
Akhirnya perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga puluh menit itu sampai juga.
Kala dan Gala segera berlari untuk sampai duluan menghampiri Airen yang berada di dalam ruang keluarga yang sudah menunggu mereka.
"Mami." Teriak Kala dan Gala memenuhi seluruh isi mansion yang sunyi.
Airen menurunkan majalah yang ia baca dan bersiap menerima pelukan dari kedua bocah laki-laki yang selalu mengaku manis dan tampan itu.
Kala dan Gala langsung memeluk Airen dan menempelkan telinga mereka di perut Airen.
"Tidak ada abang." Ujar Gala membuat Kala mengangguk mengerti.
Airen kebingungan kenapa lagi dengan kedua bocah laki-laki ini. "Tidak ada apanya?"
"Tidak ada adik bayi." Jawab keduanya membuat Airen tertawa kecil mendengarnya.
"Iya jelas sayang tidak ada kan mami tidak hamil tidak ada adik bayi di sini. Yang ada roti sama ayam."
"Pangeran kecil bibi kalian meninggalkan bibi sendirian." Ujar Geya lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa karena merasa lelah.
"Apa bibi sakit kenapa bibi sangat lelah tidak sepelti biasanya." Ujar Kala sambil membuka kancing baju seragam sekolahnya begitu juga dengan Gala.
Kedua bocah laki-laki itu sering meletakkan seragam sekolah mereka sembarangan dan berakhir dipungut oleh para pelayan. Airen dan Eve kemarin baru berkonsultasi dengan psikologi mengenai kebiasaan kedua bocah itu yang kurang baik dan mereka akan mengeksekusinya nanti.
Keduanya tau bahwa kebiasaan itu pasti mereka lihat dari ayah dan papinya yang suka sembarangan memang melepaskan baju kotor. Namun, itu masih di dalam kamar sedangkan keduanya di ruang keluarga jika dibiasakan itu sangatlah tidak baik.
"Memangnya bibi tidak boleh lelah ya?" Tanya Geya keduanya menggelengkan kepalanya.
"Papi mana mi kok belum pulang. Abang dan Gala kan mau dimandiin papi dah janji tadi." Lihat sepertinya Kala bocah laki-laki berkulit sawo matang itu mulai merajuk karena tidak melihat keberadaan Joha.
"Papi masih dijalan sayang. Mami kan bilang abang sama didi harus sabar. Kalau sabar kan disayang Tuhan." Ujar Airen dengan lembut.
Kedua bocah laki-laki itu duduk di atas sofa dengan hanya memakai pampers mereka.
Geya yang melihat keduanya seperti tuyul saja untuk tidak botak. "Kak bagaimana kalau kita botakin keduanya biar seperti bakso hahaha." Celetuk Geya yang mulai menggoda Kala dan Gala yang sedang merajuk.
"Bibi." Pekik keduanya yang mendekati Geya hendak menggelitik Geya dan Geya langsung saja berlari menghindar.
Suara tawa Geya dan kekesalan Kala dan Gala membuat mansion Abraham itu heboh. Apalagi kekesalan Kala dan Gala kadang disertai pekikan keduanya dan juga kadang tertawa.
__ADS_1
"Ble ble ble nggak kena." Ejek Geya.
"Bibi tidak boleh melet-melet gitu nanti bibi jadi ular." Ujar Gala sembari memperagakan bagaimana ular dan Geya semakin kencang ketawanya.
"Aduh aduh aduh." Ucap Geya karena merasa perutnya kram.
Airen segera mendekat begitu juga dengan Kala dan Gala. Ketiga orang itu merasa khawatir.
"Kenapa?" Tanya Airen. Geya hanya diam saja karena menahan sakit di perutnya yang kram.
Melihat Geya seperti itu membuat Kala dan Gala sangat panik dan sangat khawatir mereka mendekat dan mengelus perut Geya bersamaan.
Geya yang berbaring di lantai memejamkan kedua matanya dengan salah satu tangannya yang menutup kedua matanya juga dengan bibir dalam yang digigit.
Kala dan Gala mencium perut Geya hal itu membuat Geya yang sedikit mengintip keduanya merasa terharu atas perhatian kedua bocah laki-laki itu.
"Geya tahanlah sebentar lagi Joha akan segera datang." Ucap Airen dengan sangat cemas.
"Kala, Gala." Panggil Joha membuat keempat orang itu menatap ke arah di mana sumber suara berada.
"Papi cepat sini tolong bibi Geya." Ucap Gala berlari menghampiri Joha.
"Geya kamu kenapa?" Tanya Joha tidak kalah cemasnya.
"Papi cepat bawa Geya ke rumah sakit Kala dan Gala biarkan aku yang menjaga di sini." Ujar Airen.
"Tidak mau abang dan Gala mau ikut." Ucap Gala.
"Sayang rumah sakit tidak biak buat anak kecil seusia kalian. Kalian berdua harus menambah umur lagi 3 tahun baru bisa dengan leluasa ke rumah sakit. Rumah sakit adalah sarang penyakit." Ujar Airen menjelaskan.
"Sayang cepat bawa Geya apa lagi yang kamu tunggu."
"Aku sudah tidak apa-apa kak." Ucap Geya yang sudah bangkit dari rebahan-nya.
"Tidak kamu harus ke rumah sakit tadi kamu sangat kesakitan Geya." Ujar Airen yang masih khawatir.
"Tapi aku sudah tidak apa-apa kak."
"Kamu harus diperiksa lebih lanjut siapa tau ada sesuatu."
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan Airen, Geya kamu harus periksa." Ujar Joha.
"Iya aku akan periksa tapi tidak sekarang nanti saja. Aku dan Axel akan pergi bersama." Ujar Geya.
"Baiklah."
"Bibi tidak jadi ke lumah sakit? Bibi tidak sakit lagi? Bibi sebaiknya jangan lali-lali dan ketawa telus nanti sakit lagi. Bibi sepeltinya kualat sama abang dan Gala." Celoteh Gala membuat Airen, Joha dan Geya menganga tak percaya darimana Gala belajar bahasa kualat seperti itu.
"Siapa yang mengajari Gala kata kualat?" Tanya Geya.
"Paman Axel." Ucap Kala membuat ketiganya mendengus tak percaya.
"Iya paman Axel. Paman Axel biasanya mengomel bukan mengomel tapi mencelitakan tentang bibi yang kadang suka diamin paman telus bibi kualat kalena tiba-tiba kangen paman." Airen dan Joha yang mendengar penjelasan dari Gala tertawa kecil.
Geya sungguh tak percaya dengan apa yang didengarnya dan terlebih lagi Axel melebih-lebihkan katanya. "Didi kata paman tidak boleh dikasih tau ini itu LAHASIA." Ujar Kala dan Gala segera menutup mulutnya.
"Bibi, mami, dan papi kalena kalian sudah tau ini tidak boleh bocol. Ingat ini LAHASIA. Kata paman Axel kalau dibicarakan mulutnya embel sepelti embel bocol terus mulutnya kan bentuknya jadi tebal dan besal." Celoteh Gala lagi-lagi tak bisa membuat Airen dan Joha menahan tawa keduanya.
Geya sudah mendengus masam dan merasa sangat kesal pada Axel. Awas saja suaminya itu sudah buat dia begadang setiap malam sampai beberapa jam dan dia melebih-lebihkan kepadanya Gala dan Kala seolah-olah dirinya yang selalu merasa sangat rindu.
"Lain kali abang dan didi tidak boleh mendengar paman Axel. Paman Axel suka melebih-lebihkan." Wajah Geya tampak kesal sedangkan kedua bocah laki-laki itu bingung dengan salahnya mereka.
"Paman Axel benal bibi Geya suka kesal dan malah jadi kita beldua halus hati-hati." Bisik Kala di telinga Gala namun suaranya masih terdengar jelas.
"Sudahlah sayang cepat mandikan mereka aku sudah tidak kuat melihat kelakukan keduanya. Pipi aku semakin sakit mendengarnya begitu juga dengan perut aku." Ujar Airen.
Joha menatap kedua bocah laki-laki itu dia baru sadar bahwa keduanya hanya menggunakan Pampers. "Come on boy, papi mandikan."
Keduanya memang suka dimandikan tapi tidak mau dimandikan oleh mami, bunda dan bibinya Geya mereka hanya mau dimandikan dengan yang sama jenis kelaminnya dengan mereka. Kata Kala dan Gala mereka sudah besar dan malu kalau 'willy' milik mereka dilihat oleh perempuan.
Tala, Joha dan Axel akan mendapatkan giliran mandi kedua bocah laki-laki bagai pinang dibelah dua tersebut. Mereka bukan kembar mereka hanya saudara sepupu tapi mereka selalu bersama. Sama-sama nakal, sama-sama kompak, sama-sama cemburu, sama-sama usil dan banyak lagi lainnya. Jika salah satunya menangis maka yang satunya ikut nangis.
"Axel awas saja kamu." Ujar Geya kesal dengan menghentakkan kakinya dan Airen menggelengkan kepalanya.
"Beneran sudah tidak sakit lagi?" Geya menggelengkan kepalanya dan kembali rebahan.
"Ya sudah aku tinggal dulu mau menyiapkan pakaian mereka sebelum terjadi aksi kejar-kejaran lagi." Geya hanya diam dan menatap ke atas langit-langit di mansion itu. Dia sungguh merasa kesal dengan Axel. Sepertinya dia harus menginterogasi kedua bocah polos yang menggemaskan itu untuk tau apa yang dibicarakan Axel pada mereka berdua.
*Bersambung*
__ADS_1