Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 195. Terdiam


__ADS_3

Sepanjang makan malam Tala terus memperhatikan Eve yang berada di depannya tersebut.


Eve saat ini sedang diapit oleh Orion dan Gala mereka meminta untuk disuapi. Tak jarang ayah Davka terkadang menyuapi Orion cucu pertamanya itu.


Tala tersenyum ke arah Gala dan Orion yang begitu dimanjakan tersebut.


"Gala mau nonton Spongebob." Ucap Gala dan Orion hanya mengikuti saja. Kedua bocah laki-laki itu sangat bersemangat.


Sehabis makan mereka akan menonton sebentar untuk mengisi waktu bersama di malam hari apalagi ini hari libur.


"Eve Tala apa kalian tidak mau menambah anak lagi?" Tanya ibu Dhara sembari memangku cucunya Gala dan Gala yang dengan mengangkat jari telunjuknya ke kiri ke kanan pertanda tidak. Sepertinya dia mengerti bahwa neneknya menanyakan tentang adik untuknya.


Eve menatap ke arah Tala dan Orion menatap ke arah Eve dan Tala. "Gala tidak mau ada adik cukup Gala saja yang jadi didi." Ucap Gala setelah melepas sedotan susunya itu.


"Kakak Orion juga tidak mau cukup didi saja. Kakak sudah susah mendapatkan perhatian bunda jika ada adik lagi. Orion tidak mau berbagi lagi. Apalagi ayah yang selalu nempel bunda terus."


"Ibu lihat sendiri kedua cucu ibu sudah tidak mau." Tala merangkul Eve yang ada di sampingnya. "Aku juga tidak mau karena tidak mau melihat Eve kesakitan lagi. Orion dan Gala sudah cukup." Ujar Tala dengan tegas.


Tidak ada lagi pembicaraan mengenai penambahan anak atau adik untuk Orion dan Gala ketika Tala sudah berbicara. Semua kembali fokus pada Orion dan Gala.


Namun, tidak ada yang menyadari perasaan seorang wanita muda yang sudah bersuami dan mempunyai anak laki-laki dua itu yang terlihat nampak murung.


"Ibu, ayah aku izin ke kamar dulu. Sayang nanti tolong temani mereka ya." Ucap Eve sembari melepaskan rangkulan Tala di bahunya.


"Kakak, didi bunda ke kamar dulu nanti main sama ayah ya sayang." Kedua bocah laki-laki itu mengangguk dan masih asyik dengan film yang mereka tonton.


Tala merasa ada yang aneh dengan Eve namun dia tidak bisa mengikuti Eve ke kamar biarlah nanti saja setelah menemani kedua jagoannya itu. Biasanya sebelum tidur kedua jagoannya meminta untuk dibacakan dongeng. Kamar keduanya untuk sementara berada dalam satu ruangan. Bukan karena tidak mampu akan tetapi memudahkan Eve menemani kedua bocah laki-laki itu jika mereka meminta untuk ditemani tidur atau dibacakan dongeng jika ibu Dhara dan ayah Davka serta ayah mereka sedang tidak ada di mansion atau pulang larut malam.


Tala masuk ke dalam kamarnya setelah memastikan Orion dan Gala tertidur malam ini adalah malam minggu jadi kedua anaknya tidak akan meminta untuk tidur bersama mereka sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat.


Orion dan Gala tidak boleh mengganggu Tala dan Eve ketika malam jum'at, malam minggu, dan malam senin. Itu adalah perjanjian antara ketiga laki-laki yang disepakati ketiganya.


Setelah membersihkan dirinya sebelum tidur Tala langsung melihat ke arah Eve yang sudah jatuh tertidur dengan memunggunginya.


Dia sebenarnya merasa rindu apalagi ini kan malam minggu waktu berdua dengan Eve namun sepertinya Eve kelihatan lelah dan...

__ADS_1


banyak pikiran.


Tala tetap memeluk Eve dari belakang rasanya ia tidak bisa kalau tidak memeluk Eve jika tertidur.


Tengah malam Eve terbangun seperti biasa akan ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.


Dengan perlahan Eve melepaskan rengkuhan itu. Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, Eve merasa perutnya berbunyi. Eve terbangun karena kelaparan.


"Tidak biasanya kamu makan dini hari begini." Sebuah suara memecah keheningan dan kenikmatan Eve memakan sandwich yang dibuatkan olehnya tadi hanya ini yang tercepat menurut Eve.


Eve menelan sandwich yang dimakannya dengan susah payah. Entah kenapa rasa laparnya menjadi hilang dan tidak berselera saat melihat wajah laki-laki yang memiliki kulit putih dan badan profesional itu memakai baju tidur dengan merek terkenal di dunia itu.


Rambutnya nampak berantakan. Wajah Eve menjadi datar saat melihatnya.


Eve tidak mau bersuara untuk membuka obrolan mereka dan dengan cepat memakan habis sandwich yang dibuatnya secara paksa. Karena tidak menghabiskan makanan adalah perilaku yang tidak baik.


"Sayang apakah ayah ada salah? Kenapa ayah merasa bunda seolah menghindar." Ungkap Nabastala Affandra Werawan memangnya siapa lagi.


Eve hanya diam sembari mencuci piring tempat sandwichnya tadi dan beberapa peralatan memasak yang digunakannya.


"---Berhentilah berbicara sembarangan. Bagaimana jika ada yang mendengar."


Omelan Eve membuat Tala tersenyum salah satu cara membuat Eve mau berbicara adalah dengan berbicara vulgar walaupun ucapannya tidak terlalu vulgar.


"Tidak ada yang mendengar ini sudah dini hari mereka semua pada istirahat---"


"---para pelayan." Tala menganggukkan kepalanya.


Eve melepaskan pelukan Tala dari pinggangnya Tala merasa hampa saat Eve melepaskannya. "Tidurlah kembali besok kamu memerlukan energi yang penuh untuk bermain dengan mereka." Besok hari Minggu yang berarti family time.


"Besok mereka kedatangan banyak temannya apalagi mereka sudah tidak sabar melihat perut besar Geya yang sedang hamil anak kembar. Pasti sangat menyenangkan."


Eve terdiam menatap ke arah Tala yang masih merengkuh pinggang rampingnya keduanya saling berhadap-hadapan. "Jika aku hamil lagi apa kamu akan senang bukan kalian?"


Senyum di wajah Tala dan gerakan tangan Tala merapikan rambut Eve terhenti menatap ke arah Eve.

__ADS_1


Dengan perlahan namun pasti Tala melepaskan rengkuhan di pinggang Eve.


Lama keduanya saling memandang seolah mencari sesuatu yang menandai pertanyaan di dalam benak keduanya.


"Aku hamil."


Dua kata itu bagi Tala sangat tidak bisa Tala prediksi dan sangat Tala tidak bisa kontrol. Dengan cepat Tala langsung berbalik meninggalkan Eve keduanya sama-sama terdiam.


Hanya ekspresi wajah yang mengungkapkan perasaan keduanya. Jika Eve tanpa sadar mengeluarkan air matanya berbeda dengan Tala wajahnya menjadi dingin. Hati Eve menjadi sakit dia tidak tau kenapa respon Tala seperti itu. Ia sangat memahami ketakutan dan kekhawatiran Tala bahwa alasannya yang selalu Tala bicarakan tidak mau mempunyai anak lagi karena tidak mau melihatnya kesakitan.


Eve mengejar Tala yang sepertinya sudah masuk ke dalam kamar mereka.


Angin berhembus masuk ke dalam kamar karena pintu balkon terbuka nampaklah siluet Tala yang berdiri di sana.


Eve mengigit bibir dalamnya. "Apa kamu tidak senang?" Tanya Eve entah kenapa setelah mengatakan itu dia merasa bodoh sudah pasti Tala tidak akan senang.


Tala menolehkan kepalanya ke samping Eve yang di belakang melihatnya. Wajah itu semakin dingin.


"Berapa usianya?"


"Baru satu bulan." Tala tanpa sadar mengumpat hal yang pertama kali didengar oleh Eve setelah sekian lama. Tala tidak pernah mengumpat atau berkata kasar apalagi melakukan kekerasan. Dan ini mendengar berita kehamilannya Tala mengumpat. Walaupun hanya satu kata namun karena sudah lama tidak mendengar Tala berbicara kasar kepadanya apalagi ini mengumpat.


Langkah kaki Eve mundur secara perlahan matanya berkaca-kaca dadanya naik turun.


"Jika kamu tidak bisa menerimanya biarkan aku saja yang merawatnya. Atau jika Orion dan Gala..."


"Kamu mau meninggalkan kami hanya karena dia!" Tuding Tala dengan tajam Eve memeluk perutnya saat Tala melihat tatapan tajam Tala menghunus ke perutnya.


"Kamu jahat."


Eve pergi dari kamar mereka meninggalkan Tala entah kenapa jiwa keibuan Eve ingin melindungi bayi di dalam perutnya yang masih berusia satu bulan tersebut.


Tala memijat pelipisnya untuk mengontrol emosinya apalagi melihat Eve pergi dari kamar mereka.


Eve yang sangat sensitif karena hormon kehamilannya membuatnya tidak bisa bijak dan berpikir jernih seperti biasanya saat ada masalah yang menimpa rumah tangga mereka.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2