Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 15. Merasa Sangat Buruk


__ADS_3

Ayah Davka dan ibu Dhara yang menemani Eve di dalam ruangannya terdiam begitu banyak pikiran yang ada di dalam benak mereka.


“Kita terlalu sibuk mengurus Adya sampai kita tidak tau bahwa menantu kita satunya lagi merasa kesepian selama proses kehamilannya.” Ucap ibu Dhara dengan pilu sambil menatap ke arah ranjang di mana Eve berada.


“Sudah begitu banyak beban yang menimpa di dalam dirinya dan begitu banyak keinginan dan perasaan yang dipendamnya dulu namun dia masuk ke dalam keluarga kita sama saja merasakan kesepian.”


Ayah Davka mengusap lembut tangan istrinya itu yang merasa sedih dengan keadaan menantunya yang baru kehilangan bayi di dalam kandungan itu.


“Dia begitu baik dan selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu. Tidak mau membagikan cerita suka dan dukanya buat kita karena kita yang tidak ada waktu untuknya.” Isak tangis ibu Dhara yang merasa bersalah kepada menantu keduanya itu.


“Jangan seperti ini kita harus kuat demi Eve. Pasti Eve sangat sedih dan merasa terpuruk saat dirinya sadar nanti. Kita harus ada untuk menguatkannya. Kalau kamu seperti ini nanti bagaimana kamu bisa menghiburnya.” Ucap ayah Davka.


“Tapi ibu merasa tidak tega dan merasa sangat bersalah. Kita hanya menanyakan kabarnya melalui pesan teks karena sibuk mengurus Adya sedangkan dia tanpa banyak keluhan dan bahkan tidak ada.”


“Seharusnya ibu lebih memperhatikan dia jika ibu memperhatikannya dan tidak meninggalkannya terlalu lama mungkin Eve tidak akan merasakan sakitnya kehilangan anaknya. Apalagi itu masih berusia dua bulan dan sangat memerlukan orang di sekitarnya untuk memperhatikannya.” Ayah Davka hanya diam dan berusaha menguatkan hatinya.


Bohong jika dirinya tidak bersedih dan bersusah hati melihat bagaimana menantunya nanti jika mengetahui bahwa bayi di dalam kandungannya sudah tidak ada. Merasa buruk sebagai seorang mertua dan merasa bahwa Adya lebih membutuhkan mereka dibandingkan dengan Eve. Seharusnya dirinya lebih merata membagikan kasih sayangnya kepada setiap menantunya.


Apalagi mengingat bahwa menantu keduanya dipaksa untuk menikah dengan anak semata wayangnya yang masih belum mencintainya. Pasti akan sangat sakit menjadi seperti Eve.


Kehidupan sebelum dirinya datang ke keluarga Werawan saja sudah sangat menyedihkan dan menyayat hati. Ternyata dirinya sama halnya dengan keluarga yang memperlakukan menantunya itu mungkin dirinya lebih jahat.


Namun semuanya sudah terjadi yang terpenting sekarang bahwa dirinya dan istrinya harus fokus merawat dan menjaga menantunya itu. “Semuanya sudah terjadi kita harus kuat untuk Eve.”


Selama hampir lima jam lamanya Eve memejamkan mata sehabis operasi pengangkatan janin di dalam kandungannya akhirnya Eve pun sadar.


Ayah Davka yang saat itu seorang diri menemani Eve melihat menantunya yang sadar segera bangkit dari tempat duduknya di sofa menuju ke ranjang menantunya itu. “Sayang syukurlah bahwa kamu sudah sadar.” Ucap ayah Davka kepada Eve.


Eve mengerjapkan kedua matanya dan berusaha menetralkan penglihatannya dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. “Ayah, kepala Eve sakit, ini di mana?” Tanya Eve.


“Ayah panggilkan dokter terlebih dahulu ya, kamu sekarang berada di rumah sakit.” Ucap ayah Davka yang langsung memencet tombol merah di damping ranjang pasien milik Eve.


“Kamu jangan banyak bergerak dulu sayang tenangkan pikiranmu. Ibu sedang pergi keluar sebentar sebentar lagi ibu akan kembali.” Ucap ayah Davka.


Tidak lama setelah itu para dokter pun segera masuk dan memeriksa keadaan Eve, Eve hanya diam walaupun di dalam benaknya seperti ada sesuatu yang hilang namun Eve masih belum bisa mengingatnya.


“Keadaan Nona Elakshi sudah baik-baik saja hanya tinggal pemulihan saya Tuan. Nona Elakshi bisa beristirahat di rumah sakit kurang lebih seminggu. Untuk saat ini Nona fokuslah kepada kesembuhan Nona. Kami turut berduka cita atas kehilangan bayi Nona dan kami meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan bayi di dalam kandungan Nona.” Jelas dokter tersebut.


Ayah Davka yang mendengarnya terkejut dan menatap tajam ke arah dokter tersebut sementara Eve tanpa sadar sudah meneteskan air matanya dan terdiam. Yang Eve bisa simpulkan adalah bahwa sekarang bayi di dalam kandungannya sudah tidak ada lagi.

__ADS_1


Dokter yang berada di sebelah dokter yang menjelaskan keadaan Eve menyenggol tangan dokter tersebut saat melihat tatapan tajam dari ayah Davka. “Maa-maafkan saya Tuan saya kira Nona sudah mengetahui dan sudah menjelaskannya.” Ucap dokter tersebut.


“Kamu dipecat karena ketidaktelitian mu.” Ucap ayah Davka membuat dokter tersebut terkejut mendengarnya. Sedangkan rekannya yang lain hanya bisa diam melihat rekannya yang langsung dipecat. “Keluar.” Perintah ayah Davka.


Ayah Davka melihat keadaan Eve yang hanya menangis dalam diamnya baru beberapa saat pintu tertutup kini terbuka lagi. “Sayang syukurlah bahwa kamu sudah sadar.” Ucap ibu Dhara dan memeluk Eve yang menangis dalam diamnya.


“Sayang menangislah dengan keras jangan ditahan itu akan sakit. Kamu bisa meluapkannya kepada ibu.” Ucap ibu Dhara dan setelah ibu Dhara mengatakan itu Eve menangis dengan terisak keras.


Ibu Dhara juga ikutan menangis begitu juga dengan ayah Davka. Di dalam ruang rawat Eve hanya terdengar isak tangis antara menantu dan mertua. Eve yang menangis terlalu lama bahkan sampai sesenggukan dan kembali pingsan


“Ibu tahu bahwa kamu adalah wanita yang sangat kuat. Kamu kuat dan kamu bisa melewatinya.” Ucap ibu Dhara mengusap rambut Eve dengan penuh kasih sayang.


Eve yang sadar dan sudah mendengar bahwa bayi yang ada di dalam kandungan hanya diam dan menatap kosong sambil meraba perutnya. Air mata terus jatuh di pipinya tanpa isakan membuat ibu Dhara tidak kuat melihat menantunya. Bahkan semenjak sadar Eve hanya diam dan tidak bersuara sama sekali. Eve yang kehilangan bayinya yang baru berusia 2 bulan tersebut merasa menjadi ibu yang buruk dan tidak berguna karena kecerobohannya dia kehilangan anaknya. Terlebih lagi Tala yang tidak ada di sisinya karena sibuk merawat Adya.


“Sayang ayo makan. Kamu harus makan hmm. Ini ibu akan suapin kamu ya tolong buka mulutmu.” Ucap ibu Dhara namun tidak berhasil Eve tetap enggan membuka mulutnya hal itu membuat ibu Dhara hanya bisa mendesah pasrah.


Tubuh Eve terlihat sangat kurus dan yang dilakukan Eve hanya menangis. Karena tidak sanggup melihat keadaan menantunya ibu Dhara keluar dari ruang rawat menantunya dan menangis di kursi tunggu.


Tala yang keluar dari ruang rawat Adya menatap ke arah ibunya yang menangis segera mendekat. “Ibu jangan menangis. Tala tidak bisa melihat ibu menangis seperti ini.” Ucap Tala kepada ibu Dhara.


Ibu Dhara mendongakkan kepalanya dan menatap anak semata wayangnya ini. “Eve tidak mau makan lagi, bisakah kamu membujuknya. Semenjak sadar kamu belum menjenguknya. Eve adalah istrimu dan Eve memerlukan seorang suami menghiburnya.” Ucap ibu Dhara dengan terus meneteskan air matanya.


Tala hanya diam saja ini sudah ke berapa kalinya dirinya mendengar permintaan itu namun Tala tetap keras kepala dengan pendiriannya. Tala berpikir bahwa apa yang menimpa Eve adalah salah dirinya karena tidak memberitahukan kehamilannya.


Ibu Dhara hanya bisa menangis melihat anaknya yang terlihat tidak peduli dengan Eve. Lagi-lagi perasaan bersalah dan merasa buruk karena sudah membuat Eve terjerat dengan pernikahan yang dilakukannya.


Di dalam ruang rawat Adya, Tala menatap ke arah Adya dalam diamnya. Tala menatap sedih punggung Adya yang sedang membelakanginya. “Kak kamu harus makan.” Ucap Tala.


Namun Adya tidak menggubris sama sekali semenjak dirinya sadar dari pingsannya dan mendengar kabar bahwa Eve mengalami keguguran membuat Adya juga merasa bersalah dan buruk.


Sudah berapa kali Tala membujuk dirinya untuk makan dan mengajaknya berbicara namun sama sekali tidak pernah Adya gubris hingga membuat Tala merasa kesal dan mengambil nampan berisi bubur berada di hadapan Adya.


“Kakak harus makan jika kakak tidak makan maka kakak akan sakit lagi.” Ucap Tala yang masih berusaha menahan perasaan kesalnya.


Adya menatap tajam ke arah Tala dan merebut nampan berisi bubur tersebut lalu melemparkannya di lantai. “Aku tidak memerlukan perhatian kamu.” Ucap Adya dengan dingin.


Tala menyugarkan rambutnya ke belakang dengan tangan kanannya dan membuang nafas dengan kasar. “Lebih baik aku mati saja daripada gara-gara aku Eve seperti ini.” Ucap Adya dengan tangisannya.


Tala menatap tajam ke arah Adya ketika mendengar perkataan yang tidak pantas dan tidak ingin Tala dengar dari mulut Adya. “Cukup.” Ucap Tala dengan penuh penekanan. “Ini semua tidak akan terjadi kalau bukan karena dia. Bukan kakak yang membuatnya seperti ini tapi dia yang membuat kakak seperti ini.”

__ADS_1


“Terus saja kamu salah menilainya sampai kamu menyesali apa yang telah kamu lakukan kepadanya dan dia pergi menjauh. Ingat Nabastala kamu akan menyesalinya suatu hari nanti.”


“Aku tidak akan pernah menyesali apa yang telah aku lakukan sama sepertinya yang merasa bersikap acuh dan tidak menyesalinya. Jika bukan karena dia kakak tidak akan seperti ini.”


“Dan ingat bahwa dia memang sudah pantasnya menderita dan menerima nasib buruknya itu. Aku terpaksa menikahinya dan kalian yang memaksaku” Lanjut Tala lalu segera pergi dari ruangan Adya.


Adya yang melihat Tala begitu membenci Eve merasa sangat sedih apalagi melihat keadaan Eve yang sekarang. Sungguh kenapa orang sebaik Eve bisa disakiti seperti itu. Adya bisa mengerti di masa lalu kenapa Eve bisa melakukan hal itu.


Dan jika dirinya berada di dalam kondisi Eve mungkin dirinya akan melakukan lebih, saat itu Eve masih sangat kecil dan masih labil serta Eve tidak tau sama sekali. Dirinya dan Eve adalah korban dan Adya ingin bahwa hubungan Tala dan Eve kembali baik seperti dulu lagi.


Tala yang keluar dari ruang rawat Eve dengan tatapannya yang dingin serta wajah datarnya segera berjalan dengan langkah kakinya yang tegas. “Aku akan menghancurkan siapa yang berani merusak apa yang telah aku jaga.” Ucap Tala.


Tala mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke sebuah tempat di mana biasanya dirinya akan menghabiskan waktu untuk meluapkan emosinya. “Selamat sore Tuan.” Ucap pengawal kepada Tala.


Tala langsung duduk di sofa melihat hal itu membuat pengawal merasa sangat ketakutan dengan Tuan muda mereka yang sepertinya dalam suasana hati yang tidak baik. “Cepat carikan siapa yang berani mengusik keluarga Werawan. Jika kalian tidak menemukannya maka kalian yang akan menjadi sasarannya.”


Pengawal Eve yang mendapat telepon dari markas segera datang, “kenapa kamu tidak memberitahu ku?” Tanya Tala tanpa menatap ke arah orang yang diajaknya berbicara. Tala hanya fokus menembakkan sasaran yang ada di hadapannya.


“Maafkan saya Tuan muda. Itu karena Nona muda meminta kepada saya untuk tidak memberitahukan siapa pun dan saya menyetujuinya. Saya berpikir bahwa Nona muda ingin memberitahukannya sendiri.”


“Siapa Tuanmu aku atau dia.” Ucap Tala yang merasa sangat kesal dan tidak terima dengan penjelasan yang diberikan oleh pengawal yang menjaga Eve tersebut.


“Sekarang siapa yang akan bertanggungjawab mengenai hal ini. Semuanya menjadi kacau, tapi ada bagusnya dengan begitu aku bisa dengan mudah melepaskannya.” Ucap Tala dengan memberikan senyuman sinisnya.


“Cepat cari tau secepatnya siapa dalang dibalik semua ini jika sesuatu terjadi kepada Adya maka kalian yang akan aku bunuh. Aku tidak mau hanya gara-gara Nona muda yang sangat kamu hormati itu nyawa istriku dalam bahaya.”


Pengawal Eve hanya diam dan menundukkan kepalanya saat Tala melewati dirinya. Menghela nafasnya dengan dalam lalu segera pergi menjalankan tugasnya.


“Lihat saja siapa yang berani bermacam-macam dengan Nabastala Werawan maka mereka akan menerima ganjarannya. Siapa pun itu.” Ucap Tala dengan bengisnya lalu menancapkan pedal gas dengan kecepatan penuh untuk sampai ke rumah sakit.


Tala merasa sudah lebih dari cukup untuk meluapkan emosnya di markas dan meninggalkan Adya seorang diri di ruang rawatnya tanpa ada orang yang menemani.


Ayah dan ibunya pasti akan menemani Eve dan dirinya tidak ingin lengah hanya gara-gara masalah keguguran Eve membuat semuanya berantakan dan dirinya kehilangan Adya.


Dokter Raka yang melihat Tala dari jauh dengan pandangannya yang tajam hanya menatap penuh kekesalan dan kemarahan melihat sikap tidak peduli Tala kepada Eve. “Jika kamu menjadi milikku aku tidak akan pernah membuatmu sedih Eve. Kenapa kamu harus menyakiti dirimu untuk memberikan hidupmu kepada orang itu.” Ucap dokter Raka.


Dokter Raka baru saja pulang dari menjenguk Eve yang sudah sadar. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya hanya keadaan hening yang tercipta. Dokter Raka begitu sedih melihat Eve yang kembali dengan pandangan kosong dan diamnya.


Selama dua bulan ini dokter Raka melihat bagaimana wajah bahagia Eve saat tau dirinya sedang hamil. Walaupun dirinya sesekali melihat Eve mengusap air matanya saat melihat ibu hamil yang lewat di lobi rumah sakit bersama suaminya sehabis periksa kandungan atau sebelum memeriksa kandungan.

__ADS_1


“Kamu adalah wanita yang hebat dan kuat Eve. Bisakah kamu memberikan perhatian dan kasih sayangmu kepadaku. Aku lebih berhak mendapatkannya dan aku lebih menghargainya. Apa yang kamu lihat dari Nabastala Eve.” Ucap dokter Raka sambil menatap foto yang menjadi wallpaper di ponselnya.


*Bersambung*


__ADS_2