Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 60. Ancaman


__ADS_3

Setelah makan malam dan bercerita sebentar di ruang keluarga bersama para anggota keluarga yang sudah menjadi rutinitas.


Eve meminta izin pamit mengundurkan diri terlebih dahulu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan mengingat besok dirinya akan kembali berbulan madu untuk kedua kalinya.


Tidak lama kemudian setelah Eve pergi Tala juga pergi untuk kembali ke kamar agar segera beristirahat.


Adya dan ibu Dhara yang melihat keduanya tersenyum dengan saling bertatapan, ekspresi keduanya sangat senang.


Eve sedang duduk di ranjang bersama dengan laptop yang ada di atas pangkuannya. Tala yang melihat itu segera mengambil laptop yang ada di pangkuan Eve itu.


“Bukankah tidak baik jika benda elektronik di letakkan dekat dengan tubuh apalagi ini tanpa ada yang memberikan jarak.” Ujar Tala.


Eve mengangkat kepalanya dan merasa heran dengan apa yang terjadi dengan Tala lalu melihat ke arah Tala yang meletakkan laptop Eve di atas meja di mana Eve biasanya bekerja.


Keduanya saling memandang untuk sebentar karena Eve segera mengalihkan pandangannya dari suaminya itu.


“Terimakasih.” Ucap Eve seadanya. Jika dulu Tala yang akan selalu menghindar kini entah kejadian satu bulan mereka berbicara Eve yang menghindar.


“Kenapa kamu menghindar?” Tanya Tala kepada Eve ketika melihat Eve melewatinya begitu saja dan langsung duduk di atas kursi kerja milik Eve sendiri.


Eve merasa bingung dengan perubahan sikap Tala ini lebih parah dari apa yang dilakukan Tala satu bulan yang lalu.


Namun, sekarang Eve sudah membulatkan tekatnya bahwa Eve tidak akan dengan mudah untuk berharap lagi terhadap apa pun. Eve hanya pasrah dengan keadaannya sekarang.


Kenyataan yang selalu menampar Eve dalam ekspektasi di dalam benak yang selalu diinginkannya.


Apalagi sekarang dirinya menyadari dengan benar bahwa dirinya tidak baik lagi berada di negara ini. Ketenangan psikologisnya semakin terganggu bukan hanya di dalam dirinya melainkan dari luar.


“Maafkan aku, ini adalah yang terbaik untuk kita berdua apalagi perceraian kita tinggal beberapa bulan lagi.” Ujar Eve lalu tangan Eve sibuk dengan laptopnya untuk mengetik yang tertunda.


Eve berbicara dengan Tala tanpa membalikkan badannya ke arah Tala yang sedang menatapnya dalam diam.


“Kamu masih sama saja.” Ujar Tala membuat tangan Eve terhenti mengetik dan terdiam. Setelah mengatakan itu Tala pergi ke ruang kerjanya.


Eve mengepalkan kedua tangannya di atas keyboard laptop dan menggigit bibir dalamnya. “Tidak Eve ini memang harus kamu lakukan dari dulu.” Ujar Eve.


Eve menghela nafas panjangnya untuk menenangkan psikologisnya yang merasa bahwa suasana hatinya kembali tidak baik.


“Selesaikan dulu Eve kamu bisa, fokus seperti yang sudah-sudah.” Ujar Eve menguatkan hatinya.


Selama hampir satu jam lamanya Eve selesai juga dan segera menutup laptopnya agar bersiap-siap membersihkan diri namun Eve tidak lupa dengan rutinitas setiap malamnya selain perawatan malamnya yaitu meminum susu sebelum tidur.


Meminum susu sebelum tidur sudah menjadi kebiasaan Eve bersama dengan Tala. Tidak lupa Eve menyeduh susu untuk suaminya itu.


Eve mengetuk pintu ruang kerja Tala karena tidak mendengar suara dari dalam sebenarnya itu adalah hal yang biasa bagi Eve. “Aku masuk kak.” Ucap Eve memberitahu.


Eve melihat Tala memejamkan matanya dengan tangan yang diletakkan di atas dahi menutupi area matanya di sofa.


Eve bisa melihat bahwa Tala tampak lelah andai kata tidak Eve tidak mau berandai lagi akan sesuatu. Eve meletakkan susu yang dibuatnya di atas meja. “Minumlah sebelum dingin kak.” Ujar Eve lalu segera mungkin untuk kembali mengantar nampan ke dapur.


Namun Eve merasa ada sebuah tangan yang sedang memegang ujung bajunya membuat Eve menolehkan kepalanya ke belakang ternyata tangan itu adalah tangan Tala.

__ADS_1


Namun, Tala masih memejamkan matanya Eve hendak pergi lagi karena Eve berpikir mungkin Tala sedang mengigau namun salah karena Tala membuka matanya dan memegang tangan Eve.


Pandangan keduanya bertemu, Eve yang memegang nampan berada di tangannya mengeratkan pegangannya.


Tala menarik Eve dengan tenaganya sehingga membuat Eve jatuh terduduk di atas pangkuan Eve.


Eve memekik dan semakin gugup mendapatkan tindakan Tala yang seperti ini apalagi tatapan Tala yang mengarah kepadanya.


Tala mendekatkan wajahnya ke arah Eve hal ini semakin membuat Eve bingung namun beda dengan yang tadi Eve bisa mengontrol dirinya sehingga Eve menghindar dan dengan cepat Eve bangkit dari duduknya dan langsung pergi dari Tala.


Tala memandang ke depan sambil mengepalkan kedua tangannya, sementara Eve setelah menutup pintu meletakkan nampan di dadanya dan memegang dengan kedua tangannya.


“Ada apa dengannya?” Tanya Eve di dalam benaknya namun Eve tidak ingin memikirkannya berlebihan.


Lalu mata Eve menatap ke arah layar ponsel yang menyala dan Eve bisa melihat ada pesan yang masuk sudah dalam tiga minggu ini.


Eve tau siapa yang melakukannya yaitu nomor yang tidak kenal yang selama tiga minggu ini meneror dirinya.


Eve membawa ponselnya sambil membawa nampan yang ada di tangannya. Eve masih belum membuka isi pesan tersebut karena Eve masih mencari tempat yang pas untuk itu.


Isi pesan yang selalu mengingatkan akan di mana posisi Eve dan semakin membuat Eve sadar dan rendah diri.


‘Jika kamu terlalu dekat dengan Tala maka aku akan dengan cepat memberitahukan rahasia mu kepada keluarga yang sangat menyayangi mu sekarang sebelum perceraian kalian. Bahwa kamu adalah anak pungut dan seorang pembunuh yang membunuh orang tua angkat mu.’


‘Bagaimana jadinya bukan jika mereka tau bahwa menantu mereka ternyata sangat buruk dan jahat. Jangan macam-macam dengan aku turuti perintah ku segera jauhi Tala. Kamu tidak baik untuk mereka apalagi di dalam keluarga Werawan. Aku memberitahu ini karena kasihan dengan kamu agar kamu tidak terlalu berharap dan sakit lagi.’


‘Aku tau semua segala yang kamu sembunyikan ingat kamu ditakdirkan akan selalu sendiri dan kesepian.’


‘Kamu itu sangat kotor dan asal usul mu tidak jelas. Kamu bukanlah orang yang bisa hidup di dalam sebuah keluarga. Kamu dilahirkan hanya sebagai perusak dalam kehidupan orang lain dan kamu adalah parasit.’


Eve berusaha menguatkan dirinya untuk segera bangkit namun pesan dari nomor asing itu masuk lagi. ‘kamu akan bulan madu kan besok maka aku dengan segala cara akan menggagalkan semuanya.’


Nafas Eve terasa cepat dalam pikir Eve bagaimana bisa orang yang mengirimnya pesan ini tau bahwa besok dirinya dan Tala akan berbulan madu.


Eve berjalan lemas dengan pandangannya yang kosong. Adya yang turun dengan ditemani pengawalnya menatap Eve dengan heran. Karena Eve tidak menyadari kehadiran Adya yang berada di depannya dan malah melewatinya.


Pengawal dan Adya saling memandang satu sama lain, “Eve.” Panggil Adya namun Eve sama sekali tidak menggubrisnya karena Eve tidak mendengarnya.


“Eve kamu ada masalah?” Tanya Adya dengan raut wajah khawatirnya. Eve yang merasakan ada suara di belakangnya yang sedang berbicara dengannya.


Eve meneteskan air matanya menatap ke arah Adya, Adya tentu saja sangat khawatir. “Kamu kenapa?” Tanya Adya khawatir setelah berada di depan Eve.


Eve mengelap air matanya dan tersenyum. “Eve baik-baik saja kak.” Namun kali ini Adya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Eve.


“Tidak kamu tidak baik-baik saja. Apa Tala kembali menyakiti perasaan mu dengan kalimat pedasnya?” Tanya Adya. Eve menggelengkan kepalanya dengan lemah dan menangis lagi ketika Adya menyebut nama Tala.


“Ya sudah sebaiknya kamu tidur saja di kamar ku lagipula besok kita akan tidak bertemu karena kamu akan berbulan madu.” Ujar Adya sambil menggenggam tangan Eve.


Pengawal mendorong kursi roda Adya dan Eve berjalan dengan tangannya yang digenggam oleh Adya yang sedang duduk di kursi roda.


Sesampainya di kamar keduanya tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada pengawal. Tanpa mereka sadari dari atas baik di lantai dua dan lantai tiga ada yang melihat keduanya kedua orang ini memandang datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


Eve membantu Adya untuk naik ke tempat tidurnya lalu Eve mengikuti Adya yang sedang menepuk tangannya di sisi sebelahnya.


Adya merentangkan kedua tangannya dan Eve dengan segera memeluk Adya dan menumpahkan air matanya.


Tidak ada suara yang keluar dari Eve hanya ada isak tangis di dalam benak Adya menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan Eve sampai Eve menangis seperti ini.


Eve yang dikenal Adya adalah orang yang sangat kuat, tegar, dan sabar jika Eve sudah menangis seperti ini mungkin masalah yang dihadapi Eve sekarang sangat berat.


Adya melirik ke dalam laci di mana sebuah benda yang dirinya masuk ke dalam lacinya itu setelah sempat mengambilnya di dalam kamar Eve dan Tala karena tidak sengaja menemukannya dan dirinya belum sempat melihatnya.


Adya mengelus rambut Eve dan sesekali mencium kening Eve mereka berdua layaknya seperti saudara kandung yang saling mengasihi satu sama lain. Ikatan batin keduanya sangat kuat padahal hubungan keduanya adalah istri pertama dan istri kedua.


Adya yang memaksa Tala untuk menikahi Eve sama sekali tidak menyesal dengan apa yang sudah diputuskannya itu walaupun Tala sempat menolak dengan keras namun Adya berhasil membuat Tala menerimanya.


Tidak pernah sekali pun Adya merasa tersaingi dengan adanya Eve, Adya malah bersyukur dan berdoa kepada Tuhan setiap hari untuk orang yang disayanginya dan menjadikannya sebagai keluarga terutama memberikan doa kepada Eve.


Mungkin jika Adya adalah wanita lain maka wanita itu tidak akan membiarkan suaminya untuk menikah lagi namun Adya berbeda. Lagipula hubungan dengan Tala hanya sebatas kakak dan adik yang berkedok suami istri.


Bagi Adya Tala dan Eve sudah dirinya anggap sebagai adiknya sendiri dan Adya ingin menyatukan keduanya yang terpisah karena kesalahpahaman dan ketidakterbukaan di antara keduanya.


Keesokan harinya Eve terbangun dan menyipitkan matanya lalu memandang ke sekeliling kamar. Di sebelahnya sudah tidak ada lagi Adya namun Eve bisa mendengar ada suara gemericik air dari arah kamar mandi.


“Aku ketiduran.” Ucap Eve dengan dirinya sendiri lalu Eve segera membereskan tempat tidur Adya dan menyiapkan pakaian Adya.


Adya keluar dari dalam kamar mandi dengan jubah mandinya dan tersenyum melihat Eve sudah bangun bahkan Eve sedang menyiapkan pakaian untuknya. “Ternyata kamu sudah bangun apa aku mengganggu tidurmu?” Tanya Adya dan Eve menggelengkan kepalanya.


Eve membalikkan badannya ke arah Adya dan tersenyum melihat Adya, “kakak kenapa tidak membangunkan Eve biar Eve bantu.” Ujar Eve.


Adya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “Apa tidur mu nyenyak?” Tanya Adya lalu Adya bisa melihat bahwa Eve kembali gelisah. “Sudah lama kita tidak tidur bersama semenjak rencana meluluhkan Tala ya. Rasanya sangat menyenangkan dan mungkin aku akan sangat merindukan masa-masa tidur bersamamu.” Ujar Adya.


Eve yang mendengar kalimat terakhir Adya merasa bingung dan kurang menyukainya. “Kakak, kita bisa kapan saja tidur bersama lagi jika kakak mau kan kamar kita saling berhadapan.” Ujar Eve.


“Semalam aku sudah memberitahu Tala bahwa kamu akan tidur di kamar ku karena aku meminta mu untuk tidur bersama ku.” Eve yang mendengarnya tersenyum lalu memeluk Adya karena Adya tidak menceritakannya kepada siapa pun termasuk kepada Tala.


“Terimakasih kak.” Ucap Eve dengan tulus.


Adya mengecup pipi Eve, “jika ada masalah maka ceritakan lah ke aku bukankah aku ini kakak mu jangan memendamnya sendiri. Aku tidak akan menanyakan lebih lanjut kenapa dengan kamu semalam aku akan menunggu untukmu siap bercerita.” Ujar Adya membuat Eve tersenyum.


“Sudah sana kamu pergi ke kamar mu dan menyiapkan pakaian suamimu yang dingin itu.” Canda Adya membuat keduanya terkekeh.


Eve pergi dari kamar Adya dan masuk ke dalam kamarnya. Adya memandang sendu ke arah Eve dan berpikir siapa yang telah membuat Eve menangis seperti itu semalam.


“Kenapa kamu begitu tertutup Eve, aku kira kamu sudah terbuka dengan ku tapi nyatanya belum dan masih jauh. Kenapa kamu menyimpan dan memendamnya apa yang membuatmu sampai seperti ini.” Gumam Adya.


Eve yang masuk ke dalam kamarnya mendengar suara dari dalam kamar mandi dengan segera Eve menyiapkan pakaian kerja buat suaminya itu.


Tidak lama kemudian Tala keluar seperti kebiasaannya dan Eve menundukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaiannya. Apalagi Tala menatapnya membuat Eve merasa ngeri dengan Tala yang masih belum memakai apapun dan hanya selembar handuk yang melilit di pinggangnya.


 


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2