Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 61. Batal


__ADS_3

Eve keluar dari dalam kamar mandi sudah tidak melihat Tala berada di dalam kamar lagi. Hal itu tentu saja membuat Eve merasa lega setidaknya dirinya tidak berusaha untuk menghindari jika tidak ada Tala.


Tapi, Eve berpikir lagi hari ini tepatnya sore nanti mereka akan pergi berbulan madu sesuai yang sudah direncanakan oleh ibu Dhara kepada mereka kemarin bagaimana dirinya harus menghindar apalagi mengingat pesan ancaman semalam membuat Eve tampak tidak nyaman.


Ketika Eve merasakan perasaan gugup maka Eve akan diam tapi bibir dalamnya akan Eve gigit sebagai bentuk pelampiasan.


Selama tiga minggu dirinya dikirim pesan itu belum pernah terjadi apa pun namun ancaman itu tetap membuat Eve sangat gugup karena merasa penasaran.


Apa yang dilakukan oleh peneror itu kepadanya, Eve tidak ingin jika karena dirinya maka orang terdekatnya berada dalam bahaya.


Helaan nafas panjang dan berat Eve keluarkan, Eve melamun sampai tidak menyadari kehadiran seseorang yang sudah hampir lima menit melihat ke arahnya dengan intens.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Tala yang kini sudah mulai membuka setelan formal yang digunakannya tadi setelah sempat dimarahi ibu Dhara agar mengganti pakaian formal itu dengan pakaian santai.


Eve tentu saja kaget dan menatap ke arah Tala yang membuka dasi beserta kancing kemeja yang digunakannya membuat Eve merasa gugup. “Apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Tala sekali lagi.


Eve tidak menjawab dan menundukkan kepalanya, Eve bingung bagaimana bisa dirinya sering kali tidak menyadari kehadiran Tala bahkan suara pintu kamar tidak sampai ke pendengaran Eve apakah dirinya terlalu sibuk berpikir mengenai teror tadi malam.


Tala merasa kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Eve, dengan segera Tala berdiri di hadapan Eve lalu mengubah posisi Eve yang semulanya duduk menjadi berdiri.


Kedua lengan Eve dipegang dengan kuat oleh Tala, mata Tala menatap tajam ke arah Eve. “Kamu sudah mulai berani.” Ujar Tala dengan suaranya yang sangat dalam membuat Eve merinding mendengarnya.


Tangan Tala yang berada di kedua lengan Eve terlepas ketika tergantikan dengan Tala yang memegang erat pinggang Eve sehingga membuat Eve tidak bisa bergerak dengan leluasa.


“Lepaskan kak.” Pinta Eve sembari menjaga jarak antara dirinya dengan Tala.


Tala yang merasa terganggu dengan kedua tangan Eve yang memberi jarak segera mengambil tangan Eve dan mengunci di belakang punggung Eve sehingga membuat tidak bisa lagi memberontak dan jarak keduanya sangat dekat.


“Apa yang sedang kakak lakukan, tolong lepaskan Eve.” Pinta Eve dengan wajah memelas sekaligus pasrah.


“Menurut mu?” Tanya Tala sambil mengeluarkan senyuman sinisnya kepada Eve. Melihat wajah Tala yang semakin mendekat ke arahnya dengan reflek Eve langsung memundurkan wajahnya.


“Tolong kak jangan.” Pinta Eve kepada Tala.


“Aku punya hak mau melakukan apa karena kita sudah menikah.” Ucap Tala dengan dingin karena dari kemarin mendapat penolakan terus dari Eve hal itu membuat harga diri Tala sebagai laki-laki dan suami merasa terluka akan sikap penolakan Eve.


Tala kembali mencium bibir Eve sedangkan Eve hanya diam dan menutup mulutnya melihat Eve yang hanya diam membuat Tala menggigit bibir bawah Eve sehingga Eve dengan reflek membuka mulutnya karena merasa sakit.


Eve yang sudah tidak bisa memberontak karena tangannya yang di genggam oleh Tala di belakang tubuhnya meneteskan air matanya karena merasa tidak berdaya.


Perasaan tidak berdaya karena dirinya merasa tertekan dengan semua masalah yang sedang dihadapinya sedangkan dirinya tidak bisa mempercayai semua orang karena merasa takut bahwa hatinya kembali lagi tersakiti seperti hari-hari kemarin.


Tala yang merasakan asin serta pipinya merasa ada air yang menetes segera melepaskan ciuman yang diberikannya kepada Eve.


Tala dan Eve sibuk mengambil nafas akibat ciuman yang dilakukan oleh Tala seolah mengatakan tidak ada hari esok itu apalagi dengan emosi yang ada di dalam dirinya.


Melihat Eve yang menangis semakin membuat Tala marah hingga akhirnya meninju dinding yang berada di sebelahnya membuat Eve sangat takut melihat Tala seperti itu sekaligus merasa khawatir ketika ada darah yang keluar dari punggung tangan Tala karena Tala memukul dinding tidak hanya sekali dan kekuatan yang digunakan Tala sangat kuat.


“Ka-kak jangan seperti itu, itu melukai tangan kakak.” Pinta Eve yang sudah menangis melihat Tala yang terluka dan berdarah itu.


Tala menatap ke arah Eve dengan tatapan tajamnya hal itu membuat Eve takut dan menundukkan kepalanya.


Jika dulunya Tala akan selalu menghindar dari Eve dan sebisa mungkin meminimalisir pembicaraan keduanya namun kali ini beda Eve yang sudah menghindar dari Tala dan tidak banyak bicara.


“Kak tolong jangaaaannnnn.” Teriak Eve histeris melihat Tala hendak memukul dinding lagi membuat Tala yang hendak memukul terhenti.

__ADS_1


Eve segera memeluk Tala dari samping sambil menggelengkan kepalanya, “tidak jangan, tidak jangan, jangan, jangan aku mohon.” Ucap Eve yang sudah bersimbah air mata memohon kepada Tala.


“Jangan lakukan itu kak aku mohon.” Ucap Eve dengan lirih lalu pingsan membuat Tala yang semula tidak memeluk Eve segera memeluk Eve.


Tala segera membawa Eve tidur di atas ranjang dan hanya melihat Eve yang pingsan tersebut. Pintu kamar diketuk dari luar membuat Tala menolehkan kepalanya dan segera berjalan ke arah pintu.


Ternyata yang mengetuk pintu adalah kepala pelayan. “Maaf mengganggu Tuan muda, Nyonya besar menyuruh saya untuk mengingat Tuan muda dan Nona muda agar segera turun untuk sarapan bersama.” Ucap kepala pelayan sambil matanya mencari sosok Eve namun dihalang oleh badan kekar Tala.


“Kami akan sarapan di kamar saja bibi tolong bawa sarapannya tiga puluh menit lagi.” Ucap Tala sembari menyembunyikan tangan di sebelahnya dan menahan pintu kamarnya.


Kepala pelayan yang melihat tingkah Tuan mudanya merasa penasaran, “apakah Nona muda lagi sakit Tuan muda?” Tanya kepala pelayan dengan berani.


Tala segera menggelengkan kepalanya, “tidak dia hanya lelah saja.” Jawab Tala sambil menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya Tala melakukan hal itu hanya akting saja agar kepala pelayan tidak curiga dengannya dan terlihat ambigu.


Kepala pelayan yang mendengarnya segera menundukkan kepalanya menahan senyumnya. “Kalau begitu saya pamit mengundurkan diri ke bawah maaf mengganggu istirahat Tuan dan Nona muda.” Ujar kepala pelayan.


Tala menganggukkan kepalanya lalu melihat kepala pelayan sudah berjalan cukup jauh baru Tala menutup pintu kamar dan menguncinya.


Tala meregangkan ototnya dengan memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu menatap ke arah Eve yang sedang tidur lebih tepatnya pingsan.


Tala mengepalkan kedua tangannya dengan erat lalu melihat ke arah tangan kanannya yang berdarah. Dengan segera Tala mengobati lukanya sendiri dengan susah payah di atas tempat tidur samping Eve.


Eve mengerjapkan kedua matanya dan merasakan kepalanya pusing sehingga membuat Eve. Tala yang sibuk mengobati lukanya dan hendak membalut perban di tangannya menoleh sedikit.


Eve yang melihatnya menatap ke arah Tala yang sedang susah payah membalutkan perban dengan segera menggeser tubuhnya mendekat ke arah Tala.


“Biarkan Eve saja kak.” Ucap Eve dengan suara gemetarnya melihat tangan Tala yang berdarah seperti itu.


Eve menggigit bibirnya menahan tangis melihat tangan Tala yang terluka. Walaupun Eve sering dilukai oleh orang baik psikologis dan fisiologisnya namun Eve masih tetap tidak bisa melihat orang di sekitarnya terluka.


Eve yang membalut luka Tala dengan perbannya. “Alasan ku menjadi dokter adalah untuk mengobati orang terdekat ku terluka sehingga aku bisa berguna…” ucap Eve dengan pelan lalu Eve berhenti bicara karena tidak mau melanjutkan ucapannya karena tidak ingin terbuka.


Eve takut terbuka dengan orang karena tidak mau ada lagi orang yang menyakitinya dan menurut Eve perasaannya, psikologisnya, fisiknya itu tidak penting asal orang lain tidak terluka di depannya apalagi itu adalah orang terdekatnya.


Setelah ucapan itu tidak ad ayang bersuara, Eve menatap sedih tangan Tala yang sudah hampir selesai di perban itu. Air mata Eve menetes di perban Tala.


Dengan buru-buru Eve segera menghapusnya agar Tala tidak melihatnya namun sayang Tala sudah melihatnya hanya saja Tala memilih diam karena merasa kesal.


“Maafkan aku.” Ucap Eve dengan lirih sambil mengelus tangan Tala yang sudah selesai di perban lalu menatap ke arah Tala yang menghindar dari tatapannya. Hal itu membuat Eve merasa sakit melihatnya namun Eve berusaha menguatkan hatinya karena ini adalah yang terbaik buat semuanya terutama Tala.


Sore harinya Tala dan Eve sudah bersiap untuk berangkat dan keduanya sudah berada di bandara. Namun sedari tadi Eve terlihat sangat gelisah karena merasa ada sesuatu yang terjadi dan itu tidak baik apalagi mengingat pesan yang dikirimkan oleh seseorang kepadanya semalam.


Setelah melewati pertanyaan yang ada dari ibu Dhara dan Adya mengenai tangan Tala yang di perban rasa kegelisahan kembali muncul dan ini lebih kuat lagi.


Jika tadi dirinya bingung harus memikirkan apa jawaban yang bisa diberikan agar ibu Dhara dan Adya tidak menanyakan lebih lanjut apalagi tadi dirinya menangis lagi beruntungnya Eve bisa menutupinya dengan make up.


Tala dan Eve menunggu pemberitahuan keberangkatan setelah mereka melakukan check ini kini keduanya duduk dengan tenang dan tidak ada yang bicara satu pun. Ibu Dhara sengaja memilih penerbangan buat bulan madu kedua Eve dengan Tala menggunakan pesawat komersial atas permintaan dari Tala dan Eve hanya mengikuti dan menyetujui.


Di dalam mansion tepatnya di dalam kamar Adya, Adya membuka laci di samping tepat tidurnya dan mengambil benda yang sudah disimpannya selama tiga hari itu karena tidak ada waktu untuk membacanya.


Sebenarnya Adya merasa ragu untuk membukanya karena ini melanggar privasi Eve namun Adya merasa penasaran dengan benda yang berbentuk buku yang pasti isinya itu adalah jurnal sehari-hari yang ditulis Eve.


Adya memilih buku jurnal yang sudah selesai dan selesai ditulis oleh Eve adalah dua minggu yang lalau agar Eve tidak merasa curiga jika Adya mengambil jurnal yang baru. Apalagi melihat isinya setiap hari Eve akan menulis jurnal kesehariannya ketika Adya melihat tanggal per tanggalnya.


Adya tidak membaca dari mulai awal namun Adya ingin membaca bagian akhir dari jurnal tersebut karena menurut Adya dia ingin tau ujung cerita dari jurnal harian Eve. “Maafkan aku Eve aku sangat penasaran.” Ujar Adya lalu tangannya membuka bagian akhir tersebut dan membacanya.

__ADS_1


Adya menatap tidak percaya dengan apa yang dibacanya bagaimana perasaan Eve dan ungkapan hati Eve yang tertera di sana.


Adya menangis membacanya dan merasa kesal dengan apa yang dibacakannya bagaimana tidak Eve menceritakan bahwa dirinya sangat ketakutan dengan pesan yang mengancamnya dengan Eve yang anak pungut, pembunuh, dan perusak hidup orang.


Adya tidak habis pikir bagaimana bisa orang berkata sejahat itu kepada Eve padahal Eve sangat baik dan lembut hatinya.


Adya segera membuka lembaran awal dan membacanya dari awal setelah merasa terkejut dengan apa yang dibacanya di halaman terakhir.


Hampir dua jam lamanya Adya membaca akhirnya jurnal itu selesai juga dibaca oleh Adya. Adya tampak terkejut dengan fakta yang ia ketahui dan merasa sakit.


Dada Adya sesak dan pandangan Adya sangat kosong dengan segera Adya menaruh buku jurnal harian Eve di dalam laci dan menguncinya lalu mengambil obatnya yang berada di atas nakas samping tempat tidur.


Tangan Adya gemetar dan pandangannya selain kosong sangat berkabut dada Adya semakin sesak karena merasakan sakit mendengar curahan hati Eve sekaligus merasa bersalah dengan Eve.


Pengawal Adya yang mengetuk pintu kamar Adya untuk memberikan cemilan sehat di sore hari segera membuka pintu dan betapa terkejutnya pengawal Adya yang melihat bahwa Adya sedang memegang dadanya dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


“Nona.” Teriak pengawal Adya lalu segera berlari ke arah Adya dan meletakkan nampan berisi cemilan sehat itu di atas kasur.


“Apa yang terjadi dengan Nona?” Tanya pengawal Adya dengan panik melihat Adya seperti itu. Sudah lama sekali Adya tidak drop kesehatannya kenapa tiba-tiba begini.


Pengawal Adya memencet tombol yang berada di samping ranjang Adya sehingga suara bunyi darurat terdengar ke seluruh mansion baik di dalam maupun di luar.


Ibu Dhara dan ayah Davka yang sedang berada di ruang keluarga menatap satu sama lain lalu segera berlari ke arah kamar Adya.


Mereka tau jika itu adalah dari arah kamar Adya karena mereka sengaja membedakan suara bunyi bel yang darurat itu untuk jaga-jaga selain jika ada kebakaran.


Ayah Davka sembari berlari mengambil ponselnya dan segera menelpon rumah sakit untuk menyiapkan ruang dan dokter karena keadaan sangat darurat.


“Apa yang terjadi dengan Adya, yah?” Tanya ibu Dhara dengan cemas dan khawatir. Karena yang dilihat oleh ibu Dhara keadaan Adya sangat stabil bulan ini walaupun harus terus bergantung dengan obat dan kemoterapi.


“Ibu tenanglah.” Ujar ayah Davka.


Sementara di dalam bandara waktu Tala dan Eve hendak berjalan ke pesawat yang akan membawa mereka ke pulau B untuk bulan madu.


Tala mendapatkan telepon dari pengawal yang ada di mansion dan mengatakan bagaimana kondisi Adya yang sedang dibawa ke rumah sakit setelah sempat mengalami sesak di dada dan jatuh pingsan.


Tala menatap ke arah Eve yang sedang menatap ke arahnya dengan bingung namun yang bisa Eve lihat adalah tatapan khawatir sehingga membuat Eve sangat gelisah.


Tala segera berlari meninggalkan Eve tanpa bersuara. Eve yang melihatnya menoleh dan mengejar Tala tanpa peduli bahwa mereka sedang ditunggui.


Tala memesan taksi yang tepat berhenti di depan lobi bandara meninggalkan Eve yang jauh di belakang sementara Eve yang melihat Tala sudah pergi dengan taksinya berhenti.


Lalu bunyi ponsel Eve berdering dan Eve segera merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Tangan Eve bergetar ketika membuka dan membaca pesan itu.


‘Lihat aku baik bukan karena berusaha memberikan kamu kesadaran bahwa kamu bukanlah siapa-siapa bagi Nabastala. Kenyataannya bahwa kamu itu tidak terlihat dan selamanya akan seperti itu. Aku sudah bilang semalam bahwa acara bulan madu kedua kalian akan gagal. Kamu akan selalu kesepian dan sendiri.’


Pandangan Eve kosong setelah membacanya dan jatuh terduduk lalu telepon Eve kembali berdering dan itu berasal dari pengawal pribadinya. “Nona muda, Nona Adya dilarikan ke rumah sakit.” Ucap pengawal pribadinya itu kata-kata selanjutnya tidak Eve dengar lagi karena telinganya terasa berdengung.


“Tolong jangan sakiti kak Adya.” Ucap Eve dengan lirih dan menangis di tengah-tengah keramaian orang yang berlalu lalang melihat ke arahnya.


 


*Bersambung*


 

__ADS_1


__ADS_2