Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 58. Menghindar


__ADS_3

Tala keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Eve yang sudah terbangun dan sibuk melamun itu tidak membuat Tala untuk menegur atau menyapanya.


Dengan menggunakan handuk yang masih melilit di pinggangnya lalu masuk ke ruang pakaian untuk memakai pakaian di sana langsung.


Karena tidak mungkin juga baik Eve untuk menyiapkan pakaian kerja melihat bahwa kaki Eve yang sedang tidak boleh digerakkan.


Eve yang asyik melamun sampai tidak menyadari bahwa Tala keluar dari dalam kamar mandi dan melewatinya ketika pergi ke ruang kerjanya tersadar dengan nada dering ponselnya yang ada di atas nakas samping dirinya tidur.


Eve mengernyitkan dahinya ketika melihat ada begitu banyak panggilan telepon dan Eve baru menyadari bahwa sudah seminggu lebih ini dirinya tidak memegang ponsel bahkan Eve tidak mengingat sama sekali di mana ponselnya.


Perasaan di dalam benak Eve kemarin waktu dirinya sedang mencari obat dan meletakkan obat salep untuk kakinya Eve tidak melihat ada ponselnya di atas nakas.


Karena tidak mau memikirkannya Eve membuka pesan yang masuk dengan menggunakan sidik jari atau dengan menggunakan kata sandi yang tidak pernah berubah dari dulu.


Selain banyak panggilan telepon yang masuk ternyata ada banyak juga pesan yang tidak lain adalah dari dokter Raka.


Eve segera membuka pesan dari teman sejawatnya itu lalu tersenyum ketika melihat isi pesan dari dokter Raka.


Pesan dari dokter Raka dimulai dari menanyakan kabarnya dan kapan dirinya akan kembali bekerja. Mengingat bekerja Eve merasa sangat rindu dengan suasana yang ada di rumah sakit bau-bau rumah sakit Eve sangat merindukannya.


Apalagi kala Eve melihat wajah kecil nan menggemaskan yang sangat dirindukannya itu membuat Eve sangat ingin cepat sembuh dan ingin bertemu dengan gadis kecil bernama depan yang sama dengannya yaitu Ashi.


Eve pun berbalas pesan dengan dokter Raka sampai tersenyum dengan sumringah untuk menanyakan bagaimana keadaan dari Ashi dan perkembangannya.


Dokter Raka yang setiap hari bahkan setiap waktu jika dirinya senggang akan melihat layar ponsel-nya kini bersemangat saat pesan yang sudah dikirimkannya kepada Eve satu minggu lebih yang lalu mulai terbalaskan.


Mendapat balasan dari Eve sudah membuat semangat dokter Raka untuk mengawali kerjanya hari ini menjadi bertambah dan berkali-kali lipat.


Senyum di wajah dokter Raka juga terlihat ceria sehingga membuat para perawat, dan keluarga pasien beserta pasien dan teman sejawatnya yang lain merasa heran dan terkagum-kagum.


Senyum dokter Raka sangat manis setelah hampir seminggu lebih ini tidak ada senyum di wajah dokter Raka yang secerah mereka lihat hari ini.


Selama satu minggu lebih pun mereka selalu melihat dokter Raka tidak mempunyai semangat dalam bekerja namun tetap profesional sesekali semua orang yang melihat dokter Raka merasa heran kenapa dokter Raka selalu melihat ponselnya terus.


Bahkan setiap ada notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya dokter Raka akan semangat kemudian kembali lesu. Dokter Raka seperti sedang menunggu kabar dari orang terkasihnya seperti kekasih hatinya.


“Sepertinya dokter Raka terlihat sangat senang hari ini. Kenapa senyum dokter Raka manis sekali itu membuat aku meleleh.” Ujar perawat A yang mengagumi dokter Raka.


“Kamu benar tapi melihat dari ekspresi wajah ceria dokter Raka pasti dokter Raka sudah mempunyai kekasihnya.” Ujar perawat B.


Kedua perawat yang menjaga resepsionis melihat dokter Raka melemaskan bahunya. Besar harapan bagi mereka untuk dekat dengan dokter Raka dan berharap dari keduanya dokter Raka akan jatuh cinta dengan salah satu di antara mereka.


Bahkan bukan hanya perawat saja saja para dokter lain yang masih lajang dan dokter senior lainnya ingin dokter Raka menjadi menantu mereka begitu juga dengan keluarga pasien yang ditangani dan tidak ditangani dokter Raka.


“Menurut mu siapa yang mengirim pesan ke dokter Raka?” Tanya perawat B tersebut kepada perawat A.


“Kan tadi kamu sudah bilang menduga bahwa itu adalah kekasih dari dokter Raka.” Ujar perawat A yang terlihat sangat kesal jika mengingat perkataan dari perawat B tadi kepadanya ketika dirinya melihat senyum dokter Raka.


“Kenapa kamu sensitif sekali. Aku jadi iri dengan dokter Elakshi yang bisa dekat dengan dokter Raka bahkan mereka terlihat sangat akrab dan seperti sepasang kekasih.” Ujar perawat B.

__ADS_1


“Kamu benar tapi kan dokter Elakshi adalah menantu dari pemilik rumah sakit ini mana mungkin dokter Elakshi yang cantik, anggun, dan baik hati tipenya seperti dokter Raka. Yang jelas dokter Elakshi seleranya lebih tinggi dan lebih banyak lagi orang yang menginginkan dokter Elakshi. Aku aja sebagai perempuan menganggap bahwa dokter Elakshi seperti karya seni yang indah.” Ujar perawat A dan perawat B menganggukkan kepalanya itu.


Di dalam kamar tempat Eve masih sibuk membalas pesan dari dokter Raka bahkan Eve masih belum melenturkan senyuman di wajahnya itu.


Tala yang baru selesai dari ruang pakaian dan sudah mengenakan pakaian formal-nya seperti biasa untuk pergi ke kantor menatap ke arah Eve dengan dahinya yang berkerut.


Mungkin Tala merasa heran melihat tadinya sebelum memakai pakaiannya Eve terlihat melamun dan setelah dirinya keluar wajah Eve terlihat sangat ceria dan bersemangat.


Sambil memasangkan dasinya yang tidak bisa-bisa sehingga membuat Tala merasa kesal. Entah kenapa suasana hati Tala tidak baik hari ini mungkin karena dirinya dan Eve yang berbicara semalam.


Tala langsung mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar dari dalam kamar dan menutup pintu dengan keras sehingga membuat Eve yang masih sibuk dengan balasan pesan dari dokter Raka kaget dan tidak menyadari sama sekali bahwa Tala ada di dalam kamar ini.


Eve hanya menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan membalas pesan dari dokter Raka namun senyum di wajah Eve tidak secerah tadi.


“Maafkan aku tapi ada baiknya kita harus seperti ini. Aku tidak ingin kamu terluka karena terlalu menahan.” Ujar Eve dalam hatinya menatap kosong layar ponselnya.


Eve merasa bersyukur jika dirinya tadi tidak menyadari kehadiran Tala yang berada di kamar karena dirinya yang sibuk berbalas pesan dengan dokter Raka karena terlalu asyik dan tidak sabar untuk ke rumah sakit dan bertemu dengan Ashi sehingga dirinya setidaknya bisa menghindar dari Tala.


Hari berganti hari dan kini sudah satu bulan lamanya semenjak Eve kembali ke mansion. Eve juga sudah bekerja semenjak tiga minggu yang lalu saat merasakan bahwa kakinya sudah baik-baik saja.


Hari ini Eve pulang cepat mengingat ibu Dhara yang terus menanyakan kapan dirinya pulang dan ada yang ingin dibicarakan oleh ibu Dhara kepada Eve hal itu membuat Eve tidak bisa membuat ibu mertua yang sudah dirinya anggap sebagai ibu kandung itu menunggu.


Eve tiba di mansion bersamaan dengan Tala yang juga baru tiba. Keduanya hanya menatap sebentar lalu berjalan tanpa ada pembicaraan di antara keduanya.


Pengawal, sopir Eve dan Tala merasa bingung dengan hubungan Tuan muda dan Nona muda kedua mereka itu yang terlihat semakin jauh.


Eve yang berjalan di belakang Tala menggenggam tas yang sering dibawanya sambil menerka-nerka apa yang ingin dibicarakan oleh ibu mertuanya itu.


Apakah bukan hanya dirinya yang ditunggu dan dimintai pulang cepat oleh ibu Dhara, suaminya Tala juga sama seperti dirinya disuruh untuk pulang segera.


Ibu Dhara yang dari ruang keluarga melihat menantu dan putranya datang bersamaan tersenyum. “Kalian pulang bersamaan?” Tanya ibu Dhara.


Eve menggelengkan kepalanya sedangkan Tala menganggukkan kepalanya. “Lho kenapa jawabannya beda. Apa putri ibu ini malu, tidak apa-apa sayang jika pulang bersama suami itu tidak akan jadi masalah beda lagi jika pulang dengan bukan suami atau dengan istri sendiri.” Ujar ibu Dhara yang tidak melunturkan senyumannya.


Eve menatap ke arah Tala sambil berpikir drama apalagi yang dimainkan oleh Tala di hadapan ibu mertuanya itu.


“Sebaiknya kalian mandilah terlebih dahulu nanti baru kita bicarakan. Ibu punya kejutan buat kalian berdua.” Ujar ibu Dhara dengan semangat.


Eve dan Tala menganggukkan kepalanya dan berjalan berlawanan arah. Tala berjalan ke arah lift sedangkan Eve berjalan ke arah tangga.


Ibu Dhara merasa lucu melihat tingkah keduanya dan ibu Dhara berpikir Tala dan Eve sedang salah tingkah karena kepergok pulang bersama. “Sayang kenapa kamu jalan naik tangga?” Tanya ibu Dhara dengan sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Eve.


Eve tersenyum lalu membalikkan badannya dan berjalan lebih dekat ke arah ibu Dhara. “Tidak apa-apa ibu, Eve hanya berpikir Eve harus berolahraga sedikit dengan naik tangga melihat jadwal Eve yang sibuk dan tidak menyempatkan waktu untuk olahraga.” Jawab Eve selogis mungkin agar tidak terlihat oleh mertuanya itu bahwa dirinya sedang menghindari Tala.


Tala datang lebih dulu sehingga Tala segera mandi dan Eve yang baru tiba di kamar segera membuka pintu dan mendengar suara gemericik air yang keluar dari dalam kamar mandi.


Eve tanpa duduk mengistirahatkan tubuhnya segera menyiapkan pakaian buat suaminya itu seperti biasa dan tidak lupa juga untuk dirinya.


Hampir lima belas menit lamanya Eve menunggu akhirnya Tala selesai juga dengan mandinya. Seperti biasa setiap kali keluar dari dalam kamar mandi Tala akan bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.

__ADS_1


Dan Eve yang melihat kebiasaan suaminya itu masih belum terbiasa sehingga membuat Eve seperti biasa reflek menundukkan kepalanya karena merasa malu.


Walaupun mereka sudah melakukan hubungan suami istri waktu awal-awal mereka menikah dan pastinya sudah melihat tubuh mereka antara satu sama lain tapi bagi Eve itu adalah hal yang sangat memalukan untuk diingat dan dilihat karena hal itu merupakan tidak wajar.


Padahal Eve kuliah di kedokteran dan mengoperasi pasien di ruang operasi pasti sudah menjadi hal yang biasa bagi Eve jika orang berkuliah di kedokteran dan berprofesi sebagai dokter seperti Eve namun untuk melihat tubuh suaminya yang proposional dengan perutnya yang berbentuk enam kotak itu membuat Eve tetap saja merasa malu.


Tala segera keluar dari dalam kamar setelah selesai memakai pakaiannya tanpa menunggu Eve untuk menemui ibunya itu.


Tala sama penasaran-nya apa yang ingin dibicarakan oleh ibunya itu apalagi ada Eve juga nantinya.


“Lho Eve ke mana kenapa kamu datang sendirian?” Tanya ibu Dhara yang memasang senyum cerah-nya itu.


“Sedang mandi ibu.” Jawab Tala apa adanya kepada ibunya itu.


“Kenapa tidak mandi bersama saja untuk mempersingkat waktu?” Tanya ibu Dhara mengernyitkan dahinya lalu tiba-tiba ekspresi wajah ibu Dhara terlihat usil dan ingin menggoda dirinya.


“Ouw ibu mengerti pasti bakalan lama jika kalian mandi bersama kan.” Goda ibu Dhara. “Tidak usah malu itu merupakan hal yang wajar dilakukan oleh suami dan istri.” Ibu Dhara lanjut menggoda anaknya itu.


Telinga Tala sudah memerah mendengar dan melihat ekspresi wajah ibunya itu yang sudah mode usil dirinya. “Ibu ini sudah lanjut usia jadi tidak baik ibu berbicara seperti itu.” Ucap Tala kepada ibu Dhara.


“Bilang aja putra ibu yang tampan dan sudah besar ini sangat malu.” Senggol ibu Dhara membuat Tala menatap ibunya dengan jengah.


“Apa yang ingin ibu bicarakan apa ada masalah dengan kesehatan Adya?” Tanya Tala kepada ibunya penasaran.


Kesehatan Adya juga semakin baik dan semakin bagus selama satu bulan ini perkembangannya juga bagus jadi hal itu membuat Tala merasa lega dan senang namun melihat ibunya yang tiba-tiba ingin menelpon-nya untuk segera pulang karena ada yang ingin dibicarakan membuat Tala merasa was-was takutnya kondisi kesehatan Adya menurun lagi.


“Nanti saja nunggu Eve kamu sih meninggalkan istrimu itu.” Ujar ibu Dhara. “yang pasti ini akan membuat kalian senang.” Lanjut ibu Dhara dengan semangat kembali apa yang ingin dibicarakannya.


“Ibu cepat kasih tau Tala. Tala sudah sangat penasaran ini. Nanti biarkan Tala yang memberitahunya.” Pinta Tala dengan nada merengek.


Ibu Dhara yang melihat kelakuan putra semata wayangnya hanya menggelengkan kepalanya tidak lama kemudian Eve datang sehingga membuat ibu Dhara sangat bersemangat.


“Berhubung kalian berdua sudah berada di sini ibu mau ngasih tau bahwa besok sore kalian akan berangkat ke pulau B untuk berbulan madu kedua. Kalian tenang saja semuanya sudah disiapkan termasuk cuti kalian berdua. Ibu sudah konfirmasi ke ayah dan ayah sudah menguruskan segalanya.” Ujar ibu Dhara dengan semangat.


Sementara Tala dan Eve terdiam. “Kalian pasti kaget dan tidak menyangka bukan bahwa apa yang sudah direncanakan oleh ibu ini.”


“Jadi, kalian kembali harus membawa cucu buat ibu dan ayah sehingga mansion ini ramai dengan suara bayi.”


Eve terdiam sambil berpikir bagaimana bisa mereka harus melakukan hal itu sedangkan hubungan mereka jauh dari kata baik dan semakin merenggang.


Apalagi sudah setahun lebih Tala tidak menyentuh dirinya dan sepertinya juga Tala sangat jijik kepadanya.


Eve juga sebisa mungkin akan menghindar dari Tala dan membuat drama senatural mungkin di hadapan keluarga agar kedua mertuanya tidak curiga dengan hubungan mereka.


Tala dan Eve saling bertatapan satu sama lain dan mereka sibuk dengan pikiran mereka. Sedangkan ibu Dhara tersenyum senang apalagi melihat anak dan menantunya saling menatap. Menurut ibu Dhara itu terlihat sangat manis.


 


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2