
Tala menggiring Eve ke atas tempat tidur tangan Tala sudah menjalan ke mana-mana Tala tidak membiarkan Eve mengambil nafasnya yang sudah semakin menipis.
Dengan tenaga yang tersisa Eve memukul pelan dada Tala membuat tautan itu terhenti dan keduanya menatap satu sama lain dengan mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Tala menatap dalam ke arah Eve lalu kembali menyerang Eve dengan sekali robekan dari Tala baju tipis yang dikenakan Eve robek membuat Eve terkejut ketika dirinya mendengar suara robekan tersebut.
Tala masih memejamkan kedua matanya lalu melepaskan tautan tersebut dan mendorong Eve sehingga terjatuh di atas tempat tidur.
Tala mendekat ke arah Eve yang masih terengah-engah karena aksi tautan keduanya tadi. Menindih Eve dan mengungkungkan kedua tangannya lalu Tala berbisik di telinga Eve. “Aku tidak akan tertipu.” Ujar Tala lalu segera membangkitkan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan Eve di atas tempat tidur.
Pintu kamar mandi tertutup dengan keras akibat bantingan yang dilakukan oleh Tala membuat Eve sadar. Nafas Eve terengah-engah dan memegang dadanya karena baju yang menutupi dadanya sudah robek oleh tangan kekar Tala.
Eve memejamkan matanya dengan pelan dan sekilas ingatan bagaimana dirinya tadi yang menggoda Tala membuat Eve sangat malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Lama Eve terdiam dan dengan segera Eve membungkus tubuhnya dengan selimut karena menunggu Tala yang tidak keluar-keluar dari dalam kamar mandi. Sudah hampir tiga puluh menit lamanya Tala di kamar mandi.
Eve yang sudah merasa mengantuk dan merasa lelah tak kuasa lagi menahan rasa kantuknya. Tiga puluh menit kemudian Tala keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Mata setajam elang Tala menatap seonggok manusia yang terbungkus selimut putih sudah terlelap di sana. Mata Tala memandang ke seluruh kamar dan melihat baju tipis yang dirobek olehnya tadi.
Memijit pelipisnya pelan karena merasa pusing apalagi dirinya harus mandi malam karena ulahnya tadi beruntungnya dirinya bisa sadar dan bisa menghentikannya.
Memakai celana tidur yang diambil Tala dari lemari pakaiannya lalu berjalan ke atas tempat tidur dan memejamkan matanya lelah.
Ini adalah pertama kalinya keduanya tidur bersama semenjak Tala yang membawa Adya ke negara S untuk berobat dan Eve keguguran.
Keesokan harinya Eve menggeliat dengan pelan ketika dirinya merasakan ada benda keras yang berada di sampingnya.
Membuka matanya dengan pelan dan betapa terkejutnya Eve saat melihat dirinya yang berada di bawah ketiak Tala dan dirinya yang memeluk Tala.
Eve segera bangkit dan menatap tidak percaya dengan kedua tangannya rupanya dirinya semakin berani. Biasanya Eve tidak pernah tidur dengan gelisah seperti yang dilihatnya pagi ini.
Jika dirinya tidur terlentang maka sampai pagi biasanya posisinya tidak pernah berubah apapun posisi yang membuatnya nyaman sebelum tidur sampai keesokan harinya tidak akan berubah.
Tapi, bagi ini membuat Eve sangat terkejut dengan semua yang baru saja terjadi. Lalu mata Eve melihat ke seluruh tubuhnya dan melihat Tala yang bertelanjang dada dengan segera Eve menyelimutinya.
Eve berjalan dengan cepat ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah sebelumnya mengambil pakaian miliknya.
Lima belas menit kemudian Eve keluar dari dalam kamar mandi dan mengernyitkan dahinya ketika melihat Tala yang masih terlelap dalam tidurnya. Biasanya jam segini Tala sudah bangun.
Eve memeriksa keadaan Tala dan dapat Eve rasakan suhu badan Tala sangat panas. Eve segera membuka selimut dan mematikan AC di kamarnya.
Mengambil peralatan kesehatannya dan memeriksa keadaan Tala suhu tubuh Tala sangat tinggi dan melebih suhu tubuh normal orang dewasa di bawah 38 derajat celcius.
Eve membuka celana tidur Tala dan menyisakan boxer yang melekat di tubuh Tala agar demamnya segera turun.
Berjalan dengan cepat ke dapur sehingga membuat Adya yang baru keluar dari dalam kamarnya merasa heran dengan Eve.
__ADS_1
Sesampainya di dapur Eve segera menyiapkan bahan-bahan untuk memasak bubur buat Tala. Adya yang baru sampai di dapur dengan kursi rodanya berdiri dan duduk di atas meja makan sambil memperhatikan Eve yang sibuk dengan masakannya.
Beberapa menit lamanya akhirnya buburnya selesai juga, Eve membalikkan badannya dan terkejut ketika dirinya yang sudah melihat ada Adya serta kakek Werawan yang menatap dirinya.
“Kakak kakek kalian mengejutkan Eve saja.” Ucap Eve sambil mengelus dadanya lalu mengambil mangkok yang sebelumnya sudah disiapkannya.
“Kamu membuat bubur untuk siapa?” Tanya Adya yang sudah sangat penasaran dari tadi. “Kamu bahkan tidak menyadari sekelilingmu.” Lanjut Adya kembali.
“Aku sedang membuat bubur untuk Tala dia sedang demam suhu tubuhnya di atas 38 derajat.” Jawab Eve lalu meletakkan nampan di atas meja dan meletakkan mangkok di sana dan Eve segera menuangkan panci yang berisi bubur tersebut untuk dipindahkan ke dalam mangkok.
“Jadi, apakah semalam kalian jadi melakukannya?” Tanya Adya penasaran dan blak-blakan membuat wajah Eve bersemu merah karena pertanyaan yang diajukan Adya kepadanya. Karena di sini juga ada kakek Werawan.
“Cucu menantu dokter kakek malu tuh.” Ujar Adya sambil tertawa melihat reaksi dari wajah Eve yang memerah. “Lagian kakek juga pernah muda ya kek jadi sudah mengerti. Jangan malu.” Goda Adya kepada Eve sedangkan kakek Werawan tertawa melihat keusilan Adya kepada Eve.
Eve segera pamit dari hadapan kakek Werawan dan Adya karena tidak mau mendengar godaan Adya kepadanya.
Semenjak kepergian Eve Adya dan kakek Werawan saling menatap satu sama lain lalu mereka berdua tertawa. “Menurut kakek apakah mereka berdua jadi melakukannya?” Tanya Adya penasaran.
“Emmmm sepertinya tidak jadi mengingat Tala yang demam.” Jawab kakek Werawan dan hal itu membuat mereka kembali tertawa.
Sementara Eve yang membawa bubur untuk Tala segera meletakkan bubur tersebut di atas laci samping tempat tidur. “Aduh aku lupa lagi bawa air minum.” Ucap Eve lalu mata Eve beralih ke teko air yang sudah habis di minumnya tadi.
Eve berjalan keluar dan beruntungnya Eve melihat salah satu pelayan yang ada di mansion ini sedang lewat. “Pelayan bisakah saya meminta tolong untuk isi air mineral di teko ini tapi dicuci dulu ya.” Ujar Eve dengan segera pelayan tersebut melaksanakannya.
Eve melihat keadaan Tala yang menggigil kedinginan sebenarnya Eve tidak tega tapi bagaimana lagi untuk menurunkan suhu tubuhnya Tala tidak boleh menggunakan selimut dan harus menggunakan pakaian seminimal mungkin.
Selagi menunggu air yang dimintanya tadi kepada pelayan Eve membuka tas kerjanya dan melihat apakah dirinya membawa obat yang memang sengaja disediakan untuk hal-hal yang mendesak seperti ini.
“Jangan pergi.” Ucap Tala lagi saat Eve yang berusaha melepaskan genggamanya.
Eve kembali duduk dan mengusap kening Tala. “Aku tidak pergi aku hanya mengambil minuman saja.” Ucap Eve lalu melepaskan tangan Tala.
Setelah mengambil teko yang sudah berisi air Eve segera menuangkannya tadi pelayan juga memberikan dua gelas kepadanya yang sudah dibersihkan.
“Jangan pergi, jangan pergi.” Lirih Tala di dalam tidurnya membuat Eve menatap ke arah Tala dan merasa penasaran apa yang sedang dimimpikan Tala sehingga membuatnya begitu gelisah.
“Jangan pergi aku mohon jangan pergi. Aku mencintaimu.” Eve terdiam mendengarnya dan masih menerka-nerka ucapan itu untuk siapa dan siapa yang Tala katakan dengan lirih itu.
Lalu Eve mengingat perkataan Adya kemarin kepadanya bahwa Tala masih mencintai gadis yang mengisi hatinya di masa lalu dan bahkan cinta itu masih ada. Namun, Eve juga berpikir apakah itu Adya apakah Tala sedang memimpikan Adya.
Kalau itu adalah Adya memang sangat logis ketika dirinya melihat betapa penuh kasih sayang dan perhatiannya Tala kepada Adya.
“Tidak ada yang bisa pergi darimu tidurlah.” Ucap Eve sambil mengelap keringat di dahi Tala. Eve meraba bubur yang dibuatnya sudah mulai berkurang panasnya. “Sepertinya ini sudah bisa dimakan.” Ucap Eve.
Eve berusaha membangunkan Tala lagi dan lagi Eve tapi sebelum itu Eve kembali memasukkan celana tidur yang dilepasnya tadi kepada Tala.
Tala membuka kedua matanya dengan pelan pandangannya berkabur ditambah lagi kepalanya sangat pusing. Eve segera membantu Tala untuk duduk bersandar. “Kamu harus makan dan minum obat nanti dilanjutkan lagi tidurnya.” Ucap Eve kepada Tala.
__ADS_1
Tala masih berusaha untuk menetralkan pandangannya lalu saat pandangannya sudah terlihat jelas Tala dengan segera memeluk Eve dengan erat sambil berkata. “Jangan pergi.” Ucap Tala dengan lirih.
Eve yang mendapatkan pelukan erat dari Tala terkejut apalagi ketika mendengar perkataan Tala yang meminta dirinya pergi. Di dalam pikiran Eve apakah Tala sedang tidak sadar. “Iya, aku tidak akan pergi sekarang kamu harus makan.” Ucap Eve sambil menepuk punggung Tala.
Tala yang mendengar suara Eve membuka matanya dengan cepat dan melihat bahwa dirinya yang sedang memeluk Eve dengan erat.
Tala segera melepaskan pelukan tersebut membuat Eve kembali merasa heran namun akhirnya Eve mengerti. “Iya aku paham bahwa yang kamu lakukan tadi tidak sadar dan yang kamu maksud bukan aku. Tapi, maaf aku harus membangunkan mu karena kamu harus sarapan dan minum obat.” Ucap Eve lalu mengarahkan gelas yang berisi air kepada Tala untuk diminum terlebih dahulu.
Tala membuka mulutnya dan meminum air yang diarahkan Eve kepadanya. “Apakah sudah.” Tanya Eve Tala menganggukkan kepalanya dengan lemas.
Lalu Eve segera memberikan bubur yang dibuatkannya tadi kepada Tala. “Ini sudah berkurang panasnya jadi makanlah dengan pelan dan nyaman.” Ucap Eve dan Tala hanya diam dan menurut saja.
Entah kenapa Tala yang seperti ini terasa menggemaskan bagi Eve sama seperti waktu dulu ketika mereka masih berpacaran tidak lebih tepatnya saat Eve yang memanfaatkan Tala waktu itu.
Tala menggelengkan kepalanya bahwa dirinya sudah tidak bisa lagi menerima suapan bubur itu dan merasa kenyang. Eve segera menghentikannya walaupun tidak habis setidaknya lima sendok bubur sudah cukup.
Eve memberikan obat kepada Tala dan dengan segera Tala meminumnya dengan patuh. “Ternyata kalau dia sakit tidak banyak tingkah dan terlihat lemah tapi sangat menggemaskan.” Ucap Eve dalam benaknya.
Eve beranjak dari atas tempat tidur namun tangan Eve ditahan oleh Tala. “Jangan pergi.” Ucap Tala dengan lirih membuat Eve menatap ke arah Tala dengan dalam.
Bohong kalau hati Eve tidak berdesir setelah sekian lama dirinya tidak mendengar perkataan yang sedikit rengekan itu. Tapi, Eve berusaha menyadarkan dirinya bahwa saat ini Tala sedang tidak sadar itulah yang berusaha Eve tanamkan dalam benaknya.
“Aku hanya ingin mengantar bekas sarapan mu nanti aku kembali lagi.” Ucap Eve
“Tidak, jangan pergi biarkan saja di sini.” Ucap Tala. Eve hanya bisa pasrah dan duduk bersandar di atas ranjang di samping Tala yang kini sudah memeluknya sambil tiduran.
Dua jam lamanya Eve berada di posisi seperti itu mata Eve sangat mengantuk namun Eve tidak boleh tertidur. Dengan pelan Eve melepaskan pelukan Tala di tubuhnya untuk kembali memeriksa keadaan Tala.
Saat Eve memeriksanya suhu tubuh Tala sudah menurun dan akan kembali normal. Melihat hal itu dengan segera Eve menyelimuti Tala dan membawa bekas makanan yang menjadi sarapan Tala tadi ke dapur.
Di depan pintu kamar Eve melihat ibu Dhara yang berjalan ke arahnya dengan mendorong kursi roda Adya. “Eve apakah demam Tala sudah turun?” Tanya ibu Dhara.
“Tadi baru saja Eve memeriksanya ibu sekarang sudah turun. Tala hanya perlu istirahat saja sekarang. Jika ibu ingin melihatnya masuklah.” Ucap Eve sedangkan Adya hanya diam mendengarkan.
“Tidak Eve terimakasih ibu percaya kepada mu. Anak itu jika sakit akan sangat manja dan tidak mau ditinggalkan. Sini biarkan ibu saja yang membawanya kamu bawa yang bawa Adya ke kamarnya sebentar.” Ucap ibu Dhara yang sudah mengambil nampan bekas makanan tersebut dari tangan Adya.
“Nanti ibu akan menyuruh pelayan untuk membawakan sarapan untukmu.” Ucap ibu Dhara.
Eve dan Adya saling berpandangan. “Jadi, apakah kalian semalam melakukannya atau tidak jadi?” Tanya Adya membuat Eve menggelengkan kepalanya Eve kira Adya akan menanyakan keadaan Tala.
“Aku kira kakak akan bertanya mengenai keadaan kak Tala.” Dengus Eve membuat Adya tertawa mendengarnya.
“Sama seperti itu aku juga percaya kepada mu bahwa kamu bisa merawat Tala dengan baik kamu kan seorang dokter yang sangat berbakat.”
Eve membantu Adya dengan meletakkan kursi roda Adya di pojok kamar agar terlihat rapi. “Baiklah selamat istirahat kak, Eve harus kembali ke kamar dulu.” Ucap Eve.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku Eve?” Tanya Adya dengan kesal karena sangat penasaran sementara Eve menghela nafasnya.
__ADS_1
“Tidak jadi kakakku sayang, cintaku, matahariku, segalanya bagiku.” Jawab Eve membuat Adya tertawa mendengarnya karena berhasil menjahili Eve dengan pertanyaannya. Ternyata memiliki adik sangat menyenangkan lebih tepatnya senang untuk dijahili oleh kakaknya.
*Bersambung*