Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 57. Salah Persepsi


__ADS_3

“Aduh kenapa menjadi mellow begini.” Ujar ibu Dhara berusaha mencarikan suasana karena melihat Eve yang tersentuh kata-katanya.


“Sudah putri ibu yang cantik ini jangan menangis lagi nanti mata cantiknya hilang.” Lanjut ibu Dhara membuat Eve terkekeh dan menganggukkan kepalanya.


“Syukurlah kalau begitu sayang tadi ayah sempat khawatir apalagi ayah tidak menyadari bahwa kening mu terluka.” Ujar ayah Davka menimpali obrolan istri dan menantu keduanya itu.


Eve merasa senang dan tersenyum, “apa kamu akan kembali bekerja lagi?” Tanya ayah Davka.


“Ayah apakah ayah tidak melihat kaki putri ibu ini sedang terluka nanti bagaimana kalau dia bekerja dan tidak mementingkan kesehatannya lagi.” Protes ibu Dhara.


“Ayah kan menanyakan ibu.” Ujar ayah Davka dengan lembut.


“Ayah ibu lagi PMS kah?” Tanya Tala yang langsung mendapat cubitan dari ibu Dhara. “Ibu nih kenapa mencubit Tala terus, perasaan istriku kalau PMS nggak uring-uringan dan nggak kayak ibu deh apalagi Eve ku.” Ujar Tala tanpa sadar.


Adya, ibu Dhara, ayah Davka, dan Eve menatap tidak percaya ke arah Tala yang sedang mengernyitkan dahinya.


“Kenapa melihat Tala seperti itu sudahlah Tala mau ke ruang kerja ada hal yang perlu dikerjakan sekarang.” Ucap Tala tidak lupa langsung pamit mencium tangan ibu Dhara dan ayah Davka sebelum Tala naik ke kamarnya.


Adya, ibu Dhara dan ayah Davka kini menatap ke arah Eve yang juga sedang tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Tala.


“Ibu tidak salah dengarkan?” Ujar ibu Dhara kepada semua orang yang masih dalam keterkejutannya.


Ayah Davka dan Adya menggelengkan kepalanya. Mata Adya dan ibu Dhara bertemu lalu mereka berdua bersama-sama bersuara. “Eve kuuuuuuuuuuu.” Teriak kedua wanita yang berbeda usia sangat jauh itu.


Suara ibu Dhara dan Adya memekikkan telinga sehingga membuat ayah Davka dan Eve reflek menutup kedua telinganya.


“Sayang apakah ada perkembangan dalam hubungan kalian?” Tanya ibu Dhara yang merasa sudah sangat senang.


Eve bingung harus menjawab apa, apalagi ibu Dhara yang sudah memegang kedua bahunya itu dengan semangat. “Sayang kenapa kamu diam saja.” Ujar ibu Dhara meminta jawaban dari Eve tanpa sadar ibu Dhara yang merasa gemas sedikit mengguncang badan Eve.


Adya dan ayah Davka hanya menatap ngeri melihat kebar-baran ibu Dhara kepada Eve. Eve menelan saliva-nya di dalam otak Eve bingung harus memilih kata yang tepat untuk menjelaskan hubungan Tala dengan dirinya. “Se-seperti yang ibu lihat.” Ujar Eve terlihat ambigu namun ibu Dhara memekik kegirangan lagi mendengar jawaban Eve.


“Sepertinya jawaban aku tepat.” Ucap Eve di dalam hatinya sambil tersenyum canggung melihat wajah ceria ibu Dhara, Adya dan ayah Davka.


“Sebentar lagi kita akan mendengar suara bayi di mansion ini. Ayah kita akan mendapatkan cucu sebentar lagi.” Ujar ibu Dhara kegirangan.


Eve yang melihat semua orang merasa senang dengan perkembangan hubungan dengan Tala tidak bisa berbuat apa-apa.


Eve tidak tau apakah Tala melakukannya sengaja atau tidak. Bisa jadi Tala mengubah strategi bermainnya agar tidak dipojokkan oleh ibu Dhara, ayah Davka, dan juga Adya karena selalu bersikap tidak peduli kepadanya.


“Sayang sebaiknya kamu segera istirahat ya, oh iya Tala kan sudah ke ruang kerjanya. Anak itu salah tingkah atau bagaimana sampai melupakan istrinya yang tidak boleh banyak bergerak.” Gerutu ibu Dhara.


Kepala pelayan yang penasaran dengan suara pekikan dan nada bicara yang ceria dari ruang keluarga datang dengan pura-pura membawa minuman cemilan sehat untuk anggota keluarga itu.


Ibu Dhara yang melihat kepala pelayan tersenyum. “Bibi, apakah saya boleh minta tolong. Tolong suruh Tala ke bawah untuk menggendong Eve ke kamar.” Ujar ibu Dhara dengan tersenyum.

__ADS_1


Kepala pelayan segera mengangguk dengan cepat apalagi melihat wajah ceria dari ibu Dhara.


“Ayah senang nak jika hubungan kalian sekarang baik-baik saja. Mungkin ini alasan Tala menjauhkan Eve darinya dan juga dari kita karena Tala memerlukan waktu untuk berpikir dan Eve diperlukan waktu untuk menenangkan dirinya.” Ujar ayah Davka.


Eve hanya menundukkan kepalanya dengan canggung namun tetap memberikan senyuman kepada ayah Davka.


Ayah Davka merasa bangga dengan anak semata wayangnya itu yang sudah bersikap dewasa seperti dulu dan sudah mulai menerima apa yang terjadi di dalam hidupnya dan orang-orang di sekitarnya.


Tala kembali turun melewati tangga dengan wajah datarnya di sana hanya tertinggal Eve saja yang masih di dalam ruang keluarga.


Tala tidak melihat ke mana ayah dan ibunya serta Adya. “Tuan dan Nyonya besar mengantar Nona muda Adya ke kamarnya tadi lewat lift Tuan muda.” Ujar kepala pelayan memberitahu.


Eve yang semula memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa membuka matanya dan menoleh menatap ke arah Tala yang sedang melihat dan berjalan ke arahnya.


Tanpa banyak kata Tala menggendong Eve kali ini Tala naik lewat lift karena merasa tidak mungkin jika dirinya harus menggendong Eve menggunakan tangga sampai ke lantai tiga. Bukan berarti Tala tidak kuat, tubuh Eve sangat ringan menurut Tala dan Tala sangat menjaga tubuhnya agar tetap proporsional namun Tala tidak ingin berkeringat dan harus mandi lagi apalagi tadi dirinya habis kehujanan.


Eve menggigit bibir dalamnya hendak ingin berbicara namun Eve menahannya karena mereka belum sampai ke kamar mereka.


Eve merasa bersalah melihat kebahagiaan terpancar dari wajah ibu Dhara, ayah Davka, dan Adya.


Ketika keduanya sampai di kamar dan Tala segera mengunci pintu seperti biasanya lalu Tala mendudukkan Eve di atas ranjang.


Saat Tala hendak pergi, Eve memegang tangan Tala sehingga membuat Tala menoleh menatap ke arah tangannya yang dipegang oleh Eve lalu menatap ke arah Eve yang masih menggigit bibir dalamnya karena gugup.


“Bisakah kita berbicara sebentar.” Pinta Eve kepada Tala. Menurut Eve apa yang dilakukan oleh Tala hari ini patut dipertanyakan.


“Apa yang sedang kak Tala lakukan hari ini dan apa yang sedang kak Tala rencanakan? Apakah kak Tala mengubah strategi kakak agar tidak tersudutkan?” Tanya Eve dengan serius.


Tala merasa kesal dengan apa yang ditanyakan Eve itulah yang Eve tangkap dari wajah Tala saat ini.


“Aku tidak bermaksud untuk menyinggung kak Tala, hanya saja aku tidak bisa melihat wajah bahagia ibu, ayah, dan kak Adya mengenai hubungan kita.” Eve berbicara sambil menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya untuk memberi kekuatan.


“Memangnya apa yang terjadi dengan hubungan kita?” Tanya Tala dengan datar kepada Eve.


“Aku merasa bersalah jika harus membohongi mereka, mereka terlihat sangat bersemangat dan ceria. Padahal apa yang ada di dalam persepsi mereka tidak sesuai dengan realita yang ada.”


“Aku tidak ingin membuat mereka sedih tapi aku juga tidak ingin membuat senyum mereka hilang. Namun, bagi aku ini begitu sulit untuk aku jalani. Kita sudah membohongi Tuhan dengan pernikahan kontrak kita yang akan berakhir beberapa bulan lagi.” Ujar Eve sambil mengambil nafas dalam dan melipat bibirnya ke dalam.


“Dan sekarang kita harus membuat kebohongan lagi. Akan lebih baik kita tetap seperti biasanya sampai waktu kontrak pernikahan kita habis dan kita bercerai.” Ujar Eve dengan tatapannya yang serius.


Semakin banyak Eve berbicara dan mengeluarkan pikirannya semakin tajam tatapan Tala dan semakin dingin saja wajah yang ditunjukkan oleh Tala. “Bukankah kamu ahli dalam berbohong.” Ujar Tala dengan sinis, Eve tidak mengerti apa maksud dari ucapan Tala kepadanya.


“Apa maksud kak Tala?” Tanya Eve.


“Sudahlah, berbicara denganmu tidak ada gunanya.” Ucap Tala tajam Eve yang mendengarnya merasa sakit hati namun Eve harus menahannya karena Eve selalu mengingatkan kepada dirinya bahwa Eve bukanlah siapa-siapa.

__ADS_1


“Kamu pandai menahan segala sesuatu jadi kamu juga harus pandai kali ini.” Ujar Tala lalu segera pergi dari hadapan Eve ke ruang kerjanya.


Tala membanting pintu ruang kerjanya dengan keras sehingga membuat Eve berjingkrak kaget mendengarnya.


Eve mulai menumpahkan air matanya sambil melipat bibirnya ke dalam agar suara tangisnya tidak terdengar sampai ke ruang kerja Tala.


Karena semakin ditahan semakin sesak apa yang dirasakannya sehingga membuat Eve merebahkan dirinya dan memiringkan tubuhnya sambil menangis dan membekap mulutnya dengan bantal.


Keesokan Harinya Eve terbangun dengan wajah sembabnya. “Ternyata aku ketiduran.” Ucap Eve dengan dirinya sendiri melihat ke arah jam di samping nakas sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


Eve semalam yang menangis sesenggukan dengan keras setelah berbicara dengan Tala membuatnya jatuh tertidur karena lelah hati dan lelah pikirannya.


Eve mengambil remot untuk membuka gorden kamar agar cahaya matahari masuk. Lalu Eve melihat di sisi sebelahnya yang sangat dingin dan sama sekali tidak tersentuh dan kusut berarti Tala tidak tidur seranjang lagi dengannya. “Yah seperti ini lebih baik. Aku tidak ingin egois jika aku tetap bertahan sementara dia merasa tertekan dengan adanya aku.” Ujar Eve dengan sedih.


Bukan karena apa Eve bertanya seperti itu kepada Tala. Eve berada di posisi di mana dirinya sedang merasa tidak nyaman sekali.


Eve merasa bersalah jika ibu Dhara, ayah Davka dan Adya merasa senang dengan perkembangan hubungannya yang hanyalah palsu dibuat oleh Tala.


Namun, Eve juga tidak bisa jika senyuman di bibir mereka dan wajah ceria mereka hilang jika Eve harus mengatakan bahwa hubungan keduanya masih jauh dikatakan baik bahkan surat kontrak pernikahan masih ada.


Eve juga memikirkan bagaimana perasaan Tala yang harus memaksakan dirinya untuk bersikap baik kepadanya. Entah kenapa Eve merasakan bahwa Tala melakukan semuanya karena paksaan dan Tala tertekan dengan apa yang dilakukannya.


Eve memahami bagaimana berada di posisi Tala yang sangat membenci dirinya lalu dinikahkan dan setiap hari mereka harus bertemu dan bertatap muka.


Pasti akan membuat Tala semakin muak. Eve tidak ingin jika kehadirannya sangat mengganggu orang lain apalagi orang yang disayanginya terganggu jika ada dirinya.


Jika orang yang di sekelilingnya merasa terganggu maka Eve akan memilih untuk menjauh dan menghindar.


Sudah cukup bagi Eve dirinya membawa masalah dan petaka bagi keluarga besarnya karena asal usul dirinya yang tidak jelas dan menjadi anak pungut.


Eve tidak ingin membuat masalah bagi orang lain lagi dan Eve sudah membulatkan tekatnya untuk menjauh dari orang-orang yang ada di sekitarnya tanpa terkecuali.


Bohong jika Eve merasa tidak lemah sewaktu-waktu melihat kasih sayang dan perhatian yang ingin didapatkan dari dulu kini ia mendapatkannya dari kedua mertuanya itu dan juga dari istri pertama suaminya.


Eve sangat bersyukur namun Eve tidak ingin egois karena membuat orang yang sangat membencinya itu tertekan.


Eve tau bagaimana pikiran dan hati tertekan karena menahan banyak hal sungguh hal itu membuat tidak nyaman dan kepikiran apalagi seperti Tala yang terus dipojokkan menurut Eve oleh mertua dan istri pertamanya agar memberikan perhatian dan kasih sayang kepadanya.


Dan mereka adalah orang terdekat dan orang yang paling berharga dan sangat disayangi oleh suaminya itu.


Berpura-pura itu melelahkan dan Eve tidak ingin Tala melakukan hal itu dengan terpaksa. Eve tidak ingin bahwa suatu saat nanti akan menjadi bom waktu bagi Tala sendiri jadi Eve sekali lagi harus mengalah dan menjauh.


Moto dalam diri Eve sendiri bahwa sebisa mungkin dirinya tidak akan merugikan orang lain dan terus memberikan manfaat bagi orang lain walaupun dirinya harus kesepian dan selalu sendirian.


Kesepian dan kesendirian sudah menjadi hal yang biasa bagi Eve, Eve tidak ingin jika orang yang dicintai dan disayanginya harus merasakan apa yang dirasakannya begitulah Eve untuk menjaga dari segala rasa rendah diri yang terus menghantui dalam dirinya itu.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2