Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 166. Terjatuh


__ADS_3

"Sayang, ayah harus mengantar Orion berangkat ke sekolahnya." Pamit Tala dan Eve hanya menganggukkan kepalanya dia baru saja selesai makan dengan disuapi oleh Tala. Bukan Eve yang meminta melainkan Tala yang menawarkan diri.


Cup cup


Tala mencium kening Eve dan juga Galaksi yang sedang tidur. "Ayah pergi menemui kakak dulu ya."


Orion saat ini sedang sibuk dengan makanannya. Orion sama sekali tidak rewel atau menanyakan di mana ayah dan bundanya.


"Orion nanti berangkat ke sekolahnya ayah yang mengantar." Ucap Geya kepada keponakannya itu.


"Buna ana?" Tanyanya dengan cadel.


"Bunda lagi berada di rumah sakit bersama adik bayi besok bunda dan adik bayi baru pulang bersama dengan kakek dan nenek."


Orion hanya diam saja Geya merasa penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran Orion.


Apa Orion akan cemburu?


Apa Orion akan rewel nantinya melihat ayah dan bundanya mempunyai Gala?


"Orion suka punya adik bayi tidak?"


"Olion suka Jeje."


"Jean atau Jeje Lily?" Karena Lily lebih tua beberapa bulan dari Orion jadi Orion memanggil Lily dengan sebutan Jeje yang artinya kakak perempuan.


"Jean bibi. Olion suka manggil Jean Jeje."


Geya menganggukkan kepalanya Axel datang menghampiri keponakan dan istrinya itu.


"Masih menunggui kak Tala?" Tanya Axel Geya menganggukkan kepalanya.


"Selamat pagi Orion." Sapa Axel.


"Pagi paman."


"Mama di mana?" Tanya Axel yang tidak melihat keberadaan mamanya.


"Mama lagi di kamar mandi katanya sakit perut." Axel menganggukkan kepalanya.


"Orion nanti bunda dan ayah punya adik baru buat Orion. Orion suka tidak?"


"Adik? Di pelut buna?" Geya mengangguk dengan semangat.


"Apa buna nggak ada kalena ada adik bayi?"


"Iya, bunda sudah melahirkan seperti bunda melahirkan Orion dulu. Adik bayi sangat kecil."


"Orion sudah jadi kakak." Lanjut Geya lagi, "Orion senang tidak ada adik bayi?" Tanya Geya lagi dia penasaran dengan perasaan dan pikiran Orion.


Orion yang sudah pandai berbicara membuat semua orang senang mendengar celotehannya.


"Tidak tau." Singkat jelas dan padat.


Geya ingin menanyakan lagi dan Axel hanya menatap Geya sembari tersenyum saja.


"Orion senang punya adik bayi seperti Jean atau seperti Kala, Kafin dan Ryder?"


Orion menatap ke arah bibinya itu sembari meminum jus yang baru saja diberikan kepadanya. "Ya habiskan dulu jusnya." Ujar Geya sembari tertawa kecil.


Orion kalau sudah makan dan minum terlalu asyik dan sangat menggemaskan untuk dilihat karena sikap Orion seperti orang dewasa saja kalau Orion sudah fokus.


"Olion suka Jeje, Olion suka Kafin, Olion suka Lyder." Ucap Orion mengambil nafas sejenak untuk melanjutkan bicaranya, "Olion juga suka Jeje Lily."


"Kalau adik bayi di dalam perut bunda, Orion suka tidak?"

__ADS_1


"Suka, pelut buna besal seperti mami dulu. Tapi...pelut Mami sudah meletus seperti balon banggggg." Mami yang dimaksud Orion adalah mami Jean.


Geya semakin merasa gemas dengan Orion apalagi jika Orion bercerita tangannya dan ekspresinya mengikuti apa yang dikatakannya.


"Iya perut mami sudah meletus dan keluar Kalandra. Begitu juga dengan perut bunda." Bukan Geya atau pun Axel melainkan Tala yang menjawabnya dan kini sudah berdiri di belakang Orion yang sedang duduk di kursi bayinya.


Tak lupa Tala mencium kedua pipi bulat milik Orion yang seperti bakpao apalagi dengan rona merah muncul karena ulahnya.


"Selamat pagi anak ayah yang paling tampan dan paling lucu. Bagaimana tidurnya semalam, apa nyenyak atau Orion merindukan ayah dan bunda seperti ayah dan bunda rindu Orion?"


"Buna ana?" Tanya Orion yang tidak melihat Eve.


"Bunda tidak ada bunda lagi di rumah sakit bersama adik Orion yang ada di dalam perut bunda. Orion sama ayah dulu ya sayang anak baik." Tala mengeluskan kepala Orion.


"Kenapa kakak lama sekali? Apa tadi macet?" Tanya Axel.


"Tidak aku baru saja selesai menemani Eve sarapan dan membersihkan Galaksi."


"Siapa Galasi?" Tanya Orion yang mendengar ayahnya menyebut nama yang asing baginya.


"Itu adalah nama adik Orion namanya Regulus Galaksi Werawan. Orion boleh memanggilnya Gala."


"Gala sama Kala."


"Beda sayang Kala adik princess Jean, Gala adik Orion." Jelas Tala singkat namun bisa dipahami oleh Orion.


"Jean adik siapa?" Tanya Orion tidak suka kenapa harus dibeda-bedakan.


"Tentu saja Jean adik kakak Orion juga. Orion adik dari Jeje Lily. Kala, Kafin, Ryder dan Gala adalah adik Orion. Apa Orion mengerti?" Tanya Tala dengan lembut menjelaskan kepada Orion agar tidak melukai perasaan anak pertamanya itu.


"Jeje Lily tidak punya adik?"


"Adik Jeje Lily ada Orion, Jean, Kafin, Ryder, Kala dan Galaksi kalian adalah teman dan keluarga."


......***......


Orion saat ini sedang menangis karena kepalanya terbentur lantai akibat ia berlari dan terjatuh. Bahkan lututnya sampai terluka.


Tala segera mendekat ke arah anaknya, seharusnya tadi dia saja yang menghampiri sehingga Orion tidak akan terluka seperti ini.


Orion sudah pulang sekolah dan Tala yang menjemputnya. Orion senang karena yang menjemputnya adalah ayahnya makanya Orion berlari apalagi melihat ayahnya yang merentangkan kedua tangannya.


Tala mengusap lembut rambut Orion yang sedang menangis sesenggukan sembari bersandar di bahu lebarnya.


"Ma-mau...bu-buna." Rengek Orion di sela-sela tangisnya.


Tala menggendong Orion ke sana kemari menggoyangkan tubuhnya sembari menepuk pelan punggung Orion.


"Iya besok Orion sudah ketemu bunda. Bunda pulang besok. Orion sama ayah dulu ya." Ucap Tala.


"Ngg-nggak mauuuuu."


Airen menghampiri Orion dan Tala. "Apa yang terjadi?" Tanya Airen melihat Orion menangis dan merengek tidak seperti biasanya.


Jean yang sedang berada di samping Airen hanya menatap ke arah Orion dengan mata yang berkedip Orion menyembunyikan wajahnya karena malu dilihat oleh Jean.


Airen tertawa kecil melihatnya. "Mau bersama mami?" Tanya Airen Orion menggelengkan kepalanya.


"Kakak yang menjemput Jean? Kala bagaimana?"


"Kala sama Cici sebentar. Jean merengek ingin dijemput setelah pagi papi mengantarnya ke sekolah."


Jean meminta di gendong oleh Tala membuat Tala tersenyum dan berjongkok. "Jean kakak Orion sedang menangis jadi ayah tidak bisa menggendong Jean."


Perkataan Tala membuat Jean memajukan bibirnya kesal dengan tangan berlipat dada terlihat bahwa Jean sedang merajuk.

__ADS_1


Tala tertawa kecil melihatnya, "kenapa princess Jean merajuk nanti cantiknya berkurang." Setelah mengatakan itu Tala langsung menggendong Jean.


Airen yang tadi pergi ke mobil sebentar untuk mengambil kotak P3K kembali dan melihat Tala sedang menggendong Orion dan Jean.


Airen hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Jean, lutut kakak Orion terluka jadi ayah perlu duduk agar mami bisa mengobati lutut kakak Orion." Ujar Airen.


Tala melihat ke sekitar dan ada bangku yang tidak jauh dari jarak mereka berdiri. Airen mengikuti ke mana langkah kaki Tala.


"Princess Jean duduk di samping ayah dulu ya. Ayah mau perbaiki posisi kakak Orion karena luka kakak Orion harus diobati." Kali ini Jean menurut namun tetap menempelkan tubuhnya ke arah Tala dan menggandeng tangan Tala dengan posesif.


Orion memalingkan wajahnya sesenggukan masih terdengar. "Mami permisi obati ya sayang nanti kalau tidak diobati segera akan bertambah lukanya. Buna pasti sedih melihat kakak Orion yang terluka termasuk mami juga." Ucap Airen dengan pelan mengobati luka di lutut Orion.


"Sepertinya dia malu melihat ke arah Jean dan Jean merasa tidak suka karena diabaikan." Ujar Airen tertawa kecil melihat anak dan keponakannya itu.


"Makanya Jean menempel padaku." Ujar Tala yang tersenyum melihat tingkah kedua bocah berbeda jenis kelamin tersebut.


"Kenapa dia bisa terjatuh? Apa dia berlari atau tersandung?" Tanya Airen sembari fokus mengobati kaki Orion.


"Dia berlari karena terlalu semangat melihat aku yang menjemputnya."


Jean memegang tangan Orion yang berada di depan hal itu membuat Tala dan Airen tertawa. "Masih kecil sudah bisa gengsi." Ujar Airen melihat Orion tetap mengalihkan pandangannya dari Jean sedangkan Jean sepertinya saat ini bersabar melihat kakak sepupunya yang tidak melihat ke arahnya.


Daisy dan Lily berjalan mendekat ketika melihat keberadaan Tala, Airen, Jean dan Orion. Terlebih lagi melihat Airen yang fokus mengobati luka Orion.


Orion, Lily dan Jean satu sekolah yang sama. Orion dan Lily satu angkatan namun beda kelas sedangkan Jean berada di bawah mereka.


"Orion kaki mu kenapa?" Tanya Lily yang paling fasih berbicara adalah Lily. Lily sudah tidak cadel lagi dan artikulasinya jelas.


Orion menundukkan kepalanya Lily berjalan mendekat melihat Orion yang menunduk. "Jeje Lily, Orion sedang malu karena dia habis menangis." Ucap Tala memberitahu.


Daisy tertawa mendengarnya. "Seperti orang dewasa saja."


Lily meniupkan lutut Orion dengan serius, sementara Jean kesal karena Lily tidak melihat ke arahnya.


"Huwaaaaaaaa." Tangis Jean pecah pada akhirnya membuat ketiga orang dewasa menatap ke arah Jean bingung.


"Jean kenapa, apa ada serangga yang menggigit atau kenapa?" Tanya Tala melihat Jean yang mengucekkan kedua matanya tidak lupa bibirnya yang cemberut.


Lily berjalan mendekat ke arah Jean dan memeluk Jean. "Sepertinya Lily sudah siap punya adik." Ujar Tala melihat Lily yang begitu sayang dan perhatian kepada Orion dan Jean.


Lily sangat dewasa walaupun saat ini dia masih menjadi anak tunggal.


"Kamu tau sendiri bagaimana sahabatmu itu." Ujar Daisy Tala hanya menganggukkan kepalanya.


"Dah selesai. Sini Jean sama mami." Ucap Airen setelah selesai membersihkan luka Orion dan membersihkan kotak P3K yang dibantu Daisy.


"Pasti sangat merepotkan sekarang bagimu tapi kamu harus menikmatinya dengan baik. Kalau begitu aku dan Jean pulang apa Orion mau ke mansion mami dan papi?" Tanya Airen.


Orion masih betah dalam diamnya, "atau Orion mau ke rumah Jeje Lily?" Orion juga tidak menjawab dan malah menempelkan wajahnya di dalam bidang Tala.


"Sepertinya suasana hatinya kurang baik. Aku akan mengantarnya nanti ke rumah mama setelah Orion puas bermain bersamaku." Ujar Tala.


"Ayah kenapa Orion diam saja?" Tanya Lily.


Tala tersenyum, "dia sedang malu sama Jeje Lily dan Jean karena ketahuan menangis." Bisik Tala di telinga Lily.


Lily mengangguk mengerti, "Orion tidak apa menangis kan Orion sedang terluka Jeje juga akan menangis jika terluka seperti Orion bahkan daddy sering merengek dan menangis padahal daddy sudah besar." Tala menatap ke arah Daisy dan Airen tertawa mendengarnya. Daisy mengedikkan bahunya.


Bukan dia yang membocorkan rahasia suaminya yang sering menangis lebih tepatnya pura-pura menangis jika Lily sedang menempel pada Daisy atau Lily ingin tidur bersama dengan Daisy dan Jackson.


Namun perkataan Lily mampu membuat Orion mengintip ke arah Lily. Lily yang melihatnya tersenyum dan mencium pipi Orion.


"Ahhh apakah mereka sudah besar akan sangat menggemaskan seperti ini." Ujar Daisy.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2