Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 72. Meninggal


__ADS_3

Dering ponsel membuat lamunan Eve terhenti dengan segera Eve merogoh isi tas yang berada di atas pangkuannya itu.


Tertera nama Id penelpon yaitu kak Airen nama ibunya Ashi dengan segera Eve menjawab panggilan telepon tersebut.


“Halo kak.” Sapa Eve setelah sebelumnya sempat menetralkan tenggorokannya yang habis menangis itu.


Eve mendengar suara Airen yang tersedu membuat Eve menegakkan tubuhnya, “halo kak apa terjadi sesuatu dengan Ashi?” Tanya Eve khawatir.


“Eve, A-ashi sudah meninggal.” Ucap Airen dengan isak tangisnya membuat Eve terdiam karena terpaku mendengar kabar yang mengejutkannya itu.


“Kakak tunggu di sana Eve akan segera ke rumah sakit.” Ujar Eve lalu mematikan sambungan teleponnya. “Pak tolong ke rumah sakit A.” Pinta Eve dengan segera diangguki sopir taksi tersebut.


Eve memainkan bibirnya dengan ibu jari dan telunjuknya dengan cemas banyak hal yang dipikirkan Eve termasuk pesan yang tempo hari mengatakan bahwa penderitaannya akan dimulai.


Satu persatu masalah muncul dan orang terdekatnya yang ikut mendapatkan penderitaan oleh orang yang sedang mengancamnya itu.


Sesampainya di depan lobi rumah sakit sebelum Eve turun Eve memberikan sepuluh lembar uang merah ke sopir taksi tersebut lalu segera membuka pintu mobil.


“Nona ini terlalu banyak.” Ucap sopir taksi tersebut ke Eve.


“Tidak apa-apa itu semua buat bapak anggap saja ini rezeki dari Tuhan untuk dikasih ke bapak. Terimakasih.” Ujar Eve lalu segera berlari bahkan Eve yang sedang mengena sepatu hak tinggi sempat keseleo namun Eve tidak patah semangat untuk tiba di ruangan di mana Ashi berada.


Dokter Raka juga ikut menyusul Eve di belakangnya, “kenapa dia larinya cepat sekali. Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya dokter Raka dengan dirinya sendiri.


Di depan lobi dokter Raka bertemu dengan suaminya Eve namun dokter Raka tidak menggubrisnya dan fokus mengejar Eve ternyata Eve berjalan ke ruangan Ashi.


“Kakak.” Panggil Eve ke Airen yang kini sudah menangis sambil memeluk Ashi yang sudah dilepaskan alat-alat yang menempel di hidungnya itu.


“Eve Ashi Eve selamatkan Ashi aku mohon Eve.” Isak tangis Airen sembari tangannya dikatupkan dan memohon ke Eve.


Mata Eve berembun dan sebentar lagi air matanya akan menetes kembali, “Ashi,” ucap Eve sambil berjalan mendekat ke arah Ashi yang terbaring lemah dan wajah pucatnya.


“Kenapa ninggalin kakak.” Ucap Eve yang kini ikutan bersama Airen yang menangis.


Pintu ruangan terbuka kembali menampilkan dokter Raka yang terengah-engah mengatur nafasnya dan menatap kedua wanita yang sedang menangis tersedu-sedu ke arah Ashi yang hanya diam saja.


“Ashi bangun, Ashi bangunnnnnnnnnnn jangan tinggalkan mama Ashi.” Isak tangis Airen ke arah putrinya itu.


Dokter Raka terduduk lemah di atas lantai mendengar kabar bahwa gadis kecil yang baru kemarin memanggilnya ayah tersebut kini sudah meninggal.


Kata-kata Ashi yang terngiang jelas di ingatannya. “Dokter Raka, apa Ashi boleh memanggil dokter dengan sebutan ayah?” Tanya Ashi dengan wajah polosnya dan dokter Raka mengangguk dengan cepat karena merasa senang akhirnya Ashi mulai ingin lebih akrab dengannya.


Ada seorang pria dewasa yang menerobos masuk dan menatap ke arah Ashi. Dokter Raka tidak mengenalinya begitu juga dengan Eve.


Pria tersebut memeluk Airen dan mengusap bahu Airen yang menangis karena meninggalnya Ashi. “Airen tenanglah Ashi tidak akan tenang di atas sana jika kamu seperti ini.” Ujar pria tersebut.


Eve bisa melihat sekali kasih sayang yang terpancar di wajah tampan laki-laki itu. Ya Eve akui bahwa pria yang sedang memeluk ibunya Ashi itu tampan.


“Ashi, Jo dia meninggalkan aku sekarang aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi.” Isak tangis Airen membuat pria bernama Jo itu memejamkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Keduanya bersahabat dan mereka baru bertemu baru-baru ini setelah sekian lama.


Dokter Raka menatap arah Eve yang terlihat sesekali menggelengkan kepalanya lalu kedua tangan Eve yang memegang kepalanya.


Melihat Eve yang sepertinya hendak pingsan membuat dokter Raka dengan sigap berjalan ke arah Eve dan benar saja dugaannya bahwa Eve pingsan.

__ADS_1


Pingsannya Eve membuat pria bernama Jo itu menoleh menatap ke arah dokter Raka dan Eve begitu juga dengan Airen.


“Ada apa dengan Eve?” Tanya Airen dengan tetap menangis.


“Entahlah mungkin dia sedang kelelahan aku akan mengantarnya ke ruangannya.” Ucap dokter Raka dan mendapatkan anggukan kepala dari Airen.


Airen merasa terharu dengan Eve karena saking sayangnya Eve kepada anaknya Ashi sampai Eve pingsan karena menangis.


Padahal faktornya bukanlah hal itu melainkan Eve yang sudah lelah fisiknya karena menangis perihal rumah tangganya yang akan segera berakhir membuat Eve merasa pusing karena menangis hal itu membuat Eve pingsan.


Dokter Raka menggendong Eve dan kembali berpapasan dengan Tala yang sedang terlihat mondar mandir di lobi rumah sakit seperti menunggu seseorang. Sudahlah dokter Raka tidak mau memikirkannya karena menurutnya suami Eve itu sudah sangat keterlaluan.


Pengawal Ai yang melihat dokter Raka menggendong seorang wanita dengan sedikit berlari. “Nona muda.” Ucap pengawal Ai dengan lirih namun didengar oleh Tala yang berdiri tidak jauh dari pengawal Ai.


Tala yang melihat arah pandangan pengawal Ai menatap dokter Raka yang sedang menggendong seorang wanita yang tentu saja Tala tau.


Dengan segera Tala berjalan mengikuti ke mana dokter Raka membawa istrinya dalam keadaan tidak sadarkan diri itu.


Di dalam kepala Tala bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi kenapa Eve membiarkan tubuhnya dipegang oleh laki-laki lain. Memikirkannya membuat Tala semakin dingin.


Dokter Raka meletakkan Eve di sofa ruang kerjanya dengan kepala Eve yang berada di atas kedua pahanya. “Eve bangunlah.” Tepuk dokter Raka ke pipi Eve namun Eve tidak bangun.


Pintu ruang kerja Eve terbuka. “Apa yang sedang kamu lakukan kepada istriku kenapa kamu menggendongnya?” Tanya Tala dengan dingin namun dokter Raka seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Tala kepadanya.


Dokter Raka meletakkan kepala Eve di sofa yang dia ambil di atas sofa tersebut tepatnya di samping badan Eve lalu memeriksa Eve dengan sedikit membuka kancing kemeja Eve.


Tala menggeram melihat aksi yang dilakukan oleh dokter Raka dengan segera Tala menepis tangan dokter Raka membuat dokter Raka menatap tajam ke arah Tala.


Tala segera merapikan kancing baju atas yang dibuka oleh dokter Raka kepada Eve yang sedang tidak sadarkan diri.


“Apa peduli mu. Pedulikan saja istri pertama mu bukankah sebelumnya kamu tidak peduli kepadanya sama sekali.” Ucap dokter Raka penuh penekanan.


Keduanya berada pandangan siapa yang paling tajam, Eve mengerjapkan kedua matanya dan menatap ke atas lalu beralih ke dua pria yang kini sudah mencengkram kerah kemeja satu sama lain.


Eve memegang kepalanya yang terasa sakit ketika dirinya memaksakan untuk duduk. Ringisan Eve terdengar membuat kedua pria yang menatap tajam tadi menoleh ke arah Eve.


Eve bangkit dari berdirinya di sofa dan sedikit linglung beruntung dokter Raka dan Tala dengan sigap menyelamatkannya membuat Eve menatap keduanya.


Eve melepaskan pergelangan tangannya yang dipegang oleh Tala begitu juga sebaliknya ke dokter Raka.


Saat ini Eve tidak ingin bicara apa pun dan ingin ke ruang Ashi karena pasti Ashi akan dipulangkan dan dikuburkan.


Eve berjalan dengan pelan meninggalkan kedua pria yang sedang memang kepergian Eve tersebut. “Sekali lagi kamu menyentuh istriku maka aku tidak akan tinggal diam untuk membuatmu menderita.” Ancam Tala lalu pergi meninggalkan dokter Raka dan menyusul Eve.


Tala yang berdiri di lobi tadi memang sedang menunggu Eve untuk kembali ke rumah sakit karena saat ini keadaan Adya semakin lemah.


Tala ingin Eve tetap berada di sisi Adya karena tau bahwa hanya Eve yang bisa menyemangati Adya dan membuat Adya kembali ceria.


Tala menggenggam tangan Eve yang sedang berjalan pelan tersebut lalu membawanya menuju ke lift khusus menuju ke lantai atas di mana ruangan Adya berada.


Eve melepaskan genggaman tangan Tala dengan keras. “Lepaskan aku aku ingin bertemu Ashi.” Ucap Eve dengan mata yang berkaca-kaca.


“Kak Adya sedang membutuhkan mu tadi dia mencarimu.” Ujar Tala memberitahu.

__ADS_1


“Nanti aku ke sana sekarang aku harus ke ruangan Ashi.” Ucap Eve membuat Tala mengepalkan kedua tangannya.


Tanpa banyak kata akhirnya Tala menggendong Eve membuat Eve terkejut karena merasa takut jatuh Eve dengan reflek mengalungkan kedua tangannya di leher Tala. “Turunkan aku, aku ingin bertemu Ashi.” Ucap Eve meronta-ronta.


“Jangan banyak bergerak nanti terjatuh.” Ujar Tala ke Eve namun Eve tetap saja memberontak.


Melihat Eve yang terus memberontak membuat Tala menurunkan Eve dari gendongannya. Melihat hal itu dengan segera Eve pergi sesuai dengan niat awalnya.


Namun ternyata pergerakan Eve kalah cepat dengan Tala sehingga sekarang Tala memepet Eve ke dinding dan mencium bibir Eve.


Eve melototkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilakukan Tala kepadanya. Eve menggigit bibir Tala sampai berdarah.


Tanpa banyak kata Eve pergi secepat mungkin dari Tala agar bisa ke ruangan Ashi. Tala terdiam dan menyeka bibirnya yang berdarah.


Lalu menatap punggung Eve yang kini sudah hilang dibalik belokan lorong.


Eve berjalan cepat ke ruangan Ashi sesampainya di sana Ashi sudah siap dipindahkan ke ruang mayat untuk dibersihkan.


“Ashi.” Panggil Eve membuat Airen dan Jo menoleh ke arah di mana Eve berada.


Airen tentunya sangat lemah sehingga harus dipapah oleh Jo untuk berjalan maupun berdiri.


“Ashi mau dibawa ke mana kak?” Tanya Eve dengan menangis.


“Dia akan dimandikan Eve dan kami akan menguburnya hari ini juga.” Ucap Airen dengan sedih air mata Airen juga terus menumpahkan cairan asin tersebut.


“Tidak, Ashi belum pergi kak dia masih hidup.” Ucap Eve dengan menolak percaya sepertinya pikiran Eve sedang tidak baik-baik saja.


Airen menggelengkan kepalanya. “Aku juga berharap seperti itu Eve namun kenyataannya Ashi sudah meninggal kita.” Ucap Airen menangis dan lemah beruntungnya Jo memegang Airen dengan kuat.


Tak jauh berbeda Eve juga merasa kakinya terasa lemah dan ada dokter Raka yang memeluk tubuh Eve. “Ashi tidak mungkin meninggalkanku kan kak Raka.” Ujar Eve dengan pandangan kosongnya.


“Jangan begini Eve nanti Ashi sedih di atas sana.” Ucap dokter Raka yang masih memeluk Eve.


Bahkan kini Eve menangis di dalam pelukannya semua yang dilakukan Eve diperhatikan oleh Tala.


Melihat dokter Raka yang memeluk Eve membuat Tala merasa marah apalagi Eve terlihat begitu nyaman menangis dipelukan dokter Raka.


Dokter Raka menatap ke arah Tala yang sedang memandang dirinya dengan Eve namun dokter Raka tidak peduli yang terpenting sekarang ada dirinya harus berusaha menenangkan Eve.


Dokter Raka membawa Eve mengikuti Airen dan Jo yang menunggu di depan ruang jenazah. Tala juga berjalan mengikuti keempat orang itu karena merasa tidak suka melihat Eve yang menangis di dalam pelukan dokter Raka.


Namun, Eve yang tidak sadar dengan apa yang dilakukannya sedangkan pikirannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Jenazah Ashi sudah selesai dibersihkan, Eve yang melihatnya melepaskan pelukannya dari dokter Raka dan memandang sedih ke arah Ashi.


Tala yang melihat Ashi dan dirinya baru tau bahwa Ashi sudah meninggal. Jika bukan karena mengikuti Eve maka dirinya tidak akan tau bahwa gadis kecil nan menggemaskan yang pertama kali melihatnya dan memanggil dirinya pangeran itu sudah meninggal.


Pantas saja tadi Eve menolak dirinya ketika diajak ke ruang rawat Adya dan ketika dirinya mengendong dengan cepat Eve meronta-ronta ternyata karena Ashi yang sudah meninggal.


Tala berpikir tadinya ingin menyeret Eve dan kembali membawa Eve secara paksa serta berpikir bahwa Eve sudah tidak ingin melihat Adya lagi karena dirinya atau Eve ingin menghindarinya dengan alasan ingin bertemu dengan Ashi. Sungguh percaya diri sekali Tala.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2