Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 68. Sadar


__ADS_3

Para pengawal itu berpikir mungkin Nona muda mereka itu sedang marah dengan Tuan muda mereka sehingga tidak pamit.


Namun apa yang dipikirkan oleh mereka salah. Mereka melihat lagi Nona muda yang dikira marah sama Tuan muda kembali.


Tala yang hendak membuka gagang pintu ketika mendengar suara langkah kaki yang berbunyi nyaring itu menoleh ke arah kanan.


Tampak di sana Eve berjalan dengan cepat lalu menghampirinya. "Maaf aku lupa kak. Aku pergi dulu tolong jaga kak Adya." Pamit Eve lalu mengambil tangan Tala dan menciumnya seperti biasa.


Para pengawal yang ada di situ melongo melihat tingkah dari Nona muda mereka.


Ternyata Nona muda yang mereka kagumi kecerdasannya itu bisa lupa terlebih yang dilupakan adalah Tuan muda suaminya sendiri.


Mata Tala menatap tajam ke arah para pengawal yang melihat Eve berjalan sampai pintu lift tertutup kembali.


Salah satu pengawal yang menyadarinya segera menyenggol teman di sebelahnya agar segera menundukkan pandangannya.


"Jangan lupa aturan." Ucap Tala dengan dingin yang dapat didengar oleh para pengawal itu.


Setelah mengingatkan para pengawalnya Tala masuk ke dalam ruang rawat Adya.


Aturan yang diperingatkan oleh Tala tidak boleh memandang Eve lebih dari tiga detik bila perlu kalau berbicara jatuhkan pandangan ke bawah.


Awalnya para pengawal berpikir bahwa Tuan muda mereka sudah jatuh cinta dengan Nona muda.


Karena peraturan itu dibuat oleh Tala sebelum H-1 pernikahan kedua Tuan muda dan Nona muda.


Mereka mengingat dengan jelas bahwa mereka dikumpulkan ke dalam markas ketika menerima ultimatum dari Tuan muda itu.


Para pengawal itu juga berpikir bahwa Tuan muda mereka sudah jatuh cinta pandangan pertama dengan istri keduanya itu.


Namun, dengan semua yang mereka lihat dari awal keduanya menikah mereka tidak melihat adanya keromantisan.


Apalagi ketika melihat wajah Tuan muda mereka yang tetap saja datar.


Hal yang kentara adalah perbedaan sikap Tuan muda dengan istri pertamanya yaitu Nona muda Adya.


Menurut para pengawal yang diam-diam memperhatikan dan mengikuti ke mana pun Tuan mudanya pergi dari jarak yang masih bisa dipantau itu Tuan muda mereka lebih perhatian dan penuh kasih sayang jika bersama dengan istri pertamanya.


Berbeda jika Tuan muda mereka berada di sekitar istri keduanya Tuan muda mereka terlihat sangat dingin tidak ada senyum sama sekali.


Tapi, yang paling membuat para pengawal bertanya-tanya di dalam hati adalah pengawal istri kedua lebih banyak bahkan lima kali lipat pengawal yang menjaga istri pertama.


Apakah Tuan muda mereka sedang bermain tarik ulur dengan istri keduanya secara istri keduanya sangat cantik dan sangat cerdas.


Apa jika tidak ada orang di sekitarnya baru Tuan muda mereka menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada istri keduanya.


Apa karena istri pertama sakit-sakitan jadi Tuan muda menunjukkan kasih sayangnya sangat besar.


Sudahlah itu urusan rumah tangga Tuan muda dengan para istrinya.


Lagipula kedua istri Tuan muda mereka sama cantiknya dan mempunyai aura yang berbeda


Jika istri pertama terlihat sangat ceria dan segar walaupun sering keluar masuk rumah sakit.


Namun, berbeda dengan istri kedua yang terlihat misterius dan karismanya berbeda level dengan yang lain.


Yang pasti mereka tau bahwa kedua istri itu tidak pernah bertengkar bahkan mereka terlihat seperti kakak beradik yang saling menyayangi satu sama lain.


Tiga bulan kemudian


Eve berjalan melangkahkan kakinya dengan tidak semangat ketika sampai di tujuannya Eve memandang sendu pintu tersebut.


Para pengawal yang menjaga ketika melihat kehadiran Eve segera menundukkan kepalanya memberi hormat dan menjaga pandangannya.


"Huh." Helaan nafas berat Eve keluarkan.


Kakinya yang lesu membawa Eve berjalan ke sisi ranjang di mana Adya yang terbaring dan masih belum sadarkan diri dari tiga bulan yang lalu.

__ADS_1


"Kakak." Ucap Eve sambil menyandarkan kepalanya di atas ranjang dan menyentuh tangan Adya yang tidak ada infusnya.


"Cepatlah bangun." Ujar Eve dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Semua orang merindukan kakak, semua orang kesepian karena tidak ada kakak."


"Aku mohon sadarlah. Apa kakak tidak lelah tiduran terus selama tiga bulan ini."


"Aku juga sudah janji dengan kakak jika kakak sadar dan segera pulih maka aku akan terbuka dengan kakak."


Eve menangis terisak meluapkan kegelisahannya yang ada di dalam hatinya itu.


"Aku mau kasih tau sesuatu mengenai pernikahan aku dengan kak Tala."


"Atau aku akan memberitahukannya sekarang karena aku tidak tau kapan aku bisa berbicara leluasa dengan kakak lagi."


"Aku minta maaf kak huhuhuhuhu." Eve sudah menangis keras namun tidak berisik.


"Sebenarnya kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri lagi semenjak aku keguguran tidak semenjak kalian pergi ke negara S untuk menjalani pengobatan kakak."


"Dan sekarang sisa dua bulan lagi." Ucap Eve, "jika sudah waktunya dan saat kakak sadar bahwa aku tidak ada itu berarti aku udah pergi. Kakak jangan cari aku. Aku titip dia buat kakak. Kakak selalu ada di hatinya."


Iya selama Eve memperhatikan fokus Tala selama ini hanya ada Adya. Dunia Tala adalah Adya bukan dirinya atau wanita masa lalu Tala yang dikatakan Adya kepadanya yang saat ini Eve masih belum tau itu siapa.


Eve berpikir mungkin wanita itu sudah pergi ke dunia lain meninggalkan Tala di dunia ini.


"Aku pergi dulu kak nanti aku kembali." Pamit Eve ke Adya yang masih bertahan dalam tidur lamanya itu.


Eve berjalan dengan pelan sambil menghela saat hendak membuka pintu tangan Eve terhenti lalu menoleh ke belakang.


Eve kembali lagi berjalan ke depan namun bukan untuk duduk di samping ranjang Adya melainkan pergi ke dalam kamar mandi untuk memperhatikan penampilannya agar orang-orang tidak penasaran dan curiga dengan dirinya yang menangis.


Eve mencuci wajahnya di westafel lalu memperbaiki tatanan rambutnya agar kembali rapi.


Jika Tala sangat menjaga kebersihan maka Eve sangat menjaga kerapiannya. Tapi, bukan berarti keduanya tidak rapi dan tidak bersih hanya saja kecenderungan keduanya berbeda.


Eve membuka pintu kamar mandi sambil menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba ujung mata itu menangkap suatu pergerakan di mana seseorang itu sedang terbaring dengan alat bantu yang menempel di tubuhnya.


Mata Eve membulat karena merasa terkejut dengan apa yang dilihat dengan cepat Eve berjalan mendekat lalu menekan tombol di samping ranjang pasien Adya.


Eve memegang tangan yang bergerak itu dengan haru dan menatap ke arah Adya yang kelihatan berusaha untuk membuka matanya karena dilihat dari matanya yang terpejam melalui kelopak mata yang tertutup itu bola mata Adya bergerak.


"Kakak." Panggil Eve dengan wajah bahagianya namun Eve tetap menangis melihatnya bukan karena sedih melainkan karena merasa terharu dengan apa yang dilihatnya.


Dirinya tidak menyangkan hari yang ditungguinya, kedua mertuanya dan juga suaminya adalah hari ini Adya membuka matanya.


Walaupun Eve adalah dokter pribadi Adya namun yang selalu menangani Adya adalah dokter yang ahli di bidangnya.


Bidang kesehatan yang ditangani Eve berbeda. Bukan cuman Adya sebagai pasien pribadinya namun kedua mertua, suami dan almarhum kakek Werawan adalah pasien pribadinya jika terjadi sesuatu dengan mereka.


"Syukurlah kakak sudah sadar." Ucap Eve tersenyum ketika mata Adya sudah terbuka.


Tak lama kemudian setelah Adya membuka matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya itu dan memandang Eve yang sedang tersenyum bahagia beruraian air mata menatap ke arah Adya.


Para dokter dan perawat datang dengan segera Eve menjauh dari mereka yang kini sedang bertugas.


Eve teringat sesuatu sehingga Eve keluar dari ruang rawat Adya meninggalkan Adya di sana bersama dengan dokter yang menanganinya.


Saat Eve membuka pintu Eve melihat wajah Tala yang terlihat khawatir dengan keringat membasahi dahinya.


Eve berjalan cepat ke arah Tala dengan matanya yang berlinang lalu memeluk Tala dengan erat.


Tala terkejut dengan apa yang dilakukan Eve namun dirinya tidak bisa untuk menanyakan langsung ada apa karena pikiran-pikiran negatif masuk ke dalam pikirannya saat ini apalagi melihat Eve yang menangis.


Eve melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Tala yang terlihat linglung karena bingung dengan situasi yang terjadi.

__ADS_1


Tadi, saat Tala berjalan di lobi Tala melihat tiga orang dokter dan dua orang perawat berlari ke arah lift khusus di lantai di mana Adya berada. Di lantai itu memang dikhususkan untuk keluarga besar Werawan jika sedang sakit.


Melihat hal itu pikiran Tala menjadi kosong namun Tala mengikuti dengan cepat namun sayang pintu lift itu tertutup.


Jadi, wajar saja jika Tala terlihat sangat khawatir sampai Tala berpikir dirinya harus berlari menggunakan tangga darurat untuk naik ke lantai paling atas di bawah rooftoft tersebut.


Eve memegang kedua tangan Tala lalu menatap Tala dengan wajah tersenyumnya.


"Kak Adya sudah sadar." Ucap Eve dengan wajah bahagianya kepada Tala.


Tala terpaku mendengar apa yang dikatakan oleh Eve dan memandang Eve dengan wajah bingungnya.


"Ap-apa yang ka-kamu katakan?" Tanya Tala dengan terbata-bata.


Eve tersenyum melihat Tala seperti itu dan mengerti. Eve dengan senang hati mengulang kembali apa yang dikatakannya tadi.


"Kak Adya sudah sadar sekarang sedang diperiksa oleh dokter." Jawab Eve dengan semangat. Senyum di wajah Eve terlihat sangat cerah.


Tala memegang kedua bahu Eve dengan matanya yang berkaca-kaca. "Kamu tidak bohongkan?" Tanya Tala dengan bahagia namun ragu-ragu untuk senyum karena masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Ujung bibir Tala bahkan berkedut-kedut karena menahan rasa senangnya dan rasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Eve menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Aku tidak bohong kak. Kak Adya sudah sadar.", Ucap Eve sekali lagi.


Tala menatap ke arah pintu ruang rawat Adya lalu melihat ke arah Eve dan dengan segera memeluk Eve dengan erat.


Air mata Tala sudah menetes mendengar berita bahagia itu.


Sementara Eve yang dipeluk Tala merasa terkejut dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama Tala memeluk dirinya apalagi masih ada orang.


Eve berusaha menyadarkan pikirannya bahwa yang dilakukan Tala adalah reflek seperti dirinya tadi iya seperti itu.


Tala melepaskan pelukannya dari Eve ketika dokter keluar namun Tala menggenggam tangan Eve dengan erat ketika menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" Tanya Tala. Eve masih terpaku dengan apa yang dilakukan Tala yaitu menggenggam tangannya di hadapan para dokter tersebut.


Memang ini bukanlah pertama kalinya karena tiga bukan yang lalu juga Tala menggenggam tangannya waktu mereka pergi ke mall membeli boneka buat ulang tahun Ashi.


Namun, entah kenapa rasa kali ini berbeda Eve merasa diakui dan tidak dilupakan oleh Tala hal itu membuat Eve terharu dan matanya kembali berkaca-kaca memandang tangan Tala yang menggenggam tangannya dan menatap Tala.


"Keadaan Nona Adya sudah baik Tuan muda. Perkembangan organ vitalnya cukup bagus namun tetap memerlukan waktu istirahat yang banyak dan masih tetap yang masuk satu atau dua orang Tuan muda." Jelas dokter tersebut.


Eve tersenyum mendengar penjelasan dokter. "Selamat atas kesadaran Nona Adya, Tuan muda dan dokter Elakshi." Ucap dokter memberi selamat.


Eve dan Tala menganggukkan kepalanya lalu melepaskan genggaman tangannya dan memandang Adya dari balik kaca pintu masuk tersebut.


Di dalam masih ada dua orang perawat yang masih belum selesai melakukan tugasnya jadi Tala harus sedikit bersabar untuk menunggu.


Eve merasa sangat senang ketika melihat Tala yang terlihat lebih hidup setelah melihat bahwa Adya sudah sadar.


"Aku akan berdoa semoga kamu akan selalu bahagia dan akan tetap bahagia seperti ini selamanya." Ucap Eve di dalam hatinya menatap ke arah Tala.


Kedua perawat tersebut pun akhirnya keluar setelah mengucapkan beberapa patah kata dan mengucapkan selamat atas kesadaran Adya dari masa kritisnya.


Setelah perawat pergi Tala segera masuk dan berjalan mendekat ke arah Adya.


Sementara Eve hanya melihat dari balik pintu dan memandang keduanya dengan tersenyum. "Terimakasih Tuhan sudah mengabulkannya begitu cepat." Ucap Eve di dalam hatinya.


Adya melihat ke arah Tala yang sedang berkaca-kaca melihat ke arahnya. "Kakak." Panggil Tala sambil memegang tangan Adya.


Adya tersenyum lemah karena dirinya tidak bisa banyak bergerak melihat dirinya yang baru sadar dari masa kritisnya dan tertidur panjang selama tiga bulan.


"Aku senang kakak sudah sadar." Ungkapan bahagia Tala tunjukkan ke Adya.


Adya menganggukkan kepalanya lemah, lalu mata Adya melihat tidak ada Eve. "E-Eve di mana?" Tanya Adya ke Tala.


Tala menolehkan kepalanya ke arah pintu namun di sana Tala tidak melihat Eve di sana.

__ADS_1


Tala mengira bahwa Eve akan mengikutinya dari belakang untuk melihat Adya yang sudah sadar dan sudah diperiksa oleh dokter.


*Bersambung*


__ADS_2