Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 94. Berita Menggembirakan


__ADS_3

Joha selesai dengan sarapan yang dibuatkan olehnya dan dengan penuh semanagat Joha berjalan ke depan untuk memberikan sarapan buat ibu hamil dan juga istrinya.


“Sayang, ibu hamil sarapannya sudah siap.” Ucap Joha dengan gembira membuat Eve dan Airen menoleh karah Joha yang sedang membawakan sarapan untuk mereka.


“Seharusnya kak Joha panggil saja nanti kami ke sana jadi kak Joha tidak perlu repot membawanya.” Ujar Eve sembari berangkat hendak membantu. Namun, Airen menahannya.


“Ibu hamil duduk saja biarkan aku dan Joha yang akan menyiapkannya.” Celetuk Airen merasa kasihan melihat Eve yang kesusahan untuk berangkat.


“Iya benar apa kata kakak ipar mu.” Ujar Joha membuat semuanya menjadi diam.


Eve menatap ke arah Airen dan Joha yang membeku, “hehhe maksudnya kami kan sudah jadi kakak mu kan.” Ketiganya kembali tertawa.


Airen dan Joha tertawa sambil bernafas dengan lega mereka berdua menatap ke arah satu sama lain. “Apakah ini sudah boleh dimakan?” Tanya Eve kepada sepasang suami istri yang asyik bertatapan itu.


Eve sudah tidak sabar dengan hidangan yang ada di depannya ini terasa sangat menggiurkan apalagi dirinya sudah merasakan kelaparan. “Iya bumil silahkan dimakan.” Ucap Joha dengan semangat mengalihkan tatapan dari istrinya ke arah Eve yang tidak pernah lepas memandang sarapan pagi yang dibuatkan olehnya.


“Ternyata seleranya sama dengan daddy.” Ucap Joha di dalam hatinya. Joha memang sengaja memasak sarapan kesukaan dari mom dan daddy-nya untuk melihat apakah Eve lebih condong ke arah mom-nya mereka atau daddy mereka.


“Bagaimana rasanya?” Tanya Joha kepada Eve setelah melihat Eve memakan dengan beberapa kali suap.


“Oh heheh maaf kak, ini snagat enak bayiku juga sangta menyukainya apalagi dengan omelet dan pancake ini.” Tunjuk Eve sembari memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


Joha merasa sangat senang mendengarnya tentu saja apalagi melihat senyum cerah Eve hari ini. Bumil itu terlihat sangat cantik berkali-kali lipat. “Seperti mommy.” Gumam Joha dengan lirih menatap ke arah Eve yang sibuk dengan sarapannya.


“Ekhm, hari ini apa kamu ada jadwal Eve?” Tanya Airen memulai obrolan mereka. Eve mengusap perutnya karena merasa kekenyangan.


“Emmm tidak ada kak, selama trimester kedua ini aku mengurangi pekerjaan mendesain aku yah walaupun terlihat sederhana.” Ujar Eve.


“Aku kekenyangan dan sangat mengantuk.” Celetuk Eve membuat Joha yang kembali dari dalam menatap khawatir ke arah Eve.


“Maafkan aku telah membuat mu kekenyangan.” Ujar Joha kepada Eve.


Eve menolehkan kepalanya dan tersenyum melihat nada penuh khawatir tidak lupa juga raut wajah Joha yang terlihat sangat sedih.


“Sayang lihatlah papi mu terlihat khawatir karena kita kekenyangan.” Celetuk Eve kepada bayi di dalam perutnya.


Joha tertegun dan Airen tersenyum melihatnya pasti sebentar lagi mata suaminya itu akan berkaca-kaca karena tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Eve.


“Lihat bayinya menendang.” Ujar Eve dengan gembira menatap ke arah Airen dan Joha. Airen tersenyum dan mengelus perut Eve di mana pergerakan bayinya berasal.


Joha ingin sekali mengelus perut adiknya itu namun dirinya sadar bahwa masih perlu waktu dan proses karena Eve akan tidak nyaman dengannya nanti. Ingin sekali Joha memberitahukan bahwa dirinya adalah kakak kandungnya.


Satu minggu setelahnya Joha merasakan badannya sangat lemas dan sudah berapa kali pagi ini dirinya bolak balik ke kamar mandi.


Hal itu membuat Airen merasa khawatir begitu juga dengan Eve. Karena biasanya Joha dan Airen akan datang ke rumahnya untuk membuatnya dan menemaninya sarapan.

__ADS_1


Namun pagi ini masih belum ada tanda-tanda kedatangan keduanya, “apa aku bangun kepagian.” Ujar Eve dengan dirinya sendiri sembari matanya mencari jam dinding dan jam menunjukkan pukul 8 pagi dan itu artinya dirinya tidak kepagian malah kesiangan.


Selama hamil Eve selalu bangun kesiangan hal itu disebabkan oleh hormon kehamilannya karena terkadang kalau di malam hari membuat Eve terlihat sangat gelisah sebelum tidur.


Lagipula tidak ada pekerjaan yang mengharuskan Eve untuk bangun pagi seperti pekerjaannya sebagai dokter.


Ada rasa rindu di dalam diri Eve untuk merawat pasien dan mengoperasi pasien di ruang operasi serta melihat raut wajah bahagia dan senang para keluarga dna pasiennya hal itu menjadi healing buat Eve sendiri dikala dirinya sedang berada dalam tekanan.


Eve duduk di depan rumahnya menanti kedatangan sepasang suami istri itu. Eve sudah merasa bergantung dengan sepasang Airen dan Joha.


“Apakah terjadi sesuatu dengan mereka?” Gumam Eve.


“Sayang sebaiknya kita pergi ke rumah sakit lihat wajahmu sangat pucat.” Ucap Airen sembari mengusap rambut Joha yang kini sedang memeluknya.


Suaminya itu saat ini sedang sangat manja sekarang katanya jika berada di dekatnya dan memeluknya perutnya tidak akan mual lagi karena aroma tubuhnya terasa sangat menenangkan.


Padahal Airen belum mandi sama sekali dan susah bergerak karena bayi besarnya. Ya Airen memang menanggap Joha sebagai bayi besarnya sekarang.


“Eve pasti merasa aneh dan khawatir melihat kita yang tidak datang ke rumah.” Celetuk Airen membuat Joha segera bangkit dari posisi memeluk Airen.


“Benar aku harus membuatnya sarapan.” Ucap Joha beranjak berdiri namun baru beberapa langkah dirinya dari tempat tidur Joha memutar arahnya menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan isi di dalam perutnya.


Airen segera menyusul suaminya dan mengusap punggung suaminya dengan khawatir karena kini Joha kembali memuntahkan isi perutnya. “Perut aku sangat perih.”


Wajar saja perut Joha sangat perih karena dirinya belum memakan makanan apa pun ke dalam perutnya itu. “Kan kita belum sarapan, aku buatkan sarapan ya tadi aku sudah menelpon Cici untuk membuat dan menyiapkan sarapan buat Eve.” Ujar Airen.


“Sayang aku sangat lemas dan akan kembali muntah jika tidak memeluk atau berada dekat dengan mu. Kamu jangan melakukan apa pun biarkan nanti Cici yang membuat sarapan buat kita dan juga Eve.” Ucap Joha sembari mengendus rambut Airen.


“Nona sarapannya sudah siap apakah Nona ingin makan di sini adalah di dalam.” Ujar Cici kepada Eve yang sedang menatap ke arah rumah Airen dan Joha.


“Apakah aku berlebihan jika aku datang ke rumah mereka sedangkan aku bukan siapa-siapa mereka. Aku tidak nafsu sarapan hari ini entah kenapa.” Celetuk Eve.


Cici menghela nafasnya terpaksa dirinya harus memberitahukan mengenai keadaan Joha kepada Eve. “Kata Nona Airen Tuan Joha saat ini sedang tidak enak badan karena sedari pagi tadi Tuan Joha selalu muntah-muntah. Nona Airen juga tidak bisa bergerak dengan leluasa karena Tuan Joha menahan Nona Airen dengan memeluknya.” Ucap Cici.


Mendengar perkataan Cici membuat Eve berpikir keras dalam diamnya wajah datar Eve membuat Cici merasa sangat khawatir apakah Eve marah atau suasana hati ibu hamil itu sedang tidak baik sekarang mendengar apa yang dikatakan olehnya tadi.


“Cici siapkan sarapan aku dan buat kak Joha dan kak Airen aku akan sarapan di sana. Aku pergi ke kamar terlebih dahulu.” Ucap Eve lalu beranjak pergi.


Walaupun Cici tidak mengerti apa maksud dari perkataan Eve namun Cici menurutinya lagipula tidak ada salahnya Joha dan Airen kan adalah kakak dan kakak ipar Eve hanya saja Eve masih belum mengetahui fakta itu.


Airen berusaha melepaskan pelukan Joha dari perutnya dengan perlahan karena saat ini Joha sedang tidur dengan memeluk dirinya.


Dengan Susah payah akhirnya Airen berhasil dan segera berjalan ke depan, Airen bisa menebak bahwa itu adalah Cici yang memencet bel rumah.


Namun ternyata ketika dirinya membuka pintu tidak hanya Cici melainkan ada Eve yang sedang menatap ke arahnya dengan tersenyum penuh semangat.

__ADS_1


“Kakak harus coba ini.” Ujar Eve sembari memberikan alat tes kehamilan kepada Airen, Airen tentu saja tau mengenai alat itu namun Airen merasa bahwa dirinya sedang tidak hamil bahkan tanda-tanda kehamilan tidak dirasakan oleh Eve.


“Kakak nurut saja sama Eve.” Ujar Eve dengan semangat sembari mengarahkan Airen ke kamar mandi dapur. “Sana kak cepatan, tadi aku mendengar apa yang dikatakan Cici dan aku yakin.” Ucap Eve dan Airen pun mengikuti apa yang dikatakan Eve walaupun di dalam benaknya merasa sangat ragu.


Eve entah kenapa dirinya merasa sangat peka setelah mengalami dua kali kehamilan entah itu karena hormon kehamilannya yang sedang sensitif sehingga mudah merasakan sesuatu sekecil apa pun atau entah karena ilmu kedokterannya sedang bekerja.


Joha kembali ke kamar mandi karena ingin muntah-muntah. Di dalam kamar Joha tidak melihat keberadaan istrinya itu.


Setelah hampir lima belas menit akhirnya Joha selesai dengan aksi muntah-muntahnya badannya terasa sangat lemas. “Sayang kamu di mana?” Tanya Joha dengan mata berkaca-kaca entah kenapa Joha terlihat sangat sensitif.


Joha keluar dari dalam kamar untuk mencari keberadaan istrinya itu dapat Joha dengar ada suara wanita dari arah dapur.


“Nona memangnya Nona Airen sedang hamil?” Tanya Cici dengan bingung apalagi spekulasi yang dibuat oleh Eve. Apa hubungannya dengan Joha yang mengalami muntah-muntah dan memeluk Airen dengan kehamilan.


Eve menatap ke arah Cici dengan tersenyum hal itu semakin membuat Cici merasa sangat penasaran. “Kita lihat saja nanti Cici.” Ujar Eve dengan semangat. Jika benar tebakannya maka bayi di dalam perutnya nanti akan ada teman dan begitu juga dengan dirinya. Membayangkannya saja terasa sangat menyenangkan.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka dan Eve segera berjalan mendekati ke arah Airen dengan matanya yang berbinar. “Bagaimana kak?” Tanya Eve namun Airen malah memberikan alat tes kehamilan itu kepada Eve.


“Aku tidak berani melihatnya ini kamu saja.” Ucap Airen dan dengan segera Eve mengambil alat tes kehamilan tersebut.


Eve membalikkan alat tes kehamilan itu dan melihat hasilnya di sana tertera dua garis hal itu membuat Eve sangat senang. “Bagaimana?” Tanya Airen penasaran melihat wajah Eve semakin sumringah saja.


“Kakak sebaiknya harus beritahu kak Joha langcung kakak saat ini sedang hamil.” Ucap Eve membuat Airen terdiam.


“Apa?” Pekik seorang pria yang mendengar perkataan Airen dan Eve membuat Eve dan Airen menoleh ke arah pria tersebut yang tidak lain adalah Joha.


“Iya kak, kak Airen sedang hamil lihatlah alat tes kehamilan ini.” Tunjuk Eve memberikan alat tes kehamilan tersebut kepada Joha. “Lihatlah garis ini, garisnya ada dua itu artinya kak Airen saat ini sedang hamil sekarang.”


Joha menggenggam alat tes kehamilan tersebut dengan tangannya bergetar merasa tidak menyangka bahwa Tuhan akan memberinya keturunan secepat ini kepada pernikahan mereka.


Joha memeluk Eve dengan sangat senang dan mencium kening Eve dengan reflek hal itu membuat EVe terpaku. Entah kenapa Eve merasa tidak risih dan bahkan sangat nyaman namun perasaan nyaman itu bukanlah perasaan di mana seorang wanita dan seorang pria yang sedang kasmaran melainkan perasaan yang sangat dekat layaknya keluarga.


“Terimakasih Eve.” Ucap Joha lalu segera memeluk Airen yang kini berkaca-kaca, “sayang saat ini kamu hamil dan kita akan mempunyai bayi dan bayi di dalam kandungan Eve ada temannya.” Ujar Joha dengan bahagia.


Airen merasa sangat senang dan merasa sangat dicintai melihat reaksi Joha yang sangat gembira dengan berita kehamilannya itu sangat berbeda dengan kehamilannya dulu di mana saat dirinya sedang mengandung Ashi mantan suaminya terlihat cuek dan biasa saja.


Hal itu membuat Airen menangis, Joha mengira bahwa itu adalah air mata bahagia karena dirinya juga merasa sangat bahagia dan menangis mendengarnya.


Eve merasa sangat senang dengan pasangan suami istri itu karena merasa lelah Eve duduk di kursi meja dapur. Bahkan kini tangan Eve sedang mengambil sarapannya dan Cici yang menjadi penonton melihat Eve segera menuangkan air putih dan menyiapkan susu hamil buat Eve.


Joha dan Airen selesai dengan euforia mereka dan malah terkekeh melihat Eve yang kini sudah sibuk dengan sarapannya itu. “Aku sedang merawat dua ibu hamil ke depannya. Baiklah papi akan membuat dan menyiapkan makanan buat kalian bayi-bayinya papi.” Ujar Joha membuat Airen dan Eve yang sedang makan tersenyum ke arah Joha.


 

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2