Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 13. Sendiri dan Sepi Berusaha untuk Menguatkan Hati


__ADS_3

Pengawal yang baru kembali dari beli makanan pesanan Eve merasa sedih saat melihat bahwa Eve menangis sambil mengusap perutnya. “Kamu harus kuat Nona.” Ucap pengawal di dalam hatinya.


Mengambil nafas sedalam-dalamnya sebelum mengetuk pintu dan berpura-pura bahwa dirinya tidak melihat Eve menangis. Eve yang mendengar ketukan segera mengusap air matanya lalu memasang wajah tersenyum-nya kembali.


“Masuk.” Ucap Eve dan dengan segera pengawal membukakan pintu ruangannya. Seperti biasa Eve selalu terlihat ceria namun di dalam hatinya penuh dengan luka hal itu semakin terlihat menyakitkan untuk dilihat.


Saat orang berusaha untuk terlihat baik-baik saja namun di dalamnya sedang banyak gejolak untuk membuat semua orang di sekitar tidak merasa khawatir. Pengawal memberikan senyumannya kepada Eve.


“Ini pesanan Nona semoga bayi di dalam kandungan Nona suka.” Ucap pengawal tersebut disambut dengan begitu hangat. Eve mengucapkan rasa terimakasihnya dan langsung memakannya dengan lahap.


Pengawal yang melihatnya tersenyum senang saat melihat bahwa Nona mudanya terlihat begitu bahagia dan sedikit melupakan kesedihannya hanya dengan makanan yang dibelinya. “Nona begitu sangat sederhana dan begitu mudah untuk membuatnya bahagia.” Ucap pengawal di dalam lubuk hatinya.


Tiba waktunya Eve pulang dari kerjanya rasanya Eve tidak mau pulang ke mansion terlebih dahulu saat mengingat bahwa tidak ada orang di mansion. Eve merasakan kesepian. “Bapak bisa tolong kita berhenti di taman dulu.” Ucap Eve dan dengan segera diangguki oleh sopir.


Duduk termenung menatap ke sekeliling taman sambil menikmati suasana di dalam taman yang penuh dengan anak dan para orang tua yang menjaga dan bermain dengan anaknya.


Melihat hal itu membuat Eve tersenyum senang, “nanti kamu juga akan merasakannya sebentar lagi.” Ucap Eve yang berbicara pada perutnya. Lalu di Eve memanggil pengawal untuk datang mendekat kepadanya.


“Apa yang ada yang diperlukan dan Nona inginkan?” Tanya pengawal dengan sopan yang berdiri di samping Eve. Eve sangat senang walaupun mereka bekerja untuk selalu menjaga dirinya entah itu tulus atau tidak namun Eve senang mendapatkan perhatiannya.


“Mulai sekarang aku ingin kamu memotret aku setiap kali ada kesempatan yang bagus seperti sekarang ini dan kamu harus mengirimkan di alamat e-mail ini.” Ucap Eve lalu memberikan alamat e-mail yang dibuatnya.


“Ini adalah kata sandi nanti kamu tolong kasih saat dia sudah lulus SMA.” Ucap Eve dengan mata berkaca-kaca. Pengawal yang mendengarnya tertegun ada pertanyaan yang terbersit di dalam benaknya kenapa Nona mudanya bisa berbicara seperti itu.


“Apakah kamu bisa. Dan tolong jaga rahasia ini.” Lanjut Eve dan menatap pengawal dengan penuh harap agar pengawalnya bisa mengabulkan permintaannya. Pengawal hanya bisa mengangguk pasrah.


“Terimakasih.” Ucap Eve selalu, “walaupun aku tidak tau kamu melayaniku apakah tulus atau tidak. Tapi, apakah kamu tau aku merasa sangat senang mendapatkan perhatian kamu yang selalu sigap. Aku selalu berdoa agar kamu bisa mendapatkan kebahagiaan selalu.”


Pengawal hanya diam dan mengaminkan apa yang dikatakan oleh Nona mudanya itu. “Bukankah mereka terlihat lucu dan manis.” Ucap Eve memandang ke arah kedua anak kecil yang berbeda jenis kelamin sedang bermain.


“Mereka begitu bebas dan penuh dengan bahagia. Tidak ada yang dipikirkan mereka selain bermain dan tidak ada beban yang mereka rasakan selain merengek karena kemauan yang terkadang tidak dituruti oleh orang dewasa.” Ucap Eve.


“Huh, rasanya menjadi anak kecil terlihat menyenangkan. Tatapan mereka begitu polos serta tingkah mereka semua terasa menggemaskan. Akankah aku bisa merasakannya nanti bersama dengan anakku.”


Pengawal bingung harus bagaimana dengan apa yang dikatakan oleh Nona mudanya ini. Pengawal tidak bisa menebak maksud dari perkataan Eve. “Tapi, yang pasti dia juga akan merasa bahagia dan tidak merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya beserta kakek dan neneknya.”


“Ibu dan ayah begitu perhatian kepadaku dan mereka juga pasti sudah menantikan seorang cucu yang sudah lama mereka inginkan. Kak Adya akan merasa sangat senang akhirnya dirinya mempunyai seorang anak nantinya begitu juga dengan kak Tala.”


“Iya Nona, Tuan dan Nyonya besar pasti akan sangat senang mendengarnya nanti bahwa Nona sedang mengandung begitu juga dengan Nona muda Adya dan Tuan muda Tala. Nona memberikan mereka begitu banyak kebahagiaan, Nona sangat beruntung mendapatkan keluarga seperti mereka. Nona dan Nona Adya akan bersama-sama merawatnya nanti.” Ucap pengawal tersebut.


Eve yang mendengarnya senang dan tersenyum miris. Mengalihkan pandangannya ke kanan untuk menghalau air mata yang ingin menetes di pipinya agar tidak terlihat oleh pengawalnya namun sayang pengawal melihatnya.

__ADS_1


“Apakah Nona tau bahwa Nona adalah orang yang paling kuat dan sabar yang pernah saya temui. Nona sangat sopan dan sederhana karakter Nona sama cantiknya dengan wajah Nona. Dan aku sangat senang bisa mendapatkan majikan seperti Nona.”


“Aku berjanji kepada Nona bahwa akan selalu menemani Nona ke mana pun Nona pergi dan menjaga Nona. Walaupun nantinya tidak digaji tapi saya tetap ingin berdiri di samping Nona. Tapi itu tidak mungkin mengingat bahwa Nona adalah menantu keluarga Werawan.” Ucap pengawal


Eve yang mendengarnya menangis terharu membuat pengawal kaget. “Apakah ada yang sakit Nona?” Tanya pengawal dengan nada khawatirnya melihat bahwa Eve yang menangis terisak.


Sopir yang melihat dari jauh segera berjalan mendekat dan menatap tajam pengawal tersebut. Sedangkan pengawal menggelengkan kepalanya bahwa dirinya tidak melakukan apa pun. “Terimakasih aku sangat terharu, kamu sangat baik.” Ucap Eve membuat pengawal menganga tak percaya.


“Aku menangis karena terharu mendengar kata-katamu.” Ucap Eve sambil mengusap air matanya dan sopir dengan sigap memberikan tissu untuk Eve. “Terimakasih bapak.” Sopir menganggukkan kepalanya.


“Nona juga sangat baik, Nona jangan terlalu bersedih hati kami selalu ada untuk Nona.” Ucap pengawal tersebut dan mencolek tangan sopir agar segera menganggukkan kepalanya dan sopir menurutinya walaupun dirinya bingung.


“Kenapa aku jadi cengeng begini.” Ucap Eve sambil tertawa menangis melihat kekonyolannya sedangkan sang sopir dan pengawal tertawa juga melihat kelucuan dari Nona muda yang dijaga mereka.


Selama kurang lebih satu bulan lamanya Eve sibuk dengan pekerjaannya merawat pasien dan satu bulan juga ayah Davka, ibu Dhara, Adya dan Tala berada di negara S karena kondisi Adya tidak stabil. Sungguh kadang di tengah malam membuat Eve sangat tersiksa dengan keinginannya yang ingin memakan makanan dan Eve mengerti bahwa ini adalah namanya mengidam, sering kali juga Eve menangis dalam diam karena kini dirinya hanyalah tinggal sendiri dengan bayinya. Di pagi hari Eve akan sibuk dengan muntahannya dan itu membuat Eve lemas. Namun beruntungnya Eve bisa memasukkan makanan untuk mengisi energinya. Melakukan dan mengecek kandungan sendiri sambil melihat pemandangan para ibu hamil yang ditemani suaminya membuat Eve merasa penuh dengan kesepian. Eve berusaha untuk berpikir positif dan tidak stres dengan memakan makanan yang banyak walaupun pada pagi harinya dirinya akan dibuat lemas karena mual-mual.


“Kamu yang sabar ya sayang nanti kamu akan bertemu dengan ayah, mama, nenek dan kakek kamu. Ibu yakin bahwa mereka akan sangat bahagia mendengar kabar bahwa kamu sudah ada di perut ibu.” Ucap Eve kepada bayinya selalu setiap hari.


Terlihat ibu hamil menatap ke arah Eve yang sedang mengusap perutnya, “dokter sedang mengandung juga?” Tanya wanita hamil tersebut membuat Eve menolehkan kepalanya dan tersenyum serta mengangguk.


“Woah pasti anak dokter nanti cantik sama seperti dokter. Sudah berapa bulan kandungan dokter?” Tanya wanita hamil itu dengan ramah.


“Sekarang sudah dua bulan, kalau ibu sudah berapa bulan?” Tanya Eve kepada wanita hamil itu.


Eve menganggukkan kepalanya dan memperkenalkan dirinya. Anak kecil bernama Noel tersebut memberikan senyumannya kepada Eve dan hal itu membuat Eve sangat senang melihatnya. Di dalam benaknya Eve memuji wajah tampan yang dimiliki anak dari wanita hamil bernama Airell Miranda ini.


Eve merasa nyaman karena wanita hamil yang mengajaknya berbicara tidak bertanya di mana suaminya berada dan tidak menemaninya memeriksa kandungannya. Eve merasa mempunyai seorang teman mengobrol dan ketika Eve memikirkannya suasana hati Eve sangat bagus.


“Sejak tadi Nona tersenyum apa yang membuat Nona begitu senang?” Tanya pengawal tersebut yang terus melihat senyuman Eve setelah pulang dari pemeriksaan. “Apakah kandungan Nona baik-baik saja?”


Karena selama satu bulan ini pengawal jarang sekali melihat Eve tersenyum kalaupun tersenyum ala kadarnya. Yang dilihat pengawal dan sopir hanya wajah diam dari Eve tapi hari ini sepertinya berbeda apakah karena Nona melihat anaknya tadi.


Eve tersenyum dan menatap ke arah pengawalnya, “iya aku sangat senang tadi aku bertemu dengan seorang wanita hamil yang usia kandungannya sama dengan ku dan dia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Entah kenapa saat aku melihat senyuman anak laki-laki itu aku sangat senang dan berpikir apakah anak di dalam kandungan ku perempuan kenapa aku sangat senang melihat wajah tampannya.”


Pengawal hanya mengerjapkan matanya dengan bingung mendengar perkataan dari Eve yang mengaitkan senyuman anak laki-laki itu dengan jenis kelamin yang ada di dalam kandungan Eve.


“Senang melihat Nona tersenyum.” Ucap pengawal tersebut membuat Eve meratakan bibirnya yang terus melengkung namun kembali tersenyum lagi.


Di malam harinya Eve membaca buku di kamarnya dengan tangannya yang terus mengambil cemilan yang sudah disediakan oleh kepala pelayan untuknya untuk mengisi kekosongannya di malam hari.


Jika di pagi sampai siang hari Eve akan disibukkan dengan persiapan, pasien dan bertemu dengan banyak pasien di rumah sakit membuat Eve sedikit melupakan kesedihannya dan kekosongan di dalam dirinya.

__ADS_1


Namun, akan sangat berbeda jika di malam hari Eve akan merasa sangat kesepian dan hal itu tak jarang membuat Eve menangis. “Kamu harus sabar ya sayang.” Ucap Eve lalu kakinya melangkah ke arah balkon kamar.


“Malam yang begitu sepi setiap harinya tidak ada bintang maupun bulan dan sangat gelap.” Ucap Eve memandang ke arah langit dan merapatkan kardigan yang dikenakannya untuk menghalau angin yang berhembus menembus kulitnya.


Pandangan dan pikiran Eve begitu kosong dan berkelana ke mana-mana ada banyak kenangan yang membekas di dalam ingatannya.


Bagaimana dirinya yang begitu bahagia ada keluarga yang mengadopsinya untuk menjadi anak ketika dirinya berusia lima tahun.


Namun, kenyataan yang dirasakannya sangat berbeda memang kedua orang tua angkatnya sangat menyayanginya namun anak kandung dari orang tua angkatnya beserta keluarga besar tidak menerima dirinya.


Ingatan kembali saat dirinya masih menjadi remaja di mana dirinya dulu bertemu dengan seorang Nabastala Affandra W itu yang dirinya tau nama Tala dulunya.


Dirinya yang serakah akan perhatian dari orang di sekitarnya akhirnya terkena dampaknya saat dirinya juga ingin mendapatkan dan menerima perhatian dari sepupu suaminya itu.


Parahnya dirinya menyakiti hati yang begitu tulus menerimanya dan melakukan apa saja kepadanya dulu. Pantas saja suaminya itu begitu membenci dirinya sekarang. Apa yang dilakukannya dulu sangat jahat dan sangat melukai hatinya.


Namun, di dalam dirinya bahwa tidak ada niat untuk menyakitinya hanya saja waktu dan keadaan yang tidak memungkinkan waktu itu. Bagaimana kehidupannya berubah dalam seratus delapan puluh derajat saat orang tua angkat yang sangat menyayangi dan disayangnya mengalami kecelakaan.


Tidak bisa menjelaskan kepada Tala waktu itu kenapa dirinya menghilang begitu tiba-tiba karena tidak ada waktu dan juga masih dirundung dalam duka. Salah dirinya adalah bahwa dirinya tidak bisa terbuka dengan apa yang terjadi kepadanya dan kenapa dirinya melakukan hal itu.


Tapi, waktu sudah berlalu kehidupannya kembali terombang-ambing dirinya hanya bisa pasrah dengan takdirnya yang digariskan oleh Tuhan untuknya. Mungkin ini adalah hal yang harus dibayar dirinya akibat perbuatan kedua orang tua kandungnya yang sayangnya dirinya pun tidak tau.


Kesepian sudah menjadi hal yang biasa baginya hingga akhirnya dirinya dipertemukan dengan mertua dan kakak yang baik seperti ibu Dhara, ayah Davka dan Adya. Sehingga lagi-lagi dirinya merasa serakah dan ingin mendapatkan perhatian yang lebih.


Hingga pada akhirnya dirinya melupakan bahwa dirinya sudah terbang terlalu tinggi dan melupakan bahwa dirinya akan selalu ditinggalkan dan dilupakan orang oleh orang-orang.


Rasa kesepian itu membuat dirinya menjadi sangat sedih, seharusnya dirinya bisa membatasi agar tidak terlalu terlena dengan kebahagiaan yang didapatkanya. Dan sekarang lihat dirinya menangis sesenggukan.


Berusaha menguatkan hati dan mengambil pelajaran yang selalu menimpa dirinya. Mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang dan lembut. “Kuatlah sayang kamu tidak akan kekurangan kasih sayang. Kamu bisa tanpa ibu nanti akan ada mama Adya yang akan menjadi mama buatmu.”


Eve mengingat bagaimana dirinya membaca pesan yang dikirimkan Adya dan ibu Dhara kepadanya sebelum berangkat. Eve merasa senang karena ternyata mereka tidak melupakan Eve dan memberitahukan Eve.


Namun karena hormon kehamilannya Eve menjadi sangat sensitif dan mudah sekali menangis untuk hal yang sepele terkadang. Eve ingin mendapatkan perhatian dari kedua mertuanya dan juga Adya.


Menelpon mereka takut mengganggu waktu istirahat mereka yang pasti sudah lelah menjaga dan merawat Adya. Menelpon Adya pun tidak mungkin Eve tidak ingin membuat kesehatan Adya menurun mengingat bahwa setiap kali mereka menelpon akan sangat lama.


Menelpon suaminya itu jelas tidak mungkin Eve tidak tau apa yang harus dibicarakan kepada suaminya itu. Apalagi suaminya itu masih bersikap dingin dan di dalam pikiran Eve selalu terngiang-ngiang bahwa dirinya harus membatasi interaksi antara dirinya dengan suaminya itu jika tidak ada orang.


Tersiksa itulah yang Eve rasakan begitu banyak kekhawatiran dan kegelisahan di dalam diri Eve. Terkadang Eve mampu menepisnya namun terkadang Eve tidak bisa seperti sekarang ini.


“Aku memang bukanlah siapa-siapa dari dulu. Walaupun aku sudah berusaha mewujudkan keinginan mereka namun aku tetaplah Eve anak pungut yang menyedihkan dan seorang boneka.”

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2