
“Apa yang membuatmu seperti ini?” Tanya Tala dengan lirih tanpa sadar membuat Eve yang mengelap satu piring terhenti sebentar lalu melanjutkannya.
Tala memandang punggung Eve lalu melihat bagaimana Eve yang sudah selesai dan melepaskan sarung tangan cuci piring di kedua tangannya.
Tidak mungkin Eve tidak mendengar apa yang dikatakannya dengan lirih dan tanpa sadar akhirnya Tala mengulang kembali pertanyaannya saat melihat Eve yang hendak berjalan pergi.
“Kenapa?” Tanya Tala membuat langkah kaki Eve berhenti dan menatap ke depan dengan pandangan kosongnya.
“Tolong jangan tanya apapun seperti apa yang kamu lakukan dulu.” Ujar Eve mengepalkan kedua tangannya.
“Kenapa?” Tanya Tala kembali membuat Eve membalikkan badannya dan tersenyum miris ke arah Tala.
“Kenapa apanya?” Tanya Eve berpura-pura membuat Tala menghela nafasnya.
“Kita perlu bicara berdua.” Ujar Tala lalu berjalan pergi dan duduk di sofa menunggu Eve di sana.
Eve yang melihat Tala sudah duduk di sofa menatap ke arah Tala yang memandang layar TV di depannya namun TV itu mati.
“Baiklah Eve kamu harus menyelesaikan ini biar obrolan ini tidak ada lagi setelahnya.” Ucap Eve di dalam hatinya.
Eve duduk jauh dari Tala membuat Tala memperbaiki posisinya menunggu untuk Eve mulai berbicara namun Eve hanya menundukkan kepalanya.
Sudah hampir lima belas menit keduanya diam dengan pemikirannya masing-masing, “jadi, kenapa kamu tetap memilih untuk bercerai.” Ujar Tala pada akhirnya.
Eve tersenyum miris mendengarnya, “bukankah itu memang sudah seharusnya.” Balas Eve dengan kosong.
Tala memijit kepalanya pusing, membicarakan hal ini sungguh Tala tidak menyukainya Tala tidak suka mengulang apa yang ingin dibicarakan tapi ini demi keselamatan dan kesehatan Adya jadi hal ini harus dilakukannya.
“Aku akan memperpanjang masa pernikahan kita sampai Adya benar-benar bisa sembuh.” Ujar Tala membuat Eve mendongakkan kepalanya.
“Bukankah kamu ingin mendapatkan perhatian dari ibu dan ayah aku jadi kamu bisa menikmati perhatian yang kamu inginkan. Bukankah dari dulu memang seperti itu.” Ujar Tala dengan sinis ketika mengucapkan kalimat terakhirnya kepada Eve.
Eve tentu saja merasa sakit hati namun Eve tidak mau memikirkannya karena Eve akan mencoba membuat dirinya mati rasa dengan semua rasa yang akan datang kapan saja entah itu bahagia atau sangat menyedihkan sekali pun.
Bukankah semuanya sudah dirasakan Eve dan lebih parah dari apa yang sudah terjadi dan Eve sudah melalui dirinya.
“Sesuai dengan kesepakatan awal kita akan tetap bercerai.” Ujar Eve dengan tegas dan menyatukan kedua tangannya di atas pahanya untuk menguatkannya.
Tala menatap Eve dengan dingin dan tajam. “Ternyata kamu masih sangat egois.” Ucap Tala dengan datar.
Eve menggigit bibir dalamnya mendengarnya, “bahkan setelah apa yang aku lakukan aku tetap egois.” Ucap Eve di dalam hatinya.
__ADS_1
“Bukankah sudah seharusnya aku hanya mengikuti kesepakatan yang telah dibuat. Lagian tidak ada alasan untuk mempertahankan pernikahan ini karena aku tidak mencintaimu begitu juga sebaliknya.” Hati Eve bagaikan tertusuk benda yang sangat tajam ketika Eve mengatakan bahwa Eve tidak mencintai laki-laki di depannya.
“Kamu berbohong lagi Eve.” Batin Eve berkata ketika Eve selesai dengan perkataannya. “Lihat Eve dia menatap mu keheningan ini membuat canggung.” Sorak batin Eve lagi.
Tala mengepalkan kedua tangannya dan menatap Eve dengan remeh, “benar bagaimana bisa aku mencintai seseorang seperti mu aku tidak akan tertipu dengan mudah untuk dua kali.” Ujar Tala dengan dingin.
“Bahkan kamu tidak berterimakasih sama sekali dengan perhatian yang sudah diberikan ibu, ayah dan istriku kepada mu.” Lanjut Tala pedas. “Jika kamu menghargainya mereka maka kamu akan setuju untuk menunda perceraian ini demi mereka.”
“Apakah kasih sayang mu kepada mereka juga palsu sama seperti dirimu yang penuh dengan kepalsuan.”
Eve mengangkat kepalanya ke arah Tala yang sedang memandanganya dengan mata yang sangat merah dan tajam serta rahangnya sangat keras dan kedua tangan Tala mengepal kuat.
Eve bisa menebak bahwa Tala sedang menahan emosinya, “kasih sayang aku sama mereka tulus namun untuk pernikahan ini tidak ada alasan lain untuk mempertahankannya karena ini baik untuk kita berdua dan semua orang.” Ujar Eve lalu bangkit dari duduknya.
“Aku belum selesai berbicara.” Ujar Tala dengan dingin membuat Eve kembali duduk. Eve sebenarnya sudah sangat tidak tahan untuk membicarakannya karena akan melukai hatinya sangat dalam.
“Apa kamu masih mencintainya?” Tanya Tala kepada Eve membuat Eve mengernyitkan dahinya, “atau kamu sudah jatuh cinta dengan dokter itu?” Ujar Tala dengan sangat sinisnya.
“Apa pun perasaanku kamu tidak perlu tau bukankah di dalam surat perjanjian itu kita tidak boleh mencampuri urusan satu sama lain dan aku berpegang pada apa yang tertulis jelas di sana.” Ujar Eve dengan tegas.
Tala menegakkan duduknya mendengar perkataan Eve dan menatap Eve sangat tajam, “seorang laki-laki akan memegang janjinya dan menepati janjinya itulah laki-laki sejati. Aku rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita kamu jangan khawatir aku tidak akan meminta sepeserpun harta dari milik keluarga mu begitu juga dengan keluarga yang sudah memberi ku tempat untuk sampai ke tahap ini mereka tidak akan bisa mengemis kepada mu lagi karena aku akan melepaskan segalanya.” Eve bangkit dan berjalan ke arah kamar.
“Bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku masih mencintaimu.” Ujar Tala menghentikan langkah kaki Eve namun tidak membuat Eve berbalik.
Tala menelpon seseorang yang tidak lain adalah pengawal Bee. “Ke sini sekarang cepat.” Perintah Tala dengan dingin ke pengawal Bee membuat pengawal Bee yang sedang bersama dengan pengawal Ai di bawah apartemen Tala segera pergi.
Tala keluar dari apartemen dan berpapasan dengan pengawal Bee yang hendak masuk. “Tuan muda.” Sapa pengawal Bee sambil menundukkan kepalanya.
Pengawal Bee merasakan hawa yang sangat dingin dari raut wajah Tuan mudanya itu dan memikirkan apa lagi yang dilakukan oleh Nona mudanya dan apa yang terjadi di antara keduanya.
“Jangan keluar tanpa menutup dengan benar pintu apartemen dan jangan lupa mengunci jika keluar seperti biasa jangan sampai lengah.” Ujar Tala lalu segera pergi meninggalkan pengawal Bee yang hanya diam mengiyakan
Sementara Eve yang pergi ke kamar kini merosotkan tubuhnya di jendela kaca apartemen yang tidak bisa dibuka itu dengan pandangan kosong. “Iya tidak ada alasan karena tidak ada cinta di pernikahan kita. Kamu sudah memberikan alasan yang jelas Eve jangan menangis.” Ujar Eve sambil mengusap air matanya.
Pengawal Ai yang melihat pengawal Bee tergesa-gesa ke apartemen Tuan muda mereka segera turun dan duduk di dalam mobilnya.
Tepat tak lama dirinya duduk pengawal Ai melihat wajah tidak ramah dari Tala dan mengendarai mobil sport miliknya dengan kecepatan penuh.
Pengawal Ai yang melihatnya kewalahan mengejarnya beruntungnya dirinya bisa melacak kepergian dari Tala tersebut dengan mobil sport yang sudah dipasangkan GPS jika terjadi keadaannya yang mendesak seperti ini.
“Apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya?” Tanya pengawal Ai dengan duduk gelisah.
__ADS_1
Mobil sport Tala berhenti di sebuah bar yang sangat terkenal dan termahal orang yang masuk hanya kelas VVIP dan identitas tentu saja dirahasiakan.
Pengawal Ai menghela nafasnya dengan pelan melihat Tuan mudanya yang masuk seperti itu. Sungguh wajah Tala sangat tidak enak di lihat karena sangat dingin, datar dan tajam.
Di senggol sedikit saja pasti akan membuat Tuan mudanya itu akan sangat marah dan membabi buta menghajar siapa pun.
“Halo sekretaris Diego, Tuan muda pergi ke bar A sendiri. Suasana hati Tuan muda sedang tidak baik-baik saja.” Ujar pengawal Ai karena dirinya tidak bisa masuk karena sudah dilarang oleh Tala ketika waktu itu keadaan ini terjadi.
Walaupun Tala sangat dingin Tala tidak akan membiarkan pengawal wanitanya masuk ke dalam bar dan penjaga bar juga mengetahui dirinya.
Sekretaris Diego datang menemui asisten bosnya itu, “apa yang sebenarnya terjadi dengan Tuan muda kenapa dia pergi ke bar.” Ujar sekretaris Diego membuat sang asisten tersebut kaget dan memandang sekretaris Diego dengan tajam.
“Bukankah seharusnya dia saat ini harus senang dan bahagia karena menikmati waktu bersama dengan istri keduanya.” Gumam asisten Tala bingung dengan suasana hati Tala.
“Jelaskan kepadaku apa yang terjadi antara Eve dan Tala?” Tanya sekretaris Diego yang sudah tidak sabar dengan sang asisten tersebut. Bahkan sekretaris Diego tidak menyebut embelan Tuan muda dan Nona muda lagi kepada Eve dan Tala.
“Aku tidak tau. Sebaiknya kita segera pergi.” Ujar asisten Tala tersebut namun sekretaris Diego menghentikan langkahnya bahkan hanya berjalan dua langkah.
“Kenapa?” Tanya asisten Tala tersebut melihat sekretaris Diego hanya diam saja.
“Aku tidak ikut karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, lagipula itu tidak akan mudah kamu tau sendiri seperti yang sudah-sudah dan masalahnya hanya satu Elakshi Feshika Adwitya.”
Asisten Tala tersebut menghela nafasnya melihat sekretaris Diego, “jadi, kamu membiarkan aku pergi sendiri.” Pekik asisten Tala tersebut kepada sekretaris Diego.
Sekretaris Diego mengedikkan bahunya, “aku tidak bilang begitu tapi kalau kamu mau juga tidak apa-apa jadi pekerjaan aku tidak cukup banyak apalagi kamu tau aku harus memulai kebohongan untuk memberikan keterangan kepada Nyonya dan Tuan besar mengenai anak dan menantunya bukankah pekerjaan aku juga sulit.”
Asisten Tala mengacak rambutnya yang tidak gatal karena merasa sangat kesal baik kepada sekretaris Diego dan juga Tala. “Kenapa aku punya sahabat menyusahkan saja seperti kalian.” Gerutu asisten Tala kesal.
“Itu risiko karena berteman dengan seorang sekretaris dari pewaris utama keluarga terkaya no. 1 di negara ini dan di benua A ini.” Ujar sekretaris enteng.
“Berbicara dengan mu sama menyebalkannya dengan Nabastala. Awas saja jika kamu tidak datang nanti aku akan menggedor pintu apartemen mu dan menyuruh orang untuk membongkar keamanan apartemen mu itu.” Ucap asisten Tala membuat sekretaris Diego hanya mendengus mendengarnya.
“Aku tidak sebodoh dirimu untuk membiarkan Nabastala di luar dalam keadaan mabuk aku masih sayang dengan gaji aku tidak seperti dirimu yang sudah dipotong itu wleeeee.” Sekretaris Diego tentu saja tau karena dirinya mendapatkan pesan yang dikirim Tala bahwa dirinya harus memotong gaji sang asisten bernama Kaivan itu sepuluh persen walaupun dirinya tidak tau apa yang terjadi karena yang pasti cepat atau lambat dirinya akan mendengar sendiri dari Kaivan jika dirinya mengeluh nanti.
“Awas saja jika kamu tidak datang ke bar nanti.” Ancam asisten Kaivan dengan kesal ke sekretaris Diego.
Tala jika sudah mabuk maka akan sangat merepotkan biasanya jika dilarang dan Tala belum tumbang maka Tala akan menghajar siapa pun yang mengganggunya dan hanya akan menyebut satu nama. “Kenapa sih gengsi ditinggikan ditinggal menangis lagi.” Gerutu asisten Kaivan.
Hal ini lah yang membuat sekretaris Diego dan asisten Kaivan menjauh dari yang namanya perempuan sampai mereka berdua benar yakin bahwa Tala tidak seperti ini lagi entah sampai kapan. Atau itu hanyalah alasan keduanya karena masih ingin bebas melihat perempuan cantik dan tentunya aduhai. Mata laki-laki yang tidak bisa melihat perempuan cantik dengan badan yang aduhai seperti sekretaris Diego dan asisten Kaivan.
__ADS_1
*Bersambung*