Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 35. Mimpi


__ADS_3

Di dalam kamar pakaian Eve sudah digantikan dengan pakaian tidur. Pakaian tidur yang baru saja dibelikan oleh pengawal wanita karena suruhan Tala.


Tala melihat keadaan Eve yang tertidur pulas dan sangat tenang. Mungkin ini adalah efek dari obat bius yang diberikan oleh pengawal wanita miliknya tadi.


Tala segera keluar lagi dari kamar karena merasa sumpek pikirannya dan memijat pelipisnya.


Di dalam apartemen ini terdapat tiga kamar. Satu kamar adalah tempat istirahat untuk Tala dan satu lagi dijadikan ruang kerja.


Sementara satu kamar lagi yang tersisa sangat jarang Tala buka karena ada sesuatu yang tidak ingin Tala bagi kepada semua orang. Hanyalah dirinya sendiri.


Kamar yang segala rahasia Tala ada disitu. Jika pikirannya lahi gelisah dan perasaannya lagi khawatir maka Tala akan datang dan melihat.


Menghela nafasnya lelah setelah membuka kamar yang berada di sebelahnya. Lalu merebahkan kembali tubuh tinggi dan kekarnya di sofa depan kamar miliknya.


POV ON (Mimpi Eve)


Eve melihat pemandangan yang ada di sekelilingnya.


Hamparan rumput berwarna hijau seperti di lapangan bola.


"Sangat sejuk dan menenangkan." Ucap Eve sambil merentangkan kedua tangannya.


Berjalan semakin mendekat ke arah bangku yang terletak di tengah-tengah Padang rumput sambil menikmati semilir angin.


Duduk termenung seorang diri sampai dirinya mendengar ada suara anak kecil.


"Ayah itu ibu." Ucap anak kecil tersebut membuat Eve mencari arah sumber suara.


Eve memicingkan kedua matanya saat melihat ada sepasang anak laki-laki dan ayah yang sedang berjalan mendekat ke arah wanita di depannya.


Eve melihat itu adalah dirinya sendiri tapi kenapa anak laki-laki dan ayah itu tidak berjalan ke arahnya.


"Apakah aku mempunyai kembar atau itu adalah bayanganku. Kenapa aku bisa jadi dua?" Tanya Eve.


Anak kecil laki-laki itu berlari dengan tangan yang tidak pernah dilepas oleh anak kecil laki-laki itu dari ayahnya.


Tunggu ayah yang dipanggil oleh anak kecil laki-laki itu Tala.


"Ibu dari mana saja aku sama ayah sudah me cari ibu ke mana-mana." Ujar anak kecil laki-laki itu.


"Kami sangat merindukan ibu. Ibu jangan pergi lagi ayah dan aku sangat sedih. Apa ibu tau bahwa ayah selalu murung dan menyendiri. Ucap anak kecil laki-laki itu.


Eve melihat duplikatnya itu menampilkan senyumannya. Duplikat Eve berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan sang anak.


"Ibu hanya pergi sebentar sayang." Ujar duplikat Eve.


Tala hanya diam memperhatikan interaksi ibu dan anak itu. "Ibu jangan tinggalkan ayah seperti aku meninggalkan kalian." Ucap anak kecil laki-laki itu.


Eve berjalan mendekat ke arah sebuah keluarga itu dan mendengar dengan seksama apa yang dikatakan oleh anak anak kecil laki-laki itu.


"Ibu tidak boleh pergi meninggalkan ayah lagi." Duplikat Eve tersenyum.


Eve berjalan mendekat ke arah duplikatnya untuk menyentuh duplikatnya itu tapi Eve tidak bisa hal itu membuat Eve terkejut sendiri melihat tangannya. "Apakah aku tidak nampak?" Tanya Eve.


"Ibu berjanjilah jangan pergi meninggalkan ayah lagi." Ucap anak kecil laki-laki itu.


Eve dan duplikat Eve memandang ke arah laki-laki yang tidak lain adalah Tala.


"Jangan pergi lagi." Ucap Tala hal itu membuat hati Eve berdesir mendengarnya. Dan duplikat Eve hanya tersenyum.


"Ibu dan ayah harus bahagia jangan sedih lagi. Ayah juga harus melindungi ibu." Membuat pandangan Tala duplikat Eve dan Eve sendiri menatap ke arah anak kecil tersebut.


"Aku sudah bahagia bersama dengan mama dan kakek buyut di sini." Eve semakin tidak mengerti apa yang dibicarakan anak kecil laki-laki yang memanggil duplikatnya adalah ibu dan Tala adalah ayahnya.


"Sayang." Panggil seorang wanita dari arah belakang duplikat Eve membuat Eve menoleh.


"Kak Adya." Ucap Eve


"Mama." Teriak anak kecil laki-laki lalu melepaskan genggaman tangannya dari Tala.


Semua yang terjadi dilihat oleh Eve bagaimana anak kecil itu berlari kencang dan memeluk Adya.

__ADS_1


"Mama aku sudah bicara dengan ibu dan ayah." Ucap anak kecil laki-laki itu. Adya tersenyum mendengarnya.


"Jadi, sekarang mama datang diwaktu yang pas." Ucap Adya dan membuat anak kecil laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


Duplikat Eve yang melihat hal itu mengeluarkan air matanya dan Eve yang melihatnya bertanya-tanya sementara Tala hanya diam memperhatikan dari belakang punggung duplikat Eve.


"Ibu, ayah aku pergi dulu ikut mama dan kakek buyut. Jangan bersedih dan jangan menyendiri aku akan melihat kalian dari atas."


Anak kecil laki-laki dan Adya berjalan semakin jauh ke arah sebuah cahaya yang putih.


Duplikat Eve berlari untuk mengejar sambil menangis. Eve bisa merasakan perasaan yang sangat kosong dan hampa. "Tidak jangan pergi."


Tala memegang tangan duplikat Eve membuat duplikat Eve tidak bisa lagi berlari. "Tidak, lepaskan aku." Ucap duplikat Eve dengan tangisannya.


"Kak Adya dan anakku jangan pergi." Ucap duplikat Eve histeris lagi.


Eve yang mendengarnya merasakan detak jantungnya berdetak lebih kencang ketika mendengar kata anakku.


"Tidak sayang jangan tinggalkan ibu sendiri. Ibu hanya memiliki kamu, tidak jangan tinggalkan ibu. Kak Adya kembalilah bersama dengan anak aku jangan tinggalkan aku sendiri." Eve menangis melihat duplikatnya yang terlihat sangat menyedihkan.


"Ibu." Panggil anak kecil laki-laki membuat duplikat Eve, Tala dan Eve melihat ke arah sumber suara.


Eve melihat ke arah depannya seorang anak kecil laki-laki muncul lagi tapi itu bukan anak kecil laki-laki yang pergi bersama Adya.


Duplikat Eve berhenti menangis dan melihat anak kecil tersebut yang sedang berjalan sendiri segera berjalan dan memeluknya. "Ibu kenapa ibu menangis lagi?" Tanya anak kecil laki-laki yang tidak terlihat jelas di mata Eve wajahnya.


"Sayang." Ucap duplikat Eve sambil memeluk anak kecil laki-laki dengan muka samar di mata Eve.


Eve melihat Tala yang hanya berdiri sambil memandang sedih ke arah duplikat Eve dan anak kecil laki-laki dengan muka samar itu.


"Ibu menangis lagi. Kakak sudah bahagia bersama mama ibu jangan menangis." Ucap anak kecil laki-laki yang mengusap air mata duplikat Eve.


"Kakak." Ucap Eve membatin di dalam hatinya.


Anak kecil laki-laki itu menampilkan deretan giginya dan tersenyum ke arah Tala dan juga melihat dirinya.


Eve yang terkejut ternyata anak kecil laki-laki dengan muka samar itu menatap dirinya dan tersenyum.


Eve yang melihat dan mendengarnya tertegun dan meneteskan air matanya. "Aku sudah sangat bahagia hanya bersama dengan ibu."


Eve melihat ke arah Tala yang meneteskan air matanya mendengar apa yang dikatakan anak kecil laki-laki dengan muka samar itu.


"Aku sudah bahagia bersama ibu dan ada paman juga. Jadi, ibu jangan sedih aku tidak apa-apa." Ucap anak kecil laki-laki yang mengusap air mata duplikat Eve.


Entah kenapa Eve yang mendengarnya sangat sedih sambil menggelengkan kepalanya kepada anak kecil tersebut.


"Selamat tinggal ayah. Maafkan aku, aku tidak mau membuat ibu bersedih lagi. Ayo ibu kita pergi." Ajak anak kecil laki-laki dengan muka samar itu memegang tangan duplikat Eve.


Eve menggelengkan kepalanya "jangan pergi." Ucap Eve dengan lirih.


Lalu Eve melihat ke arah Tala yang terduduk sambil menangis. "Jangan pergi. Aku mohon maafkan aku, jangan pergi jangan pergi." Ucap Tala yang kini sudah menangis dengan sesenggukan.


Ingin rasanya Eve menepuk bahu Tala yang bergetar karena menangis namun itu tidak bisa.


"Jangan pergi maafkan aku. Aku mohon jangan pergi." Ucap Tala.


Lalu ada angin yang sangat kencang sehingga membuat Eve segera menutup matanya dengan tangannya.


Eve membuka tangannya ketika angin kencang tersebut berhenti dan Eve melihat ke samping sudah tidak ada Tala lagi di dekatnya.


Eve melihat ke sekitar pemandangan lalu berdiri sambil memperhatikan seluruh area.


Dari arah jauh Eve melihat seorang anak kecil laki-laki dengan muka samar yang sedang berlari menuju ke arahnya.


"Ibu." Panggil anak kecil laki-laki tersebut dan Eve merentangkan kedua tangannya tanpa sadar dan bibir Eve seolah berkedut untuk memberikan senyumannya.


Entah kenapa Eve merasa aneh dengan dirinya saat melihat anak kecil tersebut. "Aku sangat merindukan ibu. Ibu pergi ke mana aja jangan tinggalin aku ya. Aku sayang ibu." Ucap anak kecil laki-laki tersebut.


"Ibu sayang kamu sayang." Ucap Eve.


"Kalau ibu sayang aku ibu cepatlah kembali. Ibu nggak kasihan sama aku dan ayah. Aku dan ayah sangat sedih ibu kami sangat merindukan ibu dan kami sangat mencintai ibu." Entah kenapa Eve bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi mendengar apa yang dikatakan anak kecil laki-laki di dalam peluknya.

__ADS_1


"Ayah." Ucap Eve


"Iya ayah. Ayah menangis terus ketika aku tidak ada atau sedang tidur tapi aku aku tau bahwa ayah sangat sedih dan berusaha kuat untuk aku. Ayah mencintai ibu."


Yang ada di dalam pikiran Eve yang dipanggil oleh ayah oleh anak laki-laki yang dipeluknya ini siapa apakah Tala atau orang lain. Kalau itu Tala rasanya tidak mungkin.


POV OFF (Mimpi Eve)


Eve membuka kedua matanya lalu terdiam sambil memikirkan mimpi yang barusan terjadi dengan memandang langit-langit kamar.


"Apa yang barusan terjadi dalam mimpiku. Apa karena aku lelah menangis dan banyak hal yang aku simpan jadi diproyeksi dalam mimpi seperti itu."


"Sepertinya mental aku sedang tidak baik-baik saja. Sudah lama aku tidak bermimpi dan mimpi itu terasa nyata." Ujar Eve.


Eve melihat ke samping dan seluruh kamar yang semuanya sangat gelap. Hanya ada sedikit lampu tidur berada di sampingnya.


Eve berjalan untuk mencari saklar. "Di mana saklarnya." Ucap Eve sambil meraba-raba dinding kamar. "Biasanya ada di sini."


Tak


Lampu kamar menyala Eve menyipitkan matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu.


Mengerjapkan kedua matanya sambil menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


Kamar yang ditempatinya sangat asing Eve berjalan mendekat ke arah jendela dan membuka tirai.


Sinar matahari langsung menerobos masuk hal itu membuat Eve segera menutup kembali tirai itu. "Ternyata hari sudah siang." Eve membalikkan tubuhnya dan matanya mencari jam.


Jam di dinding menunjukkan pukul delapan pagi. "Aku bangun kesiangan. Tapi, ini di mana?" Tanya Eve.


Lalu mata Eve melihat ke arah badannya dan gaun yang dipakainya semalam sudah tergantikan dengan pakaian tidur.


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Tala yang hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya seperti biasa.


Eve menatap ke arah Tala penuh tanda tanya dan Tala yang ditatap seperti itu berjalan mendekat ke arah Eve membuat Eve memundurkan langkahnya pelan ke belakang.


Tala mengangkat tangannya membuat Eve memejamkan matanya. Ternyata Tala hanya memeriksa suhu tubuh Eve.


Eve yang merasakan punggung tangan Tala yang berada di jidatnya membuka matanya dan pandangan keduanya bertemu.


"Ini di mana?" Tanya Eve dengan spontan sambil menatap mata Tala yang sedang menatapnya.


"Apartemen." Jawab Tala singkat lalu membalikkan badannya dan berjalan ke arah lemari pakaiannya tentunya harus masuk ke dalam pintu dulu karena pakaian Tala berada di ruang walk on closet.


Eve yang melihat Tala pergi segera membuka tirai dan berjalan ke arah saklar lampu untuk dimatikan.


Eve berjalan keluar dari dalam kamar untuk melihat apa saja yang berada di luar kamar.


Sangat mewah dan tersusun rapi semua benda dan chat dinding berwarna putih.


Eve mengernyitkan dahinya melihat semuanya yang berwarna putih tersebut karena sangat berbeda dengan kamar Tala yang ada di mansion.


"Apakah sebegitu cintanya dengan warna monokrom." Gumam Eve dalam hatinya.


Eve berjalan ke arah dapur dan melihat isi di dalam kulkas.


Sangat menarik mata ketika mata Eve melihat begitu banyak sayuran beserta lainnya yang tersusun rapi.


Sangat lengkap satu kalimat yang menggambarkan isi kulkas Tala dari Eve.


Lalu mata Eve melihat ke arah meja pantry dan Eve segera membuka tutup makanan tersebut


Ternyata di atas pantry sudah disiapkan sarapan berupa foto-foto sandwich, susu, empat telur rebus dan juga buah dua buah apel.


"Apakah dia yang menyiapkannya." Ujar Eve bertanya-tanya melihat makanan yang tersaji di depannya.


Eve segera mengambil piring dan meletakkan sandwich dan telur rebus yang sudah dikupasnya dan menuangkan susu ke dalam gelas.


"Aku lupa belum cuci muka dan gosok gigi.", Ujar Eve dengan segera pergi ke kamar dan masuk ke dalam kamar mandi dengan tergesa-gesa hal itu membuat Tala mengernyitkan dahinya dengan tingkah Eve.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2