eve." Ucap Harsha dan Geya menganggukkan kepalanya.


"Mereka berdua benar-benar memuakkan. Apa sih yang dilihat bibi Dhara dan paman Davka. Merusak nama baik keluarga saja." Ucap Geya merasa tidak habis pikir.


"Yang satunya anak pungut dan statusnya tidak jelas sedangkan yang satunya wanita murahan." Lanjut Geya lagi.


"Bagaimana kalau kita bilang kepada paman dan bibi mu bahwa sebenarnya Eve adalah anak pungut bukan keturunan dari keluarga Adwitiya." Usul Harsha.


Geya memundurkan tubuhnya dan menyandarkan dengan santai sambil melipat kedua tangannya dan melihat ke arah Adya yang duduk di seberang sana.


"Melihat paman dan bibi aku rasa mereka sudah tau mengenai hal itu. Walaupun mereka belum tau aku bisa pastikan mereka tidak akan mempermasalahkannya. Adya yang sudah tidak perawan dan memberikan tubuhnya kepada laki-laki dengan mudah serta fakta Ayda melakukan aborsi sebanyak tujuh kali saja paman dan bibi tidak mempermasalahkannya." Ujar Geya dengan menghela nafasnya.


Harsha menganggukkan kepalanya dengan benar. "Apa yang membuat Eve begitu spesial sih?" Ucap Harsha bertanya-tanya.


"Entahlah jika aku seperti paman dan bibi aku tidak akan pernah menerima mereka dan akan membuang mereka jauh dari hadapanku." Ucap Geya.


"Lebih baik sekarang kita pikirkan bagaimana supaya kak Zee tidak membatalkan perjodohannya dengan aku." Ucap Geya serius.


Harsha yang mendengarnya mendekatkan diri dengan Geya. "Melihat kak Zee yang marah akan sangat tidak mudah tapi bukan berarti kita tidak bisa bukan. Lagipula kak Zee tidak akan bisa membatalkannya dengan mudah dan alasannya karena Eve. Kamu tau sendiri bagaimana keluarga aku dengan Eve." Ujar Eve.


"Walaupun kak Zee mau membatalkan perjodohannya tetap saja tidak bisa kecuali jika keluargamu yang lebih dulu membatalkannya." Lanjut Harsha.


Geya dan Harsha saling pandang. "Jangan sampai saja kak Zee memberitahukan kita yang menggertak Eve kepada kak Tala. Jika tidak aku tidak bisa membayangkannya dan perjodohan aku menjadi terancam." Ujar Geya.


"Ini semua karena gara-gara Eve kenapa dia tidak mati saja menyusahkan orang saja." Ucap Geya dengan kesal.


Harsha juga sama kesalnya karena Gulzar lebih dekat dengan Eve ketimbang dirinya dan lebih membela Eve walaupun dirinya adalah adik kandung Gulzar.


"Iya aku juga sangat membenci Eve. Anak pungut aja belagu." Ucap Harsha dengan sinisnya.


Di taman di mana Eve dan Gulzar yang sudah duduk di bangku kursi taman terdiam sambil memandang langit malam yang dipenuhi bintang. "Apakah kamu sudah merasa baikan?" Tanya Gulzar dengan lembut dan merapikan rambut Eve.


"Lihat penampilan kamu sangat berantakan sekarang. Matamu sembab rambutmu tidak rapi." Ujar Gulzar.


Eve yang mendapatkan perhatian dari Gulzar tersenyum senang. "Kenapa dengan senyuman itu kamu membuatku takut." Ucap Gulzar.


"Apakah sehabis menangis meraung-raung kamu dimasuki hantu yang ingin tertawa." Canda Gulzar dengan wajah datarnya.


Eve tertawa mendengarnya karena menurutnya Gulzar sangat lah lucu dan menggemaskan. "Kak Zee sangat menggemaskan. Aku baru pertama kali melihat kak Zee bercanda apalagi dengan wajah datarnya kak Zee."


"Apakah ucapan aku kemarin kak Zee masukkan ke dalam hati bahwa kak Zee harus berubah demi mendapatkan istri." Ucap Eve dengan senyumannya.


Gulzar hanya diam sambil memandang Eve yang terus tersenyum. Lalu menghela nafasnya. "Padahal aku sudah bersikeras membuatmu tersenyum tapi kamu malah meledekku karena muka datar ku." Ujar Gulzar.


"Iya terimakasih kak Zee tersayang." Ucap Eve yang memeluk Gulzar dari samping. "Maafkan aku karena aku berteriak dengan kak Zee tadi dan terimakasih karena sudah menghiburku."


Gulzar membalas pelukan dari Eve mereka berdua tersenyum senang. Sangat jarang momen ini terjadi bahkan sudah belasan tahun mungkin.


"Jangan memendamnya sendiri lagi. Kalau kamu sudah lelah maka berlari lah dan mencari ku aku akan selalu ada untukmu." Ucap Gulzar.


"Jika kamu tidak bisa maka kamu tinggal telepon aku maka aku akan datang dan aku akan menghibur dan membuatmu tenang kembali."


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2