
“Jadi, selama ini kamu berada di Lembah Hunza!” Dokter Raka datang ke mansion Abraham dengan kartu akses yang diberi oleh Joha membuat dokter Raka mudah untuk masuk.
“Aku tidak menyangka kamu bisa pergi ke tempat itu.” Perkataan dokter Raka membuat Eve menatap ke arah dokter Raka dengan tersenyum setelah membersihkan mulut Orion yang belepotan.
Saat ini Eve dokter Raka, Orion serta Jean sedang berada di ruang keluarga. Mereka menemani bocah kecil itu bermain di atas karpet. Joha dan Airen pergi berbelanja di Mall sebelum mereka balik ke Lembah Hunza
Eve tidak mau ikut karena Eve sangat tidak menyukai keramaian kalau pun pergi Eve pasti akan mengajak putranya itu ke tempat yang disukai batita pada umumnya.
‘Dia semakin memesona’
“Cah Orion sini sama emmm apa ya aku nggak mau dipanggil paman apa aku boleh meminta Orion untuk memanggil aku daddy?” Eve dengan santai menganggukkan kepalanya.
Menurut Eve itu sama sekali tidak masalah selagi tidak mengganggu kehidupan orang lain. “Jadi, kak Raka belum menikah?” Tanya Eve.
Dokter Raka menolehkan kepalanya ke arah Eve entah kenapa hatinya selalu saja berdebar saat melihat Eve apalagi mata Eve. Mata Eve seolah menenggelamkannya dan tidak memberikan jalan keluar untuk dirinya beranjak pergi.
“Seperti yang kamu lihat tapi aku dijodohkan dengan ibu ku.” Ujar dokter Raka. Dokter Raka bisa merasakan perubahan di dalam diri Eve selain Eve sangat cantik dan semakin dewasa pembawaannya hal itu menambah aura Eve yang semulanya kuat menjadi semakin kuat.
“Jadi, siapa perempuan yang beruntung itu?” Tanya Eve dengan semangat.
“Emmm nanti aku kenalin.” Eve terkekeh mendengar jawaban dari dokter Raka.
“Sayang sekali.” Ujar Eve membuat dokter Raka mengernyitkan dahinya.
Dokter Raka, “…?”
“Kami akan kembali ke Lembah Hunza.”
“Bukankah kalian baru datang ke sini kenapa cepat sekali kembali apa kamu tidak ingin jalan-jalan terlebih dahulu atau pergi ke mana.” Ada perasaan tidak rela jika dirinya harus segera berpisah dengan Eve dan Orion.
“Suasana di sini aku tidak menyukainya sangat ramai, penuh polusi, sangat panas, banyak gedung tinggi menjulang. Lagipula jika terlalu lama-lama aku tidak mau membuat kak Raka goyah.” Ujar Eve.
Dokter Raka, “…”
‘Dia benar sekarang pun aku sudah mulai goyah’
“Kenapa sekarang kamu terlihat sangat percaya diri dan narsis!” Membuat keduanya tertawa mereka mengenang masa-masa di mana mereka bertemu. Dulu Eve terlihat sangat kaku walaupun sekarang masih kaku namun sekarang Eve sudah bisa diajak bercanda dan memulai candaan sepertinya waktu dan proses telah membuat Eve menjadi wanita yang kuat.
__ADS_1
“Kenyataannya memang begitu bukan.” Eve memandang dalam mata dokter Raka. “Aku tidak mau merusak proses kak Raka dan menjadi jurang yang terjal buat jodoh kak Raka. Jika ibu kak Raka percaya bahwa dia adalah jodoh yang cocok buat kak Raka maka kak Raka harus mematuhinya selagi ibu kak Raka ada. Segeralah menikah nanti aku dan Orion akan datang atau kamu mau pangeran kecil ku ini jadi pengantin kecil buat pengiring kalian di belakang.”
Keduanya membayangkan bagaimana Orion yang lucu berjalan di belakang pengantin pasti akan sangat menggemaskan. “Pastinya semua para tamu undangan akan teralihkan perhatiannya dari pengantin aslinya karena Orion.”
Eve membenarkan anaknya itu memang terkadang tidak bisa dideskripsikan dan tidak diprediksikan tingkahnya. “Bagaimana nanti jika Orion akan bertemu dengan ayah kandungnya tanpa sengaja?”
“Tidak masalah keduanya berhak bertemu lagipula Orion harus tau mengenai ayahnya begitu juga dengan sebaliknya. Aku tidak akan menghalangi mereka jika mereka bertemu lagipula semua sudah berlalu. Tapi, entah kapan itu terjadi aku tidak akan mempertemukan mereka secara langsung dan memperkenalkan bahwa Orion adalah darah dagingnya.”
“Bagaimana kalau misalnya mereka tidak pernah bertemu?’
“Berarti takdir tidak berpihak namun jika suatu saat nanti Orion bertanya mengenai ayahnya dan keluarga ayahnya maka aku akan menjawab dengan jujur dan ingin bertemu dengan ayah atau pun keluarganya maka aku akan mengizinkannya. Karena ayahnya juga punya hak atas Orion dan Orion juga punya hak untuk itu.”
Sepertinya Eve sudah bangkit dan sudah menata hidupnya selama kurang lebih tiga tahun ini. “Apa kamu akan menikah lagi?”
Eve menggelengkan kepalanya, “pernikahan bagi aku cukup satu sekali seumur hidup.” Eve terlihat sangat tegas untuk itu.
Namun Eve sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya dan Tala sama sekali belum bercerai karena Tala belum menandatangani surat perceraian mereka dan surat perceraian itu tidak pernah sampai ke pengadilan.
...***...
Jackson datang ke apartemen Tala dan melihat Tala sedang merapikan barang-barangnya. Jackson bersandar di depan pintu kamar Tala dengan santai.
Tala menghentikan pergerakannya dan segera berjalan keluar padahal Jackson belum selesai bicara.
Tala memencet bel apartemen di depannya dengan nafas yang terengah-engah ditambah merasa sangat gugup bahwa dia sebentar lagi akan bertemu dengan Eve.
Seseorang membuka pintu karena saking semangatnya dan rasa rindunya Tala langsung memeluk orang tersebut dengan sangat erat. “Akhirnya aku menemukan mu.” Ucap Tala.
Jackson yang mengikuti dari belakang melihat Tala yang memeluk seseorang segera mengabadikan momen tersebut. Flash kamera Jackson membuat Tala melepaskan pelukannya dari orang itu. “Eve ak-…” Tala menatap syok bahwa orang yang dipeluknya bukanlah Eve melainkan wanita lain.
Di belakang seorang pria menatap ke arah Tala dengan perasaan yang bergemuruh melihat Tala yang memeluk istrinya dengan erat. Sementara sang istri pria tersebut sangat syok.
Pria dari wanita yang dipeluk Tala segera memukul wajah Tala, “berani-beraninya kamu menyentuh istriku bugh.”
Jackson terpingkal-pingkal di depan Tala yang sedang mengompres pipinya yang ngilu akibat pukulan dari suami wanita yang dipeluknya tadi.
Tala, “…”
__ADS_1
“Makanya kalau orang belum selesai berbicara jangan dipotong dulu.” Jackson sampai menepuk sofa karena merasa lucu dengan tingkah Tala. “Dan jangan asal memeluk orang tanpa melihat lebih dulu.”
“Cepat cari tau siapa yang telah menjual apartemen itu dan orang yang membelinya.” Ujar Tala dengan dingin.
Jackson malah mengabaikan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu dan duduk dengan santai di depan Tala. “Aku sudah menemukannya namun aku tidak mau memberitahukan mu sebelum kamu ikut bersama ku untuk pergi ke Lembah Hunza.”
Tala menatap tajam ke arah sahabatnya, “yah seperti yang sering kamu bilang aku malas menjelaskannya.” Ujar Jackson tanpa menghiraukan tatapan dari Tala yang sama sekali tidak bersahabat.
Tala, “…”
Mengambil nafas dalam dan membuangnya secara perlahan untuk menambah kesabarannya dalam menghadapi Jackson. Sahabatnya ini memang sangat tengil. “Kenapa aku harus pergi ke Lembah Hunza.”
“Turuti saja apa yang aku katakan maka kamu tidak akan menyesal, ini akan mengubah hidup mu.” Ujar Jackson dengan semangat.
“Aku menemukan sesuatu yang besar intinya kamu harus mengikuti apa yang aku katakan jika tidak maka kamu akan menyesal. SE-LA-MA-NYA.” Tekan Jackson.
“Aku tidak bisa perusahaan sedang membutuhkan ku, Kai sedang menjaga Jasmine yang sedang hamil besar, Diego sudah sibuk dengan pekerjaannya ditambah dengan mual-mualnya kasihan mereka…”
Jackson, “…”
‘Ternyata dia bisa kasihan juga sekarang’
“Kamu harus pergi ke Lembah Hunza aku sudah memberitahukan segalanya ke Diego dan Kai mereka mau bekerja sama walaupun kamu sering menindasnya. Kamu tidak boleh nolak titik tidak pakai koma.”
Tala, “…”
"Kalau begitu aku tanyakan saja ke mereka." Ujar Tala yang sudah sangat penasaran.
"Tidak bisa aku sudah bilang bahwa mereka tidak boleh mengatakannya lagipula aku yakin mereka tidak akan mau."
Tala meletakkan ponselnya di samping duduknya benar saja jika sahabatnya sudah bekerjasama dan kompak seperti ini tidak ada cara lain selain menuruti mereka.
"Huh baiklah kalau gitu aku akan pergi ke Lembah Hunza dan mengikuti apa yang kamu katakan." Ucap Tala dengan malas.
"Begitu dong mas bro bisa diajak kerjasama aku yakin kamu akan sangat berterimakasih ke aku dan kamu tidak akan menyesal sama sekali. Pokoknya ini akan mengubah hidup seorang Nabastala Affandra Werawan."
Tala, "..."
__ADS_1
*Bersambung*