
Eve mengantar Adya dan Tala sampai di lobi rumah sakit. Adya sangat senang karena setidaknya hari ini Adya bisa melihat sesuatu yang manis walaupun dirinya sungguh keterlaluan karena memanasi hati dan pikiran suaminya karena melihat interaksi antara Eve dan dokter yang masih belum Adya tau sapa namanya.
“Eve apa aku boleh bertanya?” Tanya Adya membuat Eve segera berjongkok di hadapan Adya dan hal itu membuat Adya sangat senang. Sikap Eve sangat terlihat sopan dan manis ketika Eve berjongkok di depannya untuk menyamatarakan tinggi badan di antara keduanya karena dirinya yang sedang duduk di kursi roda.
“Kakak ingin bertanya apa, tanyakan saja.” Jawab Eve, Adya menatap ke arah Tala yang hanya diam sedari tadi. Memang kalau ada Eve Tala akan menjadi orang yang pendiam dan dingin.
“Tadi, aku melihat mu berbicara dengan seorang dokter laki-laki saat aku berjalan di lobi sekitar waktu makan siang. Kamu terlihat sangat senang dan aku ingin mengenal dokter yang membuat kamu tertawa bahagia itu siapa tau kita bisa menjadi teman.” Ujar Adya.
Eve yang mendengarnya terkejut dan melirik ke arah Tala yang tidak menunjukkan reaksi dan ekspresi wajah datarnya. “Ouw itu namanya dokter Raka nama lengkapnya Caraka Arkatama. Beliau adalah teman sejawat yang sama spesialisnya dengan aku kak.”
Adya menganggukkan kepalanya mengerti dan melihat ke arah Tala yang hanya berdiam diri di sebelah kanannya. “Kamu dengarkan bahwa itu adalah teman seprofesi jadi wajar mereka akrab kamu jangan cemburu.” Ucap Adya memang sengaja mengatakan itu karena ingin menggoda keduanya terutama Tala.
Tala berdeham, “mobilnya sudah tiba.” Ucap Tala yang memang benar lalu menggendong Adya untuk didudukkan di kursi belakang mobil. Sementara Eve tertegun mendengar perkataan Adya kepada Tala.
Adya mengulum senyumnya saat melihat Eve yang terdiam dan Tala yang seperti salah tingkah itu adalah anggapan Adya ketika melihat reaksi Tala. Tala berjalan mendekat ke arah Eve hal itu membuat Eve semakin gugup dan menggigit bibirnya.
Ternyata Tala hanya ingin melipatkan kursi roda yang berada didekatnya. Tanpa mereka sadari bahwa Adya memotret interaksi yang canggung di antara keduanya dan mengirimkan kepada ibu Dhara dengan caption “anak dan menantu ibu sedang salah tingkah karena aku goda.”
Setelah Tala memasukkan kursi roda Adya, Tala kembali berjalan ke arah pintu sebaliknya namun Adya dengan sigap berpindah ke kursi sebelahnya. “Aku ingin duduk di sini.” Ucap Adya yang kini sudah duduk di belakang sopir.
Tala yang melihat hal itu saat membuka pintu mobil menghela nafasnya dan dirinya tau bahwa Adya sedang mengerjainya. Eve yang melihat Tala kembali ke sisi sebelah mobil yang di mana ditempatkan Adya menjadi bingung kenapa dan apa yang terjadi di antara keduanya.
Akhirnya Tala bisa duduk dengan nyaman di dalam mobil dan saat Tala hendak menutup pintu mobil dan kaca mobil Adya menahannya. “Aku mau pamit dulu kepada Eve.” Pinta Adya hingga membuat Tala hanya diam dan pasrah.
“Eve segeralah pulang aku ingin bercerita banyak dan menghabiskan waktu yang banyak denganmu. Bukan hanya aku saja tapi kita bertiga. Dadah.” Pamit Adya dan mengangkat tangan Tala untuk melakukan dadah kepada Eve.
Eve hanya tersenyum kikuk melihatnya karena wajah suaminya itu hanya datar dan memandang ke depan sementara wajah wanita yang di sampingnya sangat ceria terlihat sangat berbanding terbalik.
Eve kembali ke dalam ruangannya setelah mengantar istri pertama suaminya dan suaminya pulang. “Apa hubungan dokter Elakshi dengan pria dan wanita itu?” Tanya perawat yang melihat interaksi antara Adya, Tala, dan Eve di depan rumah sakit.
“Jangan terlalu banyak bergosip jika kalian ketahuan tamatlah riwayat kalian.” Ucap dokter Raka membuat perawat itu berjingkrak kaget beserta dengan teman di sebelahnya. Dokter Raka memberikan senyuman manisnya melihat reaksi dan ekspresi kaget kedua perawat itu.
“Maaf dokter Raka.” Dokter Raka hanya mengangguk saja dan menatap ke arah resepsionis untuk menanyakan kegiatan selanjutnya dan memeriksa kembali data pasien yang akan dioperasinya nanti.
Eve berjalan keluar dari rumah sakit ketika jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Semenjak dirinya mulai bekerja kembali Eve tidak diizinkan untuk mengambil shift malam maupun paginya jika Eve ingin pergi.
Eve hanya bisa pasrah dan menerima saja setidaknya dirinya sudah diperbolehkan untuk bekerja daripada hanya di dalam mansion duduk manis. Bukan berarti Eve merasa apa-apa hanya saja Eve ingin memberikan dedikasinya sebagai orang yang belajar ilmu kedokteran sebelum dirinya melepaskan gelarnya nanti.
Eve semakin perlahan mulai menata hidupnya dan apa yang dilakukannya ketika dirinya nanti sudah bercerai dengan Tala. Dan tak terasa bahwa usia pernikahannya dengan Tala sudah satu tahun.
Eve bisa mengingat dengan jelas kapan hari di mana dirinya menikah dengan pria di masa lalunya satu tahun yang lalu. Kata-kata kejam dan pedas selalu Eve dengar setiap harinya apalagi tatapan tajam yang diberikan Tala kepadanya setiap kali Eve menatap suaminya itu.
Tapi, Eve merasa beruntung karena dirinya bisa menerima perhatian dan kasih sayang yang tulus dari ibu Dhara dan ayah Davka serta Adya yang mungkin setelah perceraiannya tidak akan mungkin Eve dapatkan.
Bukan karena dirinya merasa terlalu skeptis hanya saja Eve tidak ingin terlalu berharap lebih. Menjalani kehidupan yang nyaman tanpa ada tuntutan membuat Eve ingin merasakan rasanya bebas dari belenggu nama besar yang memberatkannya.
Dijadikan layaknya sebuah boneka dan sebagai alat pertukaran bisnis melalui pernikahan untuk menyelamatkan nama keluarga angkatnya yang tidak pernah menganggapnya sebagai bagian dari mereka.
Lalu keluar dari kandang buaya dan masuk ke kandang singa. Pernikahan yang dijalani sungguh menyesakkan dada. Dimulai dengan suaminya adalah pria di masa lalunya yang sangat membencinya tanpa ingin mendengar penjelasan apapun darinya.
Lalu sikap dingin suaminya dan kehilangan anaknya yang baru berusia dua bulan akibat ketidakhatiannya. Pernikahan yang dijalaninya semakin lama semakin hambar, walaupun Tala sudah sedikit berkurang berkata tajam dan pedasnya namun sikap pria itu membuat Eve tidak tahan dan merasa tersiksa. Karenanya Tala seperti itu dan Tala merasa tertekan ada dirinya.
Bukannya Eve tidak tau bagaimana Adya yang terus berulang kali menasehati Tala agar bersikap lembut dan penuh perhatian kepadanya dan berakhir dengan perdebatan dan pertengkaran yang terjadi di antara keduanya.
Bahkan ayah Davka dan ibu Dhara saja tidak mampu membujuk Tala agar bersikap lembut dan perhatian kepadanya. Eve tau bagaimana keras kepalanya Tala kalau dia bilang tidak maka kalimat terusnya tidak.
__ADS_1
“Bapak bisakah kita pergi ke pantai sebentar aku ingin melihat matahari terbenam dan suara ombak.” Ujar Eve ingin menenangkan diri sebelum sampai ke mansion Werawan.
Sopir membawa Eve ke resort milik keluarga Werawan di mana terdapat pantai dekat resort agar memberikan ruang buat Nona muda yang terlihat tidak baik-baik saja itu.
Eve turun dari mobil dan berjalan ke arah bangku yang menghadap ke arah pantai setelah sebelumnya melepaskan jas kedokteran dan tas beserta ponselnya.
“Hari ini adalah hari pernikahan di mana Nona muda dan Tuan muda diadakan. Ternyata sudah satu tahun berlalu begitu banyak yang telah dilewati Nona.” Ujar sopir memandang ke arah Eve yang duduk di bangku pantai.
“Pasti Nona merasakan perasaan yang campur aduk di dalam dirinya. Tidak mudah untuk melewatinya, Nona muda sangat sabar dan sangat kuat. Begitu banyak ujian yang diberikan Tuhan kepadanya.”
Pengawal mengingat kejadian di mana waktu di salon satu hari sebelum Eve kehilangan janinnya. Diejek karena statusnya sebagai anak yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga kaya dan dinikahkan untuk menyelamatkan perusahaan keluarga angkatnya.
Lalu kehilangan bayinya membuat Nona muda itu tidak sama seperti dulu walaupun Nona muda yang mereka sayangi itu terus tersenyum dan ceria namun mata bisa menceritakan semuanya itulah yang didapatkan pengawal dari mata Eve.
Eve memandang hamparan pasir dan ombak yang terus berkejaran dan berdatangan untuk menyapu pesisir pantai.
POV EVE ON
Ombak saling berkejaran untuk menyampai pesisir pantai. Pantai terus mengalami pasang dan surut. Pasir yang terseret oleh ombak. Burung-burung yang menghiasinya di atas dan sinar matahari yang mau tenggelam.
Jika aku melihat cakrawala yang diciptakan oleh Tuhan begitu banyak hal yang bisa aku pelajari dan membukakan mata hati dan pikiranku.
Pikiranku tenggelam memikirkan kehidupan apa yang akan jalani selanjutnya dan bertanya apa yang akan terjadi ke depannya.
Sekarang yang aku lakukan hanya bisa mengikuti alur dari Tuhan dan berusaha menjadi manusia yang diciptakan oleh Tuhan sebaik-baiknya.
Putih dan hitam akan selalu ada di setiap perjalanan untuk menggoda setiap iman manusia.
Usiaku sudah dua puluh enam tahun sekarang tak terasa ya bahwa aku sudah berusia seperti itu. Waktu begitu cepat berlalu dan kehidupan yang penuh dengan misteri setiap harinya.
“Huh, aku merindukan kak Zee.” Ungkap Eve yang merindukan Gulzar Adwitiya kakak sepupu angkatnya. Semenjak dirinya membawa barangnya keluar dari mansion Adwitya Eve tidak pernah lagi melihat kakak sepupunya.
Sopir dan pengawal hanya menatap dalam diam melihat bahu Nona muda mereka bergetar. Bukan tidak ingin menghentikan isak tangis Nona muda mereka hanya saja mereka ingin memberikan ruang buat Nona muda mereka.
“Eve selalu kesepian.” Ungkap Eve. “Apa kak Zee tau bahwa Eve ingin sekali menghilang di dunia yang kejam ini namun Eve tidak ingin memberikan kenangan yang menyedihkan dan menyakitkan bagi orang yang tidak seberapa menyayangi Eve.”
“Eve sangat lemah sekarang dan Eve memerlukan sandaran dan pelukan kak Zee. Kenapa kak Zee tidak menghubungi Eve.” Eve yang menangis sampai tersedu-sedu dan memukul dadanya yang sesak.
Eve bangkit dari bangku yang diduduki dan berjalan perlahan mendekat ke arah pasir yang hampir terkikis air pantai karena ombak. Menatap kakinya yang terkena pasir. “Lihat kaki Eve kotor karena pasir yang menempel. Bukankah kak Zee tidak akan membiarkannya jika kaki Eve kotor.”
Eve jatuh terduduk di atas pasir dan Eve tidak memikirkan lagi bagaimana jika pengawal dan sopir melihat keadaannya dan memberitahukan kepada suaminya itu. Eve ingin meluapkan rasa sesak yang membelenggu di dadanya.
POV EVE OFF
Matahari sudah terbenam yang berarti siang sudah tergantikan dengan malam. Bintang dan bulan menunjukkan diri di atas pantai. Sudah tiga jam lamanya Eve berada di pantai.
Pengawal dan sopir yang merasa khawatir akhirnya mendekat ke arah Eve untuk memberitahukan bahwa mereka harus segera pulang ke mansion.
Ayah Davka, ibu Dhara dan Adya sudah khawatir dengan keadaan Eve walaupun mereka sudah memberitahukan bahwa Eve baik-baik saja dan ingin menikmati suasana pantai.
Yang mereka takutkan bahwa Tuan muda mereka akan memarahi dan berkata pedas lagi kepada Nona mereka. Sedangkan Nona mereka dalam suasana hati yang tidak biak-baik saja.
“Nona hari sudah gelap dan angin semakin kencang tidak baik buat kesehatan. Nona juga harus istirahat dan merawat pasien besok pagi. Sebaiknya kita segera pulang Tuan dan Nyonya besar mengkhawatirkan Nona begitu juga dengan Nona muda Adya.”
Eve menganggukkan kepalanya tapi sebelum itu. “Apakah aku egois ingin menikmati dan bebas sedikit.” Gumam Eve dengan lirih namun pengawal tersebut masih bisa mendengarnya.
__ADS_1
“Ayo Nona.” Ucap pengawal tersebut sebelumnya melampirkan jasnya kepada Eve dan menyinari langkah kaki Eve dengan senter ponsel yang digenggamannya.
Eve masuk ke dalam mobil dan pengawal segera menutup pintu dan menatap ke arah Eve dalam diamnya. “Nona tidak salah untuk egois dan memikirkan perasaan dan pikiran Nona. Nona sudah banyak berkorban, tetaplah sehat dan kuat Nona menghadapi dunia yang kejam.”
Lalu pengawal membukakan pintu di sebelah sopir dan sopir menjalankan mobilnya. Eve hanya diam sambil matanya memandang ke arah luar di mana keadaan sangat gelap.
Sesampainya di mansion pengawal membukakan pintu mobil namun dirinya melihat bahwa Eve sedang tertidur. Melihat hal itu membuat pengawal tersebut menjadi bingung. Karena dirinya tidak mungkin untuk menggendong Eve karena mereka sama-sama perempuan.
Meminta tolong kepada pengawal yang lain itu tidak mungkin karena dirinya tau bagaimana karakter Tuan muda mereka walaupun tidak suka jika sudah menjadi miliknya Tuan muda tidak suka miliknya disentuh oleh orang lain.
“Bisakah kamu menyingkir biarkan aku yang gendong.” Ucap seorang pria yang menggunakan setelan jas dengan dingin kepada pengawal tersebut.
Pengawal itu terdiam dan menatap tajam melihat pria asing yang dengan beraninya hendak menyentuh Nona mudanya. “Hentikan tangan mu itu. Siapa kamu.” Ucap pengawal menghentikan tangan pria asing yang hendak menggendong Eve.
“Aku adalah kakak sepupunya Gulzar Adwitya.” Ucap Gulzar langsung kepada pengawal.
“Pengawal biarkan saja dia adalah Tuan muda Adwitya.” Ucap ibu Dhara di belakang yang melihat bagaimana pengawal Eve begitu ketat dalam menjaga Eve. Hal itu membuatnya senang.
Pengawal tersebut meminta maaf kepada ibu Dhara namun tidak kepada Gulzar. Sedangkan Gulzar yang menggendong Eve tidak menggubrisnya.
“Di mana kamarnya Nyonya?” Tanya Gulzar ketika sudah sampai di dalam mansion.
“Letakkan saja di sofa biarkan aku yang menggendongnya.” Ucap Tala yang baru tiba di mansion dari arah luar.
“Nyonya tolong beritahu saya di mana kamarnya. Dia sedang tidak baik-baik saja, tubuhnya demam sekarang.” Ujar Gulzar tanpa menghiraukan perkataan Tala.
Ibu Dhara segera menunjuk kamar Adya dan mengarahnya. Gulzar membaringkan Eve di atas tempat tidurnya. “Saya mau minta tolong kepada Nyonya untuk mengganti pakaiannya dan memanggil dokter untuknya dengan segera.” Ujar Gulzar dan dengan segera ibu Dhara menurutinya karena merasa khawatir dengan kesehatan menantunya.
“Aku katakan kepadamu jaga batasanmu kamu hanyalah sepupu angkat. Dia adalah urusanku sekarang.” Ucap Tala ketika Gulzar keluar dari kamar dan dihadang oleh Tala.
“Jika kamu bisa menjaganya dengan benar maka aku tidak akan mencampurinya. Aku katakan kepadamu bahwa kamu harus menjaganya dengan baik.” Ucap Gulzar yang tidak kalah dinginnya menatap ke arah Tala.
Gulzar langsung segera pergi setelah sebelumnya memberikan kalung di leher Eve dan bisa dipastikan bahwa tidak ada yang menyadarinya.
Waktu terus bergulir setiap harinya Tala semakin sibuk dengan urusan kantornya dan sibuk mengurus Adya yang penyakitnya semakin parah bahkan Tala jarang pulang ke mansion. Tala akan tidur di kamar rawat Adya atau tidak di kantor jika Adya menyuruhnya untuk pulang ke mansion.
“Kakak kita besok harus berangkat ke negara S untuk menjalani pengobatan di sana. Di sana dokter dan rumah sakitnya memadai.” Ucap Tala.
“Tidak aku tidak mau. Aku ingin di sini saja.” Tegas Adya menolak membuat Tala pusing.
“Tapi keadaan kakak semakin buruk di sini.” Ucap Tala merasa frustrasi dibuatnya.
“Aku tidak mau, aku tidak mau. Aku ingin di sini saja toh mereka juga adalah dokter yang hebat. Ingat hidup itu sudah ada yang mengatur. Aku ingin di sini ingin bersama dengan Eve, ayah, ibu dan kamu di sini tidak mau keluar negeri. Aku lelah Tala apakah kamu tidak mengerti hah.” Ucap Adya yang sudah berlinang air mata.
“Toh sama saja aku bakalan tetap mati cepat atau lambat. Jika kamu memaksaku maka aku tidak akan melakukan apapun di sana.” Ancam Adya yang frustrasi hal itu juga tentu saja membuat Tala sangat kesal dan ingin marah mendengarnya.
Alasan terbesar Adya ingin di rawat di negara K karena tidak mau kejadian Eve yang keguguran terulang lagi hanya karena semua orang khawatir dan merawat dirinya tidak dengan Eve. Tala hanya bisa pasrah ketika Adya tidak mau ke negara S untuk menjalani pengobatan. Sedangkan Eve disibukkan dengan urusan pasiennya dan juga Eve akan menemani Adya di ruang rawatnya jika Eve lagi sibuk dan hal itu akan membuat Tala keluar jika ada Eve. Eve hanya diam walaupun sebenarnya dirinya sedih dan berusaha bersikap biasa saja.
Tala keluar dari kamar Adya dan melihat Eve yang berdiri mematung di depan pintu kamar Adya. “Puas kamu hah. Kenapa tidak kamu saja yang mengalaminya.” Ucap Tala dengan menusuk Eve yang mendengarnya terdiam dan meneteskan air matanya.
Di rumah sakit Eve tidak banyak bicara dan banyak murung membuat dokter Raka yang melihatnya menghela nafas. “Apa yang sedang kamu pikirkan Eve?” Tanya dokter Raka yang sudah tidak memanggil Eve dengan embelan dokter atau dengan nama depannya.
Eve tersenyum menggelengkan kepalanya. “Kamu lihat sekarang hujan. Apa hujan tidak lelah ya jika mereka terus jatuh dan sakit belum lagi mendapatkan sumpah sarapah oleh manusia yang terkadang tidak menginginkannya. Namun tetap saja hujan memberikan rahmat dan tetap jatuh walaupun sakit.” Ucap dokter Raka.
Eve memandang dokter Raka dan tersenyum mendengarnya. “Jangan bersedih ada begitu banyak kebahagiaan yang bisa dilihat roda terus berputar. Kamu bisa menceritakan beban mu kepada ku sekarang kita adalah sahabat.” Ucap dokter Raka dan membuat Eve menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Kamu bisa menceritakannya jika kamu sudah siap aku selalu ada ketika kamu butuhkan.” Eve terkekeh mendengarnya dan berterimakasih kepada dokter Raka yang menghibur dirinya.
*Bersambung*