
Kini kakek Werawan sudah masuk ke ruang rawatnya.
Eve berjalan melangkahkan kakinya. Lalu Eve melihat ibu Dhara, Tala serta bibi Tala dan sepupu Tala Geya sedang menunggu di depan ruangan.
"Ibu bagaimana keadaan kakek sekarang?" Tanya Eve penasaran dengan berjongkok di hadapan ibu Dhara karena memang sudah tidak ada bangku lagi di depan ruang rawat kakek Werawan.
"Sayang kenapa kamu ke sini jangan seperti ini nanti otot mu pegal." Ucap ibu Dhara yang menyuruh Eve jangan berjongkok.
"Ibu Eve tidak apa-apa. Lagipula Eve masih muda dan masih sangat kuat." Ujar Eve dengan memberikan senyumannya.
Tala segera berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di samping kursi membuat ibu Dhara dan Eve menatap ke arah Tala.
Tala yang ditatap menatap ke arah ibu Dhara dan juga Eve yang sedang menatap ke arahnya.
"Sayang duduklah di sini suamimu memberikan tempat duduknya untukmu." Ujar ibu Dhara yang mengerti.
"Tapi ibu Eve tidak apa-apa dan sudah beristirahat kak Tala saja pasti kak Tala sangat lelah karena menunggu kakek di ruang operasi dan mengurus banyak hal. Kak duduklah." Ujar Eve menatap ke arah Tala yang sedang berdiri.
"Kalau begitu Tala duduklah dan kamu duduk di pangkuan Tala." Ujar ibu Dhara membuat Eve mengerjapkan kedua matanya dan Tala menatap ke arah ibu Dhara sambil memicingkan matanya.
Eve segera duduk di samping ibu Dhara di mana tadi bangku itu di duduk oleh Tala. "Heheh Eve sudah duduk ibu." Ucap Eve cengegesan dan canggung.
"Kamu sangat menggemaskan." Ujar ibu Dhara mencubit pipi Eve dengan lembut dan tersenyum menatap ke arah Eve.
"Ibu bersandar lah di bahu Eve pasti ibu sangat lelah. Eve tidak akan bergerak-gerak gelisah." Ujar Eve membuat ibu Dhara menatap tersenyum ke arah menantu keduanya yang sangat penuh kasih sayang dan perhatian.
"Aahhh nyamannya begini rasanya punya putri." Ujar ibu Dhara yang membuat Eve dan tersenyum mendengarnya. "Akan sangat sayang jika orang tidak peduli padamu melihat kamu yang begitu penuh perhatian dan kasih sayang." Ujar ibu Dhara menyindir Tala secara halus.
"Bagaimana perjalanan kamu kemarin sayang bersama nak Raka?" Tanya ibu Dhara dengan lbu sambil memainkan tangan cantik Eve.
Eve tersenyum mendengar bahwa ibu Dhara memanggil Raka dengan nak. "Apakah ibu mau mengambil kak Raka menjadi anak ibu?" Tanya Eve tersenyum.
"Sepertinya melihat nak Raka sangat baik dan perhatian pasti sangat senang jika kamu bukan menantu ibu dan kami adalah putri ibu maka ibu akan sangat setuju jika kamu bersama nak Raka." Ujar ibu Dhara. "Namun sayang nak Raka terlambat karena kamu sudah menjadi menantu ibu."
Semua pembicaraan hangat yang terjadi didengar dan diperhatikan oleh tiga orang termasuk Geya yang merasa cemburu melihat bibinya yang begitu sangat dekat dan perhatian dengan Eve.
Sedangkan dirinya dengan ibunya saja tidak dianggap dan sering disalahkan kehadirannya karena dirinya terlahir sebagai anak perempuan.
Ini semua bermula semenjak Adya datang mengaku hamil anak kakaknya Adhikari Ekata Werawan. Ibunya selalu menganggap dirinya tidak ada dan yang dipikirkan ibunya hanya kakaknya.
Sementara bibi Tala yang mendengarnya mendecih dalam hatinya namun tidak bisa menunjukkan rasa kesalnya mengingat bahwa dirinya harus bersikap baik-baik.
Tala yang mendengar pembicaraan hangat itu hanya diam saja Tala tau bahwa ibunya tadi sempat menyindirnya karena terlalu cuek dan dingin kepada Eve.
"Ibu tidak boleh berkata seperti itu nanti bagaimana kalau kak Tala tersinggung." Ujar Eve mengingatkan.
"Sayang dia harus merasakannya biar sadar. Kita berbicara di depannya saja dia terlihat tidak peduli apalagi kalau kita bicara di belakangnya." Tala yang mendengarnya hanya bisa menghela nafasnya.
__ADS_1
Ibu Dhara memang terkadang jahil dan usil kepada Tala apalagi jika ibu Dhara merasa kesal kepada Tala maka ibu Dhara akan berkali-kali lipat lebih jahil untuk mengusik Tala. Tala sudah memahami bagaimana ibunya itu.
Pintu ruang rawat kakek Werawan terbuka menampilkan ayah Davka dan paman Tala.
Eve segera bangkit dengan semangatnya sehingga membuat ibu Dhara terkejut. "Ibu maafkan Eve." Ucap Eve sambil memelas.
Wajah Eve yang memelas sangat menggemaskan. "Bagaimana bisa ibu merasa marah jika putri ibu semanis dan seimut ini." Ujar ibu Dhara.
"Sepertinya ibu sudah bucin dengan menantu dokter ibu." Ujar ayah Davka membuat ibu Dhara dengan cepat segera merangkul tangan ayah Davka.
"Tapi, ibu tetap cintanya kepada ayah selamanya." Ucap ibu Dhara.
Eve tersenyum melihat kemesraan mertuanya itu. "Jika kak Adya lihat maka kak Adya akan bilang. Apakah aku melihat drama telenovela versi lansia." Ujar Eve yang sudah tertular dengan kebobrokan Adya.
Perkataan Eve membuat ibu Dhara dan ayah Davka tertawa. "Kami nggak mau kalah sama kalian yang masih muda." Ujar ibu Dhara.
"Ayah bagaimana apa yang dibicarakan kakek tadi?" Tanya Tala membuat ibu Dhara, ayah Davka dan Eve menatap penasaran.
Ayah Davka menatap Eve yang sedang menatapnya. "Kakek ingin operasi selanjutnya akan ditangani oleh Eve bukan dokter yang lain." Ujar ayah Davka memberitahukan keinginan kakek Werawan.
Eve mengerjapkan kedua matanya sambil menunjuk dirinya lalu menatap ke arah Tala yang juga menatap dirinya.
"Apa maksud ayah?" Tanya Eve bingung dan masih belum mengerti.
"Kakek ingin cucu menantunya yang akan melakukan operasi selanjutnya jika dalam keadaan bawah kakek harus di operasi lagi." Ulang ayah Davka.
Eve bingung dan hanya mengikuti saja selama mereka menikah ini adalah pertama kalinya Tala menggenggam tangan Eve.
Tala membawa Eve ke atas rofftoft selama hampir tiga puluh menit tidak ada yang berbicara.
"Apa yang ingin kak Tala bicarakan?" Tanya Eve yang memulai obrolan mereka.
Tala yang semulanya menghadap pemandangan di depan menoleh ke arah Eve. "Aku tau itu adalah keinginan kakek yang menunjuk mu untuk menjadi dokternya nanti." Suara Tala sangat terdengar dalam dan dingin.
Tala berjalan mendekat ke arah Eve sementara Eve berjalan mundur ke belakang. "Apa yang membuat kakek memilihmu dan kenapa kakek selalu berpihak dengan mu. Apa yang telah kamu lakukan?" Tanya Tala menatap dengan tajam.
Eve menggelengkan kepalanya. "Aku tidak melakukan apa-apa aku juga tidak tau kenapa kakek ingin aku jadi dokter di ruang operasinya."
Tala menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan semua yang terjadi kenapa semua orang yang sangat disayang dan dihormatinya begitu sangat menyayangi wanita yang sedang berada di depannya ini.
Dari semua yang sudah terjadi dan dilaluinya semua orang selalu berpihak kepada Eve jika dirinya mengusik atau bersikap kurang baik dengan Eve.
Bahkan pernikahan kedua yang dijalaninya kenapa di antara banyaknya wanita di luar sana dan keluarga yang lebih baik di luar sana tanpa memandang rendah orang lain walaupun mempunyai harta dan kekuasaan kenapa harus berasal dari keluarga Adwitiya yang suka merendahkan orang lain.
Dan kenapa harus Elakshi Feshika Adwitiya alias Eve yang dirinya kenal yang harus menjadi istri keduanya.
Sungguh semenjak kejadian beberapa tahun silam Tala sangat membenci orang-orang yang suka membanggakan harta dan kekuasaannya untuk merendahkan dan memberi batasan berupa kasta kepada orang lain.
__ADS_1
"Apakah keluargamu begitu sama menjijikkannya denganmu? Apakah mereka sudah mulai mengeluarkan tanduknya untuk menyatakan perang." Ujar Tala meremehkan.
Eve hanya diam karena dirinya tidak tau apa-apa. "Aku tau aku pernah melakukan kesalahan kepadamu sehingga membuatmu begitu membenci aku terlebih kita terikat oleh hubungan yang sakral. Tapi, aku jelas berbeda dengan keluarga besar ku yang kamu anggap menjijikkan itu. Tapi, bagi ku mereka tetaplah keluarga aku selamanya. Kamu boleh menghina aku tapi tolong hanya menghina aku saja jangan keluarga besar ku." Ujar Eve dengan berani menatap mata tajam Tala.
"Apa hak mu mengatur aku kamu bukanlah siapa-siapa lagipula tinggal setengah tahun lagi pernikahan ini akan berakhir. Aku harap waktu berjalan begitu cepat karena aku sangat muak hidup dan melihatmu bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. Kamu begitu piawai membuat orang terpikat dengan kepolosan mu." Ucap Tala dengan pedas.
Eve menggigit bibirnya dan mengepalkan kedua tangannya menahan rasa sesak di dadanya. "Apakah orang berbuat salah tidak patut dimaafkan sehingga kamu begitu sangat membenci aku." Ujar Eve dengan matanya berkaca-kaca.
Tala yang melihatnya langsung berpaling memandang ke arah lain. "Kesalahan mu menghancurkan kehidupan orang termasuk kehidupan aku." Ucap Tala dengan dingin dan tangan yang dikepalkan samping kanan dan kirinya.
"Jika terjadi sesuatu dengan kakek nanti di ruang operasi maka orang yang aku salahkan pertama kali adalah dirimu." Ucap Tala membuat Eve mengangkat kan kepalanya dan menatap Tala dengan pandangan yang terluka.
"Kenapa harus aku yang selalu menjadi target disalahkan." Ucap Eve dengan lirih.
Tala yang hendak pergi menghentikan langkahnya namun tidak membalikkan badannya.
"Apakah aku hidup hanya untuk disalahkan atas perbuatan yang tidak aku lakukan." Tala menolehkan kepalanya ke samping dan hanya diam mendengarkan.
Sementara Eve sudah meneteskan air matanya karena saat ini Eve sedang sangat rapuh. "Aku pun tidak pernah berpikir untuk menjadi dokternya kakek tidak pernah sekalipun aku berpikir seperti itu."
"Aku baru tau. Aku hanyalah seorang dokter bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang."
"Aku hanya perantara membantu orang untuk sembuh dengan ilmu yang aku miliki. Semuanya tergantung kepada Tuhan."
"Kenapa, kenapa semua orang suka menyalahkan orang lain. Dan kenapa semua orang tidak mau mendengarkan terlebih dahulu penjelasan orang lain."
"Aku hanyalah manusia biasa sama seperti kalian. Aku juga manusia punyak hak asasi sebagai manusia."
Eve sudah menangis terisak sambil memukul dadanya dengan pelan di belakangnya Tala hanya diam sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Apa salahku. Aku bercita-cita menjadi dokter karena ingin untuk membantu dan berguna sebagai manusia tapi..."
"Tapi, bukan untuk dimanfaatkan semaunya kalian aku juga manusia." Ucap Eve histeris.
"Aku lelah dengan semua ini." Ucap Eve dengan lirih.
Tala meninggalkan Eve yang sedang menangis di rooftoft. Membanting pintu rofftoft dengan kuat ketika masuk ke dalam gedung rumah sakit.
Eve menangis sejadi-jadinya. Tanpa Tala dan Eve sadari ada dua orang yang melihat segalanya.
Dokter Raka hanya diam dan memperhatikan ingin maju ke depan tapi ada seseorang yang masih memantau dan akan mengambil kesempatan untuk merumitkan hal yang terjadi.
Dokter Raka tidak mau membuat Eve beserta posisi Eve semakin tersudutkan apalagi ketika mendengar suara hati Eve yang selama ini dipendam. "Kamu akan menyesal Nabastala menyia-nyiakannya." Gumam dokter Raka bersandar di dinding sambil menunggu seseorang yang dengan tersenyum senang ketika mendengar pertengkaran yang terjadi antara Tala dan Eve.
"Andai aku bisa bertemu dengan mu lebih cepat maka aku akan membawa mu ke tempat yang jauh. Jauh dari keluarga mu." Ucap dokter Raka yang memandang penuh kesedihan dan merasakan apa yang dirasakan Eve sekarang.
Sungguh sakit melihat Eve yang menangis penuh sesak seperti itu. Kalau pun dokter Raka menghampiri pasti itu tidak baik apalagi kondisi Eve seperti itu dan melihat kepribadian Eve mungkin Eve akan merasa malu dan menghindar darinya. Dokter Raka tidak menginginkan hal itu cukup memandang dalam diam dan jauh sudah cukup bagi dokter Raka.
__ADS_1
*Bersambung*