
Tala menunggu dengan penuh kesabaran melihat istrinya yang lama sekali berdandan.
Sudah hampir satu jam lamanya, biasanya istrinya sangat santai tapi kenapa sekarang dia lama sekali berdandan.
Apa karena dia sedang sensitif seperti yang waktu lalu dokter katakan kepadanya atau pada dasarnya kalau perempuan sudah dandan akan sangat lama.
"Bunda kenapa bunda tidak mau orang mendandani bunda?" Tanya Tala yang sedang duduk di sofa dengan bertopang dagu menatap ke arah Eve.
"Tidak mau ya tidak mau kenapa ditanya sih." Bukan jawaban yang lembut seperti biasanya melainkan nada penuh kesewotan.
Tala menghela nafasnya sabar dan Eve yang melihatnya dari cermin merasa sedih dan air matanya menganak di mata.
Eve menundukkan kepalanya membuat Tala yang tadi sempat melihat jam di layar ponselnya kembali menatap Eve menjadi bingung.
Tak lama Tala mendengar suara isakan dari mulut istrinya itu.
"Sayang kenapa?" Tanya Tala dengan raut wajahnya yang khawatir sembari berjalan mendekati Eve di kursi riasnya.
Eve sudah tidak melarang Tala untuk dekat dengannya dari kemarin semenjak Geya dan Axel kembali dari honeymoon mereka.
Tala duduk berjongkok untuk menyamaratakan tingginya dengan Eve serta agar dirinya leluasa melihat istrinya yang sedang menangis mengeluarkan air mata itu.
Tala bingung harus bagaimana, "bunda kenapa nanti kalau nangis make up nya akan mengulang lagi." Ujar Tala membuat Eve mendengus kesal.
Sungguh emosi ibu hamil di depannya cepat sekali berubah Tala menjadi bingung dan frustrasi melihatnya karena tak tau harus bagaimana. Kenapa memahami perempuan sesulit ini sih?
"Aku menangis kenapa kamu malah mempermasalahkan make up aku. Kenapa kamu tidak peka sekali." Ujar Eve.
Sebenarnya Eve sama halnya dengan Tala dia bingung dan frustrasi karena emosinya naik turun dan yang menjadi korbannya adalah Tala.
Eve merasa kesal dengan dirinya sendiri yang labil seperti remaja.
"Huwaaaaa...huwaaaaaa." Tangis Eve meraung jika seperti ini Eve lebih mirip Orion yang menangis keras jika Orion sedang dalam suasana hati yang tidak baik dan orang di sekelilingnya tidak tau harus gimana menghadapinya.
Tala menepuk bahu Eve dengan pelan sungguh Eve membuat Tala bingung.
"Sudah dong bundanya Orion dan calon anak-anak ayah nangisnya. Nanti kalau bunda nangis terus adik bayinya sedih." Hibur Tala.
Tala berharap bahwa Eve berhenti menangis ketika mendengar perkataannya.
"Aku nggak tau kenapa...kenapa aku...aku cengeng sekali." Ucap Eve sesenggukan sembari mengelap ingusnya.
__ADS_1
Tala dengan segera mengambil tissue di atas meja rias dan mengelap ingus istrinya itu karena menangis.
"Iya itu karena hormon kehamilan bunda dan itu wajar." Bujuk Tala kepada Eve dengan mengelus rambut Eve.
Eve memeluk Tala dengan erat membuat Tala bingung sekaligus senang karena Eve punya inisiatif untuk lebih dekat dengannya.
"Maafkan aku." Ucap Eve lirih merasa bersalah.
Entah kenapa dia memang harus minta maaf kepada suaminya ini karena sering ia kerjai selama hamil.
"Bunda nggak salah." Jawab Tala dengan mengelus pelan punggung Eve.
Eve menggelengkan kepalanya, "pasti aku sangat menyebalkan selama hamil. Iya kan? Ngaku aja." Ujar Eve dengan mengerucutkan bibirnya.
Tala melepaskan pelukan di antara mereka namun Eve menggelengkan kepalanya.
"Jangan dilepasssssssss." Rengek Eve membuat Tala tertawa kecil.
Coba saja Eve bersikap manja dan tidak bisa jauh darinya seperti ini setiap harinya maka Tala tidak akan tersiksa seperti waktu lalu yang harus bolak-balik ke kamar mandi untuk rasa mualnya karena Eve tidak mau dekat dengannya.
"Iya ayah nggak akan lepas." Ucap Tala lalu berdiri dan menggendong Eve seperti koala.
Jika biasanya Eve berpikir bahwa Tala menjadi bayi besarnya sekarang Eve malah terlihat seperti bayi besar bagi Tala.
"Sayang ayah merasa engap." Ujar Tala yang langsung menutup bibirnya rapat takut bahwa perkataannya tadi menyinggung hati ibu hamil. Apalagi Eve yang mendusel-dusel dengannya jika ini dibiarkan Tala tidak akan tahan menahan hasratnya.
Selama Eve hamil Tala tidak pernah menyentuh Eve dengan lebih selain hanya ciuman karena takut menyakiti Eve dan bayi di dalam kandungan Eve.
Eve melepaskan pelukannya di leher Tala dan menatap Tala dengan datar. Tala yang mendapat tatapan itu merasa horor.
"Kamu udah nggak sayang sama aku lagi?" Tanya Eve, "kamu nggak cinta sama aku lagi?" Tala gelagapan mendengarnya kemudian mengecup bibir Eve.
"Maafkan ayah. Maksud ayah bukan itu, ayah takut nanti bunda merasa engap karena terlalu erat dan adik bayi di dalam sini sudah nafas." Ujar Tala dengan segera meminta maaf dan berbicara hati-hati.
Eve kembali memeluk Tala namun tidak seberat tadi sembari menyenderkan kepalanya di bagian dada atas Tala.
Selama beberapa saat keadaan menjadi hening membuat Tala berpikir keras harus mengatakan apa untuk memecah keheningan di antara keduanya.
Eve memainkan kancing kemeja Tala. Tala sedang memakai kemeja berwarna army dengan celana panjang berwarna krem.
"Bunda kita jadi pergi tidak?" Tanya Tala dengan hati-hati dan lembut.
__ADS_1
"Ayah nggak mau ya bermesraan sama bunda? Kenapa ayah seperti enggan berdekatan dengan bunda? Apa ayah ingin membalas dendam kepada bunda yang melarang ayah kemarin untuk tidak dekat dengan bunda?" Tuding Eve namun Eve sama sekali tidak bergerak dari dada bidang suaminya itu.
Tala rasanya ingin menenggelamkan dirinya di dalam dasar laut apa yang diucapkannya akan selalu salah di mata istrinya yang sedang sangat sangat sangat sensitif ini.
"Mana mungkin ayah tidak ingin bermesraan dengan bunda malah ayah tidak mau jauh-jauh dari bunda. Dan ayah tidak pernah berpikir untuk balas dendam seperti yang bunda katakan. Ayah sangat senang jika bunda seperti ini kepada ayah."
"Emmm." Jawab Eve dengan malas mendengar penuturan Tala. "Siapa tau ayah seperti waktu awal nikah yang ingin balas dendam sama bunda." Tala meneguk ludahnya kasar.
Eve yang melihat pergerakan jakun dari Tala memainkannya dengan jari lentinknya.
Terbersit pemikiran Eve ingin mencium jakun suaminya itu terlihat sangat menarik.
Tala yang merasakan kecupan-kecupan di lehernya terutama di bagian jakunnya menegang.
"Sayang." Panggil Tala namun Eve masih sibuk dengan aktivitasnya.
"Bunda ayah geli, jangan seperti ini nanti kita tidak jadi pergi kalau bunda melakukan ini kepada ayah."
Akhirnya Eve berhenti, "aku suka saat ini bergerak." Ujar Eve sembari menyentuh lembut jakun Tala.
Setelah kedua alisnya yang suka sekali dimainkan oleh Eve kini jakunnya yang disukai Eve.
"Semuanya milik bunda. Jika bunda menyukainya ayah dengan senang hati memberikannya ke bunda." Ucap Tala merasa bangga.
"Aku tidak mau pergi." Ucap Eve dengan nada manjanya.
"Bunda yakin nggak mau pergi?" Tanya Tala dengan hati-hati. Mereka memang akan pergi untuk fitting baju buat acara ulang tahun Orion besok.
"Ya sudah kalau bunda nggak mau pergi nanti ayah akan menyuruh orang untuk mengambil gaun bunda dan seragam kita bertiga." Ujar Tala dengan enteng.
Eve menganggukkan kepalanya entah kenapa dia merasa mengantuk. "Ngantukkkkkk." Ucap Eve dengan manja dan suara lirih.
Tala menepuk punggung Eve dengan pelan mendengar rengekan manja dari Eve.
"Tidurlah. Bunda mau tetap seperti ini atau kita berbaring di ranjang. Lebih baik berbaring di ranjang agar bunda merasa nyaman tidurnya." Ucap Tala.
"Nggak mau pengen seperti ini. Seperti Orion." Ucap Eve dengan suara lirihnya dan matanya yang mulai sayu.
Tala hanya diam dan membiarkan saja walaupun rasanya punggungnya sangat pegal karena tidak bersandar.
Nanti dia akan berjalan ke sofa setelah Eve benar-benar tertidur nyenyak agar Eve bisa leluasa memeluknya dan tidak merasa terganggu tidurnya. Tala tidak ingin mengubah kenyamanan dari Eve. Karena ia tau ibu hamil susah sekali untuk tidur karena merasa tidak nyaman.
__ADS_1
*Bersambung*