
Lagi dan lagi Eve harus berbohong kepada orang yang disayanginya. "Sayang matamu sembab kamu habis menangis?" Tanya ibu Dhara yang memperhatikan menantu keduanya itu.
Pertanyaan ibu Dhara membuat semua orang menatap ke arah Eve. Sedangkan Geya memandang penuh sinis ke arah Eve.
Geya tau apa yang menyebabkan Eve menangis kalau bukan karena sepupunya alias suami dari Eve sendiri.
Eve melihat ke arah ibu Dhara lalu melihat ke arah orang yang berada di dalam ruang rawat kakek Werawan satu persatu.
Tatapan mata Eve berhenti ketika menatap mata setajam elang milik Tala yang memandang ke arahnya dengan wajah datar dan dingin.
"Iya ibu Eve habis menangis. Tapi, ibu jangan khawatir Eve baik-baik saja." Jawab Eve memberikan senyumnya.
Ibu Dhara tau bahwa senyum yang ditunjukkan Eve menunjukkan bahwa Eve saat ini sedang tidak baik-baik saja karena ibu Dhara bisa melihat ke arah mata Eve di mana ketika Eve tersenyum matanya menunjukkan kepalsuannya.
"Apakah Tala membuatmu menangis. Bilang ke ibu, ibu akan memarahi dan memberikan hukuman buat Tala." Ujar ibu Dhara.
"Jangan banyak protes kamu memang kadang suka membandel seperti noda di baju saja." Dengus ibu Dhara kepada Tala.
"Ibu jangan memarahi kak Tala ini semua bukan salah kak Tala. Hanya saja Eve terlalu sensitif akhir-akhir ini apalagi tadi Eve mendengar kabar bahwa Ashi sedang drop dan Eve tidak tega melihatnya." Ujar Eve menjelaskan.
"Anak perempuan mengidap leukemia yang sering kamu bicarakan itu?" Tanya ibu Dhara memastikan dan Eve menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Memang Eve sering menceritakan aktivitas sehari-harinya kepada ibu Dhara dan juga Adya karena setiap kali Eve pulang dari rumah sakit akan selalu ada waktu mereka bertiga untuk bertukar cerita.
Biasanya Eve hanya mendengarkan saja jika tidak ada yang bertanya.
"Hatimu sungguh lembut sekali." Ucap ibu Dhara sambil mengelus rambut Eve dengan sayang.
"Tapi, jika Tala menyakitimu bilang ke ibu ya sayang atau ayah atau Adya. Kami akan selalu berada di sampingmu. Kamu tau kamu sudah ibu anggap sebagai putri kandung ibu sendiri."
"Dan anak yang suka membandel seperti noda itu memang kadang harus merasakan terlebih dahulu baru menyadarinya." Ujar ibu Dhara.
"Ekhm menantuku kamu melupakan pria tua ini, apa kamu lupa pria tua ini juga akan selalu berada di samping cucu menantu." Ujar kakek Werawan pura-pura merajuk untuk menguraikan suasana yang terlihat agak canggung.
"Lihat ibu melupakan mertua ibu yang masih gagah dan tampan ini. Ayah mertua maafkan menantimu ini." Ucap ibu Dhara yang memulai drama sementara Tala yang melihatnya memasang wajah datar dan menatap malas melihat kakek dan ibunya yang mulai melakukan akting.
"Aku rasa ibu dan kakek berhak mendapatkan piala penghargaan karena akting kalian." Celetuk Tala yang mendapat cubitan dari ibu Dhara.
"Memang benar-benar menyebalkan." Ucap ibu Dhara. "Selalu mengacaukan suasana."
"Sayang, aku rasa putra kita tertukar di rumah sakit waktu aku melahirkan kenapa sangat begitu menyebalkan." Ujar ibu Dhara kepada ayah Davka yang sejak tadi diam dan hanya menonton setelah membawa Eve untuk duduk di sampingnya.
"Aku menyebalkan juga mengikuti ibu. Dan ingat aku ini nggak pernah tertukar ibu kan sendiri bilang bahwa aku menyebalkan jadi itu sudah turunan dari ibu." Ujar Tala semakin membuat ibu Dhara merasa kesal dan melototkan matanya ke arah Tala.
Keluarga paman dan bibi Tala beserta Geya hanya menjadi penonton dan merasa tidak dianggap namun mereka hanya bisa diam.
Kakek Werawan merasa sangat senang ketika mendengar perdebatan dan perselisihan antara menantu dan cucunya itu.
Inilah yang membuat kakek Werawan merasa nyaman dengan keluarga dari anak pertamanya itu.
Cucunya Nabastala walaupun terlihat menyebalkan mampu dalam mencairkan suasana dan menempatkan dirinya dalam segala situasi dan kondisi. Kakek Werawan menjulukinya sangat pandai memanipulasi.
Adya sejak tadi hanya diam dan membuat kakek Werawan menatap ke arah cucu menantu pertama dari cucunya itu karena tidak biasanya Adya yang periang menjadi pendiam.
"Cucu menantu pertama apakah kamu sedang kurang sehat kenapa kakek melihat bahwa kamu sejak tadi hanya diam padahal biasanya kamu yang paling heboh?" Tanya kakek Werawan membuat perhatian semua orang tertuju kepada Adya.
__ADS_1
Eve yang duduk di samping ibu Dhara segera beranjak dan mendekati Adya. "Kakak apakah ada yang sakit atau kurang nyaman?" Tanya Eve dengan raut wajahnya khawatir.
Ibu Dhara dan ayah Davka yang melihat sikap tanggap dari Eve tersentuh dan sangat senang. Mereka berdua adalah istri-istri dari anaknya namun mereka sangat akur dan tidak pernah sekalipun ibu Dhara dan ayah Davka melihat mereka berselisih paham dan bertengkar hebat.
Eve adalah tipe yang penurut jika sudah sayang dengan orang sedangkan Adya adalah tipe yang memaksa segala kehendaknya jika sudah sayang kepada orang menjadi perpaduan yang sangat sempurna.
Adya menatap ke arah Eve dengan matanya yang berkaca-kaca. "Aku hanya merasa sedih." Ujar Adya dan berpura-pura menangis untuk memulai aktingnya agar orang tidak merasa curiga dengan sikapnya yang sejak tadi diam.
Ibu Dhara, ayah Davka, dan kakek Werawan merasa lega ketika melihat Adya yang mulai memainkan dramanya itu tandanya bahwa Adya sedang baik-baik saja.
Eve melepaskan pelukan dari Adya karena merasa kebingungan. "Eve tidak mengerti." Ucap Eve dengan wajah polosnya.
Wajah polos yang ditunjukkan Eve membuat Adya merasa sangat senang dan mengembalikan suasana hatinya yang buruk.
"Kamu tidak perlu mengerti kamu hanya perlu seperti ini. Kenapa kamu sangat menggemaskan. Aku harus bagaimana aku pengen masukin kamu ke dalam saku untuk di bawa ke mana-mana." Ujar Adya yang tidak bisa melihat wajah polos Eve beserta tingkah Eve yang tampak menggemaskan.
Beberapa hari setelahnya kakek Werawan pulang dari rumah sakit ketika dokter mengatakan bahwa kakek Werawan sudah diperbolehkan untuk pulang ke mansion dan tetap menjalani perawatan dari rumah.
"Tuan Werawan sudah boleh pulang dan tolong tetap jaga kesehatannya jangan membuat Tuan Werawan melakukan pekerjaan yang melelahkan terutama pikirannya."
"Jangan sampai mengejutkan Tuan Werawan dengan berita yang mengejutkan karena jantung Tuan Werawan masih lemah." Nasihat dokter yang merawat kakek Werawan.
"Dokter Elakshi saya berharap Anda bisa menjaga asupan dan membatasi Tuan Werawan dalam melakukan hal yang memberatkan." Ucap dokter tersebut dan membuat Eve menganggukkan kepalanya.
"Tuan tolong dengarkan cucu menantu Tuan, Tuan tau dan memahami sendiri bukan bagaimana dokter Elakshi." Ujar dokter tersebut membuat kakek Werawan tertawa mendengarnya.
Geya yang mendengar penuturan dokter tersebut merasa kesal dan semakin membenci Eve karena kakek Werawan malah mempercayai Eve untuk merawat dan menjaganya.
"Lihat saja kamu tidak akan hidup tenang begitu saja." Ucap Geya dalam hatinya dan menatap Eve dengan sinis.
Dokter Raka yang dari jauh melihat tatapan wanita yang dilihatnya di rooftoft ketika melihat Eve dan Tala bertengkar memasang tatapan tajam dan wajah sinisnya kepada Eve membuat dokter Raka merasakan bahwa wanita yang tidak lain adalah Geya itu sangat membenci Eve.
"Eve tidak mau ada bantahan karena Eve di sini adalah dokter kakek sekaligus cucu menantu kakek."
"Apakah kakek bisa menuruti permintaan Eve?" Tanya Eve
"Iya, iya cucu menantu kakek merasa bahwa kamu semakin hari semakin cerewet saja. Kakek rasa kecerewetan kamu menular dari Adya." Ujar kakek terkekeh.
Tala yang menjemput dan akan mengantar kakek Werawan hanya diam saja mendengarkan sementara Geya mengepalkan kedua tangannya.
"Kakek kenapa tidak tinggal di mansion kakek saja dan kenapa kakek meminta Eve untuk merawat kakek. Apakah kakek tidak mempercayai Geya?" Ucap Geya mengeluarkan protesnya kepada kakek Werawan.
"Cucuku Geya bukan kakek tidak mempercayaimu hanya saja bidang kamu bukan ilmu kedokteran. Kenapa kita harus mengambil yang kurang kompeten di bidangnya jika sudah ada yang ahli di bidangnya." Ujar kakek Werawan tersenyum.
"Lagipula punya keluarga dokter itu banyak manfaatnya terutama kita bisa mengurangi biaya pengeluaran." Ujar kakek Werawan terkekeh mendengar apa yang dikatakannya.
Tala menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan kakek Werawan. Padahal harta keluarga Werawan bisa membiayai tujuh turunan hanya dengan warisan saja dan tidak habisnya tapi kakeknya ini memang luar biasa walaupun hidup bergelimang harta namun cukup sederhana untuk orang kaya.
Geya hanya mampu terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh kakek Werawan. "Tapi, nanti akan sangat sulit jika Geya merindukan kakek dan ingin menjenguk kakek jika di mansion bibi Dhara dan paman Davka." Ujar Geya.
Tala melirik Geya yang berdiri di sampingnya ketika mendengar perkataan Geya. Sementara Eve hanya diam mendengarkan karena tidak mau ikut campur dalam masalah ini.
"Memangnya bibi dan paman melarang mu untuk datang ke mansion?" Tanya kakek Werawan.
"Tidak hanya saja Geya merasa kurang nyaman saja apalagi ada kak Adya dan kak Tala juga terlihat menjauhi Geya sekarang." Ujar Geya.
__ADS_1
"Mereka tidak akan menjauhi mu jika kamu tidak membuat masalah atau mengusik mereka." Ucap kakek Werawan sederhana namun ucapan itu sangatlah menusuk jika Geya menyadarinya.
"Cucuku Geya kita adalah manusia dan tidak ada yang sempurna semua memiliki salah semuanya sama. Kakek harap kamu dengan cepat menyadari dan memahami mana yang salah dan mana yang benar. Kakek juga berharap kamu bisa mengerti dan bersikaplah dewasa." Ujar kakek Werawan dengan tersenyum lembut kepada Geya.
Geya hanya diam mendengarkan. Geya memang cukup dekat dengan kakek Werawan ketika sedang sedih karena ibunya sering memarahinya dan menyalahkannya atas kepergian kakaknya Adhikari Ekata Werawan dari mansion.
Geya menatap mobil yang ditumpangi dan membawa kakek Werawan dari jauh lalu segera pergi dari rumah sakit dan mengendarai mobilnya.
Lima hari kemudian
Geya memberhentikan mobilnya di pelataran mansion ibu Dhara dan ayah Davka.
Geya keluar dengan wajah angkuhnya tidak lupa dengan kaca mata hitam sepatu dengan hak tinggi dan tas branded yang dikenakannya penampilan Geya sangatlah glamour.
Setelah kakek Werawan pulang dari rumah sakit dan tinggal di mansion ibu Dhara dan ayah Davka ini pertama kalinya Geya datang menjenguk.
Semua pelayan menunduk hormat ketika melihat Geya datang. "Di mana kakek?" Tanya Geya.
"Tuan besar sedang berada di kamarnya Nona muda." Jawab pelayan tersebut menunduk.
Geya melangkahkan kakinya menuju lift untuk naik ke lantai dua. Pelayan yang menjawab pertanyaan Geya bernafas lega. "Sangat mengintimidasi." Ucap pelayan tersebut.
Geya naik ke lantai dua dan bertemu dengan Eve di lorong. Geya yang melihatnya tersenyum sinis. "Halo sepupu ipar dua." Sapa Geya dengan wajah sinisnya.
Eve yang membawa bekas cemilan sehat kakek Werawan terkejut melihat kedatangan Geya. "Kenapa dengan wajahmu itu. Bisa biasa saja." Ucap Geya dengan sinis.
"Halo Nona Geya." Sapa Eve dengan suara lembutnya dan membuat Geya mendecih.
Entah kenapa semua apa yang ada pada Eve membuat Geya merasa kesal. Badan profesional, jenius, seorang dokter, tinggi, bola mata besar, putih, tinggi, suara lembut, sangat menyegarkan untuk dilihat.
"Apakah Nona ingin menjenguk kakek. Kakek sedang berisitirahat jika Nona ingin menjenguknya masuklah ke kamar." Ucap Eve dengan lembut.
"Huh, tidak perlu kamu kasih tau. Ingat kamu di sini bukanlah siapa-siapa apalagi..." Ucap Geya meremehkan.
"Ekhm, aku mendengar pertengkaran kamu dan kak Tala di rooftoft rumah sakit kemarin. Semuanya apakah kamu mendengarnya semuanya." Ucap Geya menekankan.
Eve menjadi tegang ketika mendengar perkataan Geya yang mengungkit pertengkaran dirinya dengan Tala. "Kamu benar dan aku mengetahui bahwa kamu dan kak Tala sebentar lagi akan bercerai setelah dua tahun pernikahan kalian. Bagaimana jika kakek, bibi dan paman mendengarnya" Ucap Geya dengan suara yang agak keras.
Eve tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan Geya. Tanpa mereka sadari bahwa ada kakek Werawan dengan kursi rodanya yang hendak keluar sendiri untuk menuju ke perpustakaan dan mendengar apa yang dikatakan oleh Geya.
Kakek Werawan merematkan dadanya yang terasa sangat sakit. Geya yang menatap ke arah Eve dan merasa puas segera melangkahkan kakinya menuju kamar kakek Werawan dan ketika melihat kakek Werawan betapa terkejutnya dan Geya langsung berlari.
"Kakek." Teriak Geya.
Eve yang mendengar suara pekikan Geya menolehkan kepalanya dan melihat ke arah kakek Werawan yang sedang bernafas tersengal-sengal.
Eve segera ikut berlari menghampiri kakek Werawan. Geya sudah menangis melihat kakek Werawan merasakan kesakitan.
Eve pun sama paniknya namun Eve harus berpikir jernih agar segera menyelamatkan kakek Werawan.
Tala yang hari itu pulang siang dan baru tiba di mansion mendengar suara pekikan dari lantai dua memanggil kakek segera berlari.
"Kakek." Teriak Tala membuat perhatian Eve dan Geya teralihkan.
"Kak tolong bantu aku bawa kakek ke rumah sakit." Ujar Eve.
__ADS_1
Tala menuruti apa yang dikatakan oleh Eve masalah apa yang sebenarnya terjadi biarkan saja nanti. Yang terpenting kakek Werawan baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa."
*Bersambung*