Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 53. Senang


__ADS_3

Tanpa disadari air mata jatuh di kedua pipi Eve dengan segera Eve mengusap kedua pipinya dengan kedua tangannya lalu mengadahkan kepalanya ke atas sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.


Sementara Tala masih sibuk dengan mengompres kaki Eve yang sedikit membengkak. “Di mana?” tanya Tala.


Eve yang sibuk dengan mengibas-ngibas air matanya berhenti lalu menatap Tala yang juga sedang menatapnya. Alis Eve naik ke atas dan sedikit memajukan wajahnya pertanda ia kurang mendengarkan.


“Salep.” Ucap Tala lagi kepada Eve membuat Eve mengangguk mengerti lalu mengambil salep di dalam laci agar memudahkan Eve untuk mengolesi ke kakinya.


Eve bingung mau memberikannya kepada Tala atau tidak. Sedangkan Tala yang melihatnya segera mengambil salep tersebut tanpa banyak suara membuat Eve kembali terdiam dengan tindakan Tala.


Eve menggigit bibir bawahnya melihat Tala yang fokus dengan salep yang ada di tangannya. Saat Tala hendak mengolesi Eve menarik kakinya hal itu membuat tangan Tala yang siap untuk mengolesi terhenti dan menatap Eve.


“Biarkan aku saja kak. Kakak istirahat saja aku bisa melakukannya.” Ujar Eve dengan gugup apalagi tatapan mata Tala yang tajam mengarah ke arahnya.


Tala yang melihat penolakan dari Eve segera menarik kaki Eve yang sakit dengan kuat sehingga membuat Eve mengaduh kesakitan. “Auw, isshh.” Pekik Eve sambil meringis dan menggigit bibirnya.


Tala melihat Eve yang selalu menggigit bibirnya itu sambil meringis. “Dia niat nggak sih mengobatinya apa nggak bisa lembut dikit napa.” Gerutu Eve di dalam hatinya dengan kesal melihat Tala.


Entah kenapa jika berhadapan dengan Tala, Eve bisa berekspresi bebas tanpa dia sadari seperti merasa kesal, menggerutu dan sedih bersamaan sedangkan jika dengan yang lain Eve akan menahan dan memendamnya tapi tidak dengan Tala tapi untuk memendam perasaan tetap kepada semua orang.


Tala selesai mengolesi salep di kaki Eve lalu meletakkan salep tadi di samping laci dekat Eve. Melihat Tala yang mendekat ke arahnya dengan reflek Eve memundurkan tubuhnya ke arah kanan.


Eve menahan nafasnya namun tetap terhirup harum dari tubuh dan parfum yang digunakan Tala.


Eve merasa dejavu mencium bau parfum yang digunakan Tala, ini bukan seperti bau parfum seperti yang digunakan Tala di hari biasanya selama mereka menikah.


“Parfum ini kan.” Ucap Eve di dalam hatinya lalu menatap ke arah Tala namun segera Eve mengalihkan pandangannya ketika Tala menolehkan kepalanya ke arah Eve.


Eve menundukkan kepalanya sambil matanya melirik ke arah kiri apakah Tala sudah tidak melihatnya lagi atau tidak.


Namun Eve melihat bahwa Tala semakin dekat ke arahnya sehingga membuat Eve dengan reflek memundurkan tubuhnya ke sebelah kanan sehingga Eve yang tadinya terduduk menjadi tiduran di sebelah kanan.


“Apa yang sedang dia lakukan?” Tanya Eve di dalam hatinya, entah kenapa melihat tingkah Tala yang seperti ini Eve merasa sangat aneh seharusnya Eve merasa senang.


“Kenapa dia terlihat menakutkan jika seperti ini.” Ujar Eve di dalam benaknya.


Eve merasakan bahwa tangan Tala sedang mengambil bantal yang ada di belakangnya lalu meletakkan bantal tersebut di bawah kakinya yang sedang sakit.


Pipi Eve terasa merah dan apa yang dilakukan oleh Tala membuat Eve tersipu. “Perbaiki posisi tidurmu, aku mau istirahat.” Ujar Tala datar.


Eve yang mendengarnya segera memperbaiki posisi tidurnya namun Eve merasa kurang nyaman karena tidak ada bantal di atas kepalanya karena bantal di kepalanya berada di bawah kakinya.


Tala sudah berada di sisi ranjang di sebelah Eve dan duduk bersandar dengan kepala ranjang. Lalu Tala melihat ke arah Eve yang sedang gelisah dan kurang nyaman.


Kemudian tangan Tala mengambil bantal yang ada di belakang punggungnya lalu mendekatkan ke arah Eve.


Lagi lagi tingkah Tala membuat Eve sangat gugup apalagi wajah Tala berada sangat dekat dengannya karena saat ini Tala menaruhkan bantal di bawah kepala Eve.

__ADS_1


“Kenapa tidak memberi saja sih, jantung ku tolong jangan terlalu kencang berdetaknya bagaimana kalau dia mendengarnya.” Gumam Eve gugup dengan seperti biasa Eve akan menggigit bibir bawahnya dari dalam ketika dirinya gugup.


Eve baru menyadari bahwa bantal yang ada di tempat tidur terasa berkurang biasanya akan ada dua bantal yang akan menjadi batasan buat mereka tidur namun kali ini tidak.


Eve menatap ke arah tempat tidur sambil memutarkan kepalanya sedangkan Tala yang baru selesai meletakkan bantal di bawah kepala Eve menatap ke bawah hingga hidung mancung keduanya bersentuhan dan membuat keduanya terdiam.


Keduanya menolehkan kepalanya ketika pintu kamar terbuka menampilkan wajah ibu Dhara yang juga terkejut melihat wajah keduanya sangat berdekatan seperti hendak ciuman itu.


Ibu Dhara merasa tidak enak karena sudah mengganggu dan berpikir bahwa Eve dan Tala hendak melakukan ciuman dan membuatkannya cucu. “Maafkan ibu mengganggu, ibu tidak melihatnya.” Ujar ibu dengan wajah tidak enaknya.


Tala segera memperbaiki posisinya ke posisi semula dan bersandar. “Lanjutkan apa yang dilakukan kalian.” Ujar ibu lalu hendak pergi namun suara Tala menghentikan langkah ibu Dhara.


“Kenapa ibu masuk sembarangan tanpa mengetuk pintu dan ada apa ibu ke sini?” Tanya Tala, entah kenapa di telinga Eve nada bicara Tala terlihat tidak suka dan merasa terganggu.


Saat ibu Dhara melihat kedekatan Eve dan Tala, wajah Eve sudah merah merona karena merasa malu apalagi ketika mendengar kalimat dari ibu Dhara.


“Heheheh.” Ibu Dhara cengengesan mendengar pertanyaan anaknya. “Ibu merasa senang karena putri ibu sudah kembali dan juga merasa khawatir karena mendengar bahwa putri ibu kakinya sedang sakit jadi ibu lupa mengetuk pintu.” Ujar ibu Dhara.


“Seharusnya kalau kalian ingin melakukan sesuatu seperti membuat cucu buat ibu kalian harus mengunci pintu dulu.” Ucap ibu Dhara yang membela dirinya melihat tatapan tidak suka dari putranya sendiri.


“Ibu, ini tidak seperti yang ibu bayangkan. Kak Tala hanya membantu Eve.” Cicit Eve karena merasa malu.


“Memangnya apa yang ibu bayangkan.” Goda ibu Dhara kepada Eve membuat Eve mengangkat kepalanya dan wajah Eve semakin memerah.


Ibu Dhara yang sudah duduk di sisi ranjang di sebelah Eve terkekeh melihat Eve yang tersipu malu. “Ibu juga pernah muda jadi ibu tau bagaimana kalau masih pengantin baru.” Ujar ibu Dhara sambil mengedipkan sebelah matanya.


Wajah Eve sudah sangat merah banget karena merasa sangat malu apalagi sekarang ada Tala yang berada di dekatnya.


Tala melihat dan mendengar perkataan ibunya yang menggoda Eve merasa jengah. “Kami sudah lama menikah ibu ini sudah satu tahun tujuh bulan.” Jelas Tala kepada ibu Dhara.


Deg


Eve yang mendengar perkataan Tala yang mengingat dengan jelas berapa lama mereka sudah menikah menundukkan kepalanya hatinya yang tadinya sedang senang karena tindakan Tala kepadanya menjadi meredup walaupun dirinya berusaha untuk menahan agar jangan terlalu berharap namun tetap saja merasa sakit.


Jika mereka adalah pasangan yang normal maka Eve akan sangat senang dan bahagia apalagi Tala mengingat dengan sudah berapa lama mereka menikah.


Tapi, pernikahan mereka kan bukan pernikahan layaknya pasangan normal. Pernikahan mereka ini seperti main-main karena ada kontrak pernikahan.


Eve tau bahwa ini sebenarnya salah entah apa yang bisa didapatkannya dari Tuhan karena sudah main-main dengan pernikahan yang sakral apalagi mereka sudah berjanji di hadapan Tuhan untuk sehidup semati, suka maupun duka.


“Sayang, Eve Eve.” Eve yang tadinya melamun kembali tersadar oleh tepukan lembut dari ibu Dhara di wajahnya. “Kamu melamun apa sayang?” Tanya ibu Dhara khawatir.


Eve menatap ke arah ibu Dhara lalu matanya melihat ke arah Tala yang juga sedang melihat ke arahnya dengan datar. “Tidak ibu Eve hanya merasa terharu saja. Tadi, ibu nanya apa maaf Eve tidak mendengarnya.” Ucap Eve sembari memberikan senyuman tidak enaknya karena tanpa sengaja mengabaikan ibu Dhara yang sedang mengajaknya berbicara karena keasikan melamun.


“Sepertinya kamu sangat lelah.” Ujar ibu Dhara, “maafkan ibu ya telah mengganggu waktu istriahatmu.” Ucap ibu Dhara tidak enak hati sambil mengelus rambut Eve dengan lembut.


Eve menangkap tangan ibu Dhara yang mengelus kepalanya lalu memegang dengan kedua tangannya. “Tidak ibu Eve sama sekali tidak terganggu dan Eve tidak lelah kok. Maafkan Eve. Tadi, ibu menanyakan apa?” Tanya Eve dengan lembut dan ceria agar ibu Dhara tidak merasa enak hati lagi kepadanya.

__ADS_1


Ibu Dhara tersenyum, “tadi ibu nanya apakah kakimu sudah baikan?” Tanya ibu Dhara.


Eve tersenyum sambil mengangguk. “Sudah baikan ibu ini berkat kak Tala tadi yang mengompres kaki Eve dan juga memberikan salep.” Jawab Eve sembari tersenyum menatap ke arah ibu Dhara dan juga Tala bergantian.


Ibu Dhara yang mendengar jawaban dari Eve merasa sangat senang dan semangat. Ibu Dhara berpikir bahwa hubungan keduanya terlihat membaik setelah satu minggu tidak bertemu dengan satu sama lain.


“Baguslah kalau begitu, memang seharusnya begitu di antara suami istri harus saling tolong menolong. Apakah kamu sudah minum obat tadi ibu dengar bahwa kamu kehujanan.” Ujar ibu Dhara.


Tala mendengus mendengar ibunya yang hanya menanyakan Eve saja tidak dirinya. “Sebenarnya anak ibu itu siapa?” Tanya Tala merasa kesal.


Ibu Dhara menatap putra semata wayangnya itu, “tentu saja anak ibu adalah Eve dan juga Adya.” Jawab ibu Dhara hal itu membuat Eve tersenyum karena hubungan ibu mertua dengan suaminya begitu sangat baik.


“Ya sudah kalau begitu kalian istirahat aja atau kalau mau melanjutkan nggak apa-apa. Nanti ibu akan menyuruh kepala pelayan untuk mengantar makanan ke kamar kalian. Istirahatlah.” Ucap ibu Dhara.


Eve menganggukkan kepalanya, ibu Dhara berjalan ke arah pintu keluar kamar Eve dan Tala lalu tiba-tiba berhenti dan berbalik sambil memberikan senyumannya.


Tala yang melihat senyuman dari ibunya merasa curiga, “kalau kalian melakukan hubungan suami istri akan lebih mendekatkan perasaan kalian secara satu sama lain. Jadi, sering-sering lah melakukan biar ibu dan ayah mendapatkan cucu.” Ucap ibu dengan semangat.


Wajah Eve kembali memerah mendengar perkataan dari ibu mertuanya itu, Eve tidak berani menatap ke arah Tala.


Sementara Tala mendengus mendengar perkataan ibunya, lalu Tala berjalan ke arah kamar mandi membuat Eve kebingungan melihatnya.


“Apakah dia kebelet atau mau mandi lagi tapi bukankah tadi dia sudah mandi?” Tanya Eve dengan dirinya sendiri yang melihat pintu kamar mandi tertutup dan tak lama kemudian terdengar suara gemericik air.


Eve menolehkan kepalanya ke arah samping kiri terlihat di luar masih hujan lalu matanya kembali menatap ke arah pintu kamar mandi. “Ini sudah lebih dari lima belas menit dia di kamar mandi. Mungkin dia kebelet buang air besar.” Ucap Eve sambil mengedikkan bahunya.


Mata Eve sangat mengantuk tapi merasa bahwa dua jam lagi akan makan malam, Eve berusaha menahan kantuknya namun tidak bisa karena pergerakannya juga terbatas melihat kakinya yang masih sakit dan menunggu untuk jangan bergerak terlalu banyak terlebih dahulu hingga akhirnya Eve jatuh tertidur.


Ibu Dhara yang keluar dari kamar anak dan menantu keduanya itu tersenyum dengan sumringah. Sementara dari luar Adya sudah menunggu ibu Dhara dengan penasaran.


“Sayang.” Ucap ibu Dhara dengan semangat kepada Adya sambil mendorong kursi roda Adya ke arah lift.


“Bagaimana keadaan Eve ibu? Kenapa ibu terlihat sangat senang setelah keluar dari kamar Eve dan Tala?” Tanya Adya penasaran.


Ibu Dhara tidak henti-hentinya tersenyum. “Sepertinya hubungan keduanya sudah mulai membaik.” Ujar ibu Dhara.


“Oh ya?” Tanya Adya yang tidak kalah senang bahkan mata Adya menjadi berbinar mendengar perkataan ibu Dhara. “Ibu benar-benar seriuskan?” Tanya Adya memastikan pendengarannya.


“Tentu saja sayang ibu melihat dengan kepala ibu sendiri bagaimana tadi posisi mereka saat ibu masuk ke dalam kamar mereka.” Ujar ibu Dhara dengan semangat menceritakan kepada Adya.


“Tapi, sepertinya ibu mengacaukannya sehingga membuat mereka tidak jadi melakukannya.” Lanjut ibu Dhara sedih.


“Terus gimana?” Tanya Adya penasaran, “ibu tadi tidak mengetuk pintu dulu memang?” Tanya Adya lagi kepada ibu Dhara.


Ibu Dhara yang mendengar pertanyaan dari menantunya itu melemaskan bahunya lesu. “Ibu lupa mengetuk pintu kamar Eve dan Tala karena ibu terlalu senang melihat Eve sudah kembali ke mansion dan ibu juga merasa khawatir ketika mendengar bahwa Eve terpleset di depan sehingga membuatnya tidak bisa jalan dan kehujanan.” Ujar ibu Dhara lesu.


 

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2