Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 152. Geya Mendumel


__ADS_3

Geya keluar dengan wajahnya yang sangat kesal.


"Kak Tala kenapa sih bikin kesal saja. Padahal tidak ada apa-apa. Kenapa dia malah yang pusing."


"Yang punya masalah sebenarnya siapa aku atau dia."


"Ini lagi kenapa aku yang harus diinterogasi bukan Axel padahal yang tidak datang adalah Axel bukan aku."


"Huh, bikin kesal saja ingin aku remuk-remuk wajahnya."


"Masalah aku yang melamun di pagi hari saja dipermasalahkan. Emang tidak boleh ya melamun padahal kan aku sudah menikmati susu kedelai yang aku minum."


"Dia terlalu overthinking."


"Yang menjalin hubungan siapa yang mempermasalahkan siapa? Apa dia sebegitu mencintai Axel kah sampai dia seperti itu atau dia sudah ada kelainan." Geya mengatakannya dengan reaksi tubuh yang nyeri.


"Kenapa sih dia selalu kepo padahal tinggal suruh saja bawahannya untuk mencari tau tanpa bertanya-tanya kepadaku. Definisi orang memperumit diri sendiri."


"Ada yang mudah malah dipersulit." Ujar Geya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Huh, Axel juga kenapa dia harus tidak datang ketika rapat kalau dia datang tidak akan begini ceritanya."


Saat ini Geya sedang berada di ruang tangga darurat sembari mendumel kesal untuk meluapkan emosinya.


"Pantas saja kak Eve memilih kabur ternyata sikapnya sangatlah menyebalkan."


"Padahal paman tidak seposesif itu sama bibi tapi kenapa dia...argh sudahlah bikin kesal, kesal, kesal kesallllllll." Ucap Geya sembari menghentakkan kakinya dan kedua tangan yang dikepal erat.


...^^^...***...^^^...


Sementara itu Axel yang baru saja selesai dengan urusan mendesak seperti yang dibilang oleh sekretarisnya kepada Geya segera meluncur ke kantor tempat di mana Geya bekerja.


Dengan wajah yang sumringah Geya memasuki lobi sembari menyapa para karyawan yang berada di lobi tersebut.


Semua karyawan sudah tau dan sudah menjadi rahasia umum bahwa pria bernama Axel Barata adalah tunangan dari Geya Werawan sepupu dari sang direktur.


Axel akhirnya sampai di lantai di mana tunangannya itu bekerja lantai itu juga merupakan lantai di mana ruangan direktur berada.


Saat berjalan ke arah meja tunangannya Axel tidak melihat siapa-siapa dan bertanya-tanya di dalam benaknya.


Sekretarisnya tadi mengatakan bahwa rapat sudah selesai dan bingkisan yang diserahkannya untuk Geya sudah diberikan oleh sekretarisnya itu.


Axel melihat bingkisan itu masih terbungkus rapi dan belum disentuh sama sekali oleh pemiliknya.


Mungkin menunggu Geya di kursinya lebih baik sampai tunangannya itu kembali atau mencoba masuk ke dalam ruangan direktur sekaligus mengucapakan permintaan maaf karena tidak bisa ikut rapat tadi.


Saat hendak beranjak Axel dikejutkan oleh suara dentuman yang sangat keras lalu selanjutnya matanya melihat tunangannya itu keluar dengan wajah kesal dan kaki yang dihentak-hentakkan sembari berjalan ke arah tangga darurat.


Axel bingung ada apa dengan tunangannya itu entah antara dia harus menyusul Geya atau masuk ke ruangan yang pintunya dibanting oleh Geya.


Akhirnya Axel berjalan mengikuti Geya dengan perlahan Axel menutup pintu tangga darurat tersebut.


Di sana Axel melihat bahwa Geya sedang mendumel kesal dan Axel tidak mau momen ini terlewatkan begitu saja dengan cepat mengeluarkan ponselnya untuk merekam sang tunangan tersebut yang masih asyik mengeluarkan emosinya yang meluap-luap itu.


Sepertinya tunangannya sedang kesal dengan sang direktur.


Axel bertanya-tanya kenapa namanya disebutkan oleh tunangannya itu.

__ADS_1


"Masalahnya cuman melamun itu saja dipermasalahkan."


"Memang tidak boleh ya melamun." Ujar Geya yang masih sangat kesal perkara Tala yang menanyakan kepadanya yang melamun.


"Tidak boleh." Jawab Axel membuat Geya membalikkan badannya dengan cepat dan memperhatikan sang tunangan yang sedang menampilkan senyumannya itu.


Dada Geya naik turun karena terus mendumel kesal. "Sayang kenapa dengan tatapan mu itu?" Tanya Axel menghampiri Geya dan memegang kedua bahu wanita yang dicintainya itu.


Geya menatap kedua tangan yang bertengger nyaman di kedua bahunya itu lalu melepaskannya dengan kesal.


Melihat reaksi dari Geya membuat Axel menatap Geya penuh tanda tanya. "Apakah kamu marah dengan ku karena aku tidak datang ketika rapat dan kak Tala menanyakan aku kepadamu?"


Suara Axel yang melembut perlahan membuat Geya kembali tenang.


"Sejak kapan di sini?" Tanya Geya kepada Axel.


Axel tersenyum menampilkan giginya. "Sejak kamu masuk dan berbicara sendiri karena merasa kesal dengan kakak ipar."


"Apa kakak ipar membuat mu jengkel apa itu ada hubungannya dengan ku?" Goda Axel padahal sebenarnya dia sudah tau pasti tidak jauh-jauh darinya.


Jika masalah pekerjaan ia tau bahwa Tala tidak pernah memarahi Geya bukan karena Geya adalah sepupunya melainkan pekerjaan Geya selalu benar dan tepat sesuai dengan cara kerja Tala.


"Iya ini ada hubungannya denganmu." Seru Geya mulai merasakan kembali rasa kesalnya.


"Maafkan aku jika itu karena aku." Ujar Axel sembari mengelus rambut tunangannya yang dikuncir rapi itu.


Geya membuang mukanya karena masih merasa sangat kesal.


Axel yang melihatnya dengan segera memeluk Geya dari belakang untuk menenangkan emosi Geya yang sedang tinggi tersebut.


"Dan aku memvideokan mu." Bisik Axel di telinga Geya membuat Geya langsung melepaskan pelukan Axel kepadanya dan menatap Axel dengan kesal.


Sudah tau bahwa dia sangat kesal karena sepupunya Tala dan Axel malah membuatnya kembali kesal.


"Aku tidak bisa melewatkan momen seperti itu karena kamu sangat lucu dan sangat manis." Ungkap Axel.


Dada Geya naik turun mendengarnya. "Seberapa banyak?" Tanya Geya.


"Sangat banyak sampai aku mematikannya ketika aku bertanya kepadamu."


"Sayang janganlah marahhhhhhhh." Ini lagi Axel suka sekali merengek sama dengan Tala jika ia merengek seperti anak kecil kepada Eve.


Geya yang belum menikah dan belum punya anak saja sudah merasa bahwa dia mempunyai bayi besar yang lebih sudah daripada Orion keponakannya itu.


"Kamu belum membuka bingkisan kado yang aku berikan." Ucap Axel berusaha mengalihkan pembicaraan agar sang tunangan tidak kembali marah kepadanya.


"Memangnya apa isinya?" Tanya Geya penasaran karena memang dia belum membukanya akibat dipanggil oleh sepupunya tadi.


Jika tau bahwa dia dipanggil karena urusan mengenai hubungannya dengan Axel maka Geya akan menghindar.


Katanya harus bersikap profesional tapi sepupunya itu malah menanyakan permasalahan pribadi di ruang kerjanya walaupun tidak ada yang mendengar kecuali sekretaris Diego dan asisten Kaivan.


Semenjak kembalinya sang istri sepupunya itu memang suka sekali plin plan. Benar-benar bikin kesal saja.


Tidak, bukan karena Geya mempermasalahkannya kakak iparnya itu melainkan tidak habis pikir dengan sepupunya itu.


Geya pikir kembalinya kakak iparnya Eve akan membuat sikap posesif sepupunya itu berkurang kepadanya namun ternyata sama sama sama-sama menyebalkan.

__ADS_1


Axel yang melihat bahwa masih ada tatapan kesal di mata Geya. "Sayang sebaiknya kita ke ruangan kak Tala dan berbicara dengannya untuk menunjukkan bahwa hubungan kita baik-baik saja."


"Tidak usah dan tidak mau." Ujar Geya karena jujur dia masih sangat kesal dengan sepupunya itu.


Apalagi mengingat perkataannya bahwa Axel mungkin akan lelah dengan hubungan mereka jika dirinya yang menolak ajakan menikah dari Axel.


"Apa kamu akan menyerah denganku?" Tanya Geya kepada Axel.


Axel bingung harus menjawab apa bukan karena pertanyaan dari Geya melainkan apa yang membuat Geya sampai bertanya seperti itu kepadanya.


"Tidak sayang kenapa kamu bisa berpikir seperti itu." Ujar Axel dengan lembut.


"Lalu kenapa kamu tidak lagi mengajak aku untuk menikah?" Tanya Geya menanyakan perihal keresahan di dalam hatinya atas apa yang dikatakan Tala kepadanya tadi.


Axel bukannya tidak mau mengajak Geya untuk menikah tapi ada sesuatu yang sudah dipersiapkan Axel yaitu hari ini bahwa dirinya ingin kembali mengajak Geya untuk menikah namun sepertinya rencananya akan gagal karena ia tidak akan mungkin untuk berbohong dengan tunangannya itu.


Axel menghela nafasnya dengan berat membuat Geya menatap bingung dan penuh tanda tanya.


"Kenapa helaan nafas mu begitu berat apa kamu sudah merasa menyerah denganku? Apa kamu merasa lelah dan ingin memutuskan hub..."


"Sayang kenapa kamu berbicara seperti itu." Ujar Axel sembari menyentuh bibir Geya dengan jari telunjuknya agar Geya tidak kembali berbicara yang tidak-tidak.


"Sama sekali aku tidak pernah berpikir untuk menyerah atau pun lelah memperjuangkan mu dan mengajak mu untuk menikah. Aku sudah sampai sejauh ini mana mungkin aku menyerah setelah dengan susah payah mendapatkan mu."


"Lalu kenapa kamu tidak lagi mengajak aku untuk menikah?" Tanya Geya.


Memang benar sudah lama Axel tidak mengajaknya untuk menikah biasanya sebulan sekali Axel akan memberikan kejutan kepadanya lalu mengajaknya untuk menikah.


Namun, selama kurang lebih tiga bulan Axel sama sekali tidak mengajaknya untuk menikah.


Awalnya Geya biasa-biasa saja namun perkataan Tala memengaruhi otaknya.


"Jika aku mengajak mu sekarang apa kamu sudah siap untuk menikah?" Tanya Axel dengan harap mumpung Geya menanyakan ini biasanya tidak pernah.


Axel juga harap-harap cemas dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh Geya kepadanya. Karena jika Geya menjawab maka gagal sudah rencananya hari ini untuk memberikan kejutan kepada Geya dan kembali mengajaknya menikah namun dirinya tidak bisa melewatkan kesempatan ini. mumpung Geya bertanya kepadanya.


Geya menatap dalam manik mata Axel. Mata Axel berwarna kecoklatan dan menurut Geya itu sangat indah. Tunggu apakah hatinya sudah terpaut kepada Axel.


"Kamu sama sekali tidak romantis seperti biasanya." Bukan jawaban yang Axel dapatkan melainkan protes dari Geya.


"Apa itu artinya jika aku mengajak mu nanti maka kamu akan menerima dan sudah siap?" Tanya Axel dengan wajah sumringah yang tidak bisa disembunyikan.


"Sudahlah aku harus ke ruang kerja ku karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Ujar Geya meninggalkan Axel yang sedang tersenyum-senyum sendiri


Geya tidak ingin Axel melihat rona pipi di wajahnya makanya dia langsung pergi dari hadapan Axel.


"Kenapa dia semakin hari semakin menggemaskan oh tidak pasti dia malu pipi merahnya sangat imut pengen aku gigit." Ujar Axel lalu menyusul Geya yang sudah berjalan duluan di hadapannya.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengarnya yang tidak lain adalah Gulzar yang masih penasaran dengan sikap Geya yang melamun tadi.


Rasanya menyesal ia mendengar dan melihat romansa pasangan itu.


Hatinya tentu saja sakit sepertinya memang benar bahwa tidak ada lagi dirinya di hati Geya.


Lagi-lagi ia harus kehilangan dan baru menyadarinya dengan sangat terlambat.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2