
Hubungan antara Axel dan Geya semakin hari semakin dekat.
Hari ini Axel berencana untuk mengajak Geya ke suatu tempat dan memberikan kejutan buat Geya.
"Kamu mau bawa ke mana Geya?" Tanya Tala menatap ke arah Axel yang sedang duduk nyaman di kursi ruang tamu.
"Mau memberikan kejutan buat Geya kak Tala." Jawab Axel dengan senyum sumringahnya.
"Tala kamu ini! Biarkan Axel membawa Geya siapa tau Axel adalah jodoh Geya lagipula Axel lebih baik dari kamu memperlakukan perempuan." Cibir ibu Dhara membuat Tala menjadi sendu mendengarnya.
Tala memang mengakui bahwa selama hasil laporan pengamatan para pengawalnya yang mengikuti ke mana pun mereka pergi Axel selalu memperlakukan Geya dengan baik.
Bahkan Axel tidak pernah menyentuh Geya kecuali hanya tangan itu juga mungkin mendapatkan penolakan dari Geya.
Axel merasa bersalah ketika melihat tatapan sendu dari Tala, "bibi do'akan Axel ya semoga berjalan lancar." Axel berusaha mengalihkan pembicaraan.
Tala berlalu pergi keluar hari ini adalah hari libur dan dia tidak punya waktu untuk leha-leha karena ada kursus yang harus ia ikuti.
"Memangnya kamu mau apa, rencananya apa?" Tanya ibu Dhara merasa penasaran.
"Kalau Axel bilang nanti bukan kejutan namanya bibi."
"Kan bibi bukan Geya yang kamu mau berikan kejutan adalah Geya." Masih merasa sangat penasaran.
Axel membenarkan di dalam hatinya, "tidak nanti saja Axel ceritakan semuanya pada bibi okay." Hampir saja dirinya termakan perkataan dari ibu Dhara.
Ibu Dhara melemaskan bahunya mendengar jawaban Axel sambil menatap Axel penuh tanda tanya dan Axel hanya tersenyum saja.
"Ada apa dengan kalian berdua biasanya kalian selalu berbicara sampai tidak ada habisnya tapi kenapa diam?" Tanya Geya yang merasa heran.
"Tidak ada apa-apa! Sudahlah kalian pergi sana." Ucap ibu Dhara sembari berlalu meninggalkan rasa penuh tanda tanya di dalam otak Geya.
Sementara Axel mengulum senyumnya dan menatap Geya dengan mata berbinar.
"Penampilan mu hari ini sangat cantik." Puji Axel.
Geya sama sekali tidak besar kepala atau merasa bahwa telinganya akan lebar mendengar pujian yang diberikan Axel kepadanya karena setiap hari pria itu akan selalu memujinya seperti itu.
"Bukankah setiap hari aku memang selalu cantik di depan mata mu. Bahkan mungkin jika aku baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan kamu akan tetap bilang cantik."
"Bagaimana kamu bisa tau!?" Seru Axel dengan semangat dan sudah tidak sabar bahwa Geya pasti akan takjub dengan kejutannya kali ini.
"Siapa pun tau bahwa kamu begitu sangat mencintai aku." Lanjut Geya dan Axel membenarkan dalam hatinya.
Bukan karena Geya percaya diri tapi pria itu sangat sulit untuk menyembunyikan perasaannya kepada dirinya.
"Kamu mau mengajak aku ke mana?" Tanya Geya sembari melihat jalanan sekitar.
"Rahasia." Jawab Axel tersenyum dan sembari menyetir.
Geya mengangkat alisnya sebelah, "kamu tidak berencana untuk mengajak aku menikah bukan?" Selidik Geya membuat Axel mengerem mendadak.
Tangan Axel dengan cepat menahan badan Geya agar tidak ke depan karena dirinya yang mengerem mendadak.
"Axel!" Pekik Geya, "kenapa mengerem mendadak sih kamu tau itu akan berbahaya untuk tidak ada motor mobil di belakang dan kita nggak menabrak bahaya tau." Omel Geya membuat Axel menyengir.
Axel menyetir kembali dan menepikan mobilnya untuk berbicara dengan Geya.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa tau?" Tanya Axel kepada Geya yang masih kesal dengannya.
"Apanya?" Tanya Geya dengan kesal.
"Yang kamu bilang tadi bagaimana kamu bisa tau bahwa kejutan itu mau mengajak mu menikah dengan ku!" Axel mencari tau siapa yang sudah membocorkan informasi ini kepada Geya sehingga Geya tau rencananya apakah sekretarisnya?
"Jadi itu benar!?" Tanya Geya yang melihat ke arah Axel.
"Darimana kamu tau? Siapa yang memberitahumu?"
Geya menghela nafasnya, "aku hanya menebak saja dan tidak menyangka bahwa itu adalah benar." Ujar Geya sembari merapikan rambutnya.
Axel melemaskan bahunya, "apakah aku mudah ditebak." Ujar Axel dengan lirih kepada dirinya sendiri Geya menatap ke arah Axel menjadi tidak enak hati.
"Kenapa kamu jadi tidak bersemangat lagi?" Tanya Geya yang merasa bingung bagaimana harus mengalihkan pembicaraan terkait kejutan yang akan dilakukan oleh pria itu kepadanya.
Terkadang mulutnya memang harus direm agar tidak berbicara sembarangan.
"Kejutannya gagal karena kamu sudah tau." Terang Axel.
"Tapi, untuk mengajak mu menikah itu tidak gagal. Geya walaupun di dalam mobil tidak romantis dan dalam suasana seperti ini aku akan bilang langsung maukah kamu Geya Werawan menikah dengan ku Axel Barata!"
Kenapa menjadi lamaran pernikahan mendadak seperti ini Geya merasa bingung harus menjawab apa karena jujur di dalam hati dan pikirannya Gulzar masih ada.
Axel menunggu jawaban dari Geya dengan penasaran dan harap-harap cemas.
"Maafkan aku Axel...aku tidak bisa." Penolakan Geya membuat Axel menjadi tidak bersemangat.
"Kenapa?" Tanya Axel padahal tadi dia sangat bersemangat dan yakin bahwa Geya sudah ada rasa sama dengannya karena Geya sama sekali tidak pernah menolak ajakannya walaupun dia yang paling aktif dan Geya yang paling pasif selama ini.
"Apa kurangnya aku beritahu aku maka akan aku perbaiki?" Tanya Axel kembali.
"Tidak, tidak kamu sudah baik Axel hanya saja...aku yang belum bisa."
Selama beberapa menit hanya ada keheningan di antara keduanya.
"Apa ada seseorang yang kamu inginkan atau ada seseorang di dalam hatimu? Apa aku terlambat untuk kembali?" Tanya Axel.
Ucapan Axel semakin membuat Geya merasa bersalah kepada pria tulus yang sedang duduk di sampingnya.
"Maafkan aku." Ucap Geya sembari menunduk dan memainkan jari jemarinya karena merasa bersalah.
Axel menatap Geya dengan sendu namun berusaha mungkin memberikan senyumannya kepada Geya walaupun ada rasa sakit setiap kali Geya menolaknya.
"Jangan meminta maaf seharusnya aku yang sadar diri bahwa aku memang tidak pantas untukmu." Geya menatap ke arah Axel dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa." Ujar Axel sembari tersenyum namun Geya tau bahwa Axel saat ini berpura-pura baik-baik saja mata Axel sudah menjelaskan segalanya kepadanya.
'Kenapa aku tidak bisa mencintai pria yang tulus sepertinya? Kenapa hati dan pikiran ini terus tertuju pada kak Zee? Lihatlah pria tulus ini Geya kamu sudah melukai hatinya berkali-kali karena penolakan mu? Bahkan sampai dia membuktikan dan memantaskan dirinya agar bisa menjadi pendamping mu? Dia sangat setia kepada mu dan dia sangat tulus mencintaimu? Betapa sakit dan menderitanya dia merindukan mu Geya selama ini? Kenapa kamu tidak pernah melihat pria tulus dan setia ini?'
"Jangan menatap ku seperti itu dan jangan menangis aku akan semakin merasa bersalah." Ujar Axel kepada Geya yang menangis.
Axel ingin sekali mengusap air mata Geya namun ia tidak mempunyai hak untuk menyentuh Geya dengan sembarangan.
Geya adalah perempuan yang dia cintai setalah ibunya. Dia ingin menjaga Geya dan melindungi Geya. Geya sangat berharga, sebenarnya dia merasa bersalah karena sering mengajak Geya pergi berdua dengannya namun harus bagaimana jika ingin berdekatan dengan Geya dan menginginkan Geya sebagai istri dan calon anak-anaknya kelak. Axel hanya menginginkan Geya sebagai ibu dan istri buat anaknya bukan wanita lain.
"Aku tidak apa-apa sungguh! Ini bukan pertama kalinya bukan jadi itu adalah hal yang biasa. Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanannya atau jika kamu merasa tidak nyaman kita pulang saja." Lihat bahkan Axel memikirkan kenyamanannya.
__ADS_1
"Kita lanjutkan saja aku ingin melihat kejutan yang kamu berikan. Maafkan aku yang telah menggagalkannya." Ujar Geya.
"Apakah tidak apa-apa? Jangan memaksakan diri aku tidak apa-apa percayalah." Ucap Axel meyakinkan Geya.
Jika Axel seperti itu maka Geya harus bersikeras lagi. " Tidak aku tidak apa-apa kan sayang kamu sudah susah payah memberikan kejutan masa gagal hanya karena aku tau rencana mu. Kita pura-pura nggak tau aja dan menikmatinya."
"Baiklah sebentar lagi kita akan sampai hanya tinggal beberapa menit saja. Jika kamu merasa tidak nyaman bilang maka aku akan mengantarmu pulang." Geya menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap ke arah Axel.
Sesampainya mereka di tempat tujuan Geya memandang ke sekitar. Melihatnya Geya merasa bersalah.
"Ayo jangan bersedih seperti itu bukankah tadi kamu bilang bahwa pura-pura tidak tau dan ingin menikmatinya." Ujar Axel dengan tersenyum.
Geya berjalan di samping Axel sembari memegang kedua tasnya dengan erat.
"Silahkan duduk." Ucap Axel sembari memberikan tempat buat Geya.
Betapa manisnya Axel andai saja Gulzar bersikap seperti ini dengannya.
Geya menggelengkan kepalanya saat pikirannya terus tertuju pada Gulzar.
"Kenapa apakah kamu merasa pusing? Kalau begitu kita pulang saja." Ujar Axel yang melihat Geya menggelengkan kepalanya dengan penuh rasa khawatir.
Geya terdiam, "aku tidak apa-apa jangan khawatir." Ucap Geya meyakinkan.
Mereka berdua menikmati kejutan yang gagal tersebut sampai akhirnya kejutan yang gagal itu berakhir dan Axel mengantarkan Geya kembali pulang ke mansion agar Geya bisa beristirahat cukup di hari liburnya sebelum masuk kerja lagi hari Senin.
"Sekarang kita sudah sampai." Ucap Axel dengan ceria.
Namun keceriaan Axel semakin membuat Geya merasa bersalah. "Axel." Panggil Geya membuat Axel yang hendak turun dan membukakan pintu untuk Geya seperti biasa terhenti.
"Ada apa? Apa kamu menginginkan sesuatu atau ada yang tertinggal." Axel harap-harap cemas dan takut bahwa Geya melarangnya untuk jangan dekat dengannya lagi seperti dulu.
"Berikan aku waktu..." Axel masih menunggu apa yang ingin Geya sampaikan kepadanya.
"Berikan aku waktu untuk menerimanya, aku akan berusaha untuk membukakan hatiku untukmu." Axel tentu saja merasa senang setidaknya ada kemajuan tidak sama seperti dulu.
"Baiklah aku akan setia untuk menunggu dan aku tidak akan menyerah." Ujar Axel yang merasa senang padahal itu belum pasti.
"Bagaimana kalau kita bertunangan saja dulu." Ucap Geya sembari mengigit bibir dalamnya karena masih merasa bersalah.
"Kamu yakin?" Tanya Axel dan Geya menganggukkan kepalanya. "Tapi aku rasa kita jangan dulu cukup seperti ini saja aku tidak mau membuatmu merasa tidak nyaman dan merasa bersalah karena aku."
"Tidak, tidak. Bukan seperti itu, ini adalah salah satu caraku agar aku bisa membukakan hatiku untuk mu." Ujar Geya.
Geya benar-benar ingin move on dari Gulzar dan mencoba melihat ke arah seseorang yang tulus dan setia serta sabar mencintainya.
Geya tau bahwa menjadi Axel akan sangat sakit karena dia merasakannya maka dari itu Geya ingin memberikan kesempatan.
"Tapi, aku perlu waktu tolong bantu aku." Ucap Geya menatap ke arah Axel dengan dalam.
Axel jelas melihat ada keputusasaan dari kata Geya, "baiklah aku akan membantumu dan membuatmu jatuh cinta kepadaku. Kita akan bertunangan." Ujar Axel sembari tersenyum dan Geya juga tersenyum.
"Terimakasih." Ucap Geya.
"Sama-sama tapi kamu tidak perlu mengucapkan kata terimakasih seperti itu. Kita akan bicarakan pertunangan kita nanti sebaiknya kamu masuklah dan istirahat supaya besok kembali bekerja dengan segar."
Geya menganggukkan kepalanya dan Axel dengan cepat berlari untuk membukakan pintu untuk Geya.
__ADS_1
"Mulai besok aku akan mengantar jemput tunangan aku ke mana pun ia ingin pergi." Geya tersenyum mendengarnya.
*Bersambung*