
Tala memencet tombol ke lantai bawah lagi untuk memberitahu pengumuman bahwa ada seorang bayi yang sedang kehilangan orang tuanya.
“Kamu yang tenang sayang paman akan membantu mu bertemu dengan orangtua mu lagi.” Ujar Tala ke Orion.
Orion nampak sangat mengantuk dan menjatuhkan kepalanya di bahu Tala sangat terlihat nyaman apalagi Tala mengelus kepala Orion.
Sementara Joha melihat ke arah sekitar Orion sudah tidak ada di pandangan matanya lagi, “Di mana Orion?” Tanya Joha dengan panik.
Airen juga melihat ke arah sekeliling tidak menemukan Orion, “sayang di mana Orion?” Tanya Airen yang tidak kalah panik.
Sementara Jean yang sudah tidak tahan dengan pampers yang digunakannya menangis apalagi Jean merasakan bahwa saat ini maminya sangat panik.
Tangisan Jean menambah kepanikan di antara Joha dan Airen, “sayang kamu bersihin dulu Jean aku akan mencari Orion dan melihat ke arah CCTV.”
“Kamu jangan panik bersihkan Jean dulu nanti tunggu di kursi lobi ya.” Setelah mengatakan itu Joha segera pergi ke arah ruang teknis di lobi tersebut setelah tadi mengatakan ke resepsionis bahwa dirinya kehilangan bayi laki-laki.
Tala dan Orion baru keluar dari lift dan segera pergi ke resepsionis untuk memberitahukan tujuannya bahwa ada seorang bayi laki-laki yang mengikutinya naik lift dan sedang tidur di pundaknya.
Resepsionis memberitahukan bahwa tadi ada seorang pria yang juga sedang panik mencari keponakannya yang tiba-tiba hilang. “Bagaimana kalau Orion diculik. Tidak, tidak Joha kamu jangan berpikiran negatif dulu.” Ucap Joha menenangkan dirinya.
Tidak bisa dibayangkan jika Eve tau bahwa Orion saat ini sedang hilang. Pegawai di apartemen itu segera memeriksa CCTV setelah mendengar penjelasan dari Joha.
Joha menahan nafasnya tatkala melihat Orion yang mengikuti langkah kaki seorang pria yang sedang berjalan di depannya. “Itu keponakan saya pak.” Tunjuk Joha.
Pegawai apartemen itu segera memperbesar layar di dalam lift tersebut, Joha dapat melihat bahwa Orion sangat nyaman bahkan Orion sendiri yang meminta untuk di gendong padahal Orion sangatlah anti untuk di gendong oleh orang yang tidak dikenali atau tidak pernah sama sekali ditemuinya.
Namun melihat apa yang dilakukan oleh Orion sepertinya Orion sangat nyaman, Joha memicingkan matanya tatkala melihat wajah pria yang menggendong Orion tersebut.
‘Nabastala’
Joha sangat terkejut dengan apa yang dilihat dan apa yang terjadi hari ini. ‘Jangan sampai Tala menyadari bahwa Orion adalah anaknya.’
“Sepertinya Tuan yang membawa keponakan Anda sedang berjalan kemari tadi kami mendengar dari resepsionis Tuan.” Ucap salah satu pegawai di ruang teknis tersebut. “Lain kali tolong hati-hati Tuan akan sangat berbahaya bagi anak kecil apalagi itu sampai memasuki lift.”
Joha membungkuk untuk mengucapkan kata maaf Joha menyadari kesalahannya kali ini. Jika Eve tau apakah Eve akan membiarkan Joha untuk membawa Orion pergi hanya berdua atau bertiga dengan Jean.
Joha memikirkannya meringis jika tidak dengan Eve maka istrinya Airen akan melarangnya untuk pergi sendiri berdua atau bertiga dengan Jean.
“Memang baiknya kamu berada di desa Orion.” Ucap Joha dengan lirih. Joha juga memikirkan bagaimana reaksi Eve jika yang menemukan Orion adalah Tala ayah kandung putranya sendiri.
Dirinya harus pandai bersandiwara agar meyakinkan bahwa dirinya menjadi suami dari Eve nanti jika sewaktu-waktu bertemu dengan Tala tidak sengaja.
“Permisi.” Ucap Tala membuat Joha dan kedua pegawai teknisi itu menoleh ke arah sumber suara.
“Orion.” Panggil Joha merasa lega dan senang melihat bahwa Orion baik-baik saja apalagi sekarang berada di dalam pelukan ayah kandungnya.
Joha hendak mengambil Orion dari Tala namun ditahan oleh Tala, “apakah kita pernah bertemu?” Tanya Tala ke arah Joha.
Joha mengangkat alisnya ke arah Tala dan berpura-pura sepertinya aktingnya akan digunakan lagi, “emmm entahlah Tuan.” Jawab Joha dengan ambigu. “Sepertinya tidak.”
“Dia sedang tidur.” Ujar Tala sembari menatap ke arah Orion yang sedang tidur nyaman di pundak lebarnya.
“Tidak apa-apa, terimakasih Tuan. Saya harus segera pergi nanti istri saya semakin cemas apalagi istri saya tau bahwa anaknya hilang.” Ujar Joha mengambil Orion yang sedang tidur tersebut.
Orion menangis dan memegang erat baju kaos yang dikenakan oleh Tala, “no no no no no no huaaa huaa huaa.” Joha meringis mendengar Orion yang menangis.
Batita laki-laki itu memang akan menangis jika tidur nyenyaknya terganggu, “pangeran-nya papi jangan menangis sini sama papi kita akan bertemu dengan mami. Mami sangat khawatir sayang.” Namun Orion tetap tidak mau dan meminta untuk di gendong lagi ke arah Tala.
Tala segera mengambilnya, “biarkan dia tenang dulu Tuan saya akan menenangkannya.” Ujar Tala ke Joha.
Joha, “…”
__ADS_1
‘Ikatan ayah dan anak.’
Tidak pernah Joha melihat Orion seperti ini mungkin Orion bisa merasakan ikatan batin dirinya dengan ayahnya. “Tuan saya harus pergi membawa putra saya karena istri saya akan semakin sangat khawatir apalagi ada putri saya berada di dalam gendongannya pasti akan membuatnya semakin panik. Jadi, biarkan saja dia menangis nanti akan berhenti jika bertemu dengan adiknya.” Memang benar apa yang dikatakan oleh Joha bahwa Airen sudah sangat khawatir menunggu di kursi lobi sesuai dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
Dengan terpaksa Tala menyerahkan Orion ke arah yang Tala pikir itu adalah ayah dari bayi laki-laki yang di gendongnya itu walaupun Orion tidak mau.
Joha sampai kewalahan jika Orion apalagi baru pertama kalinya Orion seperti ini biasanya Orion akan sangat mudah ditenangkan olehnya dengan cepat.
Joha membawa Orion yang masih menangis sembari tangannya mengarah ke arah Tala untuk minta di gendong kembali.
‘Hampa’
Tala merasa kehilangan saat tidak lagi berada di bayi laki-laki yang ditemuinya itu Tala sangat sedih entah kenapa padahal mereka hanya bertemu sekali.
Di lobi Airen melihat suaminya dan Orion yang menangis berjalan mendekat, “syukurlah sayang kamu ketemu.” Ucap Airen dengan lega.
Dari jauh Jackson yang berada di depan lobi apartemen melihat ke arah Joha dan Airen berjalan mendekat. “Tuan Abraham dan Nyonya Abraham.” Panggil Jackson membuat atensi Joha dan Airen menoleh ke arah sumber suara.
“Wuah sepertinya sedang riweh ya.” Ujar Jackson kepada rekan bisnisnya itu. Jackson memang mudah dekat dengan orang begitu juga dengan Joha. Kerjasama keduanya juga sangat bagus.
“Saya baru hendak menelpon Anda untuk bertemu di lembah Hunza karena Anda tinggal di sana bertamu maksudnya karena saya ingin mengajak anak beserta istri saya untuk berlibur di sana bersama sahabat saya juga.” Ujar Jackson dengan panjang kali lebar.
“Iya, Tuan Harrison. Kami permisi dulu nanti kabari saja kalau mau ke lembah Hunza kami siap menjamu. Tapi, dalam beberapa hari ke depan kami masih di sini.” Ujar Joha dengan segera menghentikan pembicaraan antara dirinya dan juga Jackson karena merasa khawatir jika istrinya akan bertemu dengan Tala dan Tala mengenalinya.
Namun, semua itu sudah terlambat Tala sudah melihat wajah Airen dan mengenali Airen. Tala baru ingat bahwa Joha adalah sahabat ibunya Ashi. Dan nama pria itu adalah Johannes setau Tala.
Tala tidak mempermasalahkan mengenai Joha tidak mengenalinya karena wajar saja saat itu di mata pria itu hanya ada Airen ibunya Ashi.
Tala menunggu sahabatnya yang sedang asyik berbicara dengan Johannes dan Airen bisa dipastikan bahwa akan lama namun sepertinya Johannes bisa mengatasi sahabatnya yang banyak bicara.
Mata Tala menatap ke arah mata Orion yang sayu dan Orion kembali menangis lagi melihat ke arah Tala membuat Airen heran begitu juga dengan Joha. “Sayang sepertinya dia sangat merindukan bunda-nya.” Ujar Airen melihat Orion yang kembali menangis.
“Bukan Tuan Harrison ini adalah anak adik kandung saya Lizzy. Kalau begitu kami pamit pergi kasihan Orion kalau dia menangis terus.”
Tala dari jauh menatap ke arah Orion yang terus menangis. Tala lupa menanyakan siapa bayi itu namun kalau dipikirkan lagi mungkin mereka tidak akan bertemu lagi setelah ini tapi entah kenapa di dalam hati Tala bahwa mereka akan terus bertemu nantinya.
Jackson berjalan mendekat ke arah Tala yang menyandarkan tubuhnya di dinding samping lift, “apa yang kamu lihat?” Tanya Jackson.
“Apa kamu mengenal keluarga kecil tadi?” Tanya Tala sembari memencet tombol lift menjawab pertanyaan Jackson dengan pertanyaan.
Jackon, “…”
‘Kebiasaan.’
“Dia adalah rekan bisnis ku namanya Johannes Abraham dia tinggal di lembah Hunza bersama dengan istri anak, keponakan dan adik kandungnya padahal mereka mempunyai mansion di negara L dan tanah kelahirannya juga di sini.” Seperti biasa Jackson akan banyak berbicara.
“Dia pria yang sangat rendah hati, tidak sombong dan rajin menabung.”
Tala, “…”
“Makanya aku mengajak kamu ke sana sekalian liburan daripada memikirkan pekerjaan terus dan Eve terus siapa tau di sana kamu bisa menemukan jodoh mu di sana banyak perempuan yang sangat cantik tau. Lagipula aku ingin berbesan dengan keluarga Abraham setelah melihat wajah tampan Orion.”
“Orion?”
“Iya nama bayi laki-laki tadi adalah Orion. Dia adalah anak adik kandung dari Tuan Johannes Abraham bernama Elizabeth Abraham. Namun sayang aku sama sekali tidak pernah melihat wajah adiknya Tuan Johannes sepertinya kalau dilihat dari kakaknya Nona Elizabeth sangat cantik.”
“Apa Daisy tidak cemburu mendengar mu terus memuji wanita lain cantik.” Dengus Tala merasa kesal dengan sahabatnya ini entah kenapa.
Jackson hanya tertawa saja mendengarnya, “bagaimana kamu mau atau tidak ke lembah Hunza. Aku akan kenalkan kamu dengan adiknya Tuan Johannes.” Ujar Jackson sembari memainkan kedua alisnya.
Tala, “…”
__ADS_1
“Ayolah aku akan terus merengek sampai kamu mau ke sana apa kamu tidak kasihan dengan ku hmmmmm.” Ujar Jackson seimut mungkin.
Tala, “…”
“Enyahlah dari hadapan ku.” Ujar Tala sembari menekan kata sandi apartemennya.
Tala tidak menyadari bahwa apartemen di depannya sekarang sudah digantikan penghuni yang baru. “Pokoknya kamu harus mau.” Desak Jackson.
Tala, “…”
“Tadi, kamu bilang bahwa bayi laki-laki itu adalah keponakan dari Tuan Johannes?” Tanya Tala ke Jackson.
Jackson menganggukkan kepalanya dan memicingkan matanya ke arah Tala, “jangan bilang kamu menyukai istri dari Tuan Johannes.”
Tala, “…”
Melemparkan bantal yang berada di samping ke wajah sahabatnya itu entah kenapa semua sahabatnya sama-sama tidak mempunyai akhlak.
“Gila kau.” Ujar Tala kesal membuat Jackson tertawa sembari meletakkan bantal yang dilempar Tala ke wajahnya di sampingnya.
“Lalu kenapa kamu tertarik dengan bayi laki-laki itu?” Tanya Jackson memicingkan matanya ke arah Tala.
“Tadi bayi itu aku selamatkan dan masuk lift bersama ku lalu aku mengantarnya ya seperti itulah kamu bisa memikirkannya sendiri.” Tala malas sekali menjelaskannya.
Jackson, “…”
“Namun pria yang kau sebut Tuan Johannes itu mengatakan bahwa Orion itu adalah anaknya ke aku tapi resepsionis bilang ke aku bahwa ada seorang pria yang sedang mencari keponakannya dan ke kamu juga keponakannya.”
Jackson menatap ke arah Tala sembari memikirkan sesuatu lalu memicingkan matanya ke arah Tala. “Bocah laki-laki itu memang terlihat seperti mu mungkin Tuan Johannes takut bahwa kamu akan mengambil keponakannya karena kamu mengira bahwa kalian berdua sangat mirip lalu kamu mengatur siasat untuk menculik bocah laki-laki itu kamu kan tidak waras.”
Tala, “…”
‘Ingin sekali aku menenggelamkannya.’
“Aku serius.”
“Sejak kapan kamu tidak serius.” Balas Jackson.
“Sudahlah bicara dengan mu tidak ada gunanya. Apa kamu punya kontak istri dari Tuan Abraham tadi?” Tanya Tala kemudian.
“Berhentilah berpikir aneh lama-lama kau aku masukkan ke rumah sakit jiwa. Aku mengenali istrinya dan juga Tuan Johannes. Siapa tau mereka tau di mana istriku berada aku bisa menemukan petunjuk.”
Jackson menatap ke arah Tala dengan sangat serius sementara Tala, “…”
Karena terlalu malas meladeni sahabatnya itu Tala beranjak dari tempat duduknya, “bagaimana kamu mengenal istrinya dan Tuan Johannes?” Tanya Jackson. “Kalau kamu tidak menjawab bagaimana bisa aku membantu mu.” Keluh Jackson.
Jackson memang benar bisa segalanya menjadi mungkin dan bisa segalanya menjadi titik terang. “Eve sangat menyayangi gadis kecil bernama Ashi nama yang sama dengannya Elakshi dan gadis kecil tersebut adalah anak kak Airen istri dari Tuan Johannes yang telah meninggal dunia dengan mantan suaminya. Yah dari situlah aku mengenalnya.”
Jackson, “…”
‘Ingin sekali aku merobek mulutnya apa susahnya sih ngejelasin rinci kan aku semakin penasaran ujungnya selalu itu.’
“Waktu aku menanyakan ke Tuan Johannes apakah kita pernah bertemu jawabannya ambigu lalu bilang sepertinya tidak. Tidakkah menurut mu itu aneh.”
“Anak laki-laki bernama Orion itu tidak mau lepas dari ku saat aku menggendongnya dan dia tidur di pundak ku dengan sangat nyaman. Tuan Johannes juga terlihat gelisah dan terlihat buru-buru untuk yang ini aku pikir mungkin Tuan Johannes tidak mau istrinya bertambah khawatir.”
“Waktu di lobi dia juga menangis saat kalian berbicara itu karena melihat ku tangannya minta di gendong oleh ku.”
*Bersambung*
__ADS_1