Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 70. Bertengkar untuk Pertama Kali


__ADS_3

Sementara Tala yang ditinggal Eve untuk melihat keadaan Ashi juga mengikuti namun Tala mendengar bahwa ada orang yang memanggilnya yang tidak lain adalah ibu Dhara.


“Tala kenapa kamu lama sekali?” Tanya ibu Dhara kepada anaknya, “di mana Eve?” Tanya ibu Dhara yang tidak melihat menantu keduanya itu karena tadi Tala mengatakan bahwa dirinya akan membawa Eve dan sudah mengurus libur Eve agar bisa merawat Adya sepenuhnya.


“Dia sedang merawat pasiennya ibu.” Jawab Tala.


“Kamu tidak memaksanya untuk mengambil libur kan?” Tanya ibu Dhara memicingkan matanya. Tadi terjadi perdebatan di antara Tala dengan ibu Dhara mengenai libur yang harus ambil.


Ibu Dhara berpikir dan memberikan saran ada baiknya bahwa ini harus dibicarakan baik-baik dengan Eve jangan mengambil keputusan tanpa mendengar pendapat Eve namun Tala anaknya itu memang keras kepala.


“Ibu kenapa di sini?” Tanya Tala mengalihkan pembicaraan.


“Kebiasaan.” Ucap ibu Dhara dengan kesal lalu menjewer telinga Tala dengan berjinjit membuat Tala merunduk. Selain sakit Tala merasa malu apalagi ini di depan umum.


“Ibu sakit malu.” Bisik Tala bahkan telinga sebelahnya yang tidak dijewer sudah memerah.


“Biarin.” Ujar ibu Dhara kesal.


“Eve sedang merawat Ashi sepertinya keadaan Ashi sedang tidak baik-baik saja.” Ucap Tala dengan cepat membuat ibu Dhara melepaskan jewerannya di telinga sang anak ketika mendengar nama gadis kecil bernama Ashi tersebut.


“Kenapa dengan Ashi?” Tanya ibu Dhara ke Tala membuat Tala menghela nafasnya.


“Bagaimana aku bisa tau jika ibu tadi memanggil aku tadi terus menjewer telingaku.” Ucap Tala dengan lirih di ujung kalimatnya.


“Kamu pantas merasakannya.” Ujar ibu Dhara yang ternyata mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tala membuat Tala melirik ke arah ibu Dhara dengan was-was.


“Ya sudah kamu kembalilah ke lantai atas nanti kita tanyakan ke Eve saja. Ibu harap gadis kecil itu baik-baik saja.” Ucap ibu Dhara dengan sedih.


Tala merangkul pundak ibunya itu, “ibu ini sudah paruh baya jangan terlalu banyak memasang ekspresi sedih nanti wajah ibu cepat menua.” Ucap Tala sengaja menggoda ibunya.


Ibu Dhara yang mendengarnya segera mencubit gemas pinggang anaknya itu membuat Tala tertawa karena merasa geli. “Anak siapa sih kenapa nyebelin sekali.” Gerutu ibu Dhara.


“Anak ibu Dhara dan ayah Davka.” Ucap Tala membuat ibu Dhara tertawa kesal mendengarnya.


“Kenapa ibu meninggalkan ayah sendirian pasti ayah sedang menahan rindu karena tidak ada ibu.” Goda Tala sekaligus mencibir kedua orang tuanya yang tidak bisa berjauhan satu sama lain tersebut.


“Kamu ini ya nanti ibu bilang ke ayah kamu biar di sunat dua kali.” Ujar ibu Dhara membuat Tala merasa ngeri. “Biar burung itu menghasilkan lagi siapa tau burung itu memang perlu di sunat.” Ucap ibu Dhara ceplas ceplos membuat Tala menganga tak percaya.


Tala tau bahwa ibunya ini ketika berbicara memang suka seenak jidatnya tak heran banyak orang akan berhati-hati dengan ibunya ini selain menjadi Nyonya besar keluarga terpandang.


Masalahnya ibunya terkadang tidak tau tempat seperti sekarang ini di depan umum dan dengan entengnya ibunya berkata semudah itu seolah tanpa dosa saja.


“Ibu ini itu rumah sakit.” Ingat dengan jengah ke ibunya itu.


Ibu Dhara melipatkan kedua tangannya di depan dada dan mengangkat dagunya sedikit ke atas. “Siapa bilang bahwa ini adalah kuburan.” Ujar ibu Dhara dengan sinis mencibir anaknya.

__ADS_1


Tala mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sudahlah menurut Tala tidak ada gunanya dirinya mengajak mengobrol dengan ibunya yang lebih berfaedah karena ujungnya ibunya ini akan melimpir ke mana-mana dan tidak bisa ditebak. Yang pasti juga ibunya akan selalu menang.


“Iya ratu ku.” Ujar Tala lalu bertingkah memberi hormat seperti di kerajaan-kerajaan yang dirinya waktu kecil tonton bersama ibunya itu.


Sesampainya mereka di lantai di mana Adya berada mereka melihat ayah Davka sedang duduk di kursi depan ruang rawat Adya.


“Kenapa ayah di sini?” Tanya ibu Dhara melihat suaminya itu dan mengusap bahunya pelan.


Ayah Davka menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu ibu Dhara sementara Tala yang melihatnya memutar bola matanya malas. “Ayah tidak mau mengganggu waktu istirahat putri ayah, ibu. Kasihan dia baru sadar tidur panjangnya.” Jawab ayah Davka kini tangan ayah Davka sudah melingkar di pinggang ibu Dhara.


Tala memicingkan matanya melihat kedua orangtuanya yang bermesraan tidak tau tempat tersebut. Jika dulu waktu kecil dirinya akan merasa sangat cemburu melihat ayahnya yang selalu menempel dengan ibu Dhara kini Tala merasa kesal karena dirinya terabaikan.


“Tolong ya dikondisikan.” Ujar Tala sembari tangannya melepaskan tangan ayah Davka yang ada di pinggang ibu Dhara.


Sementara di depan ruang operasi Ashi, Eve melihat lagi ponselnya dengan gelisah lalu menatap ke arah ibu Ashi karena merasa tidak enak meninggalkan ibu Ashi di sini dan tidak ada yang menemani namun dirinya sudah cukup telat untuk memeriksa pasiennya.


“Kak, maaf aku harus memeriksa beberapa pasien.” Ucap Eve dengan perasaan yang tidak enak.


Ibu Ashi menatap ke arah Eve, “maafkan aku Eve telah membuatmu terdiam cukup lama di sini. Pergilah jangan khawatir aku akan baik-baik saja.” Ujar ibu Ashi merasa tidak enak.


“Makasih kak nanti aku akan segera kembali ke sini lagi jika urusan aku udah selesai.” Ujar Eve ke ibu Ashi lalu mata Eve menatap ke arah dokter Raka.


“Aku akan di sini dan kebetulan aku sudah tidak ada pekerjaan lagi.” Ucap dokter Raka seolah tau arti tatapan mata Eve itu.


Eve yang mendengarnya mengucapkan terimakasih tanpa bersuara, dokter Raka yang melihatnya Eve yang tersenyum ke arahnya terdiam.


Dua hari setelahnya Eve tetap tidak mengambil libur yang telah dibuat oleh Tala setelah sempat membicarakan kepada para petinggi rumah sakit dengan dukungan dari ayah Davka.


Sudah ibu Dhara katakan bukan bahwa jika Eve sudah berkemauan keras maka tidak akan ada yang bisa mengubah keputusannya.


Sementara Tala dua hari ini pergi keluar kota jadi Tala sibuk dengan urusan kantornya dan kondisi Adya sudah ada perkembangannya walaupun Adya masih belum bisa bergerak dengan bebas namun Adya bisa duduk dengan bantuan kursi roda atau dibantu oleh orang lain.


Sehingga jika Adya merasa bosan maka dirinya akan meminta tolong ke perawat atau pengawalnya untuk keluar dari ruang rawatnya sekedar menikmati taman atau berinteraksi dengan para pasien lain yang ditemuinya seperti sekarang ini Adya berada di taman dengan selang infus yang menempel di belakang tangannya.


Eve saat ini baru saja selesai mengoperasi pasiennya hal itu membuat leher Eve terasa pegal. Operasi yang dilakukannya selama tiga jam. “Ahh apa ya yang dilakukan kak Adya?” Tanya Eve dengan dirinya sendiri dan melihat jam di dinding sudah pukul 3 sore.


Setelah mengatakan itu ponsel di dalam sakunya bergetar menampilkan Adya yang sedang menatap ke kamera dengan tersenyum Eve yang melihatnya juga tersenyum. “Kakak berada di taman.” Ujar Eve lalu membalas pesan tersebut dengan emotikon hati.


Eve memang selalu meminta foto ke pengawal Adya mengenai apa yang dilakukan Adya jika pergi keluar dari ruang rawatnya. “Jangan terlalu lama ya kak cepatlah kembali ke kamar kakak.” Ujar Eve dengan tersenyum. “Aku baru saja menyelesaikan operasi.” Balas Eve lagi.


Sementara di taman pengawal yang mengirimkan foto Adya ke Eve membaca dan memperlihatkan isi pesan Eve ke Adya hal itu memuat Adya sangat senang. “Bukankah dia terlihat menggemaskan.” Ujar Adya dan pengawalnya menganggukkan kepalanya sembari ikut tersenyum.


“Aku rasa cukup di sini aku ingin ke ruangan Eve.” Pinta Adya dan dengan segera diangguki oleh pengawalnya itu.


Eve meletakkan ponselnya lalu merebahkan tubuhnya sejenak sekitar lima menit baru setelahnya Eve berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian santai karena dirinya sudah selesai bekerja.

__ADS_1


Eve memang sengaja mengambil waktu pagi sekitar jam 4 lalu pulang jam 3 sore atau setengah 4 sore karena ingin meluangkan waktunya untuk Adya.


Eve keluar dari dalam kamar mandi sambil bersenandung dan terlihat segar. Lalu mata Eve menatap ke arah seonggok daging manusia yang sedang duduk di sofa dengan tatapan tajamnya ke arah Eve.


“Apa kamu sengaja tidak mengunci pintu ruangan mu agar laki-laki bisa masuk ke sini hah.” Ucap Tala sarkas membuat Eve terdiam tidak mengerti.


“Apa maksud kak Tala, tadi ada pengawal di depan.” Ujar Eve dengan santai. Eve tidak ingin meladeni Tala karena dirinya sedang PMS sekarang dan sepertinya bulan ini dirinya sangat sensitif dan mudah kesal. Terkadang Eve merasa kesal sendiri dengan hormonnya seperti itu namun mau bagaimana lagi namanya juga perempuan.


“Lalu bagaimana dokter itu bisa masuk?” Tanya Tala sembari tangannya menunjuk ke arah luar.


Kini keduanya sudah berdiri saling berhadapan dengan jarak satu meter. “Kamu ini membangkang ya, apa kamu bisa menurut saja. Dan sekarang aku sudah menyuruhmu untuk libur dan menyusun jadwal libur agar kamu bisa merawat istriku.” Ucap Tala dengan tajam.


Eve menatap kesal namun Eve berusaha untuk menahannya dengan menghela nafasnya. “Kak tenanglah aku sudah meminta pendapat ayah dan ibu mengenai hal ini dan mereka menyetujuinya lagipula aku sudah memberitahukan aku menolak jika aku harus libur. Tolong mengertilah.” Ucap Eve dengan lembut.


Namun Tala malah mendecih, “aku tidak peduli mulai besok kamu tidak boleh bekerja lagi sampai Adya benar-benar pulih.” Ultimatum Tala.


“Kak jangan egois aku mau bekerja.” Ucap Eve dengan tegas nafasnya terengah-engah menahan emosinya yang memuncak. “Tolong.” Lanjut Eve mengatur emosinya.


“Kita urus saja urusan masing-masing seperti yang telah lalu okai.” Ujar Eve dengan lembut.


Tala berjalan mendekat ke arah Eve namun Eve yang biasanya memundurkan kakinya agar memberi jarak antara dirinya dan Tala jika Tala sudah seperti ini namun kali ini Eve diam saja.


“Kamu sudah berani.” Ucap Tala.


“Iya aku memang sudah berani. Aku mengerti bahwa kamu sangat khawatir dengan kak Adya sama aku juga dan aku sendiri sudah menganggap kak Adya sebagai kakak aku sendiri. Tapi, kamu tidak bisa seenaknya melarang aku untuk bekerja hanya karena aku harus merawat kak Adya. Banyak orang dan kamu banyak pengawal kan yang akan menjaganya lagipula uang tidak akan berkurang jika mengambil salah satu dokter yang ada di rumah sakit ini untuk menjadi dokter pribadi kak Adya.”


“Aku juga akan memantaunya walaupun aku bekerja setengah dari hari yang aku miliki, aku habiskan waktu bersama kak Adya. Lagipula masalah dokter laki-laki yang kamu maksud bukankah itu juga bukan urusanmu. Kamu sendiri yang mengatakan dan menekankan bahwa jangan mencampuri urusan masing-masing. Lalu sekarang kenapa kamu seolah ikut campur di sini siapa yang melanggar surat kontrak pernikahan itu.” Ucap Eve.


“Aku rasa itu berlebihan dengan apa yang kamu lakukan hubungan kita bukanlah hubungan layaknya sepasang suami istri pada umumnya.” Ujar Eve kembali dengan nafasnya yang terengah-engah. “Jadi, urus urusan masing-masing jangan mencampuri urusan ku sama aku juga tidak akan mencampuri urusan mu. Huh, tinggal dua bulan lagi bukan perceraian itu maka selanjutnya aku akan pergi jauh jika tidak membuatmu nyaman.” Ucap Eve. “Maafkan aku yang kurang sopan.”


Setelah mengatakan itu Eve berlalu pergi keluar dari ruangannya dan saat Eve membuka pintunya dan melihat seseorang dengan kursi rodanya membuat Eve terdiam.


Adya yang meminta pengawalnya untuk mengantarnya ke ruang kerja Eve melihat Tala yang berjalan ke ruang Eve juga.


Adya juga melihat bagaimana Tala menatap tajam dokter Raka yang keluar dari ruangan Eve membuat Adya tersenyum melihatnya sembari menggelengkan kepalanya.


Adya tidak bisa mendengar pembicaraan dua pria dewasa itu namun tampaknya sangat serius dan menegangkan.


Adya meminta pengawalnya untuk berhenti sejenak baru melanjutkan mendorongnya ke ruang kerja Eve. Namun, sesampainya di depan ruang kerja Eve, Adya terdiam cukup lama sembari memasang telinganya untuk mendengar suara dari dalam namun Adya sama sekali tidak mendengarnya.


Adya pun memutuskan untuk kembali ke ruang rawatnya saja mengingat di dalam ada Tala dan tidak mau mengganggu Eve dan Tala karena mungkin ada yang ingin dibicarakan.


Saat Adya berbalik samar-samar Adya mendengar suara keributan di dalam ruang Eve karena pintu ruang kerja Eve tidak tertutup rapat. Sebenarnya ruang kerja Eve kedap suara tapi harus ditekan dengan remote berbarengan remote AC untuk mengaktifkannya namun sepertinya Eve tidak mengaktifkannya.


Sehingga terjadilah di mana Adya mendengar pertengkaran yang terjadi antara Tala dengan Eve.

__ADS_1


 


*Bersambung*


__ADS_2